Dedaunan Musim Semi

seperti angin yang membelai wajahku,
seperti embun yang membunuh dahagaku,
seperti rembulan yang membisikkan namamu,
bibir membisu, jiwa berteriak, “aku rindu”

bila jarak yang membentang menghalang,
bila asa yang pernah ada, kini pergi dan hilang
bila hanya citramu melekat di jiwaku yang malang
biarlah kuhabiskan sisa hidupku dalam gamang

karena engkaulah yang pernah meniupkan bara
karena engkaulah yang pernah menghidupkan cita
karena dirimu jua, aku mengerti dan menjalani fana
bila yang kita rasa dulu adalah cinta, maka pedih ku tak sia-sia

 

*for that special someone who share a cup of coffee with me under the Jakarta stars, years ago..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s