Jangan Berpaling Dari Negeri Sendiri

Awalnya adalah subtweet berikut dari Wiku. Semula saya mengira bahwa ini ajakan untuk “twitwar” mengenai musik atau dunia teknologi informasi, oleh sebab itu saya menjawabnya dengan subtweet berikut yang bernada “tantangan”, dan tentu saja bercanda. Tetapi seiring dengan berjalannya linimasa, ternyata yang hendak dibahas oleh teman saya ini adalah masalah yang dapat disebut serius. So, kalau respon tadi menyinggung perasaan, gw minta maap ya bro.. 😀

Ini adalah salah satu hal yang saya kurang suka dari percakapan digital, apakah itu instant message, tweet, atau comment section. Hampir 70% dari ide yang kita komunikasikan sehari-hari dikejawantahkan oleh bahasa tubuh. Mungkin itu sebabnya emoticon terlahir, untuk membantu percakapan dingin melalui kabel ini menjadi lebih manusiawi.

Tadi sewaktu diskusi dengan Wiku di Twitter, ada salah seorang teman kami yang mengirim pesan pada saya untuk menahan diri dari membahas masalah agama di Twitter. Sebagian saya setuju, Twitter sama sekali bukan tempat untuk mendiskusikan masalah sensitif dan dapat terhindar dari penyalahartian makna. Tetapi di sisi lain, kedewasaan adalah kemampuan untuk mendiskusikan masalah sensitif dengan kepala dingin, bukan menghindarinya. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk menulis artikel ini. Untuk melanjutkan diskusi di Twitter tadi, sekaligus semoga dapat menjelaskan tweet saya sebelumnya andai kata terjadi kesalahfahaman. So, to clear the water, this is my explanation.

Continue reading