Sleeping With A Broken Heart

Artikel ini pertama kali ditulis pada tanggal 30 April 2010 di Tumblr saya. Berita kemenangan 1 milyar US$ pengacara-pengacara Apple Inc atas Samsung beberapa hari lalu membuat saya ingin kembali menerbitkan artikel ini, dengan sedikit penambahan (ditulis dalam font style italic).

Artikel ini adalah kisah patah hati.

Kisah kekecewaan karena sesuatu yang dulu begitu dikagumi, kini menjadi sesuatu yang dahulu dijauhi. Kisah sedih karena sesuatu yang dulu adalah impian romantis, kini menjadi sebuah mimpu buruk kapitalisme. Sesuatu yang dulu melambangkan kebebasan, pemberontakan, kini telah menjadi perlambang kekuasaan dan anti-kebebasan itu sendiri. Marah, karena uang dan kekuatan memang benar dapat merubah orang dan organisasi.

Saya ingat di awal 90’an, masih berseragam SMP, melihat sebuah iklan di majalah. Sebuah peristiwa yang bisa jadi, adalah salah satu penentu jalan hidup saya. Sebuah mesin yang sangat memesona, begitu indah, dan membawa sejuta janji akan pengalaman indah. Sebuah komputer. Sebuah Apple.

Beberapa tahun kemudian, di jaman SMA. Saya melihat komputer Apple secara langsung. Pemiliknya adalah orang yang eksentrik. Dan kesan itu berbekas sampai sekarang. Bagi saya, Macintosh adalah untuk mereka yang menolak kemapanan.

Maju lagi beberapa tahun, zaman kuliah, pertengahan 90’an. Microsoft ada di mana-mana dan semua orang menggunakannya. Tapi saya masih bisa bertemu dengan pengguna Apple Macintosh. Dan saya benar-benar kagum setiap bertemu mereka. Artistik, pemberontak, non-konformis, bukan bagian dari orang kebanyakan. Dan seperti itu pula lah citra Steve Jobs dan Apple yang saya lihat dari berbagai media.

Saat itu Microsoft adalah perusahaan IT paling besar di dunia. Semua melihat mereka sebagai monster kapitalisme yang merusak nilai-nilai kebebasan berkarya dan berbagi hasil karya. Dalam hubungannya dengan Apple, saat itu Microsoft dipandang sebagai “antek” korporasi besar, penjaga kemapanan (establishment). 

Singkat kata, saya dulu adalah pengagum Apple.

Tapi itu semua berubah, hanya dalam hitungan bulan.

Saya juga tentu saja pernah menggunakan produk Apple. Tetapi karena alasan-alasan pragmatis, saya meninggalkannya dan sama sekali bukan alasan pribadi. Produk Apple yang masih saya gunakan setiap hari adalah sebuah iPod Shuffle. Dan saya tidak akan mendebat kalau ada seseorang mengatakan bahwa Apple membuat beberapa dari produk-produk terhebat yang pernah ada.

Saat ini iPod Shuffle tersebut sudah rusak, tapi saya memang berniat membeli lagi sebuah iPod Classic. Dan tulisan ini diketik di MacBook Pro saya.

Tapi jalur yang sekarang diambil Apple dan arah tujuan yang saya lihat, membuat saya patah hati. Sebuah korporasi raksasa bernilai milyar-an dollar, yang tentakel-nya merambah ke berbagai sektor. Menyerang musuh-musuhnya dengan kebengisan yang serupa dengan musuh-musuh mereka dahulu.

Saya yakin banyak yang merasa bahwa alasan saya menulis artikel ini adalah karena saya pengguna Adobe, perusahaan yang akhir-akhir ini selalu diserang oleh Apple.

Bukan.

Saya lebih dulu mengenal HTML, CSS, dan JavaScript dibanding Flash. “IDE” pertama saya adalah Notepad. Saya adalah pendukung teknologi HTML5 dan CSS3 yang dikatakan sebagai pembunuh Flash. Pekerjaan saya lebih banyak berhubungan dengan PHP-Apache-MySQL. Bahasa ActionScript yang saya gunakan untuk mengembangkan aplikasi Flash mengikuti standar ECMAScript, standar yang juga digunakan oleh JavaScript. Saya sama sekali tidak takut apabila Flash tiba-tiba menghilang dari dunia web.

Di hackathon yang akan gw ikuti bulan depan, gw hanya akan make tech stack HTML5. Siapa tau ada yang gak percaya… pffft…

Tapi saya rasa para pengembang yang berpikir jernih tahu, HTML5 masih butuh waktu lama untuk bisa sejajar dengan kemampuan Flash. Tingkat kemampuan berbagai browser masih belum sama dalam menerjemahkan HTML5/CSS3 dan IDE yang mumpuni untuk teknologi ini masih belum bisa dibilang tersedia dengan mudah.

Menurut Jobs dalam suratnya, Flash dirancang untuk mouse. Ini memang benar, tapi tidak semua orang menggunakan tablet. Butuh waktu cukup lama sampai orang-orang benar-benar meninggalkan mouse. Dan tablet bukan cuma iPad. Dan di JavaScript juga ada yang namanya onMouseOver, tuan Jobs.

Di mana semangat kebebasan, apabila kita dilarang menentukan sendiri apa yang bisa kita lakukan terhadap sesuatu yang kita beli dengan harga jutaan rupiah? Di mana semangat kebebasan apabila seorang pengembang harus melalui skrining yang berbelit-belit dan acapkali tidak masuk akal, hanya untuk menjual aplikasi yang sudah dia buat? Kenapa tidak biarkan pasar yang menentukan. Fasisme tidak pernah berhasil tuan Jobs.

Sebelumnya saya menulisnya sebagai “komunisme”, tapi dengan tindak-tanduk kapitalisme-nya, mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai “fasisme”.

Saya akan lebih menghargai apabila Apple jujur kepada para pengembang bahwa alasannya menolak Flash (dan Silverlight, Java/JavaFX) pada iProduct adalah alasan keuntungan. Keuntungan yang sangat besar, yang diperolehnya dari Apple App Store. Saya juga pengusaha, saya tahu perusahaan membutuhkan keuntungan. Tapi menutupi alasan ini dengan cara menyerang sebuah teknologi, benar-benar membuyarkan segala citra indah Apple yang dahulu ada di benak saya.

Dengan membuat sebuah platform iklan yang murni dikuasai oleh Apple, dengan biaya masuk sebesar 1 juta dollar benar-benar sebuah langkah yang mengejar kekayaan. Sekali lagi, saya mengerti ini adalah langkah rasional sebuah perusahaan. Tapi ini bukan Apple yang dulu begitu saya kagumi.

Dengan kekayaan hampir 700 milyar US$, mengejar kemenangan hak paten atas desain “candy box” dan “wiggly icons” serta klaim 1 milyar US$, it is translated as greed in my book, Apple Inc.

Akhir kata saya hanya ingin mengucapkan bahwa saya masih mengagumi Apple. Kesuksesannya adalah sesuatu yang hebat. Tapi kagum tidak sama dengan cinta. Cinta itu sudah hilang saat Apple murni menjadi pencari keuntungan, dan bukan lagi pemberontak underdog yang menantang kemapanan.

Dan saya juga harap Adobe belajar dari kesalahannya, dan mau membuka mata bahwa cepat atau lambat mereka harus membuat aplikasi yang dapat digunakan untuk memroduksi aplikasi HTML5 dan CSS3. Saya yakin mereka punya kemampuan ini, tapi entah kapan mereka akan memulainya. OpenScreen Project dan implementasi AIR di Android memang sangat menjanjikan, tapi web bukan cuma RIA.

Since the original article, Adobe had stopped updating and providing Flash players for mobile devices. I can’t emphasize enough this paragraph for them. You snooze, you lose Adobe.

Tiap malam sebelum tidur saya selalu mendengarkan musik di iPod saya. Malam ini saya hanya akan mendengarkan lagu “Dreaming With A Broken Heart” dari John Mayer.

I miss the old swashbuckling and anti-establishment Apple.

we have always been shameless about stealing great ideas..” ~Steve Jobs

Regards,
Arie M. Prasetyo
30 April 2010

Advertisements

One thought on “Sleeping With A Broken Heart

  1. Mas Aris, Judul yang menarik hati. Sebelum membaca isinya saya sudah membuat imajinasi sendiri tentang isinya yang ternyata….meleset jauh. Ternyata lagi ngomongin software.

    Dulu pernah bingung mau beli mac atau win akhirnya pilih win, karena semua sofware macromedia yang dimiliki adalah untuk win. Aslinya sih penggemar linux, tapi mau apa lagi. Beli di toko pilihannya cuma 2 doang, mac or win. salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s