Why Relationships Are So Goddamn Complicated

Pertama-tama: genetika adalah bidang ilmu yang keren. Now that we agree on that, let’s move on. Kita akan lihat hubungan antara gen & evolusi biologis terhadap kerumitan hubungan laki-laki dan perempuan saat ini. Beberapa paragraf berikutnya akan cukup saintifik, jadi buat yang tidak sabaran, bisa langsung loncat ke paragraf-paragraf berikutnya. But you might miss some good stuff. Dan satu lagi, ini cuma artikel blog, gak usah terlalu serius ngebacanya.

The Underlying Sciences

Dalam 1 dekade terakhir, bidang ilmu sosiobiologi muncul ke permukaan sebagai salah satu turunan dari ilmu genetika (pun intended). Sosiobiologi, secara sederhana, adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai akibat proses evolusi biologis dan genetika.

Sebelum membahas lebih jauh artikel ini dari sisi sosiobiologi, saya hendak sedikit membahas mengenai sebuah konsep, yaitu konsep the selfish gene. Konsep ini menjelaskan bahwa, or at least what I reckoned after reading the magnificent book, organisme hidup hanyalah “kendaraan” bagi gen-gen di dalam tubuhnya. Apapun yang kita kerjakan, pilihan yang kita ambil dalam hidup, sebenarnya dikendalikan oleh gen-gen dalam tubuh kita demi kelangsungan keberadaan mereka. We are merely the vehicle of our genes’ survival and continuity. Konsep ini akan menjadi salah satu fondasi pembahasan di sini. And it’s also a very cool concept, I thought I just share it with you guys.

Kembali ke sosiobiologi. Jadi, long story cut short, saat ini kemampuan laki-laki dan perempuan tidak lah sama. Sebelum para feminis menyerang kalimat tadu, yang saya maksud di sini adalah, walaupun kita memiliki hak yang sama atas kesempatan dalam hidup, secara fisiologis, laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk dengan kemampuan yang berbeda.

The History of Man. And Woman.

Sebelum manusia menetap dan membangun kota-kota, spesies kita adalah hunter-gatherers. Bahkan hingga kini di beberapa area terpencil, kehidupannya masih seperti itu: laki-laki berburu, perempuan mengumpulkan. Laki-laki melindungi, perempuan merawat.

Selama ribuan generasi, proses ini membentuk sebuah komunitas manusia yang terasah untuk fungsinya masing-masing. Laki-laki, yang ratusan ribu tahun berprofesi sebagai pemburu, memiliki spatial vision yang lebih baik daripada perempuan. Sebaliknya, perempuan sang penjaga sarang, memiliki peripheral vision yang lebih baik. Ini kenapa laki-laki memaksa untuk  menyetir mobil saat bepergian bersama. Dan jangan heran kalau perempuan, tanpa menolehkan kepala, dapat melihat situasi di sekelilingnya. Terutama saat si laki-laki melirik perempuan lain.

Laki-laki yang bilang dia tidak tertarik pada perempuan secara visual (i.e. pada fisiknya) itu adalah kebohongan besar

Sepanjang hari menjaga sarang, perempuan berkumpul dengan perempuan lain di kelompoknya demi keamanan, sementara para pria berkeliaran di luar berburu. Apa yang dilakukan perempuan saat berkumpul? Simply put, they talked and talked and talked.

Hasilnya, otak perempuan lebih berkembang dalam hal memproses rangsangan audio. Mereka dapat berbicara dalam waktu bersamaan dan masih mengerti perkataaan satu sama lain. Buat laki-laki yang ada di dekatnya, ini bagaikan riuh rendah yang tidak dapat dimengerti. So don’t blame us guys if we cringed at your conversations with you girl friends.

Laki-laki mengandalkan matanya selama ratusan ribu tahun. Perempuan mulut dan telinganya. You see where this is leading yet? Perempuan sering bertanya dalam keheranan, apa asyiknya buat laki-laki melihat gambar-gambar perempuan, dengan atau *cough* tanpa busana. Bagian otak laki-laki yang mengolah rangsangan visual lebih berkembang, that’s why. Dan kita, laki-laki terkadang masih suka bingung, kenapa kita bisa menyenangkan perempuan hanya dengan mendengarkan. We’re not even saying anything, we’re just listening. Guys, perempuan mendapatkan sensasi kebahagiaan dengan menggunakan indera bicaranya. Jadi saat mereka berbicara, dengarkan.

Intermezzo: kenapa laki-laki menyukai perempuan yang memakai sepatu hak tinggi? Beberapa pendapat mengatakan, and I’m not making this shit up, saat melihat bentuk kaki perempuan yang menggunakan sepatu hak tinggi, pemburu primitif yang ada di dalam gen semua laki-laki berkata bahwa itu adalah buruan yang hendak melarikan diri. Hunter instinct took over.

Quantity vs. Quality

Okay, kita sudah tahu bahwa berbahaya untuk melirik perempuan lain, bahkan di saat sang pasangan pandangannya tidak tertuju ke arah wajah kita. Pandangan periferi mereka dapat mendeteksi perubahan kecil di sudut mata, yang tidak akan dimengerti oleh laki-laki. Tapi kenapa masih banyak laki-laki yang tidak jera dan seolah-olah tanpa sadar, mengarahkan pandangannya pada perempuan dengan dada besar yang ada di meja sebelah? Ada alasan saintifik kenapa laki-laki suka dengan perempuan dengan dada besar, but that’s for another article.

Kita adalah kendaraan gen kita, dan gen laki-laki mendikte kita untuk terjun bebas ke dalam tantangan seberbahaya apapun demi penyebaran gen seluas-luasnya. Those scumbags male genes. Seberapa sering kita melihat laki-laki melakukan hal-hal berbahaya, hal-hal bodoh, demi mendapatkan pasangan?

Sebuah anekdot populer menceritakan bahwa laki-laki memikirkan seks beberapa ratus kali dalam satu hari. Biologically speaking on our defense, berapa kali dalam sehari laki-laki menghasilkan sel reproduksi? A lot! Organisme paling mudah terangsang di saat proses menghasilkan sel reproduksi. It’s just how reproductive biology works. Di saat perempuan ber-ovulasi (menghasilkan telur, sel reproduksi perempuan) satu kali dalam satu bulan, para laki-laki dikutuk untuk menghasilkan ratusan sperma (sel reproduksi laki-laki) beberapa kali dalam sehari. So there’s a scientific and logical explanation of why us men fall in lust almost all day, everyday.

Apa hubungannya dengan relationships between men and women, sifat laki-laki yang mata keranjang, serta perempuan yang, dare I say, materialistis? Sederhana saja, kuantitas vs. kualitas. The understanding of this simple equation is essential in accepting the behaviors of the opposite sex. Dan sebelum membahasnya lebih lanjut, yang kita bahas di sini adalah sifat dasar manusia, just another organism in this planet. Sekitar 96% komposisi gen kita masih sama dengan komposisi gen hewan mamalia lainnya.

Otak laki-laki terancang untuk mencari kesempatan menghasilkan keturunan sebanyak-banyaknya. Itu sebabnya gen-nya merancang sistem organ reproduksi yang menghasilkan sel reproduksi sebanyak-banyaknya. Sifat dasar laki-laki, sebelum diatur oleh norma sosial, adalah memiliki pasangan penghasil keturunan sebanyak-banyaknya. Poligami bukan hal yang aneh di alam. Di dunia hewan, hal ini diatur oleh hirarki, alpha male memiliki kesempatan lebih besar kawin dengan para betina di kelompoknya. Dan alpha male biasanya adalah jantan terkuat, yang mana sangat baik bagi kualitas gene-pool kelompok tersebut.

Tapi bukan berarti di dunia hewan tidak ada konsep monogami. Monogami menyediakan dua organisme dewasa untuk mengasuh dan menjaga keturunan, dan secara tidak langsung meningkatkan kemungkinan bertahan hidup hingga keturunannya mandiri. Penguin emperor adalah salah satu penganut monogami yang terkenal.

Berbeda dari laki-laki, perempuan hanya menghasilkan satu sel reproduksi dalam kurun waktu satu bulan. Kelangkaan membuat sel telur memiliki nilai yang sangat tinggi. Konsekuensinya, gen perempuan merancang otaknya agar hanya menerima donor sel reproduksi terbaik dari yang ada di kelompok. Dan apabila terjadi pembuahan, donor sel reproduksi laki-laki tersebut harus yang dapat memberi keamanan paling tinggi. Kualitas laki-laki adalah kriteria yang sangat penting, karena kelangsungan hidup turunan menjadi prioritas utama perempuan, dan gen-nya tentu saja.

Maju sekian ratus ribu tahun, perempuan masih mencari alpha male untuk membuahi sel telurnya. Tapi kita tahu, saat ini status alpha male bukan lagi ditentukan oleh kekuatan fisik. Insting purba untuk mencari keamanan dari marabahaya dan tidak kekurangan akan sumber daya telah diwakili oleh keamanan finansial.

Conclusion

Kesimpulannya, laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang sangat berbeda. Dengan kemampuan fisiologis berbeda dan kepentingan biologis yang berbeda pula. Kerumitan muncul saat masing-masing tidak mengerti bahwa mereka bertindak menggunakan dua aturan yang sama sekali berbeda.

Secara sosial, masyarakat kita sudah jauh lebih maju daripada leluhur kita para penghuni gua yang berprofesi sebagai pemburu-pengumpul. Tapi secara biologis, kita masih bagian dari pohon genetika dunia hewan. Insting purba masih menjadi pendorong kita dalam mengambil keputusan, disadari atau tidak. Benturan antara karakteristik biologis dan tatanan sosial, perbedaan rancangan otak perempuan dan laki-laki inilah yang membuat hubungan menjadi terlihat begitu rumit.

male-prostitute

Kita adalah hasil evolusi kebiasaan leluhur kita, yang diturunkan dan dipertajam selama ribuan generasi. Menerima dan memahami perbedaan masing-masing jenis kelamin akan mempermudah proses menjalani hubungan.

Akhir kata, saya ingin merekomendasikan dua buku yang menurut saya sangat fenomenal dan mempengaruhi penulisan artikel ini, “The Selfish Gene” oleh Richard Dawkins dan “Why Men Don’t Listen dan Women Can’t Read Maps” oleh Allan & Barbara Pease. Atau jika ingin bacaan yang lebih ringan, klik di sini.

That’s it, I hope I’m not ranting too much. Now I must get back to listening to my wife talk endlessly about her day at the office, even though I don’t have any slightest idea who the people in her story are.

Advertisements

4 thoughts on “Why Relationships Are So Goddamn Complicated

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s