Excerpts From “Di Bawah Bintang”

“Di Bawah Bintang” is an unfinished novel I wrote back in 2007. Somehow I lost interest in continuing. But I can’t really fully detach myself from it. It’s amazing what deep emotional pain can do to someone. Perhaps I’ll continue this tragedy someday; but then again, maybe I won’t. This is a part of those abandoned pages…

 

Itu adalah hari-hari terakhir di musim penghujan. Udara sore masih menyisakan kehangatan dan angin malam baru terbangun dari tidur. Hujan baru saja reda, dan seluruh alam tersiram oleh keceriaan yang dibawa olehnya. Debu jalanan terendam dalam milyaran butir air membuatku dapat mencium bau petrikor yang dilepaskan oleh tanah di sekeliling taman ini. Daun-daun yang tergugur berserakan di sepanjang cul-de-sac. Lembaran-lembaran berwarna tembaga yang terhanyut oleh sapuan angin, menimbun jejak becek dari kaki-kaki yang melangkah di genangan-genangan air kecil di pinggiran trotoar.

Sedikit warna lembayung agung sang matahari masih menggelayut di cakrawala, seolah enggan turun dari panggung langit dan ingin beradu keindahan dengan sang ratu malam, rembulan yang bersinar perak. Apa yang bisa dilakukan seorang manusia di hadapan dua keindahan itu. Alangkah susahnya pilihan dalam hidup. Dan padahal, hidup itu sendiri adalah pohon pilihan yang terus menerus bercabang hingga akhir hayat.

Ingin rasanya duduk menatap rembulan di cakrawala lembayung. Tapi itu hanya khayalan bodoh seorang pemimpi yang terlalu banyak di duduk di taman, menatap matahari terbenam hingga rembulan tinggi di atas kepala.

Senja mulai gelap, beberapa pasangan sudah mulai tampak berdatangan ke taman ini. Mereka dapat merasakan kasih yang meruah dari tiap helai daun di setiap pohon, setiap rumput. Tiap-tiap pasang mencoba menuai mimpi dari senandung burung-burung di kala senja dan merebut keberanian dari bintang paling cemerlang yang tak pernah malu untuk muncul terlalu sore. Kasih, mimpi, dan keberanian, itulah yang dicari oleh pecinta-pecinta itu saat ini. Sama seperti aku.

Taman itu tak terlalu luas, dengan pohon-pohon tua, besar, dan rimbun mengelilinginya, dan dengan sebuah telaga kecil yang bermandikan cahaya di tengahnya. Sesekali terlihat riak air muncul di tengahnya, isyarat akan kehidupan yang tak tampak dari persepsi manusia yang sering kali tak peduli. Setiap pohon saling menyentuh, dan hembusan angin di sela-sela daunnya membentuk harmoni yang tak bisa kudengar di tempat lain. Hanya di sini. Dan melangkah ke dalamnya bagaikan mengambil satu langkah kecil, awal dari ribuan langkah perjalanan ke alam lain di dalam fantasi jiwa.

Di taman ini banyak sekali waktu yang aku habiskan sendiri. Berjarak hanya beberapa menit berjalan kaki dari kantorku, hampir tiada sore yang tidak kuhabiskan untuk singgah di taman ini. Terkadang aku hanya duduk sebentar, melihat matahari menghilang dari cakrawala, di balik gedung-gedung yang mengepung taman ini. Dan tak jarang aku menghabiskan seluruh malamku sendiri bersama sang taman, hingga hanya rembulan yang menemani kami berkeluh kesah.

Pohon-pohon yang ada di sini semua sudah berusia lebih dari usiaku sendiri. Aku sudah memeriksanya, di layar yang terpasang di dalam sebuah gedung, di dekat pintu masuk ke dalam taman. Mungkin itu yang membuatku senang berdiam diri di sini. Mencoba untuk melihat dan merasakan apa yang telah dilewati oleh semua pohon yang ada di sini. Betapa banyak cerita yang telah mereka saksikan. Bagaikan latar belakang panggung yang tak pernah diganti, walau aktor dan adegan terus berubah bersama zaman.

Kulemparkan pandanganku ke arah telaga, tak salah lagi, malam sudah menjelang. Ada kesepian yang kurasakan dari pantulan telaga senja itu. Ada dingin yang terpantul dari riak kecil air di sana. Ada kerinduan yang berhembus, membelai dedaunan di pinggiran telaga.

Entah mengapa rasa kesepian dan kerinduan itu begitu meresap ke dalam hati lemah ini. Dan aku merasa sudah saatnya untuk bergegas, agar rasa yang dingin itu tidak semakin menggerogoti hati yang setengah hampa ini.

Lalu aku pun berdiri, walau sebagian dari diri ini masih ingin menikmati keindahan matahari ditelan malam. Namun sebagian lain mengatakan untuk pergi, pergi sebelum aku semakin terinfeksi oleh kebahagiaan pasangan-pasangan yang ada di sini. Karena infeksi itu hanya akan memperparah derita kerinduan yang telah aku idap selama 10 bulan ini. Kerinduan akan seorang wanita yang hadir bagaikan keindahan rembulan malam. Hadir hanya di kala waktu manusia bermimpi, dan hilang ditelan oleh ruang dan waktu nyata yang kita harus jalani di keseharian.

Aku melangkah, sedikit enggan, menuju sebuah tempat yang ada di seberang jalan di bagian Timur dari taman ini. Setiap langkah yang kuambil, aku merasa seperti aku seperti berada dalam gerakan lamban dan ruang serta waktu di sekelilingku bergerak lebih cepat. Aku berjalan melawan arus emosi yang seolah menarikku bersama mereka, kembali ke tempatku biasa melamunkan nasib. Nafasku seolah ditarik bersama arus manusia yang menerjang tubuhku. Alam sedang mempermainkanku tubuh dan jiwaku. Dalam tiap langkah, pandanganku mengabur, nafasku semakin berat, langkahku semakin gontai, auraku memudar cepat…

Lalu tanpa aku sadari, aku telah berdiri di pinggiran jalan yang memisahkan taman dan pemberhentianku berikutnya untuk malam ini. Namun di dalam, aku lelah secara emosi.

Aku memutuskan untuk segera melangkah. Mengendarai emosiku yang sudah tak terbendung lagi, aku melayang ke seberang. Tak berani menatap ke depan, aku hanya memandang sepatu yang sudah menemaniku dalam ribuan langkah. Mempercayainya untuk membawaku hilang dalam kepedihan senja itu. Aku semakin tak berdaya dalam kungkungan emosiku sendiri. Bodoh! Kumaki diriku sendiri yang begitu mudah menyerah pada emosi. Yang begitu kekanak-kanakan memandang segala kemalangan hati yang menimpaku.

Melangkah aku, masuk ke dalam sebuah kafe di pinggir jalan sibuk itu. Entah apa yang kuharap, aku memalingkan tatapanku ke segala arah, segera setelah aku di dalam. Dengan naifnya aku berharap dapat menemukanmu di sana. Sejenak aku benar-benar berharap bahwa kamu ada di sana. Tersenyum, menungguku. Kau dengan tatapanmu yang meninggalkan luka begitu dalam. Tapi kau tak ada di sana. Dan luka itu terbuka kembali. Kamu di mana?

Pandanganku tersita pada lantai kayu yang sedang ada di bawah kakiku saat ini. Tak lama setelah kesadaran bersatu lagi dengan tubuhku, ada rasa aneh yang menjalar di hati dan otak kecil, tempat segala kenangan masa lalu tersimpan. Aroma itu menyerang inderaku. Aroma yang begitu dalam, aroma kayu manis dan gula palem yang tertabur di atas krim yang mengapung. Semuanya mulai kembali padaku. Semua rasa bahagia, sakit, dan cinta itu. Semuanya membawa kembali ingatanku akan dirimu.

Aku duduk di sudut yang paling gelap yang bisa kutemukan di sana. Di sudut paling sempit dan sunyi, agar suara bising dalam telingaku ini dapat kusimak. Suara-suara galau dan putus asa yang terus berharap agar kau ada di sini. Dan tak pernah lagi pergi meninggalkanku. Dosakah aku apabila aku menyalahkan Tuhan karena telah memisahkan kita?

Citra-citra abstrak di dinding yang gelap menebar gelisah yang semakin menjadi. Lalu-lalang orang-orang membuatku mual. Aku ingin mereka semua pergi dan meninggalkanku bergumul dalam kekalutan pikiran ini. Kepingan-kepingan senyum, tangis, dan sentuhan itu menjelma menjadi untaian kenangan. Kenangan akan dirimu yang begitu nyata. Seolah kau hadir kembali tepat di depan mataku. Untuk sesaat kau benar-benar ada di sana, duduk di sebelahku lagi. Menjelma dari udara yang menipis di sekelilingku.

Kau duduk di sana, kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Kau memandangku dengan ribuan kelembutan yang terpancar dari mata yang terlalu indah itu. Kau hancurkan diriku dengan senyummu yang membuat para bidadari iri. Tolong hentikan sayang. Kepalaku terasa begitu sakit. Aku mengiba pada dirimu yang ada di hadapanku. Lalu kau menghilang meninggalkan kehampaan di sekujur tubuhku.

Kuteguk minuman di depanku, mencoba untuk berpikir. Rasa sakit di kepala ini sedikit terobati oleh etanol di dalamnya. Seperti teradiksi oleh rasa sakit, aku kembali menyiksa diri. Aku membayangkan dirimu.

Benakku melayang pada kisah 10 bulan yang telah lewat itu. Aku melayang ke suatu tempat di masa lalu. Tubuhku terhempas ke suatu tempat yang sempit dan gelap. Perlahan cahaya mulai menerangi pandanganku. Sedikit demi sedikit aku mulai dapat melihat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s