Jangan Berpaling Dari Negeri Sendiri

Awalnya adalah subtweet berikut dari Wiku. Semula saya mengira bahwa ini ajakan untuk “twitwar” mengenai musik atau dunia teknologi informasi, oleh sebab itu saya menjawabnya dengan subtweet berikut yang bernada “tantangan”, dan tentu saja bercanda. Tetapi seiring dengan berjalannya linimasa, ternyata yang hendak dibahas oleh teman saya ini adalah masalah yang dapat disebut serius. So, kalau respon tadi menyinggung perasaan, gw minta maap ya bro.. 😀

Ini adalah salah satu hal yang saya kurang suka dari percakapan digital, apakah itu instant message, tweet, atau comment section. Hampir 70% dari ide yang kita komunikasikan sehari-hari dikejawantahkan oleh bahasa tubuh. Mungkin itu sebabnya emoticon terlahir, untuk membantu percakapan dingin melalui kabel ini menjadi lebih manusiawi.

Tadi sewaktu diskusi dengan Wiku di Twitter, ada salah seorang teman kami yang mengirim pesan pada saya untuk menahan diri dari membahas masalah agama di Twitter. Sebagian saya setuju, Twitter sama sekali bukan tempat untuk mendiskusikan masalah sensitif dan dapat terhindar dari penyalahartian makna. Tetapi di sisi lain, kedewasaan adalah kemampuan untuk mendiskusikan masalah sensitif dengan kepala dingin, bukan menghindarinya. Oleh sebab itu saya memutuskan untuk menulis artikel ini. Untuk melanjutkan diskusi di Twitter tadi, sekaligus semoga dapat menjelaskan tweet saya sebelumnya andai kata terjadi kesalahfahaman. So, to clear the water, this is my explanation.

THERE ARE NO PERFECTION

Tweet saya yang menjadi inti diskusi dengan Wiku, sebenarnya adalah rangkaian dari dua kalimat. Saya yakin pembatasan 140 karakter Twitter juga sudah pernah menimbulkan kesalahfahaman-kesalahfahaman lain :). Memang, bila dibaca tweet pertamanya saja, ada kemungkinan sebagian orang menganggap bahwa saya hendak menyepelekan masalah intoleransi yang ada di Indonesia. Tetapi tweet itu hanya kalimat pembuka, pokok pikiran yang hendak saya sampaikan ada di tweet kedua.

Saya terus terang mengkritik warga negara Indonesia yang mengritik pemerintahnya di tanah asing, “bagaikan membuka aib keluarga di publik”. Apalagi protes ini dilakukan di Amerika, yang terus terang menurut saya lucu karena negara ini mempunyai catatan intoleransi agama yang tidak lebih baik daripada Indonesia. Jadi selain membuka aib keluarga, tindakan protes di New York tadi menurut saya seperti mengadukan seorang pencuri pada seorang perampok.

Sama sekali tidak ada niat menyepelekan masalah di negeri ini pada saat saya menulis tweet tadi. Apabila saya memang menyepelekan, berarti saya juga menyepelekan masalah pelarangan pembangunan tempat ibadah umat minoritas Muslim di negara-negara lain. Which I don’t.

CONTINUOUS CHANGE

Dulu di awal 90’an, bila ada bangsa lain yang bertanya ke saya apakah saya bangga menjadi bangsa Indonesia, saya akan dengan teguh menjawab “YA”. Kini, ada begitu banyak hal yang membuat kebanggaan dan kecintaan pada negara ini luntur. Baik itu kelakuan buruk pemerintahnya, maupun rakyatnya.

Tetapi apabila ada bangsa lain yang berani menghina negara ini, menertawakan negara ini, saya tidak akan ragu untuk menyumpal mulut mereka dengan cara-cara yang menurut saya pantas. Your country is like your family. Kalau memang tidak suka, suarakan kritik, kecaman, atau nasehat. Bila itu dirasa belum cukup, turun lah ke jalanan, masuk lah ke kampung-kampung, lakukan aksi dan tindakan nyata. But you don’t turn your back from your country. Seburuk-buruknya negeri sendiri, jangan sampai membuat ibu pertiwi ditertawakan bangsa lain.

Banyak sekali yang harus diperbaiki di negara yang tidak sempurna ini. Apakah saya salah bila saya geram pada rekan-rekan sebangsa yang bergandengan tangan dengan bangsa lain untuk mengumbar keburukan yang ada di negeri ini? Saat bangsa lain mencibir bangsa kita, apakah kalian tidak merasa sedih?

Lima belas tahun lalu saya turun ke jalanan Bandung karena saya sudah muak dengan kondisi negara ini. Wanti-wanti koordinator lapangan akan adanya penembak militer tidak saya hiraukan, penembakan terhadap rekan sesama mahasiswa di Jakarta justru semakin menyulut kemarahan. Bahkan saya harus bersitegang dengan orang tua, seorang perwira Angkatan Darat yang telah bersumpah setia pada rezim Orde Baru.

Tapi apa yang kita dapatkan sekarang? Apakah ada perbaikan dari jaman Orde Baru dulu? Tetapi, bila memang kemajuan itu tidak kunjung datang, apakah dapat menjadi alasan untuk menyerah? Negara ini masih muda, bahkan belum beranjak jauh dari 1/2 abad. Waktu yang sangat singkat dalam sejarah 40 abad peradaban negara-bangsa. Indonesia masih sangat jauh sempurna dan butuh banyak perbaikan. Mengadu pada bangsa-bangsa asing yang jelas-jelas mengeruk kekayaan bangsa kita selama berdirinya negara ini, adalah sesuatu yang memalukan menurut saya pribadi.

HUNGER BREEDS VIOLENCE

Lalu apa akar dari intoleransi dan kekerasan? Sejak dulu saya selalu meyakini bahwa akar dari permasalahan-permasalahan ini adalah pendidikan dan lapangan pekerjaan. Bahan bakar dari gerakan militan adalah pemuda-pemuda tanpa pekerjaan, pemuda-pemuda tanpa masa depan, pemuda-pemuda dengan perut lapar. Mereka sangat mudah dipancing, berpikiran pendek, dan mudah dicekoki pemikiran-pemikiran ekstrim oleh pihak-pihak yang bertikai.

Adalah tanggung jawab utama pemerintah untuk memberikan pendidikan bagi warga negaranya, menjamin tersedianya lapangan pekerjaan bagi mereka. Tanpa adanya perhatian pemerintah pada masalah-masalah ini, tidak perlu muluk-muluk mengharapkan intoleransi dan kekerasan berdasarkan intoleransi menghilang dari sebuah negara. Bila pemudanya berpendidikan dan bekerja, mereka tidak akan punya waktu dan keinginan untuk melakukan hal-hal yang hanya akan mengancam stabilitas dan kenyamanan mereka. Sungguh berpikiran sempit apabila menganggap bahwa penyebab kekerasan adalah ideologi dan agama. It is hunger that breeds violence. And ignorance is the root of all evil.

Tidak perlu naif dan mengingkari bahwa salah satu penyebab permasalahan sosial adalah kesenjangan ekonomi. Sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk memberikan perhatian pada terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang stabil dan merata. Tetapi saat penguasa hanya melindungi kepentingan ekonomis kroni-kroni dan mereka sendiri, kesetaraan ekonomi hanya lah impian kosong di tengah hari. Tiadanya keseteraan ekonomi menyebabkan friksi-friksi antar golongan, yang sangat rentan ditunggangi menjadi tindakan intoleran dan kekerasan antar umat beragama.

DONT TAKE WHAT WE HAVE FOR GRANTED

Jangan putus asa untuk merubah atau menuntut perbaikan. Tetapi di saat bersamaan, jangan sampai kita merasa bahwa negara ini sudah sedemikian parahnya, apapun yang kita lakukan tidak akan merubahnya. Atau lebih parah lagi, mengadukan masalah domestik kita pada bangsa lain yang juga tidak lebih baik dari kita dalam menyelesaikan masalahnya.

Janganlah kita melupakan segala kebaikan yang ada di negeri ini, segala kemajuan yang sudah kita dan para pendahulu perjuangkan. Kemajuan yang bahkan mungkin tidak ada di banyak “negara-negara maju”. Toleransi antar umat dan golongan di Indonesia memang belum sempurna, tetapi apakah kita bisa dengan jujur berkata bahwa tingkat toleransi di negara ini adalah yang paling buruk di dunia? Apakah hanya karena kita ras coklat, dan mereka ras putih, mereka pasti lebih baik dalam segala hal? Sadari & syukuri kemajuan yg sudah ada, perbaiki yg masih tertinggal. Jangan menjelek-jelekkan bangsa sendiri di negara orang lain.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

One thought on “Jangan Berpaling Dari Negeri Sendiri

  1. agreed.. and we don’t turn our back on family, true? tapi nampaknya pemerintah pun tidak cukup peduli dengan pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja. setuju, ini memang bukan soal ideologi beragama dan kawan-kawannya, melainkan perut dan otak yang lapar, sehingga diberi makanan apapun akan diterima tanpa pikir panjang. yang penting kenyang. nggak peduli itu baik atau buruk.

    namun aku bersyukur, masih bisa makan dan punya pendidikan yang cukup. punya pekerjaan. paling tidak, hal-hal itu yang membuat dasar berpikir dan bertindakku masih rasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s