Jajang: A Brief Analysis of Reactions

Kalau kamu pengguna Twitter dan aktif di sana setidaknya selama sore dan malam hari kemarin, pasti tau siapa yang saya maksud. Membaca sebuah retweet  teman/user di timeline, membuka profil user @jajang_nandar, dan lalu membaca tagar #terJajang yang menjadi Trending Topic domestik; kurang lebih seperti itu metode perkenalan sebagian besar kita dengan sosok Jajang.

Terus terang saya penasaran apa yang menyebabkan begitu banyak orang yang mem-follow akun @jajang_nandar. Yang pertama menarik perhatian orang-orang tentu saja adalah gaya penulisannya. Sangat susah dibaca dan cukup kasar. In quite a funny way though. Tapi apakah cuma itu? Is it because “buzzers” seemed to adore this guy, that their followers blindly followed Jajang’s account? If I was a brand, I’m not sure what kind of message I want to send to this kind of audience.

Yang ingin saya bahas dari kejadian kemaren bukanlah Jajang, per se. Pada akhirnya, justru jenis-jenis reaksi pengguna Twitter lah yang menjadi menarik. Mulanya saya hendak membahas fenomena peningkatan jumlah follower-nya yang cukup luar biasa. Tapi terus terang, setelah mencoba berbagai perspektif, saya justru semakin bingung apa penyebabnya. Jadi di sini saya hendak membahas beberapa jenis reaksi yang saya lihat di timeline dari sore hingga malam harinya.

The Cynics

Kalau jumlah follower dia melebihi aku, aku akan _____”, “Aku merasa _____ karena jumlah follower terlewati Jajang“. Seriously, guys? Banyak komentar-komentar sinis mengenai lonjakan jumlah follower Jajang dalam 12 jam terakhir. Memang sesuatu yang cukup menakjubkan, penambahan jumlah 10000 follower hanya dalam 1 malam. Tapi saya berharap kata-kata di atas tidak diucapkan dengan keseriusan dan hanya lah canda semata. Karena kalau iya, kesian banget hidup lo ngukur keberhasilan cuma dari jumlah follower

The Too-Serious

Ayo lah, tanpa bermaksud merendahkan, isi tulisan Jajang cuma memperlihatkan posisinya di jangkauan dan kesempatan pendidikan. Bila ada tulisannya yang terkesan misogynist atau kurang ajar, itu bukan karena motif-motif tertentu. Saya percaya itu hanya karena pengondisian pribadinya oleh lingkungan. Kurang adil apabila kita menilai norma-norma yang ia perlihatkan di jejaring sosial, tanpa memperhatikan norma-norma yang ia terima dari dunianya. Kita tidak dapat menerapkan standar kita pada orang lain secara pukul-rata.

The Indifferents

I know, user Twitter seperti Jajang tidak memberi efek positif dan tidak perlu di-blow-up sedemikian rupa. Tetapi yang menarik dari kejadian kemarin bukanlah sosok Jajang, tetapi histeria massal yang menyumbang pada fenomena yang sebenarnya, nggak penting. Very intriguing to see how people just mindlessly do what the majority are doing. Memang, beberapa tweet dan kosakata Jajang cukup lucu. Saya mengaku saya juga sempat mempraktekkan dan menyebar luaskan beberapa jargon beliau. But does he really worth following?. Lantas apa yang sebenarnya dicari para follower dalam jangka panjang?

 

In the end, saya setuju dengan tweet kamerad Agundespite segala kekurangannya, saya juga percaya bahwa apa yang Jajang tulis di Twitter-nya adalah kejujuran. Bukan suatu ekspresi yang dibuat-buat, kalimat-kalimat  yang ditulis dengan motif terselubung. Sebuah kepalsuan yang kini merebak begitu luas di linimasa, di mana secuil kejujuran lugas dari Jajang dianggap bagai sesuatu yang tidak lazim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s