Dikotomi Sains vs. Agama

Ada beberapa hal yang saya alami beberapa hari ini yang membuat saya tergerak untuk menulis mengenai adanya dikotomi antara agama dan sains yang saya rasakan melanda masyarakat. Yang pertama adalah ucapan Erich von Däniken mengenai dua golongan pemahaman, dan wawancara Reza Aslan di stasiun salah satu acara Fox News.

Di salah satu episode “Ancient Aliens”, sebuah program yang cukup kontroversial di History Chanel, von Däniken menyebutkan bahwa ada dua golongan manusia, mereka yang percaya pada Tuhan dan mereka yang percaya pada sains.

Sebenarnya ini cukup aneh dan lucu.  Erich von Däniken adalah tokoh ternama dan bisa disebut sebagai pelopor teori “ancient aliens“, yang menyatakan bahwa kebudayaan-kebudayaan kuno pernah didatangi dan sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan makhluk luar angkasa. Yang saya tahu, komunitas sains memang secara resmi mengatakan bahwa terdapat kemungkinan keberadaan makhluk luar angkasa, tapi mereka secara tegas menolak teori bahwa planet kita pernah dikunjungi makhluk asing. Sementara itu, komunitas agama dalam pemahaman konservatif menolak adanya keberadaan makhluk selain manusia di Bumi. Jadi pernyataan von Däniken tersebut justru mengimplikasikan bahwa tidak ada orang yang mendukung teorinya.

Tapi bukan pernyataan kontraproduktif von Däniken yang hendak saya bahas di sini, tetapi pernyataannya bahwa ada dikotomi antara sains dan agama. Bahwa seolah-olah tidak mungkin seorang saintis untuk juga percaya pada Tuhan. Apakah ini sesuatu yang berlawanan, kepercayaan pada Tuhan dan kepercayaan pada sains & teknologi modern?

Yang kedua adalah sebuah wawancara terhadap Reza Aslan, dalam rangka buku barunya yang berjudul “Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth”.

Di saat penulisan artikel ini, internet diramaikan oleh pembahasan mengenai betapa “bodohnya” pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh reporter Fox News. Sang reporter terus menerus mencecar Aslan dengan pertanyaan yang menyerang kredibilitasnya menulis buku tentang Yesus tersebut dikarenakan oleh fakta bahwa Aslan beragama Islam. Padahal Aslan berulang kali menjelaskan dengan tenang bahwa dia adalah profesor mengenai agama di University of California, pemegang gelar doktor di empat bidang agama, dan fasih mengenai isi injil. Bahwa menulis mengenai agama itu memang adalah pekerjaannya.

Sang reporter Fox sepertinya tidak bisa memahami bahwa Aslan menulis buku tersebut dalam kerangka sains, sebagai bagian dari kontribusi akademisnya. Tetapi fakta bahwa Aslan seorang muslim (yang beribu seorang kristiani, serta memiliki seorang istri yang juga kristiani) seolah-olah membuatnya tidak memiliki kapabilitas memadai untuk menulis tentang Yesus. Bahwa seolah-olah ada agenda dalam bukunya.

Di sini sekali lagi terlihat ada dikotomi antara agama dan sains. Seolah-olah seorang akademisi yang beragama Islam tidak dapat menulis mengenai pendiri ajaran agama Kristen, dalam kerangka sejarah yang didukung oleh penelitian-penelitian akademis. Seolah-olah tidak mungking menghasilkan sesuatu yang murni akademis dari seseorang yang menganut agama.

Saya pribadi juga sering menemukan beberapa orang yang dalam pemahamannya merasa bahwa sains dan agama tidak dapat dicampur. You have to choose one or the other. Contoh paling utama yang paling sering ditemui dalam berbagai diskursus adalah penciptaan menurut sains dan menurut agama.

Dikotomi antara sains dan agama memang memiliki beberapa keuntungan. Buat seorang akademisi, seperti Reza Aslan misalnya, dia akan menanggalkan semua atribut pribadi keagamaannya saat ia bekerja meneliti mengenai Yesus dari Nazaareth. Para peneliti di bidang bioteknologi, medis, dan rekayasa genetika, mau tidak mau harus menanggalkan kepercayaan mereka mengenai teori penciptaan yang dikisahkan di kitab suci saat mereka melangkah masuk ke dalam laboratorium.

Salah satu bahan bakar Renaisans Eropa di abad ke 14 adalah saat para ilmuwan mulai meninggalkan dogma agama dalam usaha mereka untuk memahami alam semesta. Di satu sisi, ilmuwan-ilmuwan dunia Islam yang sebelumnya adalah pemimpin sains dan teknologi dunia, mulai mengalami kemunduran sejak mereka dilanda oleh proteksionisme dan konservatisme, yang salah satu pemicunya adalah kehancuran Baghdad oleh bangsa Mongol di abad 13.

Dalam kerangka pemikiran akademis, saya mendukung adanya dikotomi. Tapi pemisahan ini sebaiknya berhenti saat kita melangkah ke luar dari laboratorium dan kampus. Secara sosial, kita tidak bisa memandang orang lain hanya dalam kerangka “penganut agama” vs. ” penganut sains”. Kita tidak boleh mengkategorikan orang lain hanya pada dua dasar pemikiran tersebut.

Sudah cukup banyak pemisah yang memecah belah masyarakat, kita tidak butuh satu lagi. Tinggalkan dikotomi antara sains dan agama di saat kita menggantung jas lab saat melangkah keluar dari lingkungan akademis. Karena tidak semua orang yang percaya pada Darwin itu tidak menjalankan ibadah keagamaan. Dan tidak semua orang yang mengerti mengenai teori Big Bang juga tidak menceritakan mengenai kisah Adam dan Hawa pada anak-anaknya.

Advertisements

3 thoughts on “Dikotomi Sains vs. Agama

  1. Sains dan spiritualitas berpeluang besar untuk bisa sejalan Oom, premis mayornya mirip, sebagai sebuah usaha pencarian teori segala sesuatu, tapi sains dan agama memang beda, dan terdikotomi, karena persoalan otoritas ahli dan struktur sosial.

    Fyodor Dostoevsky bilang, gereja ( agama ) adalah pihak yang pertama kali akan memburu dan membunuh Isa ( Jesus/ Jahsua), jika memang ramalan kenabian, bahwa dia akan dibangkitkan lagi kelak. Kenapa justru gereja ( otoritas agama) ? Karena otoritas agama sudah sedemikian bekerja keras untuk membangun dan mempertahankan struktur dogma, demi menjaga stabilitas peradaban manusia, mulai dari membukukan kitab, membangun otorisasi tafsir, mengooptasi politik kerajaan, kalau perlu perang pun dilakukan, dan itu sungguh bukanlah karya yang mudah dibangun, selama ribuan tahun. Jika tiba- tiba muncul utusan Tuhan yang sebenarnya, di saat peradaban sudah sebegitunya tertata dengan kendali agama, tentunya struktur otorisasi dogma itu akan runtuh seketika, dan jelas, otoritas keagamaan tak akan pernah rela.

    Benturan antara sains dan agama bukan benturan personal, itu benturan kelembagaan. Situ tahu sendiri, bahwa sains ketika sudah sampai level hipotesis dan distribusi teori baru, maka harus berhadapan juga dengan panel ahli, para pemegang otoritas verifikasi teori lama, yang sebenarnya fungsinya tak jauh beda dengan fungsi otoritas tafsir kitab suci, ada kekuatan veto menentukan standar kebenaran. Benturan antar kelembagaan itulah yang sebenarnya dihindarkan.

    Kebanyakan penikmat sains dan matematika, atau sebutlah pembaca semesta, adalah manusia- manusia yang spiritualis tapi tidak relijius. Spiritualitas dalam sains dan matematika adalah ruangan pribadi, sedangkan menjadi penganut agama adalah upaya untuk beradaptasi dengan kerumunan sesama spesies manusia, yang sampai saat ini memang butuh agama, setidaknya untuk menjaga stabilitas moral. Setahu saya, belum ada otoritas yang mampu mengendalikan stabilitas standar moral selain lembaga agama, bahkan kerajaan dan negara sekalipun belum mampu menandingi otoritas keagamaan.

    Ini mungkin menyambung sedikit http://maxheartwood.wordpress.com/2011/09/25/apocalypto/

    • Dalam hal ini, yang saya maksud adalah religiusitas per se, bukan sekedar spiritualitas. Kepercayaan akan ke-Tuhan-an yang mengambil nilai-nilai dari skriptur-skriptur keagamaan.

      Beberapa ilmuwan besar percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari aturan-aturan alam semesta, tanpa harus mengikuti dogma-dogma agama. Mungkin mereka lebih ke arah penganut spritualisme.

      Tapi ada beberapa seperti Keith Ward, orang yang sangat memengaruhi pemahaman saya akan hubungan antara sains dan agama, yang mencoba menyeselaraskan antara sains modern dan agama-agama langit.

      Kita tahu, sains yang dimiliki manusia saat ini masih terbatas. Dan di luar batas tersebut lah kita dapat menyentuh batas-batas divinitas. When science stops, God continues.

      Saya percaya bahwa apa yang tertulis dalam skriptur-skriptur suci adalah perumpamaan-perumpamaan, kode-kode dari Sang Pencipta dalam pola pikir yang mampu dipahami manusia.

      Tugas para saintis, menurut saya pribadi, adalah untuk menguak kode-kode ilahiah ini menjadi hard scientific fact.

      Wallahualam bishawab.

  2. Pingback: Week 4 Recap #JuliNgeblog | Codes, Colours, Chemistry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s