Excerpts From “Di Bawah Bintang”

“Di Bawah Bintang” is an unfinished novel I wrote back in 2007. Somehow I lost interest in continuing. But I can’t really fully detach myself from it. It’s amazing what deep emotional pain can do to someone. Perhaps I’ll continue this tragedy someday; but then again, maybe I won’t. This is a part of those abandoned pages…

 

Itu adalah hari-hari terakhir di musim penghujan. Udara sore masih menyisakan kehangatan dan angin malam baru terbangun dari tidur. Hujan baru saja reda, dan seluruh alam tersiram oleh keceriaan yang dibawa olehnya. Debu jalanan terendam dalam milyaran butir air membuatku dapat mencium bau petrikor yang dilepaskan oleh tanah di sekeliling taman ini. Daun-daun yang tergugur berserakan di sepanjang cul-de-sac. Lembaran-lembaran berwarna tembaga yang terhanyut oleh sapuan angin, menimbun jejak becek dari kaki-kaki yang melangkah di genangan-genangan air kecil di pinggiran trotoar.

Sedikit warna lembayung agung sang matahari masih menggelayut di cakrawala, seolah enggan turun dari panggung langit dan ingin beradu keindahan dengan sang ratu malam, rembulan yang bersinar perak. Apa yang bisa dilakukan seorang manusia di hadapan dua keindahan itu. Alangkah susahnya pilihan dalam hidup. Dan padahal, hidup itu sendiri adalah pohon pilihan yang terus menerus bercabang hingga akhir hayat.

Ingin rasanya duduk menatap rembulan di cakrawala lembayung. Tapi itu hanya khayalan bodoh seorang pemimpi yang terlalu banyak di duduk di taman, menatap matahari terbenam hingga rembulan tinggi di atas kepala.

Continue reading

Advertisements