Adam, Hawa, dan Genetika

Awalnya adalah sebuah tweet dari @ribosa yang menanyakan: “Adam dan Hawa punya pusar gak?”. Buat para follower beliau di Twitter pasti sudah tau konteks tweet tersebut. The whole creationism vs. evolutionism thingy. Sebagai pendukung teori evolusi dan sesama penggemar Richard Dawkins, otomatis saya tergerak untuk me-reply.

Sebelum membahas lebih jauh, saya hendak menjelaskan dulu posisi saya dalam hal debat evolusi versus penciptaan. Saya adalah pendukung setia teori evolusi. Tapi saya bukan bagian dari kelompok pemikiran Richard Dawkins atau Stephen Hawking yang memandang evolusi sebagai peristiwa yang murni berawal dari kesempatan (chance). Dan jelas saya bukan pendukung teori penciptaan, di mana isinya menjelaskan bahwa alam semesta diciptakan seperti kondisi saat ini dalam waktu 7 hari. Sebagai orang yang dicekoki biokimia dan genetika di bangku kuliah, teori penciptaan bagi saya adalah, jujur, membohongi logika.

Bisa dibilang saya berada pada kubu intelligent design dengan para pemikirnya seperti Keith Ward. Intinya saya percaya akan keberadaan Pencipta Alam Semesta, Tuhan dalam skriptur-skriptur suci, Zat Yang Omnipoten yang menciptakan alam semesta dengan proses yang dapat dinalar, proses-proses yang melahirkan ilmu matematika, fisika, kimia, biologi modern. Alam semesta yang terbentuk melalui evolusi fisik, evolusi kimiawi, dan evolusi biologis.

Jadi siapakah Y-Chromosomal Adam dan Mitochondrial Eve. Apakah mereka Adam dan Hawa dalam kisah-kisah penciptaan di kitab suci? Saya rasa jawabannya jelas, bukan. Dua individu ini hidup pada waktu yang berbeda, berjarak pada kisaran 60.000 hingga 100.000 tahun satu sama lain.

Lalu kenapa mereka dinamakan Adam dan Hawa, apakah karena mereka nenek-moyang manusia? Dari perspektif genetika, ya, mereka dapat dikatakan adalah nenek moyang manusia yang paling dekat atau most recent common ancestor (MRCA). Itulah alasan mengapa para ilmuwan memberikan nama Adam dan Hawa. Kita tentu saja tidak tau nama aslinya atau apakah bahkan mereka memiliki nama di masa hidupnya, ratusan ribu tahun yang lalu.

Nama Mitochondrial Eve diambil dari DNA mitokondria (mtDNA). Pada tubuh manusia, mtDNA diturunkan langsung dari pihak ibu tanpa adanya rekombinasi. Semua wanita di planet Bumi saat ini memiliki mtDNA yang sama, sehingga dapat dipastikan semuanya merupakan turunan dari wanita yang sama, sekitar 200.000 tahun lalu di Afrika.

Pada laki-laki, kromosom Y diturunkan langsung pada anak laki-lakinya utuh. Beberapa mutasi mungkin saja terjadi di dalam kromosom Y, tapi para ilmuwan dapat merekonstruksi ulang kromosom Y purba melalui metode-metode mutasi balik urutan DNA. Dan pelacakan terhadap DNA kromosom Y ini mengarah pada satu orang pria yang hidup di Afrika sekitar 142.000 tahun lalu. Y-Chromosomal Adam, pria yang menurunkan kromosom Y-nya pada semua laki-laki di dunia saat ini.

Mungkin ada yang bertanya, apabila dua individu ini tinggal dalam kelompok-kelompok manusia, di mana dalam kelompok tersebut tentu saja ada laki-laki dan wanita lainnya, kenapa hanya materi genetik dua individu ini saja yang bertahan hingga saat ini.

Kita harus mengerti bahwa kondisi spesies kita, Homo sapiens, sangat berbeda saat itu. Ada beberapa faktor signifikan yang membedakan kita dengan para pendahulu kita ratusan ribu tahun lalu. Pertama, populasi manusia masih sangat kecil. Saat ini kita tinggal di kota-kota besar dengan jumlah penduduk jutaan jiwa. Di jaman “Adam” & “Hawa” genetika, itu adalah jumlah manusia di seluruh planet.

Kedua, manusia saat itu masih nomaden dan belum menetap. Manusia masih hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan (hunter gatherer). Pola hidup seperti ini tidak memungkinkan jumlah populasi yang besar, dan pada akhirnya tidak memungkinkan variasi genetik yang beragam. Manusia tinggal dalam kelompok-kelompok kecil yang tinggal berjauhan satu sama lain. Apabila kelompok tersebut tidak dapat menemukan makanan, maka punahlah materi genetik dari kelompok tersebut.

Dan yang ketiga, perubahan iklim Bumi dan bencana alam. Nenek moyang kita melalui beberapa zaman es, malapetaka berskala global, bahkan melalui zaman di mana hujan tidak turun selama 1 abad. Semua ini membuat banyak dari kelompok-kelompok kecil yang hidup terpisah tersebut gagal meneruskan materi genetik-nya. Dalam pembahasan population bottleneck theory, muncul hipotesa yang menyatakan bahwa kita pada suatu masa, adalah spesies yang terancam kepunahan. Saat itu di seluruh planet hanya tersisa 1000 pasang manusia yang dapat berkembang biak.

Lalu hingga pada suatu masa, manusia menemukan teknologi-teknologi baru. Efisiensi dalam berburu meningkat. Kita pun mulai mengenal pola hidup bercocok-tanam, membuat desa, kota, hingga kerajaan. Mengenal bahasa, menciptakan kebudayan, dan akhirnya peradaban. Manusia-manusia yang bertahan dari berbagai ujian alam akhirnya berhasil meneruskan gen mereka pada kita, manusia saat ini.

Agama mengajarkan tentang Adam dan Hawa, bahwa kita semua bersaudara dan berasal dari orang-orang yang sama. Tapi di perjalanan waktu, agama juga memisahkan umat manusia. Membuat kita menumpahkan darah hanya karena perbedaan pandangan terhadap alam semesta. Lalu, dalam plot yang cukup ironis, sains membuktikan kembali, bahwa kita semua berasal dari “Adam” dan “Hawa”. Genetika menjelaskan bahwasanya kita, memang bersaudara.

Advertisements

10 thoughts on “Adam, Hawa, dan Genetika

  1. Wow, banyak materi yang gw belum pernah baca sama sekali ada di tulisan ini. Mesti baca beberapa hal dulu baru bisa diskusi beneran. Soalnya, I’m not a fan of evolutionism yet I don’t really have any substance to argue with on creationism vs evolutionism debate.

  2. Lagi iseng-iseng googling, eh ketemu artikel ini. Keren, Mas, pemikiranmu walaupun masih terlihat bekas-bekas “pijitan” dogma lama, LOL 😆 Anyway, I recommend for you a book named “Revelation, Rationality, Knowledge, and Truth”. Its author is the Fourt Caliph of Ahmadiyya Muslim Community, Mirza Tahir Ahmad. Beliau memperbincangkan hal yang sama seperti panjenengan, khususnya tentang Dawkins, dengan corak yang agak berbeda. Mas bisa pesan ataupun unduh buku tersebut di alislam.org. Oh iya, perkenalkan, saya Iffat, masih mahasiswa Biologi di IPB. Mas Arie dulu di mana? Haha, terakhir, saya juga suka nulis, terutama menyangkut ortodoksi keagamaan dari perspektif baru kendati terkadang nyerempet juga ke sains, sejarah, dan politik. nafirizaman.blogspot.co.id, this is my humble site 😊

  3. Great topic to discuss! 😀 Have you read the book “Ternyata Adam Dilahirkan” written by Agus Mustofa? Proving that even religion does support evolution, not sudden creation (no offense).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s