Happy 202nd, Bandung

Selamat ulang tahun yang ke 202 kota Bandung, my hometown for most of my life. Sebuah kota yang dihiasi sejarah dan kontradiksi. Kota yang bagi saya pribadi, dipenuhi ribuan kenangan. Kenangan yang tidak akan mungkin dapat dihilangkan dari benak hingga ajal menjemput. Klise memang, tapi saya rasa semua orang punya kota yang spesial buat mereka. Terlebih bila itu adalah kota tempat mereka dibesarkan dan memperoleh begitu banyak dalam hidup, entah itu kebahagiaan atau kesedihan, tawa atau tangis, teman maupun musuh. So on this occasion, I see it’s fitting to pay a small tribute to this once lovely city. Ya betul, “once lovely”.

Saya lahir di Cimahi, sebuah kota yang hanya berjarak 10km sebelah Barat dari pusat kota Bandung. Saat saya berada di kelas 2 Sekolah Dasar di kota kelahiran, saya dibawa orang tua ke Sumatra karena alasan tugas (pops was in the Army). Saya kembali lagi ke Cimahi 6 tahun kemudian dan meluluskan SMP di sana. Baru saat saya menginjak bangku SMA, saya mulai sepenuhnya berkenalan dengan Bandung.

*A bit of confession on personal matter on the next paragraph

Saya bukan tipe anak yang senang belajar; mengerjakan PR pun selalu saya kerjakan di kelas, di pagi hari sebelum dikumpulkan, menyalin dari teman (hampura bapak ibu guru). Jadi saya cukup kaget saat diterima di sebuah SMA Negeri favorit di kawasan Jalan Belitung, Bandung pada tahun 1992. I believe it was the only time I was excited about going to school. Rumor has it, my high school is famous for its beautiful girls.

Masa SMA adalah saat pertama kali mengenal kota ini. Bandung adalah kota yang luas dan dapat dikatakan bahwa saya cuma mengenal daerah Bandung Barat pada saat itu. Di mulai dari rumah di Cimahi, masuk ke perbatasan kota di Cibeurem, melewati daerah Andir & Padjadjaran. Hingga ke wilayah Wastukencana, melewati Balai Kota & Taman Lalu Lintas, hingga ke SMA tercinta.

Jujur saya dulu bukan tipe anak yang suka jalan-jalan dengan teman. Cruising the streets in a friend’s car, smoking weed and shit, picking girls up from different corners of the city, wasn’t really my thing. My friends in highschool were as bright as they were delinquent. Saya lebih suka diam di perpustakaan dan membaca buku-buku sejarah dunia, Phytagoras, Newton, Freud and stuff. No wonder I first met my wife in my school’s library. But that’s another story. Jadi walaupun saya bersekolah di sebuah SMA di Bandung, pengetahuan saya akan kota yang indah ini masih cukup terbatas saat itu.

Saat ini sudah tidak ada lagi pagelaran musik yang diadakan di Gelora Saparua. Saya masih dapat merasakan hingga kini sensasi tampil bersama band SMA di sana pada warsa 1994. Sungguh sayang untuk sebuah kota yang terkenal akan para musisinya, tidak memiliki sebuah gedung pagelaran musik besar yang pantas.

Tapi saya masih ingat perjalanan dari rumah ke sekolah sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sure, there are some hotspots of congestion here and there, tapi itu semua masih normal untuk ukuran sebuah kota dengan jutaan pemukim. Saya ingat daerah jalan Merdeka belum terlalu ramai oleh kendaraan dan udara di daerah Dago masih dapat dinikmati kesejukannya. Kabut pagi adalah teman yang menyambut saat membuka pagar di pagi hari dalam perjalanan menuju sekolah.

Wisata kuliner dahulu benar-benar sebuah pengalaman gastronomis, bukan sekedar pengalaman yang bersalut gula kapitalisme. Pusat perbelanjaan tidak sebanyak saat ini dan pelancong dari luar kota benar-benar datang untuk menikmati keindahan kota. Dahulu satu-satunya rute darat untuk kendaraan pribadi menuju Bandung dari Jakarta adalah melalui Puncak atau Purwakarta, dengan waktu tempuh rata-rata 5 jam. It was lovely times.

Maju beberapa tahun, saya diterima di sebuah universitas negri di ujung Timur kota Bandung, di wilayah Kabupaten Sumedang. Hampir semua metode transportasi dari Cimahi menuju Jatinangor telah saya alami. Mulai dari angkutan umum, bis Damri, nebeng mobil temen, nebeng mobil paman yang berkantor di wilayah Timur, bis antar kota yang hendak pulang ke garasi-nya, sampai kereta api KRD. Metode terakhir ini akhirnya yang paling sering saya gunakan. Why? Cheap and fast.

Menjadi komuter KRD adalah pengalaman tersendiri. Sejak akhir 90’an, sudah terasa bahwa Bandung sangat membutuhkan metode transportasi massal yang baik. Pelayanan transporatsi kereta api selama 20 tahun terakhir hanya mengalami sedikit peningkatan. Cuma sekedar penambahan gerbong tanpa ada penambahan jalur. Padahal banyak jalur kereta api zaman Belanda yang bila pemerintah serius, dapat diaktifkan kembali, e.g. jalur Bandung – Dayeuh Kolot dan Bandung – Jatinangor. Sangat menyedihkan melihat suasana lalu-lintas kota Bandung saat ini, tidak ada perencanaan tata kota yang baik dan tanpa strategi transportasi massa yang serius. Sementara rencana pembangunan jalan tol dalam kota ruas Gasibu-Ujung Berung-Gede Bage entah kapan akan terwujud. Angkot jeung angkot weh tuluy nu nambah.

Jadi harapan saya sebagai warga Bandung yang telah tinggal, sekolah dan beranak pinak di kota ini adalah adanya strategi tata kota dan transportasi yang lebih baik ke depannya. Jangan hanya menambah mall, hotel, dan apartemen. Perbanyak sarana angkutan umum yang dapat diandalkan. Perbanyak ruang publik untuk perkembangan kebudayaan lokal dan taman-taman kota untuk rekreasi warga. Tingkatkan kemanan warga dan jangan beri ruang untuk organisasi-organisasi massa tanpa efek positif bagi masyarakat. Hentikan pembangunan perumahan daerah Bandung Utara yang seharusnya menjadi hutan kota dan daerah resapan air. Berishkan sungai Cikapundung dan kembalikan harkatnya sebagai sungai kebanggaan kota. Tingkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi warga. Dukung para pengusaha kecil menengah, perbaiki infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi. And last but not least, keep the girls gorgeous.

All in all, I love this city. Have a great birthday and I wish you an awesome future.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s