“Invisible Touch”, Genesis (1986)

 

 

Cover Art

I have created a blog that specifically contains my reviews on music albums. If you’re interested in album reviews, please visit my new blog Chronosonic.

“Invisible Touch”, album yang menandai awal dan akhir sebuah era. Album yang menasbihkan transformasi para veteran rock menjadi para pejuang art pop garda depan. Sebuah album penuh kekuatan yang menjadikan nama Genesis tidak hanya bergaung di kalangan penikmat musik art rock garis keras, tapi juga ke kancah tangga musik pop dunia; lengkap dengan penjualan jutaan album dan ratusan konser sold-out di tiap penjuru planet. Tapi mungkin efek yang paling mendalam terhadap sejarah musik dunia adalah, kelahiran Phil Collins¬†sebagai salah satu penulis musik pop terbesar yang pernah ada.

Salah satu fakta yang membuat penulis masih bingung sampai detik ini adalah kenyataan tidak tercantumnya album ini ke daftar “500 Greatest Albums of All Time” majalah Rolling Stone di tahun 2004. Tanpa ragu, semua album di daftar tersebut adalah album luar biasa. Tapi bila boleh berterus terang, tidak banyak album yang lebih hebat dari karya besar Genesis di tahun 1986 ini.

Berdurasi 46 menit, album ini dipersenjatai 8 trek brilian. Tidak ada lagu “biasa-biasa saja” di album ini; semuanya adalah karya seni tinggi. Di awal album, kita langsung dihentak dengan “Invisible Touch”, sebuah lagu berirama dansa khas 80’an. Dilanjutkan oleh sentuhan art rock a la Genesis di salah satu lagu paling ikonik dekade tersebut, “Tonight, Tonight, Tonight”. Disambung dengan “Land of Confusion” yang sedikit banyak mengingatkan pada Peter Gabriel dan gerakan new wave saat itu. Lalu lagu keempat menutup bagian pertama dengan manis lewat lagu romansa “In Too Deep”.

Bagian kedua dimulai dengan gebrakan drum Collins yang akan menjadi ciri khasnya di awal 90’an, lewat “Anything She Does”. Sebuah lagu berdurasi hampir 11 menit, “Domino part 1 & part 2” menegaskan bahwa reputasi Collins, Rutherford, & Banks sebagai musisi & instrumentalis tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebuah lagu pop cacthy khas Collins “Throwing It All Away” memberikan sedikit cuplikan akan kejayaan yang menantinya di akhir 80’an dan awal 90’an, saat ia memutuskan untuk fokus berkarir solo. Lalu album hebat ini ditutup sebuah tour de force lewat lagu bergaya art wave, “The Brazilian”.

Tanpa basa-basi, ini adalah sebuah album luar biasa. Album magnum opus trio Britania Raya yang terdiri dari Phillip Collins, Michael Rutherford, dan Anthony Banks. Mungkin sebagaian besar fans art rock atau fans Genesis tidak setuju, mereka merasa album ini terlalu “pop”. Dan banyak juga yang akan mengatakan bahwa Genesis era Peter Gabriel lebih mumpuni. Tapi akhir kata, setiap album memiliki kekhasannya dan kekuatannya masing-masing, dan bagi penulis, “Invisible Touch” adalah sebuah pencapaian musikal yang sangat signifikan bagi sejarah musik populer.

Trivia: Pada saat album ini menembus US Top 40 di tahun 1986, ke empat personil Genesis,- Peter Gabriel, Phil Collins, Mike Rutherford, dan Tony Banks-, masing-masing juga memiliki single solo karir mereka di US Top 40. Hanya para personil The Beatles yang pernah melakukannya dengan solo karir mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s