Ulama Yang Sejuk

Beberapa hari lalu, dalam percakapan mengenai serangan Israel ke Gaza baru-baru ini, saya membaca seseorang menuliskan bahwa tindakan Israel dapat dibenarkan. Mereka (Israel) hanya membela diri dari “serangan roket jihad”, ujarnya. Saya menerangkan ke dia bahwa ia mengartikan jihad secara keliru. Kemudian dia membalas keterangan saya dengan mengutip beberapa ayat dari Al-Anfaal, seolah-olah tujuan umat Muslim adalah memberantas mereka yang berbeda. Saya segera membalas dengan mengatakan bahwa ia mengutip ayat-ayat tersebut di luar konteks. Namun setelah penjelasan panjang lebar, ia kemudian membalas dengan argumen bahwasanya semua Muslim yang bersikap baik saat tinggal di negeri Barat sesungguhnya hanya sedang dalam misi taqiyya. Saya bilang ini menggelikan. Sama menggelikannya dengan percaya teori-teori konspirasi berdasar paranoia. Ia pun bertanya, apakah ada negara mayoritas Muslim di mana non-Muslim diperlakukan sepadan?

Continue reading

Advertisements

Adam, Hawa, dan Alegori Sejarah Manusia

Hampir semua manusia di planet ini mengetahui kisah Adam dan Hawa yang terusir dari surga. Apakah melalui tradisi agama-agama Ibrahim atau dari media-media budaya populer. Banyak yang memercayainya sebagai sebuah peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, persis seperti yang diceritakan di ayat-ayat kitab suci. Beberapa menganggapnya tidak lebih sebagai dongeng, fantasi murni layaknya kisah Cinderella atau Sangkuriang. Namun ada juga, seperti saya pribadi, yang melihatnya sebagai sebuah alegori. Sebuah analogi dari sejarah panjang nenek moyang kita, mulai dari kemunculan mereka di savanah Afrika hingga ke lahirnya kota-kota di Asia Minor dan Mesopotamia.

Continue reading

Swafoto dan Para Pendengung

Tidak pernah ada pemerintahan yang sempurna. Tidak dalam ratusan ribu sejarah umat manusia. Akan selalu ada pihak yang merasa tidak diperlakukan adil. Demikian pula dengan para petahana di negeri ini; mulai dari Republik, Provinsi, hingga Kotamadya. Saya tidak pernah melihat mereka sebagai para administrator tanpa cela. Ada banyak hal yang dapat dikritik dari kinerja mereka semua. Adalah tugas warga negara untuk mengritik secara proporsional terhadap para penampuk mandat, pun untuk menghargai dan memberi tahniah pada pencapaian sekecil apapun.

Continue reading

War: A Poem

War

War is a blood red day.
War smells like rotten egg.
War tastes like disgusting broccoli.
War sounds like Beple screaming.
War feels like we are in jail.
War looks like earth is destroyed.

by Ghaniya

This is a poem written by my daughter at her school. I don’t know what a Beple is either.

Edit (09-12-2017): Beple is a typo. My daughter told me that it’s supposed to be people. Now it makes so much more sense. My bad, kiddo.

Pribumi

Di tahun 1986-1990 saya tinggal di kota Pematangsiantar. Saya bersekolah di sekolah dasar di Perguruan Sultan Agung, sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di sana. Mungkin dapat dibandingkan dengan perguruan St. Aloysius di Bandung. Saat bersekolah di sana, saya sempat mewakili kabupaten Simalungun sebagai anggota merangkap juru bicara tim Cerdas Cermat. Kami tampil di TVRI Stasiun Medan bersama dua tim lainnya. Tim dari SD saya alhamdulillah mendapatkan posisi pertama. Dan ibu saya juga gembira karena sering disorot juru kamera.

Continue reading

Moral dan Relevansi Kitab Suci

Salah satu meme* yang biasa digunakan ateis dalam menyerang kelompok teis adalah keusangan (obsoleteness) dan ketidak relevanan (irrelevancy) kitab suci dalam kebutuhan manusia akan moralitas. Dalam argumennya mereka mengatakan bahwa untuk menjadi manusia bermoral seseorang tidak membutuhkan agama atau segala komponennya; para nabi, kitab suci, hingga sosok entitas omnipoten. Ini tentu saja adalah sanggahan terhadap argumen kelompok teis yang menggeneralisasi kelompok ateis sebagai manusia-manusia amoral. Tulisan ini tidak tentang proses kemunculan moral dalam seorang insan semenjak ia dilahirkan. Tetapi lebih ke tanggapan apakah kitab-kitab suci agama-agama di dunia memiliki peran dalam perkembangan moralitas masyarakat modern. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

Continue reading

Menjaga Semangat

Tempo hari saya bertanya ke teman-teman di medsos sebelah, bagaimana caranya menjaga semangat saat menjalankan sebuah proyek jangka panjang yang tak ada jaminan kesuksesan di ujungnya.

Saya bertanya mengenai hal ini dalam konteks menulis sebuah buku, yang bisa memakan waktu bulanan hingga tahunan. Beberapa jawaban yang saya terima ada yang berasal dari rekan yang menjalankan sebuah perusahaan startup. Dan ada pula dari rekan yang sedang menjalani program doktorat. Jadi saya rasa poin-poin di bawah ini dapat diterapkan pada berbagai macam proyek jangka panjang. Bahkan mungkin untuk sebuah hubungan antara dua orang manusia, perhaps?

Berikut poin-poin yang saya rangkum dari masukan rekan-rekan:

Continue reading