Letusan Super Toba

Pada tahun 1994 beberapa ilmuwan dari berbagai negara dan berbagai disiplin ilmu menghadapi teka-teki. Sekelompok ilmuwan yang meneliti lapisan es di Greenland menemukan lapisan fosfor dalam jumlah signifikan pada lapisan yang diperkirakan berasal dari periode 70.000 tahun lalu. Seorang vulkanolog di Amerika menerima kiriman sampel abu vulkanis dengan struktur yang sama, tersebar di hampir setengah planet Bumi. Lapisan debu vulkanik dengan ketebalan mulai dari 15cm hingga 200cm ditemukan mulai dari Laut Arab hingga Laut Cina Selatan.

Saat seorang ahli geologi yang sedang meneliti susunan bebatuan di Danau Toba (Sumatera Utara, Indonesia) mengirimkan sampelnya ke vulkanolog di Amerika tersebut, terkuaklah sebuah peristiwa bencana alam paling yang dapat dikatakan terdahsyat dalam sejarah umat manusia. Letusan gunung berapi Toba. Lalu di mana gunung berapi-nya? Penelitian bebatuan di sekitar tebing di pinggiran Danau Toba memastikan bahwa danau tersebut sebenanya adalah kaldera, yang oleh curah hujan selama ribuan tahun, menjelma menjadi sebuah danau.

Letusan super Toba berada pada skala VEI 8 (supervolcano, dengan volume ejecta >1000km kubik). Letusan terdahsyat dalam catatan sejarah, letusan Gunung Tambora 1815, berada pada skala VEI 7 (volume ejecta >100km kubik). Krakatau & Pinatubo berada pada VEI 6, sementara St. Helens yang memporak-porandakan Amerika Utara dan Vesuvius yang membuat kota Pompei menjadi batu berada pada skala VEI 5 (ejecta >1km kubik).

Estimasi volume erupsi ledakan supervolkano Toba berada di kisaran 2.800 hingga 3.000 km kubik. Jumlah sulfur dioksida yang diperkirakan  ke udara oleh erupsi Toba, 6 milyar ton. Asap dari ledakan membumbung hingga ketinggian 80 km menembus lapisan mesosfer.

Yang paling mengejutkan adalah pengaruhnya terhadap penyebaran genetik manusia modern. Letusan Toba memicu penurunan drastis pada suhu planet Bumi. Lapisan debu vulkanik menutupi seluruh atmosfer planet, menghalangi masuknya sinar matahari. Seluruh planet terjun ke dalam sebuah zaman es vulkanik selama antara 6 hingga 10 tahun. Dan suhu Bumi terus berada dalam kondisi dingin selama 10 abad. Perubahan drastis pada lingkungan ini membunuh jutaan manusia. Begitu sedikit manusia yang tersisa, beberapa ahli genetik menyebutkan bahwa bencana Toba bertanggung jawab terhadap minimnya variasi DNA umat manusia saat ini. Ungkapan “kita semua bersaudara” telah terbukti secara genetik.

Lebih jauh lagi, menurut teori genetik bottleneck, antara tahun 50.000 s/d 10.000 tahun SM, populasi manusia di planet Bumi hanya 3000 – 10.000 individual, atau di kisaran 1000 pasangan. Manusia sempat menjadi spesies yang berada diambang kepunahan.

Apakah bencana supervolkano ini dapat terjadi lagi? Ruang magma di bawah danau Toba masih aktif dan terus membentuk magma. Ruang magma raksasa lainnya ada di bawah taman nasional Yellowstone di Amerika, kaldera Awasa di Ethiopia (600km persegi), dan Pastos Grandes di Bolivia (2000 km persegi). Dalam film bertema apokaliptik “2012”, bencana global dimulai dari ledakan supervolkano di ruang magma Yellowstone.

Bila ledakan serupa dengan yang terjadi di Toba antara 70-77 ribu tahun lalu terjadi kembali, dapat dipastikan umat manusia kembali terancam kepunahan.

Advertisements

One thought on “Letusan Super Toba

  1. Pingback: Adam, Hawa, dan Genetika « Codes, Colours, Chemistry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s