Mary

Aku tidak ingat apa yang terjadi. Semua begitu gelap saat aku tersadar. Kucoba untuk mencoba kelopak mataku, tapi semuanya terasa berputar begitu cepat. Hanya sekilas sinar rembulan menembus melalui dedaunan hutan dan pekatnya malam. Aku terjatuh.

Senin, 6 Juli 1992

Aku terbangun dalam sebuah ruangan kecil. Dindingnya berlapis kayu yang sudah usang, dengan sarang laba-laba memenuhi langit-langit. Lantai batu tempatku terbaring begitu dingin namun aku tak sanggup bergerak. Aku mencoba untuk melihat lebih jelas ruangan tempatku berada, tapi kepalaku terasa begitu sakit saat aku mencoba menengadahkan kepala.

Aku dapat merasakan hembusan angin musim gugur Nebraska yang sangat dingin menerpa tubuhku dari arah kiri. Kucoba sekuat tenaga menoleh ke arah angin itu berasal. Sebuah pintu, sebuah pintu terbuka. Aku berusaha merangkak keluar, tapi aku menyerah, hanya beberapa meter dari tempatku terbangun. Aku hanya berharap semoga ada orang yang menemukanku di kabin di tengah hutan ini, sebelum para srigala.

Dan aku pun kembali ditelan kegelapan.

Selasa, 7 Juli 1992

“Rick, bangun! Rick…!”

Aku dapat merasakan tubuhku terbalut dalam selimut hangat. Aku tidak lagi ada di dalam kabin itu. Tapi dinginnya, dinginnya masih tetap menusuk.

“Hei, Rick! Lihat ke sini…!”

Aku dapat mengenali suara itu. Di mana aku?

Suara itu, suara tegas yang telah kukenal sejak kecil. Suara seorang pria tua yang membuatku merasa aman saat aku pertama pindah ke kota ini. Suara yang memberikan keberanian saat aku baru berusia 7 tahun di sebuah tempat yang jauh dan asing, saat aku dipaksa meninggalkan segala hal yang masih membuat ibu meneteskan air mata hingga saat ini.

Thomas, guru kelasku. Dia yang melindungi aku dan ibuku saat seluruh warga kota lainnya terlihat begitu membenci kami. Dia yang seperti kakekku sendiri, saat kakek kandungku sendiri mengusir kami dari rumahnya 10 tahun lalu.

“Thomas, aku harus segera membawanya ke kantor.”

Aku juga mengenal suara itu. Aku benci suara itu.

“Sherif, biarkan aku membawanya pulang. Ibunya sangat sedih, Rick tidak pulang dari kemarin…”, Thomas berusaha melindungku. Seperti biasa.

“Thomas, anak ini tersangka. Aku harus membawanya ke kantor saat ini juga!”

Tersangka? Apa yang terjadi? Mary… di mana Mary?

Sabtu, 4 Juli 1992

“Aku senang kamu menemaniku Rick…”

Wajah itu, wajah yang begitu halus, dengan senyumnya yang begitu tulus. Matanya selalu mampu menatap ke dalam jiwaku, menembus semua topeng yang aku pakai untuk menyembunyikan kepedihan-kepedihan. Hanya dia yang melihatku dengan segala kemurnian hati. Hanya dia di kota ini yang mau berteman denganku. Mary, gadis kecil yang dulu memberikan makan siangnya saat anak-anak lain di sekolah menginjak-injak bekal makan siangku.

“Mary, kamu tahu aku akan selalu menemanimu menatap matahari terbenam di sini. Apalagi yang harus lakukan? Lagipula hanya kamu yang mau menemaniku bermain di sisi sungai ini semenjak kita kecil”, ucapku sambil tersenyum.

Aku hanya menatap ke arah aliran sungai kecil di depan kami. Aku tidak berani berlama-lama menatapnya, tidak saat cahaya mentari membuat rambut pirangnya tampak keemasan seperti itu. Dia terlihat bagaikan dewi.

“Ricky… janji kamu akan selalu menemaniku menatap matahari terbenam di sini…”, ucap Mary padaku. Matanya seolah menangkap kegelisahanku.

“I promise…”, jawabku sambil tersenyum, menoleh ke arahnya sebentar, tidak sampai satu detik. Lalu kembali menatap ke matahari yang mulai hilang ditelan horison. Aku ingin terperangkap dalam momen ini selamanya, bersamanya.

***

“Rick, bisakah kamu menceritakan apa yang terjadi? Apa yang membuatmu tidak sadarkan diri di dalam kabin tua itu? Apa yang terjadi setelah engkau pulang dari diner kemarin?” Thomas berusaha berbicara denganku.

Aku menoleh keluar jendela, Sherif bersama beberapa orang deputi membicarakan sesuatu di dekat kabin. Lampu-lampu mobil yang terparkir tidak jauh dari kabin membuat hutan pinus ini bagaikan sebuah pasar malam.

“Rick, kamu harus berusaha mengingat. Mary…” Thomas berhenti sejenak.

“Mary menghilang dari hari Sabtu.”

Yang aku takutkan semenjak tersadar tadi menjadi kenyataan. Beberapa bagian ingatan samar-samar mulai kembali ke dalam otak, seperti kepingan puzzle. Kabin tua di sisi sungai, deru mobil pick-up di tengah hutan, teriakan itu…

Aku berusaha berpikir, berusaha menceritakan potongan-potongan adegan dalam benak. Namun tenggorokan ini terasa begitu kelu, lidah bagai membeku. Seluruh tubuhku terdiam dalam kekecewaaan, amarah, dan rasa takut.

***

“Saat kita lulus nanti, aku ingin segera pergi dari kota ini…” Mary memecah kesunyian di antara kami berdua.

“Pergi? Pergi ke mana? Kita hanya lulusan high school, apa yang akan kamu lakukan di luar sana?” jawabku. Kecemasan ini nyata, karena aku tahu spontanitas Mary.

“Rick…” Mary tersenyum, lalu berujar, “…kamu memang selalu mencemaskanku.”

Aku memang selalu cemas Mary. Sejak aku dan ibuku pindah ke kota yang tidak bersahabat bagi pendatang ini. Kota yang memandang hina ibuku, seorang single mother dari kota besar, yang mencoba lari dari masa lalunya. Kecemasan adalah teman imajinerku.

“Bila aku pergi, maukah kau menemani?” tanya Mary. Pertanyaannya membuatku terpaku.

“Tentu saja, kamu teman terbaikku. Tapi, ibuku…”, aku tak tahu harus berkata apa. Aku sangat mencintai ibu, yang membesarkan seorang anak kecil, seorang diri di kota yang dingin dan tak berperasaan ini. Tapi bagaimana dengan perasaanku pada Mary… aku merasa begitu tentram saat bersamanya.

“Hahaha Ricky… aku hanya bercanda. Aku tahu kamu akan selalu menjaga ibumu. Dan itu, yang aku sangat suka darimu Ricky. Kamu sangat penyayang.”

“Tapi, suatu saat nanti, aku ingin berada di tempat-tempat yang biasanya hanya bisa kita lihat di layar drive-through Ol’ Jimmy. Dan tidak ada orang di dunia ini yang lebih aku inginkan untuk menemani, selain kamu Ricky…”

Saat itu lah. Saat Mary berkata bahwa ia ingin menjalani impiannya bersama seorang remaja tidak berguna seperti diriku. Saat itu lah aku tahu bahwa Mary, dia lah impianku dalam hidup.

***

“Rick, aku tahu kamu masih belum pulih dari syok. Kamu beruntung kamu tidak terkena hipotermia. Tapi kamu harus berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Aku mendengar… bahwa Sherif akan menguncimu dalam penjara malam ini.”

Thomas tampak begitu cemas. Aku pun yakin ibuku sangat cemas memikirkanku saat ini. Aku merasa begitu gagal karena mengecewakan mereka. Karena mengecawakan diriku sendiri. Terutama, mengecewakan Mary.

Semuanya mulai kembali ke benak ini, bagaikan ribuan jarum yang ditusukkan melalui lubang-lubang rambut.

***

“Mary, kita harus segera pulang. Cuaca sudah mulai sangat dingin…” ucapku sambil mengencangkan kancing jaket.

“Sebentar Ricky, aku masih ingin menatap langit senja. Aku merasa malam ini akan ada bintang jatuh. Aku akan membuat permohonan. Rasanya sebentar lagi hidupku akan berubah…” mata Mary berbinar-binar menatap senja kemerahan yang mulai ditelan oleh birunya langit malam. Dia tidak pernah tampak sebahagia ini.

Aku tahu betapa berat hidup Mary saat kecil. Mungkin itu lah yang membuat kami berdua bisa begitu akrab. Kami adalah anak-anak yang terenggut kebahagiaan masa kecilnya, oleh dunia yang begitu skeptis dan tidak pandang bulu.

“Kamu pergi duluan saja Rick. Aku tahu kamu harus menjemput ibumu dari tempatnya bekerja sebentar lagi.”

“Tapi…”

“Sudah lah, ini bukan pertama kalinya aku menghabiskan waktu sendirian di tepian sungai ini. Lagipula rumah kita tidak terlalu jauh dari sini. Aku masih bisa tiba di rumah sebelum makan malam.” jawab Mary, penuh keyakinan & optimisme. Di balik semua penderitaanya, dia masih dapat bersikap begitu ceria. Ketabahan yang begitu mengagumkan.

“Baiklah… kalau nanti ada bintang jatuh, mintakan satu permohonan untukku ya…”

“Tentu saja Ricky…”

Saat itu, aku menatapnya untuk terakhir kali. Senyumannya yang begitu indah saat itu tercetak begitu dalam di dalam otak. Begitu dalam, hingga terasa sangat sakit.

Aku berjalan meninggalkannya.

***

“Sherif… saya bersumpah, atas nama ibuku, dia baik-baik saja saat aku meninggalkannya di tepian sungai.”

Kucoba menahan air mata. Tak terhingga penyesalan di dalam hati, memikirkan bahwa aku meninggalkan Mary seorang diri saat itu.

“Dia menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu… dia yang menyuruhku…” aku tak dapat meneruskan kalimatku, tapi Sherif tak memperdulikannya. Dia hanya menatapku tajam, menatap sejenak ke arah para deputi yang sama kejamnya, sebelum membanting pintu mobil. Begitu kerasnya, seolah-olah menyegel nasibku di dalam neraka yang dingin ini.

 

***

Aku masih tak mengerti mengapa ini semua terjadi. Mengapa aku selalu menjadi korban di kota terkutuk ini. Mengapa ada orang yang sanggup menyakiti Mary. Mengapa harus Mary.

Saat mobil Sherif bergerak menuju jalan raya, aku hanya bisa menatap ke arah sungai itu. Alirannya lebih tenang dari biasa. Begitu tenang, begitu hitam, bagai menutup erat-erat pintu yang menyimpan rahasia-rahasia kelamnya.

Saat melintas melalui pepohonan pinus di sisi jurang, aku melihat bayangan terang di kaca jendela. Sebuah bintang jatuh bergerak cepat melintasi langit, lalu hilang di balik pegunungan.

Aku bergumam dan memohon, “…Mary, jangan tinggalkan aku…”

Advertisements

One thought on “Mary

  1. Pingback: Week 1 Recap #JuliNgeblog | Codes, Colours, Chemistry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s