Bangsawan dan Juara Rakyat

Ini bukan analisa politik, ini hanya sekedar pandangan pribadi terhadap pertarungan menuju kursi RI 1, antara Prabowo dan Jokowi. Saya tidak akan menyebut pasangan mereka masing-masing, because come on, saya pikir mereka sekedar mahar koalisi. Yang menjadi pilihan masyarakat saat mereka memasuki ruangan pencoblosan nanti hanyalah para calon Presiden.

Beberapa minggu terakhir linimasa media sosial saya dipenuhi oleh segala macam bentuk retorika dari pendukung masing-masing pihak. Saya yakin tidak akan terjadi kemenangan mencolok di Pilpres ini. No one will win in a landslide. Di artikel ini saya tidak akan membahas keburukan masing-masing capres. Ini hanya akan menghasilkan perdebatan, dan saya persilakan untuk pendukung masing-masing capres untuk berdebat di tempat lain. This is my house, my rules. Di sini saya hanya ingin membahas faktor-faktor, yang menurut saya pribadi, menjadi kekuatan utama para capres di mata para pendukung setianya.

Prabowo, sang bangsawan, yang garis keturunannya bisa dilacak hingga ke raja-raja Mataram awal adalah anak seorang begawan besar bangsa ini. Soemitro Djojohadikoesoemo adalah begawan ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung menentukan pembangunan ekonomi bangsa ini di awal berdirinya. Kakeknya adalah pendiri BNI, salah satu bank tertua di wilayah ini. Prabowo dibesarkan di dekat orang-orang besar, bergaul dengan calon-calon orang besar. Raja Abdullah II, Yordania adalah teman baiknya.

Tidak berhenti di situ, di masa mudanya ia bergabung dengan keluarga bangsawan lain, seorang “raja” besar negeri ini yang namanya dicintai dan dibenci pada saat yang sama. Prabowo menikahi anak perempuan Soeharto, Presiden (Bapak Pembangunan atau Diktator, tergantung siapa yang kamu tanya) Republik Indonesia selama 32 tahun. Di sini status kebangsawanan Prabowo disahkan. Menjadi Presiden baginya bukanlah cita-cita, itu adalah hak dan takdir.

Kebangsawanan mungkin sesuatu yang aneh di zaman modern seperti sekarang. Tapi tidak dapat dipungkiri, masyarakat memuja golongan darah biru. Hingga saat ini keluarga Hamengkubuwono masih dipuja dan dihormati masyarakat Jogja, seperti masyarakat Inggris masih memuja keluarga Windsor dan masyarakat Jepang memuja keluarga kaisar yang merupakan keturunan langsung Dewa Matahari di mitologi Jepang. Banyak rakyat yang menginginkan Prabowo menjadi Presiden karena di mata mereka ia merupakan simbol seorang ksatria darah biru, yang berkuda di depan di bawah umbul-umbul kebangsawanan, memimpin prajurit dan rakyatnya, menuju keharuman nama bangsa.

Perkembangan ekonomi bangsa kita telah melahirkan jutaan kelas menengah. Kelas berpendidikan tinggi dan berpendapatan di atas rata-rata. Mereka adalah golongan kritis yang akan menyuarakan dan mempertahankan pendapat mereka dengan lantang. Mereka melek informasi, mereka tahu kebrobrokan birokrasi negeri ini. Dan mereka telah muak dengan segala tingkah pongah kelas penguasa yang bertindak semena-mena.

Bagi banyak lapisan masyarakat, kehadiran Jokowi bagaikan oase di tengah sistem birokrasi negeri ini yang carut marut di luar kendali. Jokowi adalah sebuah mercusuar di dalam badai politik bangsa kita. Seorang pemimpin yang sama sekali tidak memamerkan kekuasaan. Seorang gubernur yang mau bergabung bersama ribuan warganya menyaksikan konser musik heavy metal. Seorang politisi yang memberi lebih banyak sumbangsih bagi negeri dibanding ribuan politisi lain digabung sekaligus. Jokowi hadir bagai seorang mesiah bagi bangsa yang telah penat.

Bagi kelas menengah, Jokowi adalah idola baru. Seorang penguasa yang mau merakyat. Seorang politisi yang bergaul dengan rakyat kebanyakan. Bagi masyarakat akar rumput, Jokowi adalah seorang pahlawan yang mengerti mereka, yang mengetahui kebutuhan mereka. Dari (golongan) mereka, (dipilih) oleh mereka, (Presiden) untuk mereka.

jvp

Jadi pertanyaannya, faktor mana kah yang akan lebih menarik untuk sekitar 185.000.000 pemilih di Pilpres nanti: romantisme kepemimpinan seorang bangsawan kharismatis? Atau pemimpin yang berasal dari rakyat dan mengabdi untuk rakyat? Siapakah yang lebih dominan suaranya: masyarakat yang telah muak dengan politisi busuk? Atau masyarakat yang merindukan seorang pemimpin larger-than-life?

 

Baru
Teman lama saya Ahmad Firdaus membuat sebuah artikel yang sangat bagus mengenai para kandidat Capres ini. Silakan menuju artikel blognya (yang menurut saya isinya teliti dan berimbang) dengan judul “
Jokowi atau Prabowo? Saya Pilih…” melalui tautan ini.

Notabene
Saya dulu adalah seorang mahasiswa yang juga ikut turun ke jalan di tahun 1998. Jadi tidak usah ada yang berniat menggurui saya mengenai kejadian Mei 1998 di sini. Terima kasih.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s