Sirius

ISS 3, 14 Juni 2078

Sudah satu minggu aku di sini. Lambaian tangan Leyla saat di pelukan istriku masih membekas di benak. “Ayah, bawakan aku bintang ya..” ucap gadis kecilku saat itu. Senyumannya mampu menghapus keraguanku, bersamaan dengan merekahnya kerinduan mendalam.

Beberapa saat lagi persiapan untuk keberangkatanku akan berakhir. Pengisian bahan bakar telah selesai. Konfigurasi warp drive telah ditetapkan. Tidak ada lagi waktu untuk turun kembali ke Bumi.

Dari balik jendela kabin dapat kulihat planet biru yang mengagumkan itu. Perjalanan ini adalah kulminasi segala keindahan, segala kejayaan, kepedihan, kesedihan, dan kecerdasan yang menyelimuti sejarahnya. Sebentar lagi kami akan kembali menorehkan sejarah. Perjalanan warp manusia yang pertama.

Semenjak ditemukannya artefak Mare Nectaris 15 tahun lalu, seluruh tatanan kehidupan manusia berubah. Sejak kita menyadari bahwa kita memiliki saudara di langit, segala perbedaan terkikis satu per satu. Sebuah usaha kolektif tercipta, di atas premis yang tersamarkan selama keberadaan kita. Manusia adalah satu.

Bangsa-bangsa meletakkan senjatanya. Mungkin lelah akan kehancuran yang berkepanjangan. Mungkin lelah dalam keputus asaan akan planet yang sekarat. Mungkin juga karena harapan besar yang kini membuncah di dada manusia menjelang fajar abad 22.

Pesan itu telah terpatri selama puluhan ribu tahun, dalam dingin dan gelapnya permukaan Mare Nectaris. Harapan itu tertulis dalam aksara biner. Efeknya, melebihi skriptur suci ribuan tahun. Tulisan singkat itu menembus jiwa-jiwa tersesat di Bumi, “bila kalian telah siap, temui kami di Sirius.”

Kini aku harus meninggalkan rumah spesiesku; bangsa, teman-teman, orang-tua dan saudara. Meninggalkan Maya istriku, dan Leyla gadis kecilku. Harapan, impian, dan masa depan seluruh planet kini beristirahat di pundakku. Aku masih ingat refleksi cinta dan bangga di mata Maya saat aku melihatnya dari jendela pesawat yang membawaku ke tempat keberangkatan ini.

Pesawat angkasa “Alcubierre Dogon” kini telah siap membawaku ke Sirius. Aku juga tidak tau apa yang akan aku temui di sana. Hanya doa milyaran jiwa yang menerangi jalan ini. Kelangsungan hidup planet yang kutinggalkan bergantung pada pertemuan pertamaku dengan mereka yang menulis pesan di Mare Nectaris.

Aku memasuki kamar hibernasi yang akan menjagaku dalam tidur dingin selama 4 minggu ke depan. Saat aku menekan tombol aktivasi, aku berujar dalam hati, “akan kubawakan bintang untukmu Leyla…”

This is a work of fiction. Names, characters, places and incidents either are products of the author’s imagination or are used fictitiously. Any resemblance to actual events or locales or persons, living or dead, is entirely coincidental.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s