Drop The Bass, Drop The Bomb

This is my personal opinion, something that everyone are entitled to. If you have different ones, please do share in the comments. Again, I’m not a professional in the music industry or anything like that. I don’t know how to make a band “big”. This article is not about how to accomplish that. This is merely a humble yet not so subtle opinion. Thanks!

Tadi pagi mas Widi membahas di blog-nya mengenai masa depan toko-toko musik tradisional (dalam bentuk Compact Disc) di negeri ini. Lalu pembahasan artikel ini juga berlanjut di Branch. Topik yang saya rasa juga melanda industri musik global pada umumnya.

Di sini saya tidak akan membahas ulang isi blog dan pembahasan di atas. Saya di sini hanya akan membahasnya dari perspektif saya, sebagai penikmat musik dan musisi gagal. Kenapa saya bahas? Karena ini blog saya. Blog aing kumaha aing.

Who Buy CD’s Nowadays Anyway?

Hal pertama yang akan saya bahas adalah seberapa signifikan toko-toko yang menjual CD musik. Saat ini, toko-toko musik dalam bentuk fisik bukanlah salah satu pemain utama industri seperti 30 tahun lalu. Masanya sudah lewat. To be bluntly honest, distribusi fisik mungkin akan bertahan, tapi kejayaan masa lalu mereka tidak akan pernah mungkin terulang. Pulsa ponsel saja orang lebih suka beli yang elektronik daripada yang fisik. It’s all about convenience.

Tentu, masih ada orang yang melakukan pembelian musik dalam bentuk fisik. Tetapi jumlahnya sangat sedikit dan terus tergerus oleh perkembangan distribusi digital. Mereka biasanya adalah penggemar musik indie (yang musiknya belum bisa dibeli online), atau memang kolektor CD die hard (yang pasti sudah cukup berumur, eh.. mapan, karena CD tidak murah).

Shut Up & Take My Money.. But Not For The Record Labels

Poin kedua adalah pendapat pribadi, the one where I’m going to drop the bomb. Musik adalah karya seni, tapi kerakusan korporat telah merubahnya menjadi industri yang sangat kejam (I’m looking at you RIAA). Cuma industri musik yang bisa membuat a kind act of sharing menjadi bagaikan sebuah tindakan kejam yang tidak berperikemanusiaan. Apakah indutri makanan pernah menindak seseorang karena membagi rainbow cake-nya pada orang lain? I don’t fucking think so.

dude, easy for you to say… you don’t need the fame or fortune of the glamorous world of the music biz.. *sneer*

Kini musisi cenderung tidak lagi membuat musik demi seni musik itu sendiri, tapi demi ketenaran dan kekayaan. Dan hal ini cuma bisa dicapai dengan bekerja sama dengan distributor-distributor musik raksasa dengan kekuatan promosi di setiap lini. Dan perusahaan-perusahaan ini akan bertarung habis-habisan dan dengan segala cara, menjaga aset mereka, lagu-lagu para musisi. Ya, aset mereka itu lagu, bukan para musisi. Musicians are disposable to them.

Hal inilah yang sebenarnya membunuh dunia musik, bukan pembajakan. Musik seharusnya bebas, bebas untuk didengarkan siapa saja, bebas untuk dibagi ke siapa saja, dan bebas dari corporate bullshit. Look, buat apa saya membayar mahal sebuah CD untuk sebuah band baru, apabila saya belum pernah mendengar musiknya sama sekali? Word of mouth? Not good enough di jaman di mana jutaan orang bisa membuat musik dari kamar tidurnya.

err.. so dude, how are we supposed to make money and buy sembako?

Well. gimana kalo mencoba untuk menjual langsung ke pendengar secara online. Saya yakin ada banyak cara untuk ini dan saya yakin sebagian besar musisi sudah tau caranya.

Bekerja sama dengan penyedia musik online streaming. Terima royalti dari setiap lagu yang di-stream pendengar dari penyedia-penyedia ini.

Jualan merchandise: kaos, topi, poster, gantungan kunci, cangkir, taplak meja, keset, kondom, apapun. Be creative for God’s sake. You are a musician, who thrive on creativity, act like one!

Perbanyak tampil di panggung. Musisi adalah seniman penampil (performing artists), jangan cuma bisa berlindung di balik kenyamanan tembok studio. Beredar lah, keliling nusantara, bertemu dengan fans, buat fans baru. Perbesar fanbase.

Lebih ekstrim lagi: bagikan gratis semua musik kamu di internet. Bila perlu bekerja samalah dengan para penjual CD di Glodok atau Pasar Kota Kembang. Biarkan pendengar yang menilai apakah nanti mereka akan mencari merchandise ataupun tiket konser kamu. Bila memang musik kamu memang layak dengar, para fans pasti akan datang berbondong-bondong dengan tangan dan dompet terbuka.

Coda

Saya yakin masih banyak cara lain untuk mendapatkan keuntungan komersial dari lagu yang diciptakan musisi, tapi silakan bertanya kepada para ahlinya. Saya di sini cuma menyampaikan bahwa tutupnya toko-toko CD ataupun pembajakan bukanlah akhir dari dunia musik. Tirulah seniman-seniman dari spektrum seni lainnya, yang rela hidup sengsara demi seni mereka. Tapi bukan berarti mereka tidak ada yang berhasil. Di saat seniman mencipta seni demi seni itu sendiri (art for art’s sake), kesuksesan pasti datang.

Now stop whining about piracy or the death of physical distribution, and start making the art of your passion!

Biar tidak terlalu serius, nih.. komik dari The Oatmeal tentang kondisi industri musik di masa lalu, saat ini, dan harapannya di masa depan. Dan satu lagi, sebuah lagu downloadable dari The Aats.

Disclaimer: I’m a failed commercial musician. The only one who ever bought my CD was perhaps my mom. But I have always been and always be a musician who never stopped creating music. And by the way, the last CD I bought was Prodigy’s album “The Fat of The Land”, in Aquarius Dago, for Rp. 50.000 in 1997.

Advertisements

3 thoughts on “Drop The Bass, Drop The Bomb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s