Jajang: A Brief Analysis of Reactions

Kalau kamu pengguna Twitter dan aktif di sana setidaknya selama sore dan malam hari kemarin, pasti tau siapa yang saya maksud. Membaca sebuah retweet  teman/user di timeline, membuka profil user @jajang_nandar, dan lalu membaca tagar #terJajang yang menjadi Trending Topic domestik; kurang lebih seperti itu metode perkenalan sebagian besar kita dengan sosok Jajang.

Terus terang saya penasaran apa yang menyebabkan begitu banyak orang yang mem-follow akun @jajang_nandar. Yang pertama menarik perhatian orang-orang tentu saja adalah gaya penulisannya. Sangat susah dibaca dan cukup kasar. In quite a funny way though. Tapi apakah cuma itu? Is it because “buzzers” seemed to adore this guy, that their followers blindly followed Jajang’s account? If I was a brand, I’m not sure what kind of message I want to send to this kind of audience.

Yang ingin saya bahas dari kejadian kemaren bukanlah Jajang, per se. Pada akhirnya, justru jenis-jenis reaksi pengguna Twitter lah yang menjadi menarik. Mulanya saya hendak membahas fenomena peningkatan jumlah follower-nya yang cukup luar biasa. Tapi terus terang, setelah mencoba berbagai perspektif, saya justru semakin bingung apa penyebabnya. Jadi di sini saya hendak membahas beberapa jenis reaksi yang saya lihat di timeline dari sore hingga malam harinya.

Continue reading

Advertisements

Happy 202nd, Bandung

Selamat ulang tahun yang ke 202 kota Bandung, my hometown for most of my life. Sebuah kota yang dihiasi sejarah dan kontradiksi. Kota yang bagi saya pribadi, dipenuhi ribuan kenangan. Kenangan yang tidak akan mungkin dapat dihilangkan dari benak hingga ajal menjemput. Klise memang, tapi saya rasa semua orang punya kota yang spesial buat mereka. Terlebih bila itu adalah kota tempat mereka dibesarkan dan memperoleh begitu banyak dalam hidup, entah itu kebahagiaan atau kesedihan, tawa atau tangis, teman maupun musuh. So on this occasion, I see it’s fitting to pay a small tribute to this once lovely city. Ya betul, “once lovely”.

Continue reading

Drop The Bass, Drop The Bomb

This is my personal opinion, something that everyone are entitled to. If you have different ones, please do share in the comments. Again, I’m not a professional in the music industry or anything like that. I don’t know how to make a band “big”. This article is not about how to accomplish that. This is merely a humble yet not so subtle opinion. Thanks!

Tadi pagi mas Widi membahas di blog-nya mengenai masa depan toko-toko musik tradisional (dalam bentuk Compact Disc) di negeri ini. Lalu pembahasan artikel ini juga berlanjut di Branch. Topik yang saya rasa juga melanda industri musik global pada umumnya.

Di sini saya tidak akan membahas ulang isi blog dan pembahasan di atas. Saya di sini hanya akan membahasnya dari perspektif saya, sebagai penikmat musik dan musisi gagal. Kenapa saya bahas? Karena ini blog saya. Blog aing kumaha aing.

Continue reading

Introducing: Chronosonic

Mungkin sebagian sudah tau tentang artikel-artikel saya di blog ini yang membahas beberapa album musik hebat. Tapi mungkin juga tidak karena pengunjung blog saya ini masih sedikit.. :D. But anyway, karena saya merasa sangat bersemangat menulis artikel-artikel review album, saya memutuskan untuk membuat sebuah blog baru yang khusus bertemakan hal tersebut.

So let me introduce to you, Chronosonic, a chronicle of sound. Di blog ini saya khusus membahas album-album keren dari awal sejarah musik modern. Artikel-artikel di blog ini mempunyai pola yang sama, di mana antara lain saya akan menulis persepsi singkat mengenai album yang dibahas, pengaruh & reputasi-nya di dunia musik, serta rekomendasi lagu-lagu terbaik di dalamnya.

Selanjutnya, karena saya masih ingin tetap membahas berbagai mahakarya budaya di blog ini, saya mungkin akan memulai menulis review tentang film atau buku. Or perhaps you guys have better ideas?