Para Pendukung Fanatik Jokowi

Jadi tadi sore saya berbincang dengan seorang teman di salah satu media sosial. Dia berkata, semula ia hendak memilih Jokowi, tetapi karena kesal pada kelakuan para pendukung beliau di media sosial, dia justru akan memilih Prabowo. Bukan karena dia percaya pada visi Prabowo, bukan karena dia tidak menyukai program-program Jokowi; sekedar karena kesal (dan ingin membuat kesal) para pendukung Jokowi.

Ini bukan kali pertama seseorang menyampaikan hal seperti itu kepada saya. Beberapa orang pernah menyampaikan hal yang sama. Warga negara Indonesia dewasa dengan latar belakang pendidikan tinggi serta pekerjaan mapan dengan alasan kuat atas pendapatnya. Inti ucapan mereka sama, mereka adalah pendukung Jokowi yang terdorong untuk memilih Prabowo akibat kesal pada kelakuan fans garis keras Jokowi. Saya tidak tahu berapa banyak lagi yang berpendapat seperti mereka di luar sana.

Saya pun pernah sampai di suatu titik di mana saya lebih baik memilih Prabowo daripada harus berada di satu kubu dengan para pendukung fanatik Jokowi. Saya di sini akan terbuka, semenjak pengumuman resmi Capres-Cawapres saya cenderung lebih mendukung Jokowi. Tapi saya tidak pernah memandang sosok beliau sebagai sosok yang 100% sempurna.

Sebagai contoh: blusukan. Kebiasaan beliau untuk blusukan memang inovatif dan merakyat. Tapi apakah cuma itu kegiatan seorang pemimpin. Apakah tidak bisa diwakili? Apakah nanti beliau akan blusukan terus menerus ke seluruh pelosok negeri yang luas ini? Lalu kapan ia akan duduk di meja merumuskan strategi dalam rangka menindaklanjuti hasil blusukan-nya? Saya rasa wajar jika kubu lawan menilai blusukan ini hanya sebagai upaya pencitraan. Tapi kalian, para penggembira militan Jokowi, selalu menganggap kritikan terhadap blusukan ini sebagai kritikan tak berarti dan tanpa isi.

Masalah HAM adalah masalah yang selalu digembar-gemborkan oleh kalian untuk menyerang pihak lawan. Tolong lah, jangan terlalu naif. Ada perwira-perwira tinggi yang tangannya berlumuran darah di kubu Jokowi. Jenderal Hendropriyono dan pembantaiannya di bumi Aceh. Lalu ada Jenderal Wiranto yang keterlibatannya di Mei ’98 sama misteriusnya dengan Prabowo.

Retorika kalian yang hanya mengungkit-ungkit pelanggaran HAM terus-menerus itu menyedihkan dan memalukan. Apa tidak ada hal lain, yang lebih cerdas, yang bisa diungkapkan? Bahkan Pius Lustrilanang, aktivis korban penculikan di 1998, merasa tersinggung karena masalah HAM ini seolah-olah “dikomersialisasi” demi meraih suara pemilih.

Jokowi kerap disindir oleh pihak lawan akan kemampuannya berorasi di khalayak ramai. Tapi bukannya menyokong tim sukses Jokowi agar meningkatkan kemampuan beliau, kalian justru menganggap sindiran tim lawan itu hanya bagaikan angin lalu. Sindiran tak berdasar yang dibuat-buat.

Apa kalian tahu bahwa kandidat calon Presiden Amerika Serikat memiliki tim khusus yang bertugas menjamin sang kandidat menyajikan yang terbaik dalam pidato dan debatnya? Apakah kalian tahu bahwa kemampuan orasi dapat memengaruhi segmen pemilih yang belum menentukan pilihan? Atau kalian berpikir bahwa karisma dan wibawa seorang pemimpin saat berbicara di depan rakyatnya, kemampuannya untuk membakar semangat bangsanya, itu bukan sebuah kelebihan? Coba dibuka lagi buku sejarahnya.

Ini adalah kekurangan-kekurangan yang bisa diperbaiki. Tapi kalian begitu terbutakan sehingga setiap kritik justru dianggap sebagai serangan. Buruk muka cermin dibelah.

Beberapa dari kalian kerap menyebut dukungan terhadap FPI sebagai faktor kekurangan Prabowo. FPI yang tidak menghargai perbedaan, yang menganggap kaum berbeda sebagai musuh, yang menanggapi kritikan terhadap mereka sebagai sikap bermusuhan. Kok, terdengar seperti kalian ya, wahai penggembira militan Jokowi?

Orang yang mengritik kalian tertawakan. Orang yang tidak mendukung Jokowi kalian anggap bodoh. Yang tidak memihak, kalian anggap mendukung penindas. Kalian begitu terpolarisasi. Semuanya menjadi us versus them. Ini kan bibit-bibit fasisme, teman. Atau jangan-jangan jargon “stand on the right” itu maksudnya adalah kalian telah menjelma bagai FPI, sebuah kelompok fasis, kelompok sayap kanan?

Lucu sekali jika membayangkan tingkah kalian sudah seperti kelompok yang hendak kalian perangi.

Jujur saya ikut mentertawakan Hatta Rajasa saat ia berbicara mengenai kepastian hukum. Tapi lucu sekali bila yang mentertawakan adalah orang yang membela seorang sastrawan tertuduh pemerkosa. Yang korbannya adalah seorang perempuan yang lebih cocok jadi anaknya. Hatta membela keluarga, kamu membela teman. Okay, I get it.

Lalu ada seorang figur publik, yang entah sedang menggunakan majas hiperbola atau memang kurang informasi, mengatakan bahwa Orde Baru itu seperti Korea Utara saat ini. Come fucking on…. Usia kita cuma terpaut dua tahun, dan seingat saya Orde Baru sama sekali tidak seburuk Korea Utara. Bahkan di zaman Orde Baru, negara ini adalah sahabat karib Amerika Serikat. Were you high, dude?

Ada juga yang menyebarkan video-video kejadian Mei 1998 untuk menggiring pemilih muda menjauh dari Prabowo. Saya yang berada di jalanan saat itu, bahkan hingga saat ini tidak tahu persis apa yang terjadi. Apakah kalian memberi tahu para pemilih muda tersebut mengenai kedekatan Wiranto dengan Soeharto dan Mbak Tutut. Jauh lebih dekat dibanding Prabowo yang merupakan menantu Soeharto dan adik ipar Mbak Tutut? Sejauh mana keterlibatan Pam Swakarsa di kerusuhan saat itu. Pam Swakarsa yang diprakarsai pembentukannya oleh Panglima ABRI, Jenderal Wiranto.

Apakah kalian juga menginformasikan kepada para pemilih muda ini keberadaan teori yang menyebutkan bahwa Prabowo cuma pion yang dikorbankan para atasannya? Kalian bahkan dengan bangga memamerkan dokumen rahasia negara di internet demi mendorong kemenangan Jokowi. Kalian tidak tahu atau tidak tahu malu, saat mengelu-elukan tindakan melanggar hukum seperti pembocoran dokumen negara? Memang mudah kehilangan objektivitas bila kalian hanya memikirkan kemenangan.

Beberapa dari kalian ada yang menertawakan Prabowo saat ia menjawab “tanya atasan saya” di debat tadi malam. Kaum kelas menengah yang nyaman bekerja di gedung bertingkat ber-pendingin, dengan kopi mahal kalian, mungkin tidak akan pernah mengerti cara berpikir para perwira militer. Di dalam situasi perang, melawan perintah atasan dapat dihukum dengan eksekusi di tempat. Daripada menertawakannya, coba kalian berpikir. Wiranto, atasan Prabowo saat itu, sekarang ada di kubu Jokowi.

Tentu, masih banyak pendukung Jokowi yang santun. Yang tidak pernah peduli dengan retorika lawan dan lebih peduli pada visi misi yang diusung Jokowi. Yang tidak pernah terlibat perang mulut di media sosial dengan pendukung lawan. Yang tidak memandang Jokowi sebagai sosok nabi yang tidak mungkin berbuat salah. Yang lebih fokus pada kelebihan Jokowi daripada kekurangan Prabowo.

Saya menghormati mereka, sebagai mana saya menghormati para pendukung Prabowo yang santun.

And with that said, kalian para pendukung fanatik Jokowi yang kelakuannya serupa kelompok fasis, sejujurnya saya tidak terlalu peduli. Saya tahu tulisan ini kemungkinan tidak akan merubah perilaku kalian. Tapi setidaknya tulisan ini dapat mengekspos standar ganda dan perilaku hipokrit kalian.

Saya cuma berharap bila Jokowi menang nanti, ia tidak dikelilingi orang-orang seperti kalian, pendukung fanatiknya yang terbutakan. Yang menganggap Jokowi selalu benar. Yang menganggap kemenangan Jokowi sebagai Presiden adalah tujuan yang lebih penting dibandingkan hal-hal lain. Orang-orang yang menganggap para pengritik Jokowi dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan beliau adalah musuh. Musuh yang harus dibungkam dan diserang.

Karena saya pernah hidup di zaman seperti itu. Namanya zaman Orde Baru.

 ♠

Rekan-rekan sebangsa dan setanah air, terima kasih atas tanggapannya terhadap artikel saya yang seadanya ini. Apabila ada beberapa hal yang dirasa menimbulkan pertanyaan, mohon diperiksa apakah sudah ada yang menanyakan di bagian komentar. Agar saya tidak perlu mengulang penjelasan dua kali. Ini semata-mata karena waktu saya yang terbatas untuk menjawab semua pertanyaan teman-teman yang begitu deras. Tapi bila dorongan untuk bertanya itu begitu besar, saya tetap persilahkan untuk mengisi di kolom komentar. Selain itu, silakan untuk menyuarakan pendapat teman di kolom komentar. Terima Kasih.

Advertisements

563 thoughts on “Para Pendukung Fanatik Jokowi

      • iya tuh para pendukung fanatik baik dari Jokowi maupun Prabowo sering bikin kesel, yang fanatik ama pak Joko kadang keliatan membela membabi buta, trus kalo fanatiknya Prabowo yang nyebar berita yang kagak bener, padahal kan menurut ane ada cara yang lebih elegan dikit lah daripada nyebar isu isu berita negatif yang kurang begitu meyakinkan,

    • bagi anda yang berpaling dari mendukung satu calon ke calon lain, saya ingatkan bahwa mendukung atw ga mendukung jangan liat pengikutnya tapi liat sosok (objek) yang didukungnya. konkrit dan tegasnya begini, jika anda muslim, apakah anda mau berpaling dari islam hanya karena banyak muslim yang jadi maling, atau pembunuh, atau pemerkosa? islam tetap islam, benar, suci, dan agung. saya kira ini terlalu aneh dan menunjukkan orang2 bgitu plin plan dan ga paham sesuatu yang didukungnya

      • Saya rasa plin-plan itu terlalu menyederhanakan keadaan. Bila ada tim sukses Calon Presiden yang datang berkampanye ke suatu daerah yang penduduknya golput/belum menentukan pilihan, lalu mereka memilih Capres yang diusung timses tersebut, apakah penduduk daerah tersebut plin plan? Saya rasa tidak. Perubahan sikap bisa dipicu oleh simpati maupun kekesalan.

      • Kayaknya cuma berpaling soal pilihan tidak harus dibandingkan dengan agama, kejauhan dan menurut saya lebay banget. Kalau awalnya pilih Prabowo terus jadi pilih Jokowi (atau sebaliknya) memang bakal dijamin masuk surga? tidak kan, yang ada kita sebagai umat muslim harus patuh terhadap pemimpin negara dimana dia jadi warga negara serta aturan2nya selama tidak bertentangan dengan Qur’an.

        Hari ini suka manis tapi karena takut kena diabetes jadi suka asin .. wajar lah, kader2 PDI-P pilih prabowo sah2 saja begitu juga kader2 Gerindra dan PAN pilih Jokowi, toh semua punya preferensi sendiri dan kita harus hargai itu.

      • Masalah yg Mas Ridwan anggap konkrit itu bahaya sekali, jauh bedanya islam dan capres, islam sudah benar, suci, sistem yg sudah sempurna.. Jauh sekali dgn capres selaku manusia yg memang sering salah, gk sempurna.
        Jadi betul klo kita jgn salahkan islam karena ada oknum muslim yg tdk sesuai dgn tuntutan islam, tp jgn anggap benar jg klo jgn milih capres krena pengikutnya, karena Muhammad prnh bersabda lihatlah pribadi org lewat teman sehari-hari nya.. Dan mungkin saja diantara pengikut ada pula temannya, walau memang tdk semua
        Tapi kembali lg dgn perumpamaan yg menyamakan capres dgn islam itu sungguh salah besar, sangat jauh berbeda.
        Terima kasih

      • intinya jgn menabikan seseorang, kalau mau dukung ya dukung dengan toleransi sesama anak bangsa, hargai perbedaan.

      • like it! saya dulu respect banget sama beliau, saya suka cara beliau memimpin di solo dan perubahan di jakarta. tapi yang saya kecewakan kenapa beliau dengan mudah memutuskan janji di atas alquran nya. pertanggung jawabannya gede kan ya? saya respect banget sama beliau, tapi kalau untuk sekarang maju jadi presiden bukannya terkesan ‘kepingin banget jabatan’ dan pasangannya, menyimpang dari partainya itu juga terlihat ‘kepingin banget untuk menduduki jabatan’. munafik bukan itu. saya akan dukung jokowi kok, tapi bukan tahun ini, saya lebih suka beliau kembali melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin di jakarta dan mempelajari strategi politik untuk kedepannya. ketimbang sekarang dia menjadi presiden kayaknya belum siap apalagi untuk seorang presiden blusukan? apa kabar strategi politik internasionalnya? dan hubungan internasionalnya? selesaikan dulu program-program beta yang di jakarta. dan selesaikan dulu lah janji nya ketimbang menjadi orang munafik kan? janjinya bukan sama manusia aja soalnya di atas kitab suci. serem juga kan. ketimbang jadi presiden terus jadi orang munafik kemudian tidak di berikan petunjuk sama Allah. ya kalau saya sih cuma mengingatkan aja sama fanboy nya kalau sama beliau, kan beliau muslim, jadi kalau beliau mengingkari janjinya di atas alquran beliau jadi orang munafik 🙂

      • Setuju dg pendapat anda. Memang sih pendukungnya nyebelin.
        Penganutnya nyebelin.
        Tapi kita kan bukan pilih pendukung/penganutnya.

      • Setuju om. Pendukung fanatik dua2nya juga gak beres. Jadi yah sama aja. Jadi agak2 gak balance juga kali yak Pendapatnya wkwkwkwk.

    • Saya awalnya pendukung setia jokowi, tapi entah kenapa hati saya sekarang jadi nolak jokowi, apa mungkin ada sesuatu yg disembunyikan? ???

      • Sama gan, ane dulu suka banget waktu Jokowi jadi DKI 1. Dan sekian lama ga buka FB. Yg saya lihat black campaign dari pihak relawan fanatik Jokowi. Setelah itu saya Netral dan sekarang masih setengah hati dukung Prabowo dan ga ingin dukung Jokowi.

    • membaca dari artikel anda berarti anda memang sepertinya pendukung di sisi prabowo. sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan satu sama lain. setiap hal pasti ada pro dan kontra, mungkin memang anda sekarang pro prabowo, jujur saya sendiri memang pendukung jokowi. tapi daripada anda menuliskan hal yang kurang baik tentang jokowi, hendaknya anda fair juga dengan menulis apa yang memang sesungguhnya pernah prabowo lakukan. pemilu ini seharusnya adalah ajang dimana kita mencari presiden yang baru untuk kemajuan bangsa indonesia di lima tahun kedepan, bukannya saling menjatuhkan seperti apa yang tertulis di dalam artikel anda ini, sedikitnya membuat para pendukung prabowo senang dan membuat para pendukung jokowi jengkel. jika anda tidak ingin pendukung sana sini fanatik, setidaknya hal itu harus di mulai dengan diri anda sendiri. #NOHATE #NOWAR #WEWANTPEACE

      • Saya sangat setuju pendapat ini.. Sy bukan pendukung prabowo atau jokowi, masih belum me milih.. Tp kalau me baca article ini, ko kesannya malah penulis men benci jokowi ya? Kalo memang penulis tdk suka fans fanatik jokowi, harusnya tulis artikel uang netral.. Bukan menjatuhkan..

      • dari artikel yang anda tulis secara tak berimbang ini, saya rasa anda juga termasuk fans fanatik prabowo..

    • artikel nya hebat mas arie..memang benar terkadang ada pendukung yang terlalu fanatik membela capres A dan B…secara pribadi saya memilih jokowi dan saya termasuk (Sempat) menjadi pendukung garis keras jokowi..saya awalnya (jujur) sempat menjelek2an capres A di media sosmed, karena saya adalah anak yg pernah merasakan getirnya tragedi 98..makanya saya cenderung untuk tidak memilih prabowo dan orang2 yang menjadi partner / koalisi beliau..tapi setelah dipikir2 dan ditambah membaca artikel mas arie pikiran saya jadi terbuka dan seharusnya saya bisa menilai lebih bijak kelebihan dan kekurangan kedua capres kita…dan biarlah mereka melakukan tugas mreka yaitu memprosmosikan diri mereka..dan kita sebagai pemilih seharusnya lebih bijak dalam memilih..terimakasih sudah menshare artikel ini mas..semoga banyak calon pemilih bisa berpikiran lebih terbuka. Salam !

  1. Assalamualaikum Wr. Wb
    Tulisan yang bagus, tapi sayang cuman menilai dari satu sisi saja, seharusnya juga menilai bagaimana kelakuan pendukung prabowo. Tidak sedikit orang yang semula mendukung prabowo seperti saya contohnya yang jadi muak karena melihat pendukung dan kubu prabowo sudah membawa bawa isu sara untuk menyerang jokowi. Jujur saja saya mendukung prabowo sebelum jokowi di capreskan bahkan sebelum jokowi jadi gubernur DKI dan saya mungkin belum familiar dengan nama jokowi saat itu. Bahkan saya termasuk yg nge-like fanspage prabowo saat followernya masih ribuan dan sekarang udah jutaan. Sikap saya semakin tegas saat prabowo mulai berkoalisi dengan gerombolan orang orang bermasalah yang hanya haus akan bagi-bagi kursi jabatan. Saya justru membayangkan prabowo akan semakin kuat kalau seandainya lebih mem filter lagi koalisinya dan tidak terkesan ambisius. Sekian Wassalamualikum wr. wb

    • Betul, saya setuju bahwa kelakuan seperti ini ada di kedua belah pihak. Namun karena saya berharap Jokowi yang terpilih menjadi Presiden, kekesalan saya lebih terpusat pada teman-teman sesama pendukung beliau yang kelakuannya justru sedikit memalukan. Semoga siapa pun yang terpilih nanti, akan memberikan yang terbaik pada negeri ini. 🙂

      • tidak beralasan…..memusingkan….muter2, tegas aja dukung ya dukung ngak ya ngak. titik

      • Okay, sesuai request:

        1. Saya (masih) dukung Jokowi
        2. Saya anti pendukung fanatik garis keras kedua belah pihak
        3. Saya ingin pendukung fanatik garis keras tahu akibat dari perbuatannya

      • Simpatisan tdk menggambarkan bahkan mewakili calon presiden yang diusungnya, kl hanya memperhatikan segelintir pendukung fanatisme tanpa melihat prestasi, kinerja, dan terutama visi dan misi calon presidennya maka keputusan yg anda buat itu prematur.

      • Sangat Setuju..Sama halnya dengan saya, dulu mengidolakan Prabowo,saya salut dengan jiwa patriot beliau terlepas pernah dikabrkan terlibat kasus 98, bagi saya isu itu sudah usang tetapi melihat org2 disekelilingnya FZ,ARB.A rais,FahriHZ, Grup Demokrt ( AY, RP..tompul SH,marzuk ) sy jdi tidak respek,aplgi mlht wklnya yg sy anggap deskriminasi hukum,yg sdh membuktikan bahwa hukum tumpul ke atas tajam ke bahwa…Meskipun sy tau juga klu disekeliling Jokowi juga ada yg kurng sreg dihati tetapi setlh saya banding2kan dan sy juga mengagumi wktu meyelesaikan kasus poso,Aceh..akhrnya saya menjutuhkan pilihan ke Jokowi_JK,meskipun sbnrnya sy berhrp wkil jokowi juga msh seumurn seperti AHOK/Abraham Samad..tapi itulah pilihan saya demi kejayaan Indonesia….Berjuang!!!!

      • Memang harus adil untuk menilai 2 kandidat capres skrg ini, jgn sampai karna kita membenci salah satu dr capres tersebut kita menjadi bersikap tidak adil.

      • Selama ini saya coba mengklasifikasikan beberapa pengikut/pendukung pileg/pilpres dalam hal perilakunya menjadi:
        1. Pendukung biasa saja yang hanya melihat idolanya berdasarkan feeling pribadi dan gaya idolanya yang mewakili mindset-nya.
        2. Pendukung radikal a.k.a fanatik yang memuja idolanya bak seorang dewa tanpa cela sehingga cenderung anti-kritik dan sudah puas dengan kondisi idolanya saat ini.
        3. Pendukung cerdas yang membangun idolanya dengan pencitraan positif cenderung support dengan beragam materi, menyajikan fakta-fakta dan bahkan mengedukasi.
        4. Pendukung kritis yang membangun idolanya dengan kritik dan selalu menyiapkan warning + suggestion agar idolanya selalu berjalan tegak dalam berbagai situasi.
        Saya rasa gaya narasi dan kerangka berpikir anda hampir mirip dengan tokoh idola saya Anis Bawesdan dan (maaf bila saya salah) anda adalah orang sangat kritis terhadap apa yang menjadi pilihan anda saat ini karena anda tidak rela ada orang-orang yang terlalu naif mendukung idola anda (Joko Widodo) dengan cara-cara sembrono , tidak berimbang dan kurang memperkuat karakter bahkan cenderung menjatuhkan sang tokoh.
        Saya salut dengan cara mendukung anda yang tidak mengikuti mainstream. Andai banyak pendukung seperti ini dipihak Jokowi maka beliau akan dengan mudah meraih suara swing voters dan menjadi pemenang dengan suara lebih dari 60%. 🙂

      • maklum mas, mereka hanya cari nafkah… saya sendiri sdh men delete 6 org dari Fb saya karena ‘feed up”, 4 dari fanatik no 1 dan 2 fanatik no 2….

    • setuju gan, kedua pendukung pasangan emang banyak yg fanatik…..
      kita mah selow aja Stand On The Right Side..

      • Gw gak Kenal Jokowi man. Gw Cuman menikmati hasil hasil kerja nyata nya si Jokowi; skolah gratis, berobat gratis, cuci darah gratis. Gw gak peduli AMA fanatisan fanatisan klompok manapun. Semoga Jokowi terpilih mjd Presiden RI pada pemilu 9July mendatang. Gw gak takut sama pendukung pendukung Jokowi yg urakan ato tukang ngotot, krn gw yakin Jokowi gak pernah bodoh dalam mencari teman/wakil. Terbukti juga sekarang, partai/manusia pendukung Jokowi-JK, semuanya keluaran manusia manusia jujur santun dan berani membela rakyat/ membela kebenaran.

        Yg gw takut in malah gerombolan prabowo; kok isinya ngeri ngeri dan rakus. Kok gak Pinter bgt cari teman. Katanya, dirimu adalah teman temanmu.

      • Betul bngt, kedua kubu pasangan sama2 banyak yg fanatik… tp klo soal menghujat, menyindir n meremehkan … itu kubu PS yg memulai dng sajak2 yg sangat melecehkan + isue2 SARA yg tdk benar… tidak ada api tidak ada asap…

    • mmg prabowo keliatan asal comot dlm berkualisi,namun cara itu satu2nya yg bs mengantar beliau jadi capres,
      kan sdh hampir semua ngeblok ke pihak jokowi,sdg prabowo kekurangan teman kualisi,klo gk diambil mana bisa dia nyapres.Namun insiaAlloh klo sdh jd presiden akan lain ceritanya

    • setuju…. setuju sekali… kelihatan sang penulis berpihak kepada Prabowo… Kalo penulis memang netral, kupas dong dari kedua belah pihak…. Sang penulis SAMA SEKALI TIDAK NETRAL….

    • masalah terkait partai yang mendukung, mas riduan, anda sudah lihat sendiri meski gerindra menduduki urutan ke3 akan tetapi masih kurang suara untuk menajukan sebagai capres, beliaupun pasti berpikir mengganden partai yang notabenenya sedikit masalah korupsinya, tapi apa daya mas, harus ada solusi dunk biar tetap maju nyapres./ sing penting jika beliau nanti jadi presiden, semoga dalam menentukan menteri2nya tidak hanya melihat dari pesanan partai, tapi dilihat kompeten atau tidak orang tersebut.

    • saya kira penulis hanya ingin membicarakan para pendukung fanatik jokowi, bukan yang lainnya. jadi tidak perlu ada saran, “seharusnya juga menilai bagaimana kelakuan pendukung prabowo.” Melainkan, anda bisa melakukannya sendiri

  2. menarik mase, sebelumnya salam kenal 🙂
    saya melihatnya sih ini tidak apa-apa, bagian dari euphoria massa dan ini bisa ditarik ke civic education. saya juga muak seperti yang mase sampaikan, tetapi sekali lagi ini euphoria massa, sesuatu yang sulit dikendalikan. tapi memang ‘kesadaran’ bahwa inilah pesta demokrasi kadang menguap juga kalau membaca sebuah status atau posting yang menyinggung perasaan. terus terang saya kemarin sempat meradang, misalnya ketika salah satu pendukung satu kubu menyebut bahwa jika orang memilih kubu B maka dia anti islam. provokatif dan betapa tujuannya memecah belah.

    yang ingin saya garis bawahi bahwa, ini bagian dari civic education. bahwa kita masih melihat pemilihan presiden sebagai ajang adu ayam, ya apa boleh bikin. tulisan ini ,tentu saja, bagian dari civic education itu juga, maka saya menjura untuk njenengan. tetapi, maaf intronya agak panjang, saya ingin menyoroti soal HAM.

    HAM bukanlah issue lima tahunan sekali. menuntut soal HAM kepada prabowo bukanlah menyerang, sebagaimana pejuang HAM sudah pasti menuntut hal yang sama ke hendropriyono dan lain-lain. karena yang mati tidak kembali, yang hilang belum ditemukan. dan khusus soal tragedi trisakti, para orang tua korban setiap kamis berdiri di depan istana, dari semenjak presidennya habibie hingga sekarang jamannya SBY.

    mempertanyakan hal ini kepada calon presiden, yang akan memimpin negeri ini, sementara diyakini dia adalah tokoh kunci, adalah wajar dan menurut saya kok harus. yang pergi belum kembali, menjaga yang masih hidup agar tetap dihargai sebagai nyawa adalah wajib. dan bersikap ignorant terhadap fakta ini bisa berbahaya. dan mengenai “atasan saya” menjadi blunder — ini yang saya heran betul — karena prabowo kan sudah diberhentikan, jadi dia tidak memiliki atasan lagi, kenapa tidak disebutkan saja sehingga semua menjadi jelas? dia sudah sipil sekarang, semenjak diberhentikan, buka saja bukan? sehingga penegakkan HAM di negeri ini bisa berjalan. sehingga kita bisa membaca sejarah dengan jelas. ini menurut pendapat saya mase. salam.

    • Salam kenal juga mas.. 🙂 Biar lebih akrab, saya follow dulu Twitter-nya…

      done. hehe..

      Memang di artikel ini saya tidak berharap mampu merubah pola masyarakat kita dalam berdemokrasi. Artikel ini lebih diakibatkan oleh kegundahan saya terhadap pola-pola beberapa teman sesama pendukung Jokowi dalam mengkampanyekan beliau.

      Saya setuju HAM adalah masalah besar yang belum tertangani. Memang saya agak sedikit emosi saat menuliskan kalimat-kalimat di paragraf tersebut. Bagi saya pribadi, siapa pun Presiden yang terpilih, saya ingin masalah HAM dan kepastian hukum ditegakkan. Apakah itu Prabowo atau Jokowi. Tetapi retorika yang hanya melulu mengandalkan masalah tersebut lama kelamaan terkesan desperate. Apalagi kita mengetahui di kedua pihak ada pelanggar-pelanggar HAM.

      Saya meminta maaf kepada pembaca apabila paragraf saya mengenai HAM di artikel ini terkesan mengecilkan kepedihan yang dialami para korban. Sama sekali tidak ada niat ke sana. Saya juga dulu merasakan takutnya berada di jalan pada tahun 1998. Saya masih ingat kemarahan saya saat Munir ditemukan tewas dalam perjalanannya di pesawat menuju Eropa. Saya masih terus berharap akan kebenaran untuk diungkapkan oleh Presiden terpilih, mulai dari Pemilu kedua yang saya ikuti di tahun 1999, berlanjut di 2004, 2009, hingga Pemilu yang baru lalu.

      Intinya adalah saya berharap cara-cara tidak elegan teman-teman sesama pendukung Jokowi agar ditinggalkan. Demikian pula cara-cara serupa di pendukung Prabowo. Saya tidak ingin bangsa kita terpecah belah, terpolarisasi, sebagai akibat dari sebuah kegiatan demokrasi yang seharusnya kita syukuri.

      Terima kasih atas komentarnya, mas. 🙂

      • Soal Munir ky ny Muchdi PR harus dibawa ke pengadilan utk ngebongkar siapa n apa alasan pembunuhan Munir

      • Nah… ini nih….
        Memang sihsegala sesuatu yang berlebihan itu ndak baik….termasuk dalam mendukung kek gini ini.
        dan memang bener sih…ini euphoria massa yang unpredictable dan sangat cair dengan segala dinamikanya.

        Masalah HAM? Yap. anda berdua bener. memang harus diusut. bukan hanya sebatas sebagai alat kampanye saja.
        Tapi ya memang begini ini….

        Untuk komennya mas Lantip, iya. saya pun menunggu Prabowo menyebut nama.

        Semoga saja ini generasi yang baru taun ini mengalami pemilu dapat menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Bukan grusa grusu yang akhirnya hanya terbatas pada berpendapat secara fanatik….

      • Setuju banget pak, anda berhasil memanifestasikan perasaan aneh yang saya rasain belakangan ini.
        Gimana tadinya saya seneng liat antusias rakyat dukung jokowi, tapi akhir2 ini saya jadi gerah sendiri ngelihat beberapa dari mereka malah bertingkah “garang” secara membabi buta tanpa lihat kondisi fakta yang ada.

        Saya jadi ngerasa ini mirip dengan situasi pilkada 2012 silam, dimana kubu pendukung Foke mencaci Jokowi-Ahok. Para pendukung tsb seakan mengamini ke-“Bad Guy”-an Foke. Hal ini yang saya takutkan dari fenomena pendukung radikal ini, dimana bisa berdampak pandangan miring dan berkurangnya simpati masyarakat (dibuktikan testimoni kerabat penulis).

        Para pendukung ini perlu mendapatkan pengetahuan dan pendewasaan. Ini politik bung, gak ada ceritanya kawan sejati musuh abadi. I bet you, gak mungkin pengintil nya Jokowi 100% tulus dan gak punya hidden agenda sendiri.
        We must keep our mind and eyes open for the truth. At last, i’m so thankful you wrote this post. I’m gonna share it, for Indonesian’s own sake.

    • Setuju sekali…. Kelihatan bahwa prabowo hanya buying time sehingga dia bisa lolos dari jeratan hukum HAM

  3. Artikel yang bagus. Ternyata ada juga fenomena seperti ini. Kasusnya seperti pengalaman saya di forum pecinta jam tangan yang saya ikuti. Saya suka brand Seiko tp tidak suka kelakuan beberapa fanboy Seiko di forum tersebut yang menjelek-jelekan brand lain dan menganggap brand Seiko paling superior. Tapi saya tetap membeli dan mempelajari beberapa jam Seiko kesukaan saya, tanpa harus sepaham dengan para fanboy Seiko. Karena saya memang punya passion menyukai brand Seiko, tp tetap open minded terhadap brand lain.

    Contoh lain, saya Islam dan saya benci beberapa kelompok fanatik atau militan Islam, tapi saya tetap menjalankan Islam sebagaimana mestinya tanpa harus sepaham dengan kelompok-kelompok fanatik garis keras. Semuanya sah-sah saja, tp kalau saya tetap ikuti kata hati tanpa harus terpengaruh hype, euforia dan emosi.

    PS: saya pendukung Jokowi tp tidak pernah menjelek-jelekan, memaki atau mengejek pendukung Prabowo, karena di keluarga saya pun, cuma saya yang dukung Jokowi. Saya mendukung Jokowi karena kesadaran hati, pikiran dam alasan atau pemikiran pribadi saya, tanpa terpengaruh black campaign, opini para haters n fanatik, dll. Saya hormati pilihan setiap orang. Teman-teman akrab saya malah mayoritas pendukung Prabowo, kita sering diskusi dan debat secara sehat, tapi tanpa personal insult, dan hubungan pertemanan baik-baik saja. Perbedaan itu wajar, gimana kita menyikapinya saja. Walau berbeda pendapat dan pilihan, hubungan baik dengan orang lain (teman, keluarga dan handai tolan) itu nomor satu, kalau Presiden nomor dua. Gunakan hak pilih anda secara bebas dan penuh kesadaran tanpa intervensi orang lain, mau pilih Jokowi mau pilih Prabowo, kita tetap satu Indonesia, bhineka tunggal ika. Salam damai. 🙂

    • Sedaap… 😀

      Iya, di artikel ini saya bukan menyatakan bahwa saya telah beralih pilihan. Saya masih tetap percaya Jokowi lebih sedikit cacatnya dibanding Prabowo. Artikel ini semata-mata untuk membuka mata teman-teman yang terbutakan oleh cita-cita kemenangan tadi. Semoga ke depannya mereka menjadi lebih elegan.

      • Tak ada manusia yang sempurna, sekecil apapun pasti memiliki cacat. Siapapun presiden terpilih nanti……mudah2an cacatnya bisa berkurang, bukannya malah bertambah sejalan bertambah tingginya kedudukan/jabatan.

      • I assume ada pembaca yang miss tujuan penulis membuat article ini yang mana lebih untuk bahan refleksi, bukan membandingkan kedua kubu capres dan pendukungnya. Butuh mundur selangkah dan merenung untuk bisa menangkap pesan penulis ini.

  4. Tulisan yang benar-benar benar! TErutama kalimat terakhir. Saya ingin menshare…tapi biasanya kalau sedikit saja saya share tulisan..atau bahkan komentar, yang mengkritik Jokowi n crew, hasilnya adalah bully bertubi-tubi. Aduuh, sedih. Kalau Jokowi menang, saya khawatir masa orde baru akan dimulai kembali.

    • jokowi=orde baru? really? wow…saya pikir malah prabowo=orde baru…secara dia pernah menjadi enforcer/pendukung di masa itu…

      • Setiap orang saya rasa berhak atas pendapatnya. Dan memang Prabowo adalah Perwira Tinggi di era Orba. Tetapi PDI-P juga menjadi bagian integral Orba selama puluhan tahun.

      • gagasan politik anggaran u/ kendalikan daerah, bukannya bisa balikin sebagian dari energi orba? Entah lah, sampe skrg msh belum bisa nentuin pasangan mana yang memang punya niat baik buat saudara sebangsa

      • Kapan kita bisa hilangkan penggunaan kata ORDE? Tiap orde ada manis pahitnya. Kita sdh 16 tahun di orde reformasi, tapi kenyataan yg sy lihat adlh kebebasan berpendapat dan memaksakan pendapat didominasi oleh pemilik media massa, LSM yg mengaku org baik2, org yg memiliki banyak massa (pimpinan ormas) dan org bermodal besar yg dpt membeli massa. Pemilihan langsung kepala daerah yang memakan biaya begitu tinggi malah melahirkan raja lokal dan lingkaran setan politik balas budi kepada tim sukses dan donatur dgn menggunakan APBD.

    • Bukan. Bila tidak ada blunder signifikan di kubu Jokowi, kemungkinan besar saya akan memberi suara buat beliau. Tapi ada banyak swing voters di luar sana, dan saya sebagai pendukung Jokowi kecewa dengan kelakuan beberapa pendukung fanatiknya yang justru membuat para swing voters ini beralih, alih-alih mendukung.

      • Wahh. Musti Dibedakan dulu Mas Broo Mana Pendukung yg benar2 Fanatik dg keinginan serta kesadaran sendiri Dengan Pendukung BAYARAN yg nenang dibayar untuk Mendukung dgn berbagai cara.

  5. Nice argument. Memang sikap pendukung fanatik kedua kubu yang kadang memuakkan. Sikap anti kritiknya itu yang berbahaya.

  6. setuju mas brow. pendukung jokowi saat ini sudah seperti menjadikan jokowi itu Tuhan bagi mereka. kalo jokowi presiden semua beres, korupsi ilang, tanah abang bisa beres, utang gak ada, pemerintahan kuat, semua terselesaikan. padahal semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. seolah-olah Jokowi itu sosok sempurna sebagaimana nabi dan prabowo itu banyak cacatnya.

    • betul itu mbak…. Pak Jokowi memang bukan Tuhan maupun nabi, tapi masih lebih baik dia daripada Pak Prabowo. dan tolong dicatat, siapa yang mulai black campaign? siapa yang marah2x ketika ketika pak jokowi jadi capres? siapa yang mulai menyindir2x sampai memblack campaign pak jokowi? jadi, adalah wajar ketika beberapa orang pendukung pak jokowi mulai melakukan hal yang sama dikarenakan ketika pak jokowi dan pendukung diam saja di masa pileg, yang terjadi adalah suara PDIP bergerak naik tapi tidak secara signifikan. banyak evaluasi yang dilakukan dan salah satu penyebab mengapa bergerak naik tapi tidak signifikan adalah tidak adanya counter terhadap black campaign ini sehingga dianggap membenarkan isi black campaign itu mbak dan bro…

      salam hormat

      • Mohon agar kita menjaga kesantunan. Jokowi baik, Prabowo juga calon yang hebat. Nilai mereka pada visi dan misinya, jangan melihat penampilan yang lebih ke arah pencitraan. Selanjutnya, anda menilai sendiri, tidak perlu saling memperolok. Siapapun untuk kemajuan bangsa.

  7. nah tadinya saya mau pilih prabowo, gara2 pendukung fanatik prabowo yg kerjanya jelek2 in Jokowi, akhirnya saya pindah deh.

    • Hehehe iya kayaknya artikelnya tetep berat sebelah ini, karena klo liat medsoc, pendukung prabowo juga ‘kejam2 dlm berkata2’.. ngeriii malahan.. tp di artikel diatas kentara sekali membela prabowonya.. jd kurang berimbang, maaf sedikit tendensius malah, seakan menunjukkan beralihnya pilihan ke prabowo, krn semua alasan diatas banyakan membela prabowo.. terus terang klo di wall FB saya, malah pendukung prabowo yg kerjanya kritik kejam2, artikel aneh2 mulu yg diangkat, mbok ya sharing artikel isi kehebatan prabowo aja napa sih.. hmmm

      • Betul, setiap Capres pasti ada pendukung fanatiknya. Sekali lagi, saya tidak pernah menyebutkan bahwa saya beralih menjadi pendukung Prabowo. Apabila saya mengritik Jokowi itu tidak otomatis membuat saya seorang pendukung Prabowo, kan?

      • Kalo menurut saya ada niat terselubung dr sipenulis artikel ini…Divide et Impera…ckckck masih ada aja jaman sekarang..

      • Halah, msalah berpindah atau tidaknya dukungan penulis mah cuma penulis dan Tuhan yang tahu, yang kronis ya ini mengaku dukung A tapi membahas lebih banyak kekurangan kubu A.. ini mah seperti cara klasik untuk menunjukan keberpihakkan.. cara lama ini mah.. karena si penulis ingin menjaga image nya agar terlihat netral.. kalu netral asli mah gak ada niat seakan akan “Misal : kubu A lain lebih dari kubu B, dan kalu benar – benar netral mah bakal diulas secara adil…

  8. Terima kasih sudah mengingatkan. Demokrasi kita (kita?) memang masih dalam masa transisi, apalagi di era socmed yang kadang uncontrollable seperti sekarang. Tulisan ini bisa jadi pengingat yang kuat agar perilaku-perilaku “menyimpang” itu bisa kembali ke jalannya yang lurus. Sekali lagi terima kasih.

  9. Setelah saya coba dalami kata-kata dan gaya bahasa anda saya bisa tau dari awal anda penfukung prabowo, dan artikel ini bentuk kampanye anda untuk prabowo dengan strategi yg benar hebat dan mencoba mengjak orang mndukung prabowo dgn tnpa mereka sadari

    • Hahaha.. pujian yang terlalu berlebihan. Saya tidak secerdas itu kok mas.

      Di artikel ini saya sama sekali tidak ingin menggiring opini pembaca pada salah satu kandidat. Saya hanya ingin teman-teman yang masih menggunakan cara-cara kurang santun, cara-cara yang menganut faham “either you’re with us or against us” untuk menyadari akan kekurangan cara-caranya tersebut.

      • Tapi ini reverse sychology seakan-akan anda pendukung jokowi 😄 #pintar
        Kalo saya amati strategi kubu prabowo saat ini mulai membuat seakan-akan prabowo itu jadi korban yg di fitnah dsb nya..supaya utk mendapatkan rasa iba dari masyarakat.. #sinetron

      • sekarang saya mau tanya sama penulis, kenapa mas tidak mengupas juga kelakuan pendukung prabowo? kalo penulis tidak mereply yang ini, berarti mas sama saja yaitu sama2x memblack campaign pak jokowi

      • Hahaha… saya bisa jamin bukan. Tetapi dari awal juga saya bukan pendukung Jokowi. Pilihan ini semata-mata karena menimbang mana Capres yang akan lebih banyak manfaatnya bagi bangsa.

    • @yoesoff: bapak bukan satu satunya yg melihat gelagat Gaya penulis yg sebenernya sedang berkampanye buat prahara.
      sering kok Gaya kampanye spt ini, sering bgt. Saya juga dah tau ini penulis sedang berkampanye tuk prabowo dgn kelihaian paragraf paragrafnya. Makanya saya juga Sudah menulis kan jawaban mengenai keraguan penulis, yg tentunya buat para pembaca yg mungkin Sudah mulai bingung gara gara tulisan penulis diatas. Yg percaya bhw Jokowi adalah baik buat bgs kita, harus juga rajin menyebarkan kebaikan kebaikan yg telat dilakukan Oleh Jokowi. Kita gak perlu dgn kelihaian dan permainan kata kata dgn berbelok belok, kenapa? Krn data data kebaikan pak Jokowi banyak, banyak yg harus di tulis, kita gak perlu berlihai linak tuk meng-kampanye-kan Jokowi.

    • Well if you don’t behave, yes, I’m trying to shut you up. See, there are other ways than passive aggresive attitude in promoting our (I’m assuming you’re a Jokowi supporter too) candidate. Better ways. Can’t you see that attacking voters for their opinion is counter-productive?

  10. Saya dulunya malah berniat nyoblos Prabowo karena besar kemungkinan Jokowi yg menang, dan saya tidak mau menjadi kelompok yg menyesal jika nanti di kemudian hari Jokowi ternyata gagal memenuhi harapan rakyat. Tapi setelah Bakrie dan Golkar bergabung di kubu Prabowo, saya sepertinya akan mendukung Jokowi saja.

    Sebenarnya siapa saja yg menang nanti, nasib rakyat kecil mah sama saja. Tetap susah! Kita tak boleh berharap terlalu banyak. Negeri ini ga akan berubah hanya dalam lima tahun. Negeri ini juga ga akan jadi lebih baik kalau kita semua tidak bergerak bersama. Jakarta ga akan bebas macet kalau pengguna jalan masih bejibun dan doyang melanggar aturan lalu lintas. Jakarta ga akan bebas banjir kalau masyarakatnya masih senang tinggal di pinggir kali dan buang sampah sembarangan.

    Apalah daya presiden yg seorang diri dibandingkan rakyat Indonesia yg jumlahnya ratusan juta.

    • Setuju banget dengan statement anda diatas……Kita sebagai rakyat pun harus sadar dan membantu pemerintah untuk menjalankan tugasnya. contoh : ikuti aturan, dilarang melanggar.
      tp kenyataannya rakyat Indonesia ini susah diatur. semua mau berbuat dan bertindak semena-mena.
      meminta hak tapi kewajiban selalu menuntut keatas.
      semua sih ada keterkaitan dan sudah menjadi budaya dan lingkaran.
      jika diputus sudah bukan lingkaran.

      Sulit mengatur penduduk di Indonesia ini, krn beda latar belakang, budaya, adat.
      Meskipun Bhinekka Tunggal Ika sudah ada. tp belum di terapkan atau diimplementasikan secara baik.

      Sekian…kita harap semua rakyat jangan mudah terprovoskasi oleh sebuah info Media dimana pun.
      hendaknya kita bersikap tenang dan berpikir sebelum terjadi pecah belah.

      PERDAMAIAN Itu semua org tau indah dan semua org katanya Cinta Damai.
      masih juga ga ngerti bagaimana Indahnya Perdamaian.

    • Harus optimis Mbak/Mas bocah petualang bahwa akan ada perubahan. Mungkin itu juga yang jadi pengkultusan individu, karena sehabis memilih pemimpin orang biasanya langsung memindahkan beban seluruhnya ke bahu yang dipilih. Padahal pemimpin itu harus dibantu, dan keberhasilan negeri ini harusnya hasil kerjasama seluruh lapisan (team work), dan pemimpin seharusnya mampu hanya jadi manajer dan supervisor yang baik. Membantu itu juga bentuknya bisa berupa kritik. Perubahan juga pastinya tidak akan instan. Kalau perubahan-nya instan itu malah perlu dicurigai.

  11. Pingback: teruntuk seluruh masyarakat Indonesia | Fahmiranti Widazulfia

      • Tetap saja mas arie mau bilang bukan pendukung prabowo, pecinta buta jokowi tetap negatif k anda..
        terimakasih atas info nya…

  12. setuju. emang rada aneh sih, bikin males… tapi keknya dari kubu prabowo juga ada yg fanatik sih… perlu juga ditulisin surat cinta semacam ini juga kali ya, biar berimbang 😉

      • Kenapa klo bukan pendukung prabowo… gk nulis tentang klmpok fanatik prabowo juga jadi satu wall.. biar berkesan klo jadi pndukung itu jgn trlalu fanatik banget… klo ini mah dh jelas sangat jujur sekali dukung prabowo… anak sd ja thu….

      • Mungkin karena saya tidak peduli pada efek negatif para pendukung fanatik Prabowo. Mungkin karena saya lebih terekspos pada para pendukung Jokowi yang militan. Mungkin karena saya belum menanyakan perihal masalah ini ke anak SD sebelah.

    • Sebagai orang yang belum begitu ngerti politik, setuju nih, misalnya sama komentar ini. Dari tulisan ini, kesimpulannya kan Mas Arie memilih Prabowo. Secara nggak langsung, memilih berarti mendukung utk jadi presiden. Nah berarti sekarang mas arie adalah pendukung prabowo. Kalo mas arie bilang “biarkan saja pendukung prabowo yang mengkritik beliau” jadinya aneh ya. Dalam tulisan ini kan mas arie mengkritik pendukung jokowi yang fanatik, bukan mengkritik jokowi. Bener nggak? Hehe. Kalau seperti itu, saya juga jadi mau tau seperti apa pendukung fanatik prabowo itu. Mungkin mas arie bisa kulik-kulik lagi secara sekarang mas arie sudah berpaling ke prabowo 🙂

      Dan memang keliatan sih keberpihakan mas arie dalam tulisan ini. Bisa memengaruhi, apalagi untuk pemilih pemula yang pengetahuannya masih belum cukup seperti saya.

  13. artikel yang menarik tapi saaya rasa komen tentang pendukung fanatik jokowo juga berlaku vice versa ya terhadap pendukung fanatik prabowo yang menurut saya isu yang dihembuskan untuk menjelekan kubu lawsn juga tidak kalah “pintar” seperti isu sara dan penampilan fisik :). Memang di antara dua kubu tidak ada yg sempurna pasti ada kekurangannya, tapi saya rasa kita bisa berpikir kritis dan rasional dalam melihat kekurangan tersebut mana kekurangan yang masih bisa di tolerir dan mana kekurangan yang sifatnya fatal. Tapi memang saya setuju bahwa event ini harus lah menjadikan kita bangsa Indonesia sebagai manusia yang lebih cerdas dan rasional, termasuk berkampanya secara beradab yang lagi2 berlaku bagi kedua kubu.

    salam damai,
    indah

    • Memang betul, pendukung militan seperti ini ada di kedua kubu. Kenapa saya hanya mengangkat dari kubu Jokowi, karena saya juga pendukung dari kubu Jokowi, dan terus terang saya jengah dengan kelakuan segelintir pendukung militan beliau. Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi rakyat Indonesia dalam berdemokrasi. 🙂

      • “Warga negara Indonesia dewasa dengan latar belakang pendidikan tinggi serta pekerjaan mapan dengan alasan kuat atas pendapatnya. Inti ucapan mereka sama, mereka adalah pendukung Jokowi yang terdorong untuk memilih Prabowo akibat kesal pada kelakuan fans garis keras Jokowi. Saya tidak tahu berapa banyak lagi yang berpendapat seperti mereka di luar sana.”

        tulisannya panjang, ceritanya muter muter, intinya gak ada, kesimpulan dan manfaatnya gak ada 🙂

        katanya berlatar belakang pendidikan tinggi serta pekerjaan mapan, tapi hanya karena ada oknum/fans Jokowi yg nyeleneh, kok jadi berubah arah, kayak anak smp aja yg lg berantem karena ketahuan selingkuh tp abis di kasih es krim baekan lagi deh (labil) ^&^

        yang mas jadikan pertimbangan untuk memilih itu, Visi Misi dari Kedua Pasang Capres, atau karena tingkah dan laku para pendukung Capres 😀

        kalo mau kritik fans pak Jokowi yo mbok jangan melebar ke Capresnya dong, apalagi pake sebut sebut Capres Sebelah sebagai pilihannya karena sudah dikecewakan oleh fans berat capres satunya hi hi hi hi

        Salam Damai Mase \m/

      • Tujuan tulisan ini kan untuk mengekspos kelakuan fans Jokowi yang tidak mau dikritik.

        Kampanye kan tujuannya untuk meraih simpati massa. Nah kelakuan fans Jokowi ini efeknya seperti anti-kampanye, justru menghasilkan efek yang berlawanan. Berharap orang memilih Jokowi, pada akhirnya justru jadi tidak ingin memilih beliau. Mungkin saja terjadi toh? Paragraf tersebut hanya sekedar menjelaskan bahwa apabila hal ini bisa terjadi pada kelompok mapan, bayangkan efeknya pada kelompok grass root dan swing voters yang mudah berubah.

        Saya bukan hendak mengkritik Capres-nya, tapi memang ada beberapa hal di Pak Jokowi yang bisa dikritik. Dan itu yang tidak disadari atau bahkan tidak dipedulikan oleh fans garis kerasnya. Oleh sebab itu saya kemukakan di sini.

        Apabila seseorang berpikir bahwa kedua calon berimbang dalam hal visi dan misi, bukankah faktor eksternal (e.g. para pendukungnya) dapat menjadi bahan pertimbangan?

        Pilpres ini kandidatnya kan cuma dua, bila tidak A ya pasti B. Jadi saya rasa cukup wajar orang-orang yang kecewa dengan kondisi di kubu A beralih ke kubu B.

      • Tulisan yang mencerahkan. Tetapi situasi pilpres yang irrasional akan membuat anda dibully.

      • ngg coyo …spt merindukan jaman orba, dinegara demokrasi berbeda itu biasa dan ingat!! its takes two to tango ya…jgn ngaku pendukung tp yg ditulis bujukan…hati2 pembaca

  14. Tulisan yang menarik, saya pendukung Prabowo dan berusaha untuk tidak ikutan emosi klo lg baca perdebatan kedua pendukung capres yg saling mengeluarkan kata2 kasar.

    Saya jg gak setuju dg pendukung2 yg militan, yg gak mau dengar kritikan org lain, merasa benar semua dan yg lain salah.

    Salam Indonesia Raya..jgn sampai kita terpecah hanya krn pilpres 😀

  15. I stand on the right side: Kalau maksud mereka “Berdiri di pihak yang benar” berarti selain yang ikut mereka pihak yang salah semua
    Orang Baik Pilih Orang Baik (Jokowi): Maksud mereka yang gak milih Jokowi orang bejad semua.

      • Moga2 tidak benar, maksud saya bukan mau framing sih. Tapi pesan2 seperti tadi sayangnya mengesankan seperti itu. Salam

      • eits…. ini kata2x semakin mencerminkan bahwa anda adalah pendukung prabowo. jadi, SEPENGETAHUAN ANDA, PENDUKUNG PRABOWO ADALAH ORANG-ORANG YANG BENAR ATAU MENDUKUNG ORANG YANG BENAR?

    • yang ditiupkan pendukung prabowo terutama dari PKS, bahwa jokowi anti islam dan muncul kalimat
      “klo tidak memilih no. 1 bukan kaum kita”

  16. I love you writing…saya berbeda pilihan dengan suami dan keluarga saya, tadinya saya mulai gamang untuk berpindah pilihan, tapi tulisan anda ini menyentuh hati saya untuk tetap pada pilihan saya. Terima kasih ….^_^

  17. loh saya malah kebalik…
    di facebook saya ada fanatik2 prabowo yg bkin jengah..
    padahal dari awal saya pendukung prabowo. sudah mendukung dia dr sebelum 2009 malah

    seandainya 2009 beliau bukan cawapres udah saya pilih.
    saya tidak memilih beliau karena capresnya megawati.

    • Sebenarnya saya kurang setuju dengan artikel yang sifatnya serang-menyerang seperti ini, mas. Baik itu yang menyerang Prabowo, maupun menyerang Jokowi. Semoga ke depannya kita lebih fokus pada calon-calon jagoan kita saja ya. 🙂

      Hiduplah Indonesia Raya!

  18. Tulisan yang sangat menarik dan 3 paragraf awal benar2 terjadi pada saya. Saya dulu pendukung Jokowi, Pilkada DKI dua kali saya pilih dia, berkali-kali saya ajak teman dan kerabat untuk pilih dia. Tapi kelakukan para pendukungnya (termasuk juga ahok) yang anti kritik membuat saya males pilih dia besok, saya putuskan akan pilih Prabowo-Hatta. Pagi ini saya tulis komentar di kompas.com ttg berita Ahok yg secara tdk langsung mau pilih Jokowi dalam Pilpres Besok. Hasilnya apa?saya dikirain Panas Bung.Ampun deh!!!
    Jokowi udah dianggap kaya nabi, ga boleh salah, ga boleh dikritik, semua yang dia lakukan benar!!! Ini yang sangat bahaya. Di negeri ini ada dua hal yang klo kita kritik, semua orang akan marah. satu kritik Jokowi, dua kritik KPK. Padahal mereka perlu kritik agar tetap bekerja dengan baik. Saya kasih contoh, misalnya masalah banjir dki. Sering dia ngomong untuk atas banjir perlu dukungan pemerintah pusat. Betul memang, tapi ketika dia menunjukkan bahwa seolah2 pemerintah pusat ga dukung dia, itu fatal. Sungai2 emang tugas pem pusat, tapi pembebasan rumah2 di bantaran kali tanggung jawab pemrov dki. klo rumah2nya belum diberesin, gimana pusat mau bantu??ketika saya coba sampaikan itu, saya dihujat habis2an.
    saya jadi bingung, jokowi selalu ngajak kampanye santun, kok kelakuan pendukungnya kaya gitu??jgn salahkan juga klo ada org yang berpendpat Jokowi tugasnya kampanye santun, klo yang hujat2 dan serang2 orang biarkan anak buah dan pendukung2 saja.

    • Iya betul masnya, saya jg ngalamin hal yg sama. Mending mas cuma dibilang panasbung, lah saya ditolol-goblokin di portal2 kubu pak PraHa…. Tp yaudah, kita berpikir positip, emang lagi jaman nya kok. Lagian ujungnya saya nyadar, kalo saya salah tempat hehehhe, mungkin juga masnya seperti saya, kompas-detik ya kubu nya mas Jkw.

      “Lawan badminton teman berolahraga, lawan berdebat teman berpikir.” (Anies Baswedan)

  19. Setuju utk semuanya !!
    Saya hanya berharap agar presiden kita berikutnya adalah :
    1.Orang yg tidak membawa dendam, ambisi dan masalah masa lalunya kekursi kepresidenan, agar tidak menggangu kinerjanya.
    2.Orang yg siap utk bekerja dan bukan orang yg hanya ingin berkuasa lalu menugaskan orang lain utk melakukan pekerjaan utamanya, sementara dia sibuk berperan seperti Nagabonar.
    3.Orang yg tidak akan berpura pura mencintai rakyat, sementara banyak masalah yg masih ditutup tutupi.
    4.Orang yg punya pola pikir modern /masa kini dan bukan pola pikir masa lalu yg sudah tidak sesuai dg era globalisasi saat ini.
    5.Orang yg dapat menyelesaikan masalah keras dg tidak menggunakan kekerasan.
    6. Semoga. . . .

  20. Kenapa pada heboh sendiri sih….yg mao jd presiden aja ga heboh ama diri kita.emg nanti mereka ingat sama kita?????????

  21. walau saya pendukung prabowo dan anda pendukung jokowi, saya sangat berterima kasih atas tulisan ini
    mohon maaf tapi memang benar, fanatik no 2 di inet luar biasa berisiknya dibanding no 1. semoga yg baca tulisan ini bisa segera tersadar baik fanatik no 1 atau no 2

  22. Pernah di suatu tweet, gua bilang segera percepat aja pemilunya, muak dengar dan baca para pengikut fanatik 2 nabi-nabi tersebut.
    Tapi kemudian ada yang marah, sebab menurut dia gak ada yang lebih penting dari Piala Dunia.

  23. Sebenarnya kedua capres cawapres kita memiliki kekurangan semuanya.
    Sekarang tinggal pilih mana yang kekurangannya lebih sedikit.

    Menurut saya, koalisi Prabowo itu sebuah kekurangan yang cukup besar dari beliau, karena mayoritas diisi orang2 lama yang kinerjanya sudah terlihat kurang memuaskan, beberapa diantaranya juga pernah tersandung kasus seperti ARB, SBY, Hatta, Suryadharma Ali. Mungkin hanya pak Mahfud MD dan beberapa lainnya saja yang track recodrnya bagus.

    Dikubu Jokowi bukan tanpa kekurangan di koalisinya, ada juga orang2 yang punya kasus di masa lalu, tp saya lihat lebih banyak orang yang bersih n punya pemikiran progresif atau inovatif seperti Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Alwi Shihab, bahkan Abraham Samad juga mendukung Jokowi walau beliau bukan tim sukses. Saya melihat di kubu Jokowi lebih “segar” para pendukungnya, banyak orang2 inovatif dan bersih. Itu salah satu alasan saya memilih Jokowi. Setidaknya harapan untuk ada perubahan kedepan walau sedikit itu tetap ada. Apalagi Jokowi sendiri memang sudah terbukti melakukan gebrakan-gebrakan baru baik ketika di Solo maupun di Jakarta, walau pada pelaksanaannya tidak semulus yang diharapkan karena mendapat serangan dan kendala dari sana sini.

    Saya hanya share opini saja, tidak ada maksud mengajak debat, atau memaksa orang lain memilih Jokowi. Saya justru mengajak pendukung Jokowi untuk mendukung Jokowi tanpa menjadi haters Prabowo dan pendukung-pendukungnya. Saya juga tidak setuju jika ada yang bilang Jokowi tanpa kekurangan. Beliau tetap manusia biasa yang punya kekurangan, yang sempurna hanyalah Tuhan. Salam, perbedaan itu indah. 🙂

    • saya sependapat, cm ada satu tokoh yg saya tidak suka yg anda sebutkan, yaitu Dahlan Iskan, dan menurut saya tokoh ini nantinya akan menjadi tokoh kontroversi, selain itu pencitraannya sangat luar biasa, dia dengan gampang bisa mempermaikan media sesuka hatinya dan kebanyaka yg di ekspose berita baik nya saja, sedangkan jika ada berita tidak baik mengenai dirinya dgn mudahnya dia bisa mengangkangi media tersebut utk tidak memberitakan hal buruknya, dan apabila sudah menjadi berita, seketika juga bisa di remove oleh tim Dahlan Iskan. Sebentar lagi akan terkuak korupsi2nya DI tersebut., sekian.

  24. nah…. tulisan dan komentar2 yg sangat interaktif dan santun, boleh berbeda tp tetap satu jua utk indonesia.
    terima kasih utk semua rekan2 yg sudah mewarnai, menghias dan saling mengingatkan dalam indahnya belajar berdemokrasi.
    #senyumlegaaaa… ^_^#

  25. istikarah dulu aja kalo aku kali ya….. sama2 punya kelebihan dan kekurangan. sama2 punya pendukung yg berlebihan dan tidak mau mengakui kekurangan masing2. kyk milih suami…:)

    • hallo.. saya masih menimbang-nimbang untuk memilih yang mana. saya percaya keduanya punya kelebihan dan kekurangan begitu juga dengan strategi kampanye, tim sukses dan semua yang berkaitan. Tentu untuk dapat memilih yang terbaik, kita perlu menganalisa visi misi dari masing-masing capres dan dilihat mana yang pada waktu yg akan datang bila menjadi presiden bisa mengemban amanat rakyat dengan baik dan bertanggung jawab kepada semua pihak dan Tuhan Y.M.E. LIhat tidak cuma pribadinya, keluarganya, partainya, koalisinya, tapi juga visi misinya dan semuanya secara keseluruhan dan tanpa ada emosi di dalamnya. tentunya kita perlu mencari informasi yang sesuai dengan faktanya, tidak cuma sekedar kata orang.

      Tadi sempat saya baca, ada tentang ARB, jadi menteri koordinasi, hmm sblm ke prabowo, dia jg ke pdip dulu. mgkn krn dia sebagai ketua umum partai yang melihat dan menimbang apa yang berarti untuk dirinya sbg ketum, partainya, negaranya, dan dia ambil keputrusan setelah berbicara dg kedua belah pihak, ya akhirnya ke tim prabowo. kl dia ditawari posisi mgkn krn dia punya kemampuan itu. mgkn kita perlu melihat ini secara menyeluruh dan luas.
      seperti lumpur lapindo, kita perlu cek secara seksama sebenarnya apa yang terjadi disana. keptuusan yang diambil gimana, yang terlibat siapa, dst. krn mmg kompleks dan kl kita ingin menilai sesuatu itu memang harus dari segala sisi. tidak bisa dari satu sisi saja.
      Saya tertarik dengan seorang pengamat ekonomi yang bilang bahwa perlu dilihat kembali rencana untuk membenahi ekonomi dari kedua belah pihak. dan bahwa keduanya msh tidak tepat dalam mengusung yang namanya ekomomi kerakyatan yang seharusnya apapun yang berkaitan dan uintuk kepentingan rakyat harus dimiliki negara. dst. perlu dilihat lagi dan ga bs satu sisi. saya lihat wkt itu di tv one.
      Lalu saya juga tertarik dg wawancara rachel maryam di tv- lupa wkt itu dimana bahwa prabowo tidak terbukti di pengadilan bahwa dia terlibat dengan kl tidak salah yang tragedi trisakti ataupun HAM. saya pun harus cek kembali tentang ini. tetapi kl benar , ya berarti kan sudah diadili. 🙂
      Pak Habibie sendiri sdh mengerti bahwa dulu dia salah menilai pak prabowo, lalu diundanglah pak prabowo untuk bertemu di jerman. itu kata teman saya. dan ini pun perlu saya cek juga secara langsung, online searching. 🙂
      Untuk Pak hatta, hmmm kl dilihat dari satu sisi kok anaknya mgkn tidak dihukum berat?? well.. *harus cek lg jg tentang ini, saya lihatnya, tetap itu pun proses peradilan dijalankan. pak hatta malah bertanggung jawab terhadap keluarga korban, itu bagus. kl misalnya kita jd anaknmya pak hatta, memiliki ayah spt itu , wow juga lho. dan dia pun mengajarkan anaknya dg pendidikan. dan terpenting pula adalah bahwa dia bersilahturahmi dg kelaurga korban dan menanggungnya dan menjadikan merkea sebagai bagian keluarga. itu hanya baru dari bbrp sisi, sementara banyak sisi juga yang harus dilihat. 🙂

      Pak Jokowi bagus, bagusnya pak jokowi kan sudah banyak yang membahas…..Pak Prabowo saya pkr juga pasti ada bagusmnya jga. tp m,asing2 juga pasti punya kelemahan/kekurangan. Adanya debat capres dan cawapres, itu mudah2an akan membantu kita untuk memilih ataupun memantapkan pilihan. saya pun berharap itu.

      Saya kebetulan muslim, untuk yang muslim, Sebagai calon pemilih, wajib untuk lakukan istikharah (untuk yang muslim) sebelum pemilihan atau dari sekarang. 🙂 mungkin itu sekilas pandangan saya. 🙂 jd biar kita diberikan kemantapan akan pilihan kita. 🙂

      Yang sangat bagus adalah berbeda pendapat tentang pilihan masing-masing saat masa kampanye wajar dan its ok selama tidak anarkis. Tetapi yang sangat penting adlaah saat pemilihan dan salah satu menang, maka kita harus bersatu dan tidak terpecah belah hanya karena pilihan kita kalah. 🙂

      Semangat untuk Indonesia !!!! PEACE !!

  26. Bismillah

    Tulisan yang mencerahkan mas. Saya sempat mengira tidak ada pendukung jokowi seperti mas, yang santun, open minded, berdemokrasi secara santun. Orang yang open minded adalah ciri manusia modern menurut saya.

    Untungnya teman-teman saya tidak ada yang fanatik di kubu prabowo, tapi memang ada beberapa di kubu jokowi.
    Terus terang saya pendukung Pak Prabowo. Tapi saya juga merasa jengah dengan media-media yang mendukung masing-masing capres secara berlebihan. Isinya mirip brainstorming dan propaganda orde baru di TVRI zaman dulu. Dimana etika, sifat kritis jurnalistiknya. Sudah tunduk pada penguasa modal.

    Saya sendiri berprinsip bahwa seorang pedagang yang baik seharusnya mempromosikan yang baik-baik dari produknya, bukan menjelek-jelekan produk pedagang lain. Pedagang yang baik adalah yang bisa mengembangkan bisnisnya dari saran dan kritikan yang diterima.

  27. Maaf menurut saya tulisan di atas kurang berimbang. Apa iya pendukung Prabowo-Hatta gak banyak yang norak, fanatik, annoying, bullying, menyebar fitnah, menyebar black campaign, dst?
    Silakan jika punya pendapat lain. Negara kita negara demokrasi.

    • Sekali lagi saya hendak menegaskan bahwa kelakuan seperti ini ada di kedua sisi pihak yang bersaing. Tetapi karena berangkat dari kondisi di mana saya mendukung Jokowi, teman-teman saya yang saya ajak bicara adalah pendukung Jokowi, serta pendukung fanatik yang sering saya jumpai juga dari kelompok Jokowi, maka hal itu yang saya angkat di artikel ini.

      Bila memang ada artikel yang menjelaskan tindakan berlebihan dari kelompok Prabowo, saya akan dengan senang hati mencantumkannya di akhir artikel ini.

      • Maaf mas, saya golput dalam pilpres nanti bahkan berangkat ke TPS pun tidak… Saya menyoroti kata2 anda tentang pendukung prabowo lebih santun saya gak suka… Gara2 omongan sang provokator (Amien Rais) pilpres ini seperti perang badar, para pendukung prabowo langsung main bakar Rumah salah satu relawan timses jokowi, informasi terakhir malah Rumah seorang dosen juga relawan timses jokowi dibom molotov… Apakah itu santun???

      • Kalimat yang ini bukan ya?

        Saya menghormati mereka, sebagai mana saya menghormati para pendukung Prabowo yang santun.

        Saya rasa ini maksudnya, di kubu Jokowi maupun Prabowo masih ada pendukung yang bisa bersikap santun.

  28. Cuma sekadar masukan, karena saya merasa artikel ini bagus tapi terlalu menitik beratkan kesalahan satu pihak. Ada baiknya anda memasukan juga sisi-sisi buruk dari fans fanatik Prabowo, menurut saya keduanya sama buruknya.

    Saya kira ada baiknya memberi teguran halus pada fans fanatik yang menghina pihak lawan, tapi bukan dengan luapan emosi seperti yang saya temukan pada tulisan anda, correct me if you’re not.

    Tentang HAM, nenurut saya bukan hanya masalah culik menculik saja. Karena faktanya pada tragedi 98, pelanggaran HAM yang terjadi lebih dari itu. Mungkinkah tragedi itu terjadi hanya karena luapan kemarahan mahasiswa? Mungkinkah ada pihak yang mengkoordinir peristiwa itu hingga terjadi diseluruh Indonesia? Hal ini yang menurut saya harus dibuka pada masyarakat.

    Terkadang bekas luka tragedi 98 tidak akan lepas dari korban yang mengalaminya. Wajar bukan bila para korban tidak ingin kejadian yang sama terulang? Wajar bukan bila masyarakat tidak ingin memiliki pemimpin yang masa lalunya terkait dengan tragedi 98?

    Saya juga tidak merasa bahwa sosok Jokowi adalah sosok yang tidak lepas dari dosa. Bahkan banyak pernyataan beliau yang saya rasa terlalu menganggap remeh suatu permasalahan. Bagaimana mungkin segala pengurusan izin dilakukan melalui internet yang untuk membuka halaman pembelian tiket kereta api saja sulitnya minta ampun.

    Saya setuju dengan pernyataan anda bahwa tidak ada orang yang paling bersih. Pada masing-masing pihak punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, hanya kuantitasnya yang berbeda.

    Well, no matter who you choose, when you yourself still ignoring the smallest rule in your life, this republic won’t be better whoever the leader may be.

    • Sekali lagi saya hendak menegaskan bahwa kelakuan seperti ini ada di kedua sisi pihak yang bersaing. Tetapi karena berangkat dari kondisi di mana saya mendukung Jokowi, teman-teman saya yang saya ajak bicara adalah pendukung Jokowi, serta pendukung fanatik yang sering saya jumpai juga dari kelompok Jokowi, maka hal itu yang saya angkat di artikel ini.

      Bila memang ada artikel yang menjelaskan tindakan berlebihan dari kelompok Prabowo, saya akan dengan senang hati mencantumkannya di akhir artikel ini.

      Memang ada beberapa bagian yang saya menulis dengan emosi yang meluap. Akan saya jadikan bahan pertimbangan di lain kali. Terima kasih atas masukkannya. 🙂

      • bolak balik jawabannya sama…mengatakan netral, tp mulut dan tgn anda tidak sejalan…sehingga integritasnya byk dipertanyakan disini…sebaiknya anda bilang saja berangkat dr pendukung prabowo hatta, jd yg baca ngg bingung. gitu aja kok repot.

    • Kalau mengungkap keburukan dari satu kubu……trus diungkap juga keburukan dari kubu lain……….lalu apa bedanya anda dengan fans fanatik yang anda permasalahkan?

      • Seperti yang saya tulis pada komentar saya, masing-masing kubu memilki keburukan. Saya kira, daripad daripada berat sebelah, bukannya baik bila kebaikan dan keburukan kedua belah pihak ditampilkan sebagai perbandingan? Biarlah pembaca artikel ini yang nantinya menilai sendiri bagaimana persoalan sebenarnya.

        Saya tidak pernah mempermasalahkan fans fanatik, karena tiap orang pasti pernah fanatik pada sesuatu apapun itu. Saya sendiri pernah menjadi fans fanatik. Dan menurut saya itu kebebasan seseorang untuk mengutarakan perasaannya. Hanya saja, jagalah tutur kata dan perilaku dalam menyanjung apa yang anda percaya benar.

        Bila anda merasa saya sama seperti fans fanatik diatas, itu hak anda dan saya menghargai pendapat anda meskipun saya pribadi tidak merasa saya lebih menyanjung salah satu pihak.

        Terima kasih 🙂

  29. Rame pisan soal pulitik euy 😀

    I lived in highland area, the rural sector of Central Java, I wasn’t a city boy until high school. In village, the people really admired New Orde, and the calmness of Mr. Soeharto, mostly because the way they stabilize the condition at that time as the main circumstances, and the daily need price for sure.

    But the perception slightly changed when I came to campus, the intellectual one, the middle class with high level access into information and books, and the colorful perspectives of ideology, they hate that old man, with all of his legacy, no matter what.

    I need to write about politics more, like this one, so I may get visitor and debate like this Bro 😀 Nobody give any comment about evolutionary biology or applied science, people don’t like it ….

  30. Saya sih sebetulnya termasuk swing voters, tapi minggu-minggu ini setelah melihat bagaimana kedua capres cawapres penampilannya di televisi, dan melihat keesokan harinya komentar-komentar para pendukungnya, saya sekarang sedikit lebih condong mendukung prabowo, sebelumnya saya juga sempat berkeinginan mendukung jokowi, cuma berasa ada yang aneh karena social media yang begitu gencar memojokkan prabowo dan memuji jokowi, karena dari pandangan saya pujian ke jokowi terlalu berlebihan dan bertolak belakang, dan dari pengalaman saya, orang yang terlihat kalem, akan sulit ditebak gelagat sebenarnya seperti apa.

    • Sedikit saran, coba anda tonton Tv One…semua tentang prabowo, yg di sayang kan yg seperti ini, berita tidak berimbang

      • Ya iyalah tv one dukung prabowo wong tv one punyanya ical (ARB ) pasti isinya prabowo aja yg baik2.. klo metro tv lbh netral biarpun punya surya paloh tp dia sedikit lbh netral berita2nya ..

      • Metro netral dari mana?? Coba lihat yang diundang wawancara selalu dari 1 kubu. Isinya semua tentang Pak Jokowi. Over narsis. TV One juga sama, tapi sekarang dia mulai mengevaluasi diri, gara2 ada PD juga sih. Tapi di beberapa segmen wawancara ditampilkan kedua kubu. Tapi intinya sih semua media saat ini partisan. Jadi kenapa juga harus meributkan masnya yang tulis artikel partisan. Toh media televisi yang harusnya lebih bertanggung jawab, netral, menjunjung etika jurnalistik, terikat hukum saja pada partisan semua.

  31. wkwkwk…
    semuanya gila………..makanya pilih itu somay aja ganz….^_^………pisss ….i love mars….^_^…

  32. setiap kalimat yang ada tanda tanya (?) di dalamnya itu selalu ada jawabannya… selagi anda sibuk bertanya , saya sibuk nabung buat beli baju kotak2 mirip JOKOWI…

  33. selalu lebih seru membaca semua komentar di sebuah postingan daripada apa yang tersirat di dalam tulisannya itu sendiri 😀

    terima kasih sudah mencerahkan 🙂

    • setuju,awal nya saya hanya membaca isi dr topik yg di sediakan..tapi belakangan saya mulai membaca komentar2 yg ad karena seharus nya hal itu jg yg di ingin kan oleh penulis.

      • tapi jadinya bagus, penuh pertimbangan 🙂 pemilih di Indonesia sudah lebih cerdas. kebebasan berpendapat harus disertai dengan tanggungjawab terhadap pilihannya 🙂

        terima kasih sudah mampir 🙂

  34. Assalamualaikum.
    Podo wae,
    Kokean abab kabeh, tulisan iki tulisan iku,kubu kene kubu kono…isi ne podo podo2 saling nyacat te…podo gawe kisruh kabeh,meneh ono sik tulisan ne rela mati demi capres pilihane walah…keblinger…
    sik bener ki,ayo yen tenan peduli karo naseb pe indonesia,mulai ko bengi podo istikharoh ooo…gen اَللّهُ SWT sik ngenei kemantepan ati sopo sik arep d coblos 9 juli mengko…..ǑƦǟ malah ngene iki……Malah Nambahi Dosa Wae….

    Wassalamualaikum…..

  35. Salam kenal.
    POV nya keren. Kalau saya sebenernya masih termasuk swing voters nih mas, masih gantung mau nempel ke ganjil atau genap, jadi saya masih mengikuti dengan seksama “promosi” dari kedua belah kubu dan masih terus survey kira2 ganjil atau genap yg bakal makin dikit mudarotnya.

    Dan kalau ngeliat akhir2 ini lewat beberapa medsos, kok kesannya ketika ada orang yg berbeda pilihan itu bukan lagi dipandang sebagai “teman berpikir” seperti yg sering ABW kemukakan, melainkan dipandang menjadi “musuh” yg harus diserang. Yang saya takutkan ( mudah2an cuma pemikiran jelek saya saja ), siapapun nantinya yg menang di pemilu kali ini, akan mendapatkan perlawanan dari pihak yg bersebrangan kubu. Mungkin para capres / cawapres dan timses beserta partai koalisinya yg kalah tidak akan terlalu mempermasalahkan, karena toh saya yakin ketika kalah pun mereka bisa nerimo, dan mungkin bisa melakukan manuver buat bergabung dengan pemerintahan. Tapi bagaimana dengan pendukung fanatik mereka? Relawan mereka?

    Tapi mudah2an itu cuma pikiran jelek saya aja, karena kalau bagi saya pribadi, siapapun yg menang, jangan sampai menjadikan kemenangan di pemilu nanti itu sebagai tujuan akhir, tetap saja tujuan akhir pemilu itu untuk memilih “nahkoda” yg akan membawa bangsa kita maju. Jangan sampe gara2 dipercaya untuk jadi nahkoda, malah lupa buat bawa kapalnya berlayar, atau gara2 nahkoda nya bukan orang yg didukung, malah terjadi keributan yg bisa menenggelamkan kapal yg baru mau mulai berlaya. 🙂

  36. Hi,
    ada point2 yg pengen gw utarain neh stelah baca tulisan u yg mantap.=)
    menurut gw sangat gak fair kalo sekelompok orang ini ‘pindah kubu’ karena mereka kesal terhadap PENDUKUNG jokowi yang fanatik. kalau cuma karena itu issue nya, berarti mereka tidak menganggap serius soal pilpres yang akan datang ini. kalau pengen berpihak pada kubu lawan cuma karena kesal dengan kubu satunya, itu alasan yang sangat-sangat ‘shallow’, sangat rendah buat saya. disini pilihan kita akan menentukan siapa yang akan memimpin indonesia untuk 5 tahun kedepan, pilihan kita akan menentukan nasib bangsa kita untuk 5 tahun kedepan. kalau sekelompok orang ini (ex pendukung jokowi) membandingkan pemimpin mereka secara rasional, dan mereka pada akhirnya memutuskan untuk mendukung kubu lawan nya (prabowo), itu fair. no question ask, everyone have their right to choose right? tapi kalo cuma karena ga suka sama PENDUKUNG, bukan ga suka sama PEMIMPIN nya, saya kurang bisa terima, dan menurut saya itu sangat memalukan.

    point kedua, menurut saya reaksi pendukung jokowi terhadap kritikan atau sindiran dari kubu prabowo terhadap jokowi itu sudah cukup baik. mereka menganggapnya seperti angin lalu karena emang itu bukan masalah besar yang butuh di perdebatkan atau gak worth it untuk di kasi respons. itu semua masalah kecil yang bisa diperbaiki along the way. saya percaya blusukan hanyalah merupakan langkah awal untuk membenahi negara ini. saya juga percaya setiap pemimpin punya style tersendiri untuk berorasi dihadapan pendukungnya, dan tidak harus berapi2. jadi menurut saya cukup wajar jika issue2 yang diangkat ini, ada yang menganggap ini kritik atau serangan, tidak di tanggapi dengan ‘counter’ atau serangan balik. karena ini bukan issue yang patut di tanggapi dengan reaksi apapun. dan ini membuat kubu prabowo sangat jengkel, kenapa? karena menurut saya ini adalah cara yang paling efektif dalam menghadapi serangan lawan.

    sebaliknya, ketika di serang tentang masalah HAM, kubu prabowo seperti tidak mau terima dengan menganggap itu isu yang sudah usang, sudah di urus dan sebagainya. but, come on.. kalo emang udah tidak ada masalah, kenapa mengelak? kalau anda mention soal Jenderal Hendropriyono atau yg lainnya yg berada di kubu jokowi, ini perbedaannya: mereka bukan calon presiden. saya cukup yakin bila mereka menjadi kandidat presiden, issue2 tersebut pasti akan diangkat juga untuk mempertanyakan kredibilitasnya sebagai calon presiden, tapi faktanya disini adalah: mereka bukan calon presiden.

    okay, mungkin saya tidak segitu aktifnya di dunia sosial media, tapi menurut saya menyetarakan pendukung fanatik jokowi dengan FPI itu terlalu berlebihan. FPI terbukti telah melakukan banyak pelanggaran hukum dan terhindar dari setiap hukuman yang mereka pantas terima. menurut saya FPI termasuk top 10 list yang harus segera di tangani oleh presiden yang terpilih nantinya. paling tidak, pendukung radikal jokowi tidak menjarah, merampok dan merampas hak orang lain dengan mengatas namakan agama.

    sekian curhat / response saya terhadap tulisan anda, dari kacamata orang awam. hehehe

    • Terima kasih atas komentarnya yang mendalam. Memang validitas artikel ini sebagai sebuah tulisan saya akui kurang, diakibatkan karena terlalu banyak menggunakan emosi. Bahkan saya sendiri menjadi korban hilangnya objektivitas akibat emosi yang meluap.

      Saya sendiri sampai saat ini masih akan memilih Jokowi, kecuali bila ada blunder besar dari kubunya menjelang Pilpres nanti. Tapi saya rasa setiap orang berhak menentukan pilihan berdasarkan faktor apapun yang mendorong ia pada pilihannya tersebut. Bila itu karena kekesalan, saya tetap bisa menghormati pilihannya tersebut. Ada banyak alasan-alasan remeh yang mendorong pemilih untuk memilih pemimpinnya, e.g. mulai dari penampilan fisik hingga alasan kedekatan. Kenapa alasan trivial tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak memilih salah satu calon pemimpin?

      Memang Hendropriyono bukan calon Presiden, demikian pula Megawati yang memberi lampu hijau pada operasi GAM di Aceh. Tetapi Presiden adalah sebuah lembaga yang dipegang oleh satu orang. Ada banyak orang-orang lain yang menyokong Kepresidenan. Dalam sistem politik negara ini, partai asal sang Presiden memegang peranan dominan.

      Intinya adalah saya berharap teman-teman pendukung Jokowi menyadari bahwa di kubu Jokowi juga ada sebuah catatan hitam berkaitan HAM. Apakah mereka akan selantang ini terhadap PDI-P mengenai catatan kelamnya di bidang HAM? Saya hanya mengharapkan orang-orang yang berteriak keras terhadap kejahatan HAM ini tidak tebang pilih.

      Saya tidak mengatakan pendukung fanatik seperti FPI, per se. Tetapi kelakuannya yang menolak kritikan mengingatkan saya pada FPI.

      • Menurut saya sebaiknya artikel-nya di edit atau di revisi ulang jika anda mengakui bahwa isi-nya terpengaruh emosi sehingga niat yang awalnya santun dan baik menjadi akhir yang baik pula untuk demokrasi indonesia, terima kasih.

      • artikel anda ini buat pendukung jokowi tidak boleh marah walah dihina bro, hehehehe
        emang terkesan berat sebelah sih, hehehe kurang fair….
        tapi ga papa keep spirit tetap berkarya
        ganbatte…..

  37. Yah… begitulah keadaannya.. saya sepaham dengan tulisan mas, dan saya adalah orang yg berbalik arah pilihan juga. Karena saya teriak, kalo saya sepakat untuk tidak sepakat dengan pilihan saya besok. Salam damai untuk indonesia.

  38. Terima kasih utk tulisannya mas Arie. Saya mau menambahkan sedikit catatan.
    Saya teringat satu sesi talkshow televisi yang mengundang Bpk Anwar Fuadi & Sdri Rachel Maryam beberapa waktu lalu (apakah sampean menyaksikan?). Dalam acara tsb tampak AF sangat mendominasi pembicaraan,selalu memotong giliran orang lain terutama RM. Yg mengesankan saya, RM tidak berusaha membalas sedikitpun. Saat disela ia hanya berkomentar dgn tenang & sopan (tapi jelas terdengar) “orangtua saya mengajarkan kalau memotong pembicaraan itu tidak baik lho pak”” dan “kalau giliran saya berbicara kok boleh dipotong ya”.
    Menurut saya itu hebat. Ternyata kehalusan budi pekerti & sopan santun bisa mengalahkan keegoisan. Kelembutan dapat menaklukkan kekerasan. Saya yakin pemirsa saat itu lebih menaruh simpati kepada RM, bahkan meskipun dari kubu yg berseberangan. Seiring berjalannya acara, AF sendiri pun agak melunak sikapnya (meskipun masih saja menyela).

  39. Seperti gegap gempita SBY dulu di 2004. Para artis, pengamat politik, media memuja dan mendukung….kini mereka menghujat dan mengkritik…
    Ada media yg mengkritik habis2an gaya pencitraan SBY…Tapi kini media itu justru tempatnya pencitraan sosok capres tertentu.

  40. Saya jadi curiga????
    Kubu PDI-P dkk : Prabowo terkait pelanggaran HAM, Kudeta, berkhianat……tapi mereka hanya sekedar ngomong aja sampai Megawati jadi presiden aja gak diungkap…????? TNI : Prabowo di pecat tanpa pengadilan..mmm aneh???

    Mungkin ada konspirasi besar yang melibatkan banyak pihak demi menjatuhkan Bapak Pembangunan sehingga gak ada yang berani membuka karena banyak yang bakal tersangkut dan terkait…lalu negara rusuh !!!!????

    ” Jangan Menuduh dan Mejelekkan jika tidak ada bukti ”

    akhir kata dan mengingatkan : Kasus sekolah JIS yang se-uprit itu aja kusut karena ada intervensi asing bagaimana kalau kasus 98 dibuka segamblang2 nya?????

    • makanya pemerintahan sekarang yang kurang terbuka, mungkin presiden baru bisa lebih bagus dan jelas lagi..

  41. Mungkin tahun ini adalah kesempatan bapak Jokowi yang ditugaskan oleh salah satu partai besar untuk menjadi orang nomer satu di negeri ini. Dan kesempatan inilah yang diharapkan oleh partai tersebut untuk menjalankan pemerintahannya, setelah beberapa kali Pemilu pada masa Orde Baru belum pernah merasakan kursi nomer satu bahkan setelah era Reformasi pun kursi tersebut diduduki oleh Partai baru.

    Sekarang bapak Jokowi mengemban tugas baru untuk mengikuti amanah Partai, BUKAN amanah Rakyat. karena menurut mereka beliau adalah kader Partai. saya hanya berfikir, he is a good man in a wrong place. seandainya beliau bukan dari Partai tersebut mungkin saya akan mendukungnya juga.

    Jadi saya tidak hanya melihat Pemimpin dari personalnya saja, tetapi juga visi dan misi partai beserta pendukung di belakang nya.

  42. Salam kenal, Maaf apabila saya salah,, di tulisan anda mengenai “My Father Will Vote for Prabowo and I Understand Why” isinya jelas merupakan pembelaan terhadap prabowo meskipun mungkin mengatasnamakan ayah anda sebagai seorang prajurit, dan di profil anda saya tidak menemukan satupun ulasan mengenai Jokowi.
    Semoga tulisan ini tidak menyesatkan, karena jujur ditempat saya bekerja, justru lebih banyak pendukung Prabowo yang beralih mendukung Jokowi.
    Dulu saya juga hanya pemerhati, namun semakin banyak saya membaca postingan teman2 yang menyudutkan Jokowi dan keluarga saya pun sampai hampir terpengaruh untuk mendukung Prabowo hanya karena isu murahan yang menyesatkan, maka saya akhirnya bertekad untuk bersikap dan bertindak,
    Terima kasih,,,

    • Seharusnya dari gaya bahasanya sudah jelas ya, bahwa saya dan Ayah saya berseberangan di Pilpres ini. Itu sebabnya saya beri judul “Ayah saya memilih Prabowo dan saya memaklumi alasannya“. Di situ juga dijelaskan berbagai perbedaan pendapat saya dengan Ayah saya, termasuk saat saya ikut berdemo di tahun 1998, sementara beliau setia membela Soeharto. Bila kami memilih kubu yang sama, saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi dalam sebuah artikel bukan?

      Saya sama sekali tidak bermaksud menyesatkan. Tidak ada untungnya buat saya. Saya hanya ingin para pendukung fanatik Jokowi (dan dari Prabowo juga) untuk sadar bahwa cara kampanye yang menganggap pendukung lawan sebagai musuh itu justru kontra-produktif.

      Di artikel “Bangsawan dan Juara Rakyat“, saya membahas kedua Capres dalam proporsi yang menurut saya seimbang.

  43. Salam kenal pak
    Saya kok kadang-kadang merasa kalau pendukung fanatik itu (baik Prabowo maupun Jokowi) semacam “proxy war” ya?
    Saya berteori sendiri, karena sang capres tidak mungkin mencaci-maki lawan politik karena akan terlihat tidak santun, maka para pendukung dengan suatu cara dikoordinasikan untuk menyerang membabi-buta.
    Tujuannya untuk membungkam pandangan-pandangan kritis dengan telaahan yang mendalam yang mungkin saja muncul dari orang-orang yang relatif netral. Siapapun yang berpikiran jernih pasti tidak akan nyaman di-bully terus-terusan di social media kan? Dan jika orang tersebut netral (tidak dukung salah satu calon), besar kemungkinan dia akan diam setelah dibully beberapa kali.

  44. Kedua pendukung sebenarnya sama2 ngeselin yaa. Kembali lagi ke diri kita masing2 mana yang lebih pantas jadi presiden RI. Terimakasih om artikelnya. Salam Indonesia Raya!!

  45. Masa cuma karena PENDUKUNGNYA jokowi jadi pindah haluan? Mental apaan tuh??? Diliat dari kepemimpinanya lah. Kalau menurut saya artikel ini tidak memiliki validitas 😀

    • Bila yang dimaksud saya pindah haluan, jelas tidak. Lagi pula di artikel ini tidak ada tulisan yang mengindikasikan hal tersebut kan? Inti dari artikel ini kan adalah tentang para pendukung yang tidak bisa menerima kritik terhadap Capres jagoannya, mas..

  46. Pingback: Para Pendukung Fanatik Jokowi | Indonesia Bangkit

  47. Mas’e ngambek gara-gara fans jokowi gak mau dikritik soal skill pidato….terus ngambek gara-gara orang kritik jawaban prabowo “tanya atasan saya”… lol

  48. Saya dari awal memang memiliih jokowi namun setelah sama masuk grupnya di berbagai sosmed, luar biasa fanatiknya. Setelah itu saya leave grup tersebut dan mencoba hal baru, dan saya akhirnya masuk ke grupnya prabowo. Namun hasilnya sama saja. Jadi saya harus memilih yang mana kalau kedua kubu sama fanatiknya? Tolong kasih sama pencerahan, anyone?

    • Fokus dengan capresnya, bukan dengan pendukungnya. Karena kita memilih pemimpin untuk Indonesia,bkn memilih tidak berurusan dgn fans fanatik, sebab fans fanatik selalu ada.
      Saya kalau fokus ke pendukungnya, mgkn akan golput. Tapi dgn fokus ke ke capres dan mencoba membaca berita dr byk sumber portal news, akhirnya saya sudah menjadi pendukung salah satu capres. 🙂

      • good, sama mas kayak saya…sekarang dah punya calon yang mau didukung, ga golput lagi 😀

  49. Sama nih..
    Saya mengagumi sosok Pa Jokowi pada saat beliau menarik perhatian dengan mobil esemka nya.
    Semua berita di tv menampilkan hebatnya seorang Jokowi bisa mensupport SMK untuk membuat mobil sendiri.
    Kemudian pada saat pilkada Jakarta saya pun mendukung Jokowi untuk bisa jadi Gubernur, karena saya pernah tinggal di Jakarta pada jamannya Foke kok rasanya lebih buruk dari jaman Sutiyoso.
    Tapi karena saya bukan penduduk Jakarta jadi tidak mendalami banget pilkadanya, cuma berharap Jakarta bisa lebih baik oleh Jokowi.

    Tibalah pemilu 2014. Awalnya tidak yakin Jokowi bakal nyapres, karena memang sering banget di tv kalo beliau ditanya jawabannya : intinya tidak akan nyapres.
    Saya pikir, wah bakal golput lagi nih pilpres nanti, karena dua kali pilpres 2004 & 2009 saya termasuk golongan yang antipati dengan semua capres yang ada.

    Eh tiba-tiba Jokowi jadi nyapres, wow!

    Saya jadi tertarik sama pilpres. Saya follow banyak account twitter pendukung Jokowi. Sampai tokoh-tokoh JASMEV juga saya follow. Tapi ternyata sebagian besar pendukung Jokowi malah lebih banyak nge-twit negatif tentang Prabowo dan gerbong dibelakangnya ketimbang nge-twit prestasi postifi Jokowi.
    Terbawa arus, penasaran saya bacain link-link berati negatif Prabowo, dari portal berita sampai kaskus.
    Dan ternyata hampir setiap berita negatif Prabowo ada berita kebalikannya.

    Saya baca berita negatif dan positif Prabowo, tata bahasa beritanya sampai penulisnya saya cermati.
    Mulai bimbang..
    Kok sepertinya fakta tentang Prabowo ternyata lebih banyak positifnya. Mulai kagum ama Prabowo. Padahal sebelumnya sama sekali tidak simpati ama sosok Prabowo. Seorang penjahat HAM. Itu mindset saya bertahun-tahun tentang Prabowo.

    Kemudian saya follow account2 pendukung Prabowo. Saya perhatikan bagaimana mereka meng-counter berita negatif Prabowo dan bagaimana mereka menebar berita negatif Jokowi.

    Pada akhirnya saya menjadi hilang simpati dengan cara-cara ‘pendukung fanatik’ Jokowi dalam menyerang Prabowo dan dalam cara mereka meng-counter berita negatif.
    Jadi saya adalah salah satu orang yang termasuk golongan seperti penulis.

    Hikmah buat saya dari pilpres ini adalah, persepsi saya tentang sosok seorang Prabowo berubah.
    Menang atau kalah bukan tujuan, tapi merubah mindset dari penilain saya terhadap seseorang yang tadinya buruk menjadi baik itu sudah luar biasa.

    • Kok saya liatnya beda ya mas, d sosmed saya penuh dgn umpatan2 tuk jokowi n share link berita tendensius dr web2 g jelas menjelek2an jokowi.
      *Mendamba kampanye santun tanpa saling fitnah..

    • Saya pun mengalami seperti yang Anda alami. Bedanya, saya betul-betul berada di dalam diskusi strategis pemenangan Jokowi sejak 2012. Kelompok ini memang tidak bertugas mengendorse kejelekan kubu lawan, namun sebaliknya untuk melakukan pencitraan baik terhadap Jokowi. Karena melihat adanya fanatisme, saya keluar. Akan tetapi, saya tetap berteman dekat dengan salah seorang jejaringnya dan mengikuti perkembangannya. Makin lama, kelompok ini makin kehilangan orientasi dan cenderung fanatis-buta. Mungkin karena jenuh. Saya pun paham ketika sekarang muncul sikap fanatis “I Stand On The Right Side”, suatu bahasa yang dulu hanya kita kenali keluar dari mulut orang-orang ekstrimis seperti HTI, FPI dan lainnya, kini malah menjadi gaya bahasa “kalangan intelektual liberal”. Kebenaran dianggap hanya milik mereka. Menurut saya, ini mulai keterlaluan. Meskipun hubungan saya dengan jejaring kelompok pemenangan Jokowi tadi masih baik (masih sering ngopi bareng meski mulai garing 😀 😀 😀 ), saya pertegas bahwa setelah pencarian panjang, saya tidak mungkin memilih Jokowi. Jokowi hanya menjalankan “amanah” segelintir orang. Orang-orang elit Jokowi ini cenderung mengeksklusi mereka yang tidak sepikiran, bukan memberikan kanal sesuai prinsip kebebasan. Berbeda dengan Prabowo yang saya lihat lebih mencerminkan kecenderungan nasional: ada kelompok nasionalis-sekuler, ada kelompok kanan Islam, ada nasionalis-Islam, ada kalangan Kristen-Protestan. Saya pikir, kelompok Prabowo jauh lebih mencerminkan amanah nasional. (Terima kasih atas owner blog, saya numpang ngomen).

  50. This one is good. Terima kasih sudah mengingatkan, Mas. Saya pendukung Jokowi, seisi keluarga besar saya juga, tapi saya sedang berusaha keras untuk belajar tidak jadi fanatik, sebab lingkungan saya sebagai minoritas dan juga sikap politik keluarga saya banyak yang bisa mengarahkan pada fanatisme. Noted!

    • Sebenarnya sih ada juga kubu Prabowo yang agak lebay. Tapi entah kenapa lebih deras yang dari kubu Jokowi, masbro.. 😛
      Lagipula saya lebih ingin Jokowi memenangkan Pilpres kali ini, dan kelakuan para fans garis keras Jokowi justru membuat jengah undecided voters, bahkan yang sudah decided di Jokowi. Makanya artikel ini dibuat, syukur-syukur berhenti. Kalo kagak ya semoga mereka sadar banyak yang kesal akibat ulahnya.. 😀

  51. Pingback: Para Pendukung Fanatik Jokowi | AR Mutajalli Photography

  52. yang namanya fans apalagi fanatik pasti mempunyai kelakuan yang beda2….bukan cuman masalah politik..ada fans justin bieber…ada fans musik metal…ada fans jkt48…ada fans agnes monika..ada fans persija….ada fans persib,,,,dan kadang saling mencela atau membully di dunia maya (socmed)….selama dilakukan tanpa pemaksaan kehendak secara riil atau bertindak anarkis yah masih wajar2 aja…kita tidak bisa menahan orang untuk mengeluarkan pendapat karena berpendapat setiap individu itu berbeda2…dan dilatarbelakangi kejadian atau peristiwa yang berbeda-beda dalam hidupnya yang merubah cara pandang dan pola pikir setiap manusia

    • Salah satu ketakutan saya akan kefanatikan dalam Pilpres kali ini adalah polarisasi antar para pendukung. Tentu kita tidak ingin ke depannya ada kelompok-kelompok radikal pendukung Jokowi vs Prabowo yang saling memusuhi begitu dalam, hingga mengancam persatuan negara.

      • bukan hanya sekedar polarisasi mas..tapi “hancurnya perkawanan”
        hehe
        di sekitar saya isinya anti Prabowo semua..termasuk saya
        tapi tidak semuanya adalah pendukung (fanatik) Jokowi karena mereka melihat partai asal dan koalisi yang mendukung Jokowi, juga ada yang menganalisa mengenai politik borjuasi yang tdk akan membawa perubahan besar tau juga nama-nama besar (dan gelap) yang ada di dalam kubu Jokowi
        dalam komunitas saya..ada 1 kubu yang amat sangat fanatik Jokowi dana ada 1 kubu yang sangat apatis thdp sistem politik (yang masih) borjuasi ini..mereka akan cenderung golput
        nah..perbedaap sikap politik ini ditanggapi dengan sangat berlebihan..bahkan kubu yang fanatik jd rajin ngrasani /menjelek2an..bahkan cenderung memusuhi
        “saat ini golput adalah bukan pilihan, krn kalau kamu golput maka suara kamu bukan untuk kita..dan itu otomatis menguntungkan pihak lawan”– itu adalah logika yang dibangun (yang dengan sgt mirisnya saya dengar sendiri dari timsesnya)
        kalau kita menjunjung tinggi nilai demokrasi..apakah yang dilakukan oleh pendukung fanatik Jokowi ini bukan fasisme namanya?
        waktu saya membaca tulisan mas ini..rasanya kayak PAS BANGET!!!
        saya tdk lantas mendukung Prabowo..itu tdk akan pernah terjadi.
        tapi kekuatiran saya terhadap sikap kawan2 fanatis pendukung Jokowi terhadap kawan2 yang (masih) golput malah akan membuat kita (pihak Jokowi) akan kehilangan potential voter
        seharusnya pendekatan yang dilakukan lebih persuasif
        lagipula..perdebatan2 ini hanya gencar terjadi di kelas menengah ke atas…bagaimana dengan di grass root??
        seharusnya kita lebih rajin ke grass root untuk melakukan pendidikan politik agar mereka bisa menentukan pilihan karena kesadaran dan pemahaman,bukan karena instruksi kepala desa atau pemuka agama
        kembali ke komunitas saya..polarisasi antara pendukung fanatik dan para golput-ers ini bahkan sampai meruncing dan merusak perkawanan, terkadang dengan sinis saya berpikir, “klo Jokowi nanti jadi Presiden (amiiiin) lha mosok lantas kalian (para fanatist) ini lantas akan hidup di istana negara? tidak kan? kalian akan kembali lagi kepada kawan2 kalian di masyarakat..nah..mbok yaaaaooo…perbedaan pendapat / pilihan tidak lantas melabeli para golput-ers ini sbg lawan..toh jelas mereka (golput-ers) bukan pendukung Prabowo dan mempunya penjelasan atas sikap politik mereka ini.”
        kekuatiran saya sama..saya takut ini malah menjadi bumerang bagi perjuangan kawan2 untuk medukung Jokowi..semoga situasi ini masih bisa dan mau diperbaiki…

        salam kenal dari Surabaya mas…
        🙂

      • Jangan kan di pilpres nanti, artikel anda ini jg dpt menyebabkan permusuhan lbh dalam (“pintar”). Anda tau ga resiko dri org2 fanatik??? Jangankan darah nyawa pun bs jd taruhan nya…
        sya rasa anda nulis artikel ini hanya ingin cari perhatian saja, apa jangan2 sbuah bentuk propaganda hitam…
        haaddeeeww…..
        cntoh simple menanggapi artikel anda? Anda ingin memilih wanita diantara x dan y unk dijadikan istri , ketika itu jg ada org yg bilang jng pilih y dia PL padahal anda sbelumnya sudah tau latar belakang y cma gara2 diantara org2 yg ga jelas dengan mudah anda memutuskan unk memilih x. Sependek itukah pemikiran anda…??
        Tp saya rasa anda adalah orang yg konsisten…
        konsisten dg ketidak konsistenan nya..
        kurang lbh sperti itu.
        Berikanlah kebenaran bukan pembenaran!!!

      • Tulisan keren 🙂 Namun saya kurang sepaham dengan beberapa sikap Anda (lupa yang mana, komen-komennya sudah kebanyakan 😀 ) Menurut saya, etika politik pihak Prabowo hingga saat ini memang lebih baik. Saya tidak menutup diri bahwa secara pribadi Jokowi orang baik. Sayangnya, ia mudah “disalahgunakan”. (1) Jokowi tidak bisa bertahan dari desakan orang-orang sekelilingnya, bagaimana mungkin dia bisa bertahan dari desakan kartel politik yang lebih besar kelak? (2) Jokowi beberapa kali menunjukkan sikap yang tidak respek terhadap Prabowo. Padahal jelas, Prabowo merupakan senior dan endorser utamanya saat ia ke Jakarta. Saya tahu, sikap-sikap Jokowi itu arahan dari tim nya, bukan sikap batinnya yang merdeka, jika ini akan dijadikan alibi. (Saya tahu, karena saya pernah menjadi bagian dari pengarah isu-isu yang harus dicitrakan oleh Jokowi). Namun justru karena terlalu lemahnya integritas mental Jokowi ini, saya tidak bisa lagi mendukung beliau. Beberapa sikap Jokowi yang terkesan cucui tangan dan bersih (bicara diplomatis, tidak mau bicara hal-hal krusial karena menurutnya bukan urusannya), saya kira itulah yang mendorong lahirnya fanatisme-fanatisme pendukungnya itu. Jika tulisan Anda tentang para pendukung fanatik Jokowi, maka tanggapan saya: dukungan fanatik itu terkadang dipengaruhi citra yang ingin ditampilkan dari kandidat yang diusungnya. Jokowi yang “korban fitnah”, Jokowi yang “rakyat kecil”, Jokowi yang “sederhana”. Dengan figur-figur dewa yang disematkan di dalam dirinya, kritik terhadap Jokowi hampir mustahil. Kritik hanya akan melahirkan perlawanan fanatis 🙂 Semoga semangat pencarian terus membawa Anda pada pencerahan-pencerahan baru. Dan jangan lupa, tolong dibagi di blog menyenangkan ini. 🙂

  53. mas arie, menurut saya.. walaupun mas yang notabene milih jokowi sehingga sekarang beralih ke prabowo, kurang tepat juga. Seharusnya mas arie mengajak para pendukung jokowi untuk lebih baik dong, bukan malah menjelek2kan…:) gmana parahnya kah para pendukung jokowi yang dianggap fanatik?.. Ya klo memang pendukung jokowi menebarkan negative campaign, it;’s fine, supaya kita benar2 tau calon yang akan kita pilih… Buat saya sih, untuk memilih capres itu, minimal liad dari rekam jejaknya lah.. *karena bisa tercermin, sifatnya sehingga kita bisa tau kekonsistenan beliau dalam memimpin….

    • Sepertinya saya kurang tegas menjelaskan bahwa sama sekali tidak beralih ke Prabowo ya.. 😀

      Hingga kini saya masih cenderung memilih Jokowi. Justru saya peduli akan voters yang undecided sehingga saya menulis artikel ini. Karena dari yang saya bisa pelajari dari segala komentar di hingga malam ini, banyak swing voters yang beralih akibat metode kampanye non-simpatik. Semoga ini jadi pelajaran buat teman-teman yang terlalu keras dalam metodenya mengkampanyekan Jokowi. Dan ini juga berlaku untuk para pendukung Prabowo. Semoga semua bisa lebih arif dalam mengkomunikasikan pilihan politiknya.

  54. yes,i agree. saya mendukung jokowi karena saya bisa merasakan langsung beberapa kebijakannya di DKI seperti KJS,KJP,normalisasi Sungai dll yg bisa langsung dirasakan oleh rakyat , program itu adalah bentuk kampanye jokowi yg efektif menurut saya.Dan saya tau dari semua program itu masih banyak yang harus dibenahi dan itu diperlukan sikap kritis untuk mengoreksinya agar lebih baik lagi.Tapi terkadang sikap kritis itu disalah artikan oleh orang yg mendukung jokowi sebagai pernyataan ketidaksukaan kepada jokowi.
    Saya memaklumi sikap mereka dengan beberapa catatan tentunya,dalam pandangan saya sikap merka itu mungkin dikarenakan kita sudah terlalu haus oleh sosok pejabat yg memiliki karakter seperti jokowi,dan ketika jokowi muncul seakan2 inilah satria piningit yg di tunggu2 seperti mitos yg dipercayai rakyat indonesia kebanyakan bahkan Ayah sy sendiri mempercayai itu 😀
    Dan sebagai orang yg masih bisa berfikir kritis,jangan bosan2 untuk selalu mengikatkan mereka seperti tulisan Om arie ini walau dengan resiko di caci ,karena semakin besar berharap semakin besar pula kemungkinan kecewa.

  55. “Tapi lucu sekali bila yang mentertawakan adalah orang yang membela seorang sastrawan tertuduh pemerkosa. Yang korbannya adalah seorang perempuan yang lebih cocok jadi anaknya.”

    I stopped reading there. Seram sekali generalisasi ini. Sebagai orang yang sangat tidak membela si sastrawan berengsek itu sekaligus tidak membela Hatta Rajasa & anaknya, saia tersinggung. Harusnya enggak tersinggung sih ya, tapi itu generalisasi sih, jadi saia boleh-boleh aja tersinggung.

    Hum.

    • Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung loh. Tetapi ada kalanya kita semua mampu memiliki standar ganda. Tindakan Hatta Rajasa membela anaknya dan tindakan seorang figur publik yang membela temannya sang sastrawan tidak dapat dibenarkan di mata hukum. Tetapi bila ada yang menghujat yang satu sementara memaklumi yang lain, saya rasa itu standar ganda.

  56. Hmmm… Gw pendukung jokowi, fanatik/ ngga bukan gw yg menilai. Kalopun dianggep fanatik, so be it… Skr om arie ngakunya pendukung jokowi, tp beralih ke prabowo karena kelakuan pendukung fanatiknya jokowi yang dianggep “murahan” or whatever it’s called, at the same time artinya lo nganggep gw dan teman2 pendukung jokowi lainnya itu kelakuannya lebih sampah daripada anjing-anjing berjubah putih yg suka sok sok sweeping di bulan ramadhan padahal mereka kolektor bokep, pengangguran doyan mabok, yang merasa ketika pake jubah putih itu super suci sementara lainnya boleh dibantai sesuka hati mereka kalo ngga sepaham? Sampe sampe bikin tagline “pasukan berani mati” segala… 👻 serius nih?!?!
    Ps: gw juga pernah jd islam, tp wkt masih islam kelakuan gak gitu juga kali…

    What a joke…

    Fail brader 👍

    My point of view:
    Prabowo menghalalkan segala cara untuk jadi presiden di 2014-2019. Di periode2 sebelumnya, beliau selalu gagal, ambisi semakin besar, umur semakin pendek, salah satu strategi perang yang sang macan asia blom pernah lakukan dulu-dulu sepertinya baru dicoba sekarang, yaitu pake kuda troya macem artikel ini…

    Buat gw, lebih baik nyoblos jokowi terus kalah tgl 9 juli, ketimbang nyoblos prabowo dan menang saat 9 juli, kmungkinan negara ancurnya lebih besar kl dia yg menang. Pake acara ical dijanjiin posisi lebih dari mentri, kenapa gak sekalian aja sebut posisi ibu negara? Dari awal aja udah nutup nutupin.

    ☕️☕️☕️

    • Saya tidak pernah bilang saya beralih mendukung Prabowo. Sampai saat ini saya masih cenderung akan memilih Jokowi, walaupun tidak 100%.

      Saya juga tidak pernah mengatakan, saya kutip, “teman2 pendukung jokowi lainnya itu kelakuannya lebih sampah daripada anjing-anjing berjubah putih yg suka sok sok sweeping di bulan ramadhan padahal mereka kolektor bokep,“.

      Yang saya maksud adalah, kelakuan tidak mau menerima kritik itu sama saja dengan kelakuan kelompok fasis, misalnya FPI. Menghujat FPI karena kelakuannya yang “sok suci”, tidak terlalu beda dengan fans Jokowi yang tidak bisa terima kritikan terhadap mereka yang merasa selalu benar.

      Kalau ingin memilih Jokowi silahkan, Prabowo monggo. Tapi kita harus mengetahui bahwa mereka semua tidak sempurna, layak dikritik, dan perlu diawasi.

      • Kutipan: “Saya pun pernah sampai di suatu titik di mana saya lebih baik memilih Prabowo daripada harus berada di satu kubu dengan para pendukung fanatik Jokowi. Saya di sini akan terbuka, semenjak pengumuman resmi Capres-Cawapres saya cenderung lebih mendukung Jokowi. Tapi saya tidak pernah memandang sosok beliau sebagai sosok yang 100% sempurna.”

        Ini ada di narasi Om arie diatas, kalimat yg menyejukan fanboy prabowo pastinya…

        Berikutnya saya kutip dari tanggapan atas post saya sbelum ini: “Saya tidak pernah bilang saya beralih mendukung Prabowo. Sampai saat ini saya masih cenderung akan memilih Jokowi, walaupun tidak 100%.”

        Kontradiktif? Jelas…
        Anda mendukung jokowi tapi memilih prabowo? Itu modus… Hak anda kog mau milih siapa… Tapi saya kira anda setuju bahwa lebih elok kalo tidak dengan cara “kasar”, “cinta buta” dan lain sebagainya… Apakah dengan cara cerdas seperti ini yang anda maksud om? Seolah2 anda mengajak fanboy jokowi untuk lebih cerdas, padahal ada udang dibalik bakwan? ☺️✌️

        Saya juga tidak blg om arie mengatakan apa yang on kutip diatas, tp itu kesimpulan yang bisa saya tarik berdasarkan benang merah dari kalimat “saya lebih baik memilih Prabowo daripada harus berada di satu kubu dengan para pendukung fanatik Jokowi.” Bukankah itu menjelaskan bahwa berada satu kubu dengan pendukung fanatik prabowo lebih nyaman ketimbang pendukung jokowi, untuk preferensi anda?

        Yaudahlah kalo mau dukung prabowo terus terang aja dukung prabowo, sama sama kita banggakan visi misi capres yg kita dukung, smua juga tau kog jokowi ngga 100% sempurna, tp gw sih yakin, serendah2nya persentase jokowi, dia msh lebih tinggi nilainya drpd prabowo, apalagi urusan kesempurnaan… ☺️✌️

      • Saya tidak bisa berbuat apa-apa bila kata-kata saya disalahartikan. Tapi saya akan kembali mencoba menjelaskan.

        Anda mengutip kalimat saya dengan penggalan yang tendensius di “saya lebih baik memilih Prabowo daripada harus berada di satu kubu dengan para pendukung fanatik Jokowi.” Padahal di kalimat lengkapnya ada “Saya pun pernah sampai di suatu titik…“. Pernah bukan berarti tetap berada di sana.

        Betul saya melihat pencalonan Jokowi tidak sempurna, tetapi saya juga tidak pernah mengatakan bahwa pencalonan Prabowo sempurna. Di mata saya keduanya tidak sempurna dalam hal pencalonan mereka sebagai Presiden. Saya harap asumsi-asumsi seperti ini bisa dihindari.

      • Haha.. saya jadi ingat quote “Saya hanya bertanggung jawab terhadap apa yang saya tulis, bukan apa yang anda pahami” ( http://daus95.com/2014/06/02/jokowi-atau-prabowo-saya-pilih/comment-page-3/ ).

        Hampir satu jam nge-scroll bagian comment, saya rasa ributnya karena tidak terima pemahaman mereka beda dengan tulisan mas Arie. Kayaknya self-righteousness tinggi banget di salah satu sisi pendukung.
        ———
        Di timeline fb saya, jauh lebih annoying right-siders. Dan banyaknya cuma ribut sendiri. Ada beberapa “leftist” yang hardcore (sampai berkata-kata kotor) tapi masih kalah jumlah. Selain itu di beberapa tulisan (yang saya baca) yang ditujukan untuk swing voters, right-siders sepertinya sangat jeli dalam melihat keberpihakan penulis dan langsung bawa massa serta mengupayakan keadilan kalau menemukan sesuatu yang tidak berimbang.

        Mungkin saya baru melihat di satu sisi. Mungkin karena di lingkungan saya (18-23 tahun) right-siders lebih dominan dan #1 didominasi kaum tua yang belum melek teknologi.

        Atau mungkin kedua kubu ini sebenarnya berteman dan hanya memberi pilihan ilusif pada kita?

        Secara pribadi saya skeptis dengan politik, yang kaya akan semakin kaya, vice versa. Meskipun data nasional atau some advanced economic charts bilang kalau kesejahteraan bertambah, masyarakat bawah masih harus berpikir besok mesti makan apa. Tetangga saya banyak yang begitu. However, kalau saya ditanya pilih siapa, saya biasanya bilang Prabowo. Soalnya beliau naik kuda. Saya suka Metallica tapi itu belum cukup buat memilih Jokowi (kalau beliau suka Genesis mungkin bakal saya pilih)

    • hehehe emang jokowi juga bersih mas. sampe mengatakan menggunakan dengan segala cara.
      kita sama sama kotor mas. jujur saya pedukung prabowo kenapa? karena media yang saya cintai
      terlalu jokowi sentris semenjak 2 tahun lalu. dan jasmev? kalo ada yang ngeritik dikit aja.
      wihhhh seolah yang mengeritik itu pendosa. sampe suatu hari ada seorang pengkritiknya meninggal
      masih aja dicomment buruk. begitukah jasmev?
      sampe tivi kalian menunjukkan berkas pemecatannya, bukannya itu menghancurkan jati diri orang tersebut
      apa ngga kasian. didik j rachbini pernah comment di twitternya jasmev itu hama demokrasi.

  57. Pingback: My Candela Blog

  58. Sebenarnya pembelaan militan ini sudah ada dari dulu, kecuali di jaman semua serba diredam. Punya medium untuk bebas menyampaikan pendapat ini yang membuat jadi terlihat ekstrim. Ada status bb, status wa, broadcast message, fb, twitter, path, dan segala macam media lainnya. Kalau dulu, ekstrimnya hanya bisa terlihat dan terdengar di kalangan terbatas, yg kenal, yg ngumpul, yg tetanggaan. Kalau dibilang belum dewasa, ya memang…mediumnya dibuat selama ini untuk “terbawa arus”. Mau promo jadi lebih gampang, mau mempengaruhi opini jadi lebih selesa (kalau nggak buzzer gak hidup dong :D). Semoga dengan makin banyaknya yg menyuarakan ketidaknyamanannya dan mengingatkan, para pendukung ini nggak kebablasan. Semoga….

  59. awalnya juga saya mau memilih Prabowo namun setelah melihat kemunculanya yang serba instant menurut pendapat pribadi saya dan ulah para pendukungnya yang berlebihan akhirnya saya tentukan untuk memilih Ir. Jokowi yang di mata saya jauh lebih baik dibandingkan yang satunya secara prestasi 🙂

  60. Pada dasarnya saya setuju dengan pendapat mas ini. dulu saya juga kagum terhadap sosok rendah hati dan mau turun langsung ke masyarakat. karakter seperti itu lah yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia saat ini.

    tetapi karena terlalu banyaknya fitnah yang ditujukan kepada sosok yang saya kagumi, saya berpikir terbalik. kesemua fitnah itu ditujukan untuk satu pihak, tetapi pihak yang satunya lagi dapat dikatakan fitnah nya tidak ada (fitnahnya terkait dengan isu yang selama ini dikaitkan dengannya sedari dulu).

    fitnah tersebut saya yakin dibuat-buat, dibesar-besarkan oleh satu pihak untuk menarik simpati masyarakat. saya berkata seperti ini bukan karena menerka, tapi melihat dari cara bicara tim suksesnya. terlihat sekali mereka mau menaikkan capres kebanggaan mereka dan menyerang lawan dengan topik yang sama.

    sedangkan tim lawan menyerang dengan pertanyaan kepada tim sukses lawan mengenai pemikiran mereka.

    terlihat sekali, tim satu mencari kelemahan dan membabi buta menjelek-jelekkan kinerja (yang kita tahu capres tersebut pernah bekerja sama dengan ibu suri). tim satu lagi mencari kesalahan dalam visi misi kedepan.

    itu lah politik.

    bukan lagi demokrasi. demokrasi? belum sampai, negara masih belajar. mudah-mudahan negara kita dapat pemimpin yang mengerti karakteristik seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau, bukan hanya pulau Jawa. Bukan hanya sekedar turun ke masyarakat bercerita sebentar. Tetapi seorang pemimpin yang pernah berjuang untuk mempertahankan NKRI.

    • Ya, salah satu efek samping fanatisme adalah persatuan. Bahkan ada salah satu fanatik Jokowi yang berkata kurang lebih, “saya rela kehilangan teman demi kemenangan Jokowi”. Mungkin ini juga ada di kubu pendukun Prabowo. Yang jelas kecenderungan seperti ini kan sudah tidak sehat.

  61. Izin share yh om 🙂
    Eh tp saya wd ngshare dluan sblm mntak ijin soalnyaa “eh” bgt ngbaca postingannyaa
    Maaf yh om 😉

  62. Menurut saya sih itu kata sayap kana sama fasis terlalu berlebihan, kalau fanatik saya setuju…
    Tapi jangan sampe pindah kubu, cuma gara-gara sebagian pendukung yg fanatik..
    kalau boleh dianalogikan, contohnya saya ngga keluar Islam, cuma karna oknum FPI yg bar-bar…
    Saya juga tetep Madridista, meski banyak fans madrid yg ngolok messi sama catalan…
    saya juga suka JKT meski banyak wota, yg jelekin girlband lain…

    just sharing….

    • Betul, seorang Muslim yang keluar dari agamanya akibat ulah FPI itu kecil kemungkinannya. Tetapi ada banyak Muslim yang malu akan kelakuan FPI yang berlebihan dalam aksinya. Saya menggunakan istilah “sayap kanan” dalam konteks gaya bahasa mengacu pada kelompok yang “berdiri di kanan”, bahwa sikap tidak dapat menerima kritik, menganggap golongan lain sebagai musuh, itu dekat dengan perilaku fasisme.

  63. saya awalnya suka Prabowo. tapi begitu ada PKS, langsung mundur teraturlah saya. why? karena sebelum Jokowi jadi capres aja kader PKS sudah terus menerus menyerang Jokowi. Contohnya fahri hamzah yang menyamakan Jokowi seperti ayam yang digosok pantatnya. Sangat keterlaluan!

    Menurut saya, dialah pencetus kampanye tidak santun di negeri ini. Ucapannya yang sangat kasar entah mengapa dengan mudah diduplikasi oleh kader partai yang dalam setiap kesempatan mengaku paling islam sendiri. Saya makin mantab memilih Jokowi setelah mereka mengecap yang gak dukung Prabowo berarti islamnya kurang sempurna. Fyuh.. ck ck ck.. sampai segitunya membela capres!

    • Yup, retorika “gak dukung Prabowo berarti islamnya kurang sempurna” itu adalah salah satu contoh kefanatikan, dan seharusnya tidak pernah digunakan dalam kampanye. Sekali lagi, pendukung fanatik pasti ada di kedua belah pihak.

  64. btw, kalo prabowo udah jelas boroknya, penculik, temperamen dan jomblo. Tp fansnya jokowi udah pernah ke solo blom ya ? solo yang katanya jadi portfolio jokowi sebagai walikota terbaik sedunia, ckckckc
    saya pilih golput gan…
    sampai sekarang solo itu masih banyak jalan yang berlubang gan, PKL yang dulu berhasil dipindahkan jokowi dengan usaha bertahun-tahun sekarang balik lagi tuh 😀
    saya salut dengan timsesnya jokowi…iklannya dimana-mana ckckckc dananya dari mana ya

  65. Selalu Ada yang Baru! Artikel yang sangat memBuka Mata. Kalimatnya yang tajam, Setajam Silet dengan bahasa yang Tegas, Lugas, Cerdas bisa menjadi Sumber Referensi Terpercaya. Artikel Om Arie ini Jujur Bersuara, Memihak Kebenaran karena Kebenaran Itu Tidak Pernah Memihak! Yang ditulisnya Semata-mata Fakta! Demi Indonesia yang Lebih Baik. Menjadi Inspirasi untuk Perubahan, Inspirasi Indonesia!

    Om Arie yang Young, Energic, Smart and Stylish memang Pria Punya Selera. Sejatinya ini Bukan Basa-Basi, yang Sejati, Memang Bikin Bangga. Kebanggaan Bersama Milik Bangsa, Milik Kita Semua, Satu Untuk Semua.

    Salam kenal Om, saya ingin Lebih Dekat, Makin Bersahabat dengan Om. Mudah-mudahan Om mau menjadi Teman Bermain dan Belajar.

  66. Thanks artikelnya. Disclaimer : saya pendukung Jokowi, dan saya memilih dia karena saya pikir dia orang yang bisa diajak bekerja sama, atau paling tidak membuat saya nyaman bekerja dan berkreatifitas di Indonesia. Memang dari dulu saya suka sebel karena kayaknya pendukung Jokowi lebih tidak tahan kritik terhadap Jokowi dibanding Jokowinya sendiri. Tapi seperti yang sudah dikatakan banyak orang di atas, sama juga yang ada di kubu Prabowo. Walau mungkin saya bisa agak bias dengan pernyataan ini: di kubu Prabowo pembenaran dan penolakan kritis akan jagoannya lebih sistematis dibanding fanatik Jokowi yang cenderung lebay dan kekanak-kanakan.
    Kebiasaan mengkultuskan individu ini sebenarnya banyak terjadi bukan hanya di Pilpres dan bahkan sebelum media sosial jadi besar di Indonesia seperti sekarang ini. Saya masih ingat dulu saat Indonesian Idol I, ada dua kubu ngga penting yang beradu apakah membela Delon atau Joy Tobing. Berantemnya juga ngga penting. Diikuti dengan ajang2 lain yang kontestannya finalnya dua orang. (Ketahuan deh angkatan berapa ;))
    Saya masih percaya ini proses, karena selama ini pola pikir yang ada, kalau memilih pemimpin itu artinya memilih dewa, si dewa nan sakti mandraguna ini akan mengurusi semua kepentingan kita dengan tongkat ajaib, dan kita semua akan hidup sejahtera dengan tanpa usaha. Sama seperti memilih idola yang akan membuai kita dengan suara yang indah. Jadi sebenernya kita perlu pemimpin yang bisa menawarkan konsep baru, bahwa pemimpin itu ya pemimpin, manajer, bukan dewa, sehingga evaluasi 360 derajat itu diperlukan (dalam hal ini bentuknya kritisi dan sumbang saran).

    • Aku seneng banget artikel mu mas …sangat mendidik sangat menyejukkkan bravo rakyat indonesia yg makin pintar….

      • Haduh… makasih banget pujiannya, tapi rasanya saya masih jauh dari pantas untuk mendidik rakyat. 😛
        Semoga saja negara ini semakin cerdas dalam demokrasi ya.

  67. Begini lho…Ketika kita bicara hukum apalagi menyangkut kejahatan HAM, korupsi dan terorisme, jangan bicara dia jenderal apa bukan, dia dukung capres A atau B, dia presiden atau tukang becak. Kalau anda pelanggaran hukum, siapapun anda harus diusut tuntas dan di bawa ke pengadilan. Pembayar pajak negeri ini mempunyai HAK untuk mengetahuinya! Kasus Century misalnya, kalao Boediono terlibat, dia harus di hukum meskipun wapres. Di surat DKP jelas-jelas disebut Prabowo memerintahkan Tim Mawar. Ini kasus besar harus di tuntaskan. Begitu juga jenderal yg ada di belakang Jokowi. Kasus-kasus yang diduga melibatkan jenderal-jenderal lain juga sama harus diusut tutas. Gak perduli siapa mereka harus di bongkar semua. Ingat itu nyawa manusia, ada orang tua mereka yang masih menunggu kabar anaknya sampai sekarang. Bagaimana kalau itu menimpa anda atau keluarga anda? Begitu juga dengan Jokowi kalau pernah atau suatu saat melakukan pelanggaran hukum tetap saja harus di bawa ke pengadilan. Semua orang sama dimana hukum tanpa terkecuali! Dalam hal pilpres, makanya KPU dilaporkan ke Ombusman karena munculnya surat DKP yang valid itu ternyata luput dari perhatian KPU. Dijaman informasi bebas dan cepat sekarang, semua pemilih bebas menentukan siapa yang dipilihnya. Kampanye negatif dan hitam itu bumbunya, tinggal bawaslu dan polisi aja yang menindaklanjutinya jika ada kampanye hitam.

    • Saya setuju, semoga bila Jokowi jadi Presiden, dia mampu menyelesaikan PR besar bangsa ini. Saya cuma takut sikap tidak mau dikritik para pendukung Jokowi tidak menular ke orang-orang di sekeliling Jokowi di pemerintahan bila beliau terpilih.

  68. saya jg cenderung memilih Jokowi, tapi eneg dengan kelakuan barisan fans ababilnya. orang2 yg saya follow di twitter kebanyakan pendukung Jokowi. dan saya sungguh mual dgn candaan menyerang kejombloan Prabowo atau gosip seputar (maaf) organ kejantanan Prabowo. sungguh kekanakan!
    jadinya ya saya mencari-cari akun fanboys Prabowo untuk saya follow 😀

    • Nah ini maksud saya. Mendukung Jokowi ya boleh. Tapi kalau sampai menyerang fisik Prabowo, apa bukannya malah malu-maluin. Saya saja yang cenderung mendukung Jokowi merasa jengah, bagaimana yang orang-orang mendukung Prabowo? Memancing permusuhan sekali.

    • Berarti mbak harus masuk ke wall FB saya. Isinya menghujat Jokowi kurus, jelek, ngomong mbalelo, pembohong, bukan muslim karena berpotensi meninggalkan jakarta dipimpin orang kafir. Enek banget. Apa salah follow temen ya? Isinya kok dangkal menilai fisik dan segampang jidatnya aja bilang orang lain kafir.. hahhh

      • Saya harap komentar ini tidak berlanjut menjadi pertikaian. Hal-hal seperti ini lah yang menyebabkan saya menulis artikel ini. Hanya karena berbeda Capres dukungan, serta kelakuan fanatik beberapa pendukungnya, mengakibatkan munculnya bibit permusuhan. Apakah tidak miris?

  69. jujur saya pedukung prabowo kenapa? karena media yang saya cintai
    terlalu jokowi sentris semenjak 2 tahun lalu. dan jasmev? kalo ada yang ngeritik dikit aja.
    wihhhh seolah yang mengeritik itu pendosa. sampe suatu hari ada seorang pengkritiknya meninggal
    masih aja dicomment buruk. begitukah jasmev?
    sampe tivi kalian menunjukkan berkas pemecatannya, bukannya itu menghancurkan jati diri orang tersebut
    apa ngga kasian. didik j rachbini pernah comment di twitternya jasmev itu hama demokrasi.

  70. sebenernya gini mas arie,
    yg dimaksud dengan pendukung fanatik itu apa ?
    hal apa yg membuat mas arie merasa kurang nyaman ?
    karena saya merasa apa yang diberitakan oleh pendukung jokowi adalah data fakta yang otentik, bukan bermaksud menjatuhkan, tapi memang fakta..
    kalo saya menilai, anda menganggap itu sebagai fanatisme karena anda melihat data fakta tersebut berkali-kali berulang-ulang, dan mungkin tiap anda buka internet (apalagi tiap buka berita, jejaring sosial, dll) dari orang yang berbeda, sehingga timbullah perasaan kasihan anda terhadap prabowo,,
    toh juga prabowo itu bukan orang jahat bgt, orang kaya, mantu mantan presiden, latar belakang militer, dll..

    jadi saran saya, jangan terpancing dengan apa yang anda rasakan..
    kalo anda mau memilih, silahkan pilih berdasarkan hati nurani, jangan berdasarkan keadaan..
    saya rasa pendukung fanatis jokowi itu ga ada..
    adanya mereka yang merasa orang inilah, jokowi, yang memang perlu didukung sungguh-sungguh (inget mas arie, sungguh2, bukan fanatis ya..hehe..)

    • Jadi gini,

      yang membuat saya tidak nyaman adalah para pendukung yang menganggap Jokowi itu sempurna, tanpa kekurangan, dan tidak layak dikritik. Para pendukung yang menganggap para pendukung Prabowo sebagai kelompok orang-orang tidak logis, musuh yang tidak layak ditemani. Pendukung yang mengekspos kekurangan kubu Prabowo sambil menutup mata bahwa ada banyak kekurangan juga di kubu Jokowi. Pendukung Jokowi yang retorikanya menyebabkan banyak orang jengah, gusar, dan sebal, dan mereka tidak peduli akan perasaan orang-orang itu. Pendukung Jokowi yang menganggap orang-orang yang bukan pendukung Jokowi adalah musuh yang hendak menyabotase perjuangan mereka.

      (Vice versa untuk pendukung Prabowo. But I don’t consider myself on his team.)

      Apakah yang seperti itu tidak layak disebut fanatik. Saya ingin menyebut mereka fasis, tapi mungkin terlalu keras ya?

  71. Klo buat saya berita2 ttg p prabowo malah membuka mata n pikiran saya krn sebelumny sy adalah pendukung p prabowo tp dengan mengetahui bagaimana latar blkg sosok p prabowo jd takutttt, kt ga mw kan balik k jaman orde baru lg d mana d dlmny adalah pejabat korup n smua suara reformasi dibungkam, sy bs blg korup krn no.1 bagi2 kursi spt p bakrie mw mengusulkan negara ri utk trisula yaitu 1 negara 3 pimpinan walah p bakrie dukung prabowo ogah rugi y hrs dpt jatah bgn, pak bekerja utk rakyat jgn utk kantong pribadi, blom lg fpi (plg tepok jidat) dh sm yg atu ini dimana kliatanny pemerintah takutttt sm fpi eh malah msk kubu prabowo, jgn2 cs an lg.orde baru sdh diganti sm orde reformasi blom jg brhsl uda mw balik lg k orde baru, kyny sy pribadi mw ks jokowi utk membuat perubahan bagi negara indonesia utk men stop para pejabat negara dari memperkaya diri sndr n melupakan rakyatnya krn liat dr debat capres d TV, jokowi bs lsg ks langkah konkret thdp sistemasi pemerintah pusat k daerah, klo orasi yg indah mah itu ibarat cita2 smua presiden d slrh dunia mensejahterakan rakyat, pendidikan merata, tdk discrimination dll smua jg bs yg jd pertanyaan caranya gmana, ibarat orang ditanya visi misi idupny apa jwbanny universal y jd org kaya, caranya yg gmana?
    sy br tau gara2 pilpres ini bhw prabowo dicekal k America gara2 kasus ham berat thn 98, klo ga salah knapa hrs pindah k yordania slm 2 thn tdk menghadapi berita2 simpang siur dgn berani, jelaskan ke rakyat kami Mau tau dr mulut bapak sndr jgn slalu jawabny tanya atasan sy ini sdh jaman reformasi pak jgn takutttt mengungkap kebenaran dong.
    Indonesia perlu perubahan dimana pemerintahan diisi oleh orang yg dpt mengerti n menyayangi rakyatnya bukan hanya janji dan dictator. Saatnya berubah mari lanjutkan reformasi yang sudah dimulai.

  72. Ikutan berbagi.
    Saya seorang pendukung Prabowo dari jaman Jokowi belum populer. Ketika melihat koalisi Prabowo dan cawapresnya, saya pun berubah mendukung Jokowi. Sayangnya, lama-kelamaan, saya sangat muak dengan pendukung fanatik Jokowi ini. Memang, dari kubu Prabowo juga banyak yang fanatik dan mengesalkan. Namun, saya lebih melihat usaha langsung Prabowo untuk mengontrol pendukung fanatik beliau agar lebih ‘slow’ dibandingkan usaha Jokowi kepada pendukung fanatiknya. Dari situ, saya melihat figur kepemimpinan Prabowo yang selama ini saya percaya. Figur pemimpin yang mampu dan mau mengontrol ‘bawahannya’. Bukan berarti saya bilang Jokowi tidak mampu dan tidak mau. Tapi, dari usahanya, lebih kelihatan Prabowo. Bukan berarti saya juga tidak melihat hasil kerja Jokowi di Solo dan di Jakarta, yang juga ingin saya rasakan di NTT ini, salah satu provinsi yang sepertinya selalu ranking 1 atau 2 dari bawah untuk banyak hal, yang berarti: masih jauh dari sejahtera. Tapi, harus dilihat juga kalau dari awalnya, Prabowo juga mengusung Jokowi loh…
    Dengan banyaknya tapi-tapian dan perhitungan di otak saya, alhasil sekarang saya berada dikategori swing voter. Terus mengamati sepak terjang no.1 dan no.2, terus berusaha terbuka dan menimbang, sampai tiba waktu pemilihan. Harapan saya, para pendukung fanatik salah satu kubu tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk malah tidak memilih ‘idola’ mereka pada akhirnya.
    Salam.

  73. Setuju sekali dengan artikel ini. Terutama bagian pendukung Jokowi yg menganggap kekurangan dalam pidato tdk apa2.
    Well, presiden adalah pimpinan tertinggi negara yang bertugas merepresentasikan negara dan menjalin kerjasama dengan negara lain.
    Jadi marketing aja harus menguasai ilmu komunikasi, jualan MLM harus banyak ikut seminar atau pelatihan komunikasi, masa jadi presiden negara besar gapapa kurang dalam berkomunikasi?
    Udah fanatisme yg aneh sih menurutku, harusnya kelebihan yg ada ditingkatkan, kekurangan yg ada diminimalkan. thats what u need to run a country.

  74. Di artikel anda beralih mendukung prabowo, tp di comment anda “masih” mendukung jokowi.. Jadi mana yang bener? Akan lebih baik jika anda membuat artikel yang tidak menyudutkan satu atau kedua belah pihak… Toh nantinya satu diantara keduanya bakal menjadi presiden kita.. Anda pintar mengolah sebuah artikel bung, tp cara anda sudah terlihat kemana arah anda sebenarnya!!! Ada baiknya anda harus lebih lama dan lebih luas melihat semua media sosial sebelum menulis artikel yang saya rasa tidak pantas untuk orang sekelas anda menulisnya. Tapi saya tetap berharap artikel ini bermanfaat bagi yang menulisnya maupun yang membacanya

    • Saya rasa di artikel saya tidak menyebutkan saya mengalihkan dukungan. Justru artikel ini dibuat agar teman-teman yang mendukung Jokowi lebih cerdas dalam cara-caranya mendukung beliau. Karena tindakan segelintir pendukung fanatik ini justru kontra-produktif.

      Bila karena saya mengritik Jokowi lantas saya dianggap sebagai pendukung Prabowo, saya rasa itu cukup menjelaskan tujuan dibuatnya artikel ini.

  75. The best article buat Pemilihan Presiden 2014 🙂 Saya setuju sekali dgn pendapat anda, saya sebenarnya bukan pendukung kedua belah pihak, namun memang akhir-akhir ini saya sedih melihat teman saya bertengkar, omongan kasar, menghina dan mencaci maki nomor 1. Kalau ditanya mengapa saya sedih melihat pendukung Jokowi? Jelas di Facebook dan media sosial lain saya, 99% mendukung Jokowi, hampir tidak ada yang menghina Jokowi. Jadi penuhlah Timeline saya dgn hinaan atas pasangan nomor 1. Dari teman sekantor, dosen kuliah, guru SMA, anak SMP, hingga tokoh diatas 60 tahun semua ramai-ramai dengan kasarnya menghina orang. Saya sedih karena proses menghinanya, bukan semata siapa yang dihina, melalui tulisan anda yang jauh lebih baik dari kata-kata saya, smoga banyak yang terbuka dan tercelik. Jika anda suka Prabowo pilihlah nomor 1, Jika suka Jokowi pilihlah nomor 2, yang penting bukan siapa Presidennya, yang penting Indonesia terus maju. Terimakash, Salam Kenal

    Alvin Christian

  76. Saya suka artikel yang jujur seperti ini mase. Tapi buat saya sih, untuk sebuah hal dengan magnitude yang luar biasa seperti Pilpres, saya tidak terlalu pusing urusan kelakuan fans masing-masing capres dan cawapres. Memang harus diakui, masing-masing kandidat kan tokoh besar yang punya barisan pendukung yang tidak hanya mereka yang rasional tapi juga ada yang fanatik. Jadi ingat lagu “Stan” nya Eminem, Fanatism itu adalah konsekuensi natural dari sebuah ketenaran. Jadi, enjoy karya bintangnya saja, ga usah pusing sama fans nya.

    Terus terang saya pendukung Pak Jokowi, karena saya termasuk golongan manusia yang percaya pada sebuah rasionalitas sederhana yaitu rekam jejak dan prestasi yang relevan itu sangat utama dalam menentukan capres dan cawapres. 2 faktor ini tidak menunjukan kesempurnaan seseorang (Sebab tidak ada manusia yang sempurna) melainkan menunjukan esensi karya dan bakti kemanusiaan pada masing-masing individu. Memang betul Pak Prabowo dan Pak Jokowi tidak bisa di apple to apple kan. Cuman saya merasa tergelitik saja melihat banyak sekali tokoh (mulai politis hingga seniman) memaksa untuk membandingkan achievement Pak Prabowo selama di Militer dengan Pak Jokowi selama menjabat berbagai jabatan pemerintahan sipil. Memangnya ini ajang pemilihan sekjen NATO? Ini kan Pilpres (baca: Pemerintahan Sipil), dan menurut logika saya, variabel Militer itu ngga nyambung dengan variabel ketatanegaraan. Seorang SBY saja pernah mengemban tugas sebagai seorang Menteri sebelum menjadi Presiden, oleh Sebab itu rekam jejak beliau bisa dibilang relevan: Sebagai mantan Militer, beliau sudah pernah berbakti dan berkarya sebagai pejabat publik sebelum jadi Presiden. Jadi mohon maaf kepada saudara-saudaraku pendukung Pak Prabowo, anda semua harus lebih putar otak dan kerja keras untuk menghadirkan argumen yang lebih elegan namun tetap faktual, sederhana dan lugas dalam urusan rekam jejak dan prestasi yang relevan dengan kriteria capres.

    Last but not least, marilah kita mendekatkan diri pada yang rasional dan menjauhi yang fanatikal. Marilah memilih dengan hati nurani dan akal sehat.

  77. Setuju dgn Mas Arie, semoga tidak ada lagi yg saling menjelekkan, menghujat, fitnah dan lain2. Toh suatu saat nanti salah satu capres dan cawapres yg telah kita jelek2kan, hujat, dll akan menjadi pemimpin kita. Apakah kita tidak malu?

  78. Waduh, komentarnya banyak benar, apa masih ada yg baca ya? Paling langsung lompat ke bawah. Saya kira tindakan pendukung Jokowi hanya respon balik saja, karena serangan dari kubu Prabowo begitu masif dan sistematis sekali. Saya misalnya, pertama-tama memberi argumen dengan nalar yg baik, tapi menghadapi prajurit bayaran dan simpatisan bongkokan ya lama-lama gerah juga. Apalagi tindakan cela-mencela dicontohkan oleh elit partai sendiri, seperti Fadli Zonk dan Prabowo. Akar rumput pendukung Jokowi merasa perlu melawan.

    Perlu ditinjau dari sisi yg lain juga, yaitu media yg sangat bias. Saya juga tidak habis pikir, bahkan media online seperti Republika yg katanya islami melakukan cara-cara kotor untuk mendukung capres tertentu. Maka reaksi semakin keras pun dilancarkan oleh pendukung Jokowi, yg eksesnya bisa menimpa siapa saja. Sebenarnya Jokowi hanya melakukan apa yg perlu dilakukan, dia manusia biasa saja, bukan nabi apalagi dewa. Namun seperti ada kewajiban moral untuk mendukungnya karena melihat akal sehat diselewengkan. Intinya, masyarakat punya penilaian sendiri dan semakin kritis di era informasi ini. Hanya penyalurannya yg belum terjaga. Lebih dari itu, perubahan adalah niscaya dan kita semua wajib mendukung perubahan tersebut. Coblos nomor 2.

  79. Sungguh artikel yang bagus bung
    Sebenarnya saya ikhlas – ikhlas saja siapapun yang memenangkan pemilu ini 🙂
    Jujur, saya juga orang jkt dan pada waktu itu saya sangat mendukung jokowi
    Karena saya pikir jkt memang butuh pemimpin seperti beliau
    Tetapi entah mengapa , tiba – tiba saya merasakan kekecewaan mendalam ketika beliau mendeklarasikan diri sebagai calon presiden padahal masa jabatan beliau sebagai gubernur belum usai.
    Mengapa? karena bagi saya beliau belum sepenuhnya merealisasikan program – program yang sudah beliau rencanakan untuk Jakarta TETAPI tiba – tiba saja beliau pergi begitu saja.
    Bagi saya, misi beliau yang harus beliau rampungkan adalah menyelesaikan urusan dan masalah yang masih terjadi di Jakarta , karena sesungguh-nya beliau masih bertanggung jawab akan tugas beliau sebagai gubernur.

    Mungkin inilah penyebab mengapa beberapa warga jakarta dominan lebih memilih kubu prabowo
    Dan mungkin “beberapa warga jakarta tersebut” merasakan juga kekecewaan yang saya rasakan ATAU beberapa warga jakarta masih menginginkan Jokowi sebegai gubernur nya.
    Namun saya tidak membenci Jokowi ataupun Prabowo
    Kembali lagi saya serahkan hasil nya kepada Tuhan 🙂
    Karena sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu siapa yang terbaik.
    -Salam

  80. Saya membaca artikel anda dari share di FB. Terus terang artikel seperti ini sangat menyejukkan bagi saya secara pribadi di tengah sengitnya kedua kubu yang saling menyerang satu dengan lainnya. Saya sendiri sudah sangat jenuh dengan posting2an yang selalu menjelek2an kubu lawan entah itu dari pihak Capres No.1 ataupun No.2.
    Saya sangat tertarik dengan pernyataan anda. “Saya memilih Jokowi karena dia LEBIH BAIK dari Prabowo bukan karena Prabowo LEBIH BURUK dari Jokowi” Bullseye! Begitulah sepatunya para Pendukung Jokowi sepatutnya berpikir. Isu HAM, terlepas dari benar tidaknya memang sudah dijadikan komoditas politik oleh pengikut Jokowi. Pertanyaan yang jarang dipikirkan oleh pendukung Jokowi adalah “Kalo Prabowo tidak pernah punya kasus HAM, apa lagi yang akan kita serang kepada beliau?” atau “Kalau capresnya ada lebih dari Prabowo (capres no.3) apakah masalah HAM akan serame sekarang?” Dan “Kalau Prabowo bukanlah Capres, senjata apa yang bisa dipake utk menyudutkan penantang Jokowi” Dalam pengandai-andaian saya coba kalau Gerindra mengikuti jejak PDIP mencalonkan kadernya dan itu kebetulan Ahok. Lalu bagaimana? Apakah pendukung Jokowi akan lalu memunculkan isu SARA? lalu apa bedanya mereka dengan orang2 yang mereka serang mati2an sekarang?
    Sebagai penyeimbang, saya rasa kefanatikan kedua belah pendukung adalah karena kita semua dan terlebih mereka yang menjadi fans berat para capres menaruh harapan yang luar biasa besarnya kepada kedua capres ini. Harapan akan kehidupan yg lebih baik dari sekarang, harapan akan kesejahteraan yang sering sulit untuk datang, harapan yang telah dipermainkan oleh begitu banyak politikus dengan sistem pemilu seperti sekarang ini. Mulai dari caleg DPRD sampe DPR, mulai dari calon bupati,walikota,gubernur dan akhirnya presiden. Semua biasanya berjanji yang sama dan hasilnya juga sering sama yaitu nol besar. Saya rasa bagi banyak orang Pilpres 2014 inilah kesempatan terakhir buar mereka untuk memberikan harapan itu sebelum bangsa ini akhirnya mencapai titik anomali.
    Maaf kalau tulisan saya terlalu panjang. Saya hanya sangat tergugah membaca tulisan anda. Saya termasuk salah satu swing voters tapi bukan ke capres manapun melainkan menjadi neutral. Saya akan tentukan pilihan saya karena golput tidak akan merubah apa2. Akan tetapi saya sedang menunggu satu pertanyaan yang semoga akan ditanyakan di debat capres selanjutnya. Pertanyaan itu adalah “siapkah anda dan pasangan anda mendukung kebijakan lawan anda bilamana anda tidak terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia?” jawaban mereka akan menentukan pilihan saya.

    Salam Kenal

  81. apakah anda bangga bahwa indonesia menjadi sahabat karib usa?kalo saya sih lebih bangga bila negara kita bersahabat dengan korut russia iran dan venezuela.kenyataannya prabowo diberhentikan / dipecat thats fact!salah satu pointnya karena dia secara meyakinkan memimpin kopasus menculik..dia katakan saat itu adalah komando dari soeharto.cukup hebat utuk ukuran tentara yang naik pangkat 3x selama 1,5 tahun (normalnya 3 tahun).urusan wiranto bahwa saya juga menyayangkan wiranto tidak pernah diusut keterlibatannya.apakah saya membela jokowi?no.saya pengikut/relawan setia golput sampai mati!bahwa negara ini dipimpin oleh seorang kapitalis (bukan presiden).negara ini harus dipimpin pemimpin otoriter seperti chavez, ahmad dinejad dll.masalah sistem lebih subtansi drpada pemimpin.beranikah prabowo/jokowi menasionalisasi (bukan merenegosiasi) freeport,exson dll?kalo berani saya akan mencium kaki jokowi/prabowo.pasti!

  82. ikut komen mas, sy bukan pendukung siapa” masih bimbang tapi 60% prabowo dan 40% Jokowi.
    allahu’alam benar apa tidak percaya atau tidak, 60% kenapa sy dukung prabowo dan kenapa kejantanan prabowo hilang ada kisahnya…

    sy dicerita’in teman yg ayahnya seorang TNI saat perang memperebutkan timor leste, (mungkin antara thn 98-2002 presiden masa itu pak habibi) ayh teman sy orang madura yg tinggal dikalsel (kalimantan selatan) yg secara kebetulan 1 tim dengan prabowo untuk tugas memperebutkan timor leste,… ayah tmn sy ini sebenarnya juga dikabarkan telah meninggal dunia oleh radio dan sudah acara 40hari’an juga (tradisi islam). setelah hari” itu, pulanglah ayah teman sy ini dengan rambut gondrong dari tugas tadi, pingsan lah istri beliau (mama teman sy) yg mengira suaminya sudah meninggal dikabarkan dr radio.(skip)

    ayah tmn sy menceritakan kekesalannya atas mantan presiden indo waktu itu (pak habibi) yg ntah apa alasannya justru memerdekakan timor leste. pdhal dia dan tim sudah berjuang mati”an (teman seperjuangan ada gugur). disinilah kisah kenapa pak prabowo hilang kejantanannya, yg katanya ketika itu saat memperebutkan timor leste pak prabowo sempat diculik dan di tusuk dengan pisau diarea pangkal paha dekat dengan kemaluan, disitu mungkin urat saraf beliau putus yg mana tidak bisa membuahi lagi….
    (mendengar ini sy kagum akan beliau rela membela bagian dari indonesia) walau sekarang beliau dihina” karena itu. terimakasih telah membaca komentar sy.

  83. mas, gegara baca postingan ini saya akan menghentikan negative campaign. walaupun negative campaign itu tdk negatif ya, menurut pengamat. tapi memang kalo negatif mulu malah kurang sedap bagi para swing voters.

    saya penasaran juga sih para fanatik jokowers itu kenapa mereka fanatik. barusan nonton aljazeera interview jokowi, masih kurang ngerti juga kenapa, hehe. tapi yang saya tahu di keluarga saya, jokowi itu bahasa lebay nya tangan tuhan penolong rakyat. sodara saya ada yang tumor otak operasi 2 kali sebelum dan setelah jokowi menjabat. kami bukan keluarga kaya, kelimpungan soal biaya, selain soal tumor otak gitu yah. sebelum jokowi gubernur, memang bisa diurus sktm, tapi lamaaaaa dan kita udah riweuh saweran keluarga besar, tetangga, teman2 demi ratusan juta biaya operasi. akhirnya alhamdulillah bisa gratis. nah setelah jokowi menjabat, lancarrrrr langsung gratis mas. dan waktu itu sesama keluarga yang lagi ngurus2 pasien, jokowi dengan KJS nya dikenal sbg juru selamat.

    itu satu contoh kecil aja sih. belum lagi solokan depan rumah saya yang puluhan tahun baru sekalinya itu dibersihin pemerintah, kali juga langsung dikeruk, pintu air dibenerin,. jadi kami mungkin segelintir masyarakat indonesia yang pernah merasakan punya pemerintah, walaupun jokowi di daerah saya kalah lho. maklum di kampung betawi jokowi gak populer. punya pemerintah itu nikmat banget mas…

    jadi yah…gitu deh, rada defensif. hihihi

    tapi saya mengerti yang belum merasakan nikmatnya punya pemerintah, akan berfikir yah sama aja dr dulu sampe sekarang gini gini aja siapapun yang menang.

  84. Fair point, objective and well written. Just simple fact-checking: bos prabowo saat penculikan bukan wiranto, tp pangab faisal tanjung dan harto.

  85. Saya setuju sekali dengan kritik mas Arie tentang fanatisme pendukung kedua capres. Terkadang memang terlalu berlebihan. Tetapi saya menyayangkan sikap teman-teman mas Arie dan mungkin mas Arie sendiri yang cenderung untuk memilih capres hanya karena kelakuan pendukungnya. Rasanya aneh saja gitu. Ini bukan berarti saya mempengaruhi mas Arie dan teman-teman mas Arie untuk kembali memilih pilihan awal ya, hehe. Hanya menyayangkan saja sikap seperti itu. Niat untuk aktif berpartisipasi di pilpres itu sangat baik, tetapi kalau dilandaskan hanya atas kekesalan terhadap pendukung salah satu capres, kayanya jadi agak merusak. Itu saja sih. Daripada nanti banyak yang berpikiran seperti itu, wah bisa kacau hasil pilpres nanti. Semoga hanya kekesalan sementara saja ya, mas.

    • Tidak semua teman yang saya ajak bicara beralih ke Prabowo. Ada yang memutuskan untuk golput, ada yang kembali menimbang-nimbang, dan ada juga yang memang kesal saja. Saya sendiri kemungkinan masih tetap akan memilih Jokowi. Dan dari artikel ini saya juga mendengar ada teman-teman pendukung Prabowo yang beralih ke Jokowi karena alasan yang kurang lebih sama.

      Memang alasan vote swing berdasar kekesalan terdengar kurang masuk akal. Tetapi di kondisi Pilpres yang demikian panas seperti sekarang, ada banyak kasus di mana emosi lebih diprioritaskan dibanding nalar, sehingga hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Semoga ini menjadi pembuka mata buat teman-teman yang sedang menggalang dukungan.

  86. Saran saya ikuti kata hati pribadi masing-masing tidak terpengaruh dengan berita-berita media/issue issue, yang jelas ketika saya untuk mempercayai seseorang harus dengan bukti bukan dengan janji

  87. beberapa saya temukan pendukung yang-sepertinya-termasuk-fanatik Jokowi ini adalah para publik figur. Sedih rasanya harus hilang respek sama mereka ini.

    • Kita harus belajar berbeda dan menghargai pilihan org lain, itu lah cara nya agar demokrasi damai spt di negara maju.

  88. bakal jadi orde baru ? situ sendiri berlebihan. orde baru ngomong jelekin dikit di karungin bung kalau zaman jokowi cuman di bully aja dah mewek2…

    • Mas Doni, saya hidup selama 22 tahun di era Orde Baru. Saya ikut bergerak turun ke jalan bersama rekan-rekan mahasiswa pada tahun 1998. Jadi saya rasa saya cukup tahu apa yang terjadi di era tersebut. Saya tahu akan para penembak misterius di dekade 70-80’an, saya tahu kisah-kisah orang yang dimasukkan ke karung lalu dibuang ke waduk Saguling/Jatiluhur, saya pernah mendengar langsung cerita orang-orang yang dimata-matai oleh intelijen, saya tahu perjuangan para petani di pedalaman Sumatera melawan tuan-tuan tanah yang dibekingi militer/polisi, dan saya pribadi pernah diwanti-wanti akan keberadaan sniper saat berdemo.

      Kondisi birokrasi di zaman Orde Baru adalah para pejabat yang hanya ingin menyenangkan atasannya. Membungkam kritik pada dirinya dan pada atasannya. Zaman “Asal Bapak Senang”. Ini yang saya maksud dengan kembali ke kondisi zaman Orde Baru.

      • emang di zaman nya jokowi ini ABS juga ya para pejabatnya. bukan kan yg tadi anda maksud itu pasukan cyber yg membabi buta. apakan pasukan cyber itu memberikan laporannya ke jokowi.saya rasa tidak. perumpaan anda tidak relevan dengan kondisi sekarang malah terlihat melebih2 kan.

      • Saya mengatakan bahwa bila Jokowi terpilih, saya harap orang-orang di sekitar beliau tidak akan bersikap ABS, karena itu sama saja dengan mengulang era Orde Baru. Saya rasa cukup jelas di paragraf terakhir tersebut.

  89. Great mas Arie, artikel anda seolah2 juga menyuarakan segala sumpah serapah yg nyangkut di kerongkongan saya thp kefanatikan buta para pendukung kedua capres ini. Dan nilai plusnya anda menyampaikanya dgn sgt elegan.. Mudah2an mereka tersadar… Tapi yah selalu saja mengukir di atas air itu lebih susah drpd diatas batu, kecuali airnya dibekukan dulu 🙂

  90. tulisannya sangat bagus, menginspirasi. saya pribadi masih belum menentukan mendukung yang mana, namun juga agak resah karena pendukung kubu nomer dua terlalu me’nabi’kan jokowi dan menganggap ‘sampah’ kubu satunya. padahal kalo diliat dengan jelas, dua2nya sendiri memang punya kekurangan yang seharusnya butuh saling melengkapi. saya gak kebayang kalo jokowi jadi presiden, bisa malu negara ini karena pemimpinnya tidak punya kharisma seorang ‘pemimpin negara’, untuk speech saja tidak ada wibawanya. tapi juga tidak yakin pada prabowo karena banyaknya tuduhan negatif pada dirinya.

  91. Saya pendukung prabowo. namun saya mantan pendukung jokowi yang memilih beliau menjadi DKI1. Terus terang alasan sy pilih prabowo karena sy sangat kecewa dengan pak jokowi dan para supporter nya yang mengaggap beliau seperti nabi. Saya tingal di daerah grogol dekat kampus usakti, disitu tiap hujan makin parah banjir nya, macet tak teratasi. suatu ketika saya jenuh dengan penanganan banjir jkt yang tidak ada kemajuan. Pembangunan waduk pluit pun hanya mengurangi debit air di pluit agar pluit tidak mengalami debit air yg tinggi saat banjir, namun imbasnya ke tempat yang sy tinggali. bahkan sekarang tiap hujan banjir tiap hujan banir lalu saya kritik pak jokowi di beberapa media sosial, tapi ternyata yang merespon adalah buzzer2 nya, pendukung fanatisnya. sy seolah2 dikeroyok. mereka menganggap “emang nya urus jakarta gampang?, dll” lho mmg tidak mudah, tp kpd siapa lagi sy harus mengkritik? Pilihan sy ke jokowi utk DKI1 karena sy ingin jakarta lebih baik, sya ingat betul janji2 pak jokowi yang akan mengatasi problematika jakarta. Tapi kritikan saya ternyata hanya di bully sm supporternya. Lantas sy berfikir “kok gini ya, ga bisa dikritik banget” dari situ saya males dukung jokowi. Sebagai pro prabowo, yang saya lakukan lebih ke arah debat tuduhan pelanggaran HAM yg dituduhkan kpd beliau. saya keras dan tegas utk mslh itu tp tidak menyerang lawan untuk masalah lainnya. karena kami dikeluarga menghargai perbedaan. tante sy pun dan kel nya pendukung jokowi,, bahkan rumah tante saya sebagai kubu PDIP dan timses jokowi. Kakak kandung sy pun berpihak pada jokowi. Tapi kami saling santun ketika berdiskusi/berdebat.. Pendukung2 jokowi yg garis keras/fanatik tingkat dewa klo sy sebut, itu sudah ada sejak sebelum pilpres atau saat jkw menjabat gubernur. Ingat! kritikan itu membangun.., saya pun minta maaf jika ada kekurangan dan kesalahan pada tulisan saya ini.

    • tombol sendiri sudah melakukan apa selain kritik? masih buang sampah sembarangan tidak? punya solusi / ide yang bisa di sampaikan? cara menyampaikan kritik sudah benar? penduduk asli jakarta bukan? bisakah dalam kurun waktu yang sama melakukan perbaikan yang lebih baik? pernah masuk gorong2?

      melihat pekerjaan seseorang jangan hanya dari satu sudut, tapi lihatlah secara keseluruhan.. apa yang dilakukan jokowi dan ahok itu sudah sangat bagus, coba dipikir sebentar.. bandingkan dengan gubernur2 sebelumnya.. yang tidak jelas selama memimpin melakukan perubahan apa terhadap jakarta.. memang benar sebutan, kubu prabowo barisan sakit hati..

      • Semoga ini tidak berlanjut menjadi pertikaian ya. Kita semua ingin Indonesia tetap damai dan bersatu, siapa pun Capres yang didukung, maupun siapa pun nanti yang menang. Okay? 🙂

  92. Sebetulnya saat ini bangsa Indonesia ini bersatu dgn bergandengan tangan meskipun berbeda pendirian dalam menilai sosok calon pemimpin bangsa. Bukannya saling serang dg berbagai isu2 yang akhir2 ini terlalu memalukan untuk diingat. Seyogyanya kita jangan terpancing emosi tetap dengan berpikiran dingin dan tidak terbawa sikap emosi dg menanggapi isu2 baik kedua kubu tersebut. Dengan hal seperti ini kadang kita tidak terfikir bahwa sebetulnya terdapat dampak perpecahan bangsa kita, dengan isu yg muncul kembali saat ini. Memang saya bukan salah satu keluarga dari korban peristiwa 1998 lalu tapi setidaknya kita disini tidak perlu selalu mendiskriminasikan salah satu calon pemimpin negara. Tuhan memberi kita otak untuk berfikir dan menimbang sebuah keputusan dan Tuhan juga memberi kita kemampuan untuk memilih. Jadi alangkah baiknya kita tidak perlu menjelek2kan calon pemimpin tersebut karena nantinya salah satu dari calon pemimpin tersebut akan memimpin bangsa ini untuk kedepannya. Apakah nantinya kita tidak malu kalau suatu saat nanti sosok pemimpin kita tersebut akan di jelek2kan bangsa asing karena secara tidak langsung bangsa asing pun juga turut memantau terhadap PEMILU di negara kita ini. Seyogyanya sudah lah tidak perlu lagi ada yang menyebar informasi2 yang sifatnya menjatuhkan kedua belah pihak. Harusnya kita sendiri yang mengevaluasi dan menimbang saat pemilu nanti memilih sosok yang dianggap tepat memimpin bangsa ini. Karena seandainya kita disuruh memilih siapa yang sebetulnya layak memimpin bangsa ini pastinya masing2 dari kita dengan lantang menyebutkan bahwa ORANG TUA KITA sendir yang pantas memimpin karena sudah berhasil mendidik kita, memberikan modal dasar dalam berfikir untuk menentukan tujuan masa depannya saat dewasa kelak.

  93. Maaf saya kurang setuju soal “dalam militer ada kepatuhan prajurit”. Melihat tindak-tanduknya, pernyataan Prabowo “tanya saja pada atasan saya” dlm debat capres kemarin. Prabowo pemimpin yang sangat baik, pada bawahannya sangat royal dan menjaga mereka baik-baik. Namun beberapa buku sejarah yg saya baca justru menyebutkan Prabowo pny sifat pembangkang pada atasan. Dengan sifat spt ini, saya yakin jika beliau tak mau, beliau akan langsung menolak perintah atasan. Dalam militer beliau spt satu perwira yg melawan arus, sgt menarik skg bersikap spt terbawa arus. Saya harap beliau bisa mengklarifikasi perubahan sikap ini.

    Dari sisi Jokowi, saya lihat memang punya kemiripan dgn presiden Obama, tp cuma kerempengnya saja? Apalagi beliau cenderung sulit berorasi spontan sehingga terkesan tak mumpuni. Terlalu irit bicara kurang bagus juga krn beliau ini pemimpin, mungkin perlu les orasi untuk memperbaikinya karena nantinya presiden perlu berdiplomasi dgn negara luar. Jikalau tak bisa jd singa, setidaknya bisa menjadi Leopard yg walau tak sekuat singa aumannya mampu mempengaruhi rakyat kita yg bandel2 tak ketulungan.

    Merujuk dari cara kampanye, saya krg suka kedua belah pihak. Saling menghina tanpa dasar yg jelas. Tapi bagi masing-masing pihak, walau tak suka dgn fans nya, mohon dipikirkan supaya tdk berubah haluan hny krn benci fans nya tapi krn kebaikan dari masing2 capres. Memilih berdasarkan perasaan bukan jawaban bagi bangsa kita. Emosi sesaat membawa bangsa kita ke kehancuran selama 5 tahun ke depan.

  94. bahkan saya sendiri sebagai pengguna hak pilih untuk pertama kali merasa sedikit tidak bersemangat untuk ikut bercampur dengan sirkus politik di Indonesia yang penuh ke naifan, ke munafikan, dan banyak hal yang keluar dari logika..

  95. tulisan yang baik, terimakasih.
    Dan kalau demikian adanya, lebih baik memilih yang paling sedikit madharatnya namun lebih berpotensi memberikan manfaat lebih besar terhadap kebutuhan solusi kepemimpinan Indonesia saat ini…..#1

  96. Arie,, yg mengklaim dirinya pendukung Jokowi, melihat dari ulasan saudara, saudara adalah orang yg elite dalam berpikir, cuman dari seluruh ulasan saudara, Capres Jokowi ndak ada faktor positifnya, mulai dari tindakan, pendukung, kemampuan dan lain2, terus kenapa anda tetap mendukung Jokowi? Menurut anda apa yg lebih baik dari Jokowi dibanding Prabowo?

    • Bukan tidak ada faktor positifnya, mas Nugroho. Yang saya permasalahkan kan para pendukung fanatik yang tidak bisa menerima kritikan pada Capres dukungannya.

      Hal-hal yang saya kemukakan adalah kekurangan-kekurangan Pak Jokowi yang sering disampaikan ke beliau oleh pendukung Prabowo. Alih-alih mengingatkan Pak Jokowi untuk memperbaiki kekurangan tersebut, para pendukung fanatik beliau justru membela membabi buta. Padahal kritik dapat menjadi motivasi ke arah yang lebih baik.

      Menurut mas Nugroho, kekurangan pak Jokowi yang sebaiknya diperbaiki apa?

  97. Mas ari
    Lumayan juga baca dari atas kebawah .. mungkin saya rasa pendukung jokowi agak berlebihan karena antusias thdp harapan .. seperti saya juga yg dulu dulu tdk pernah perduli dengan politik .. maka pemilu ini saya menganjurkan semua orang utk ikut serta menggunakan hak pilihnya
    Mas ary drpd anda cuma mengeluh bagaimana kalau anda memulai sebuah gerakan kasih .. menganjurkan kepada semua jokowi fans untuk membalas dgn santun apbl ada pihak lain yg bicara tdk bagus .. bisa juga menganjurkan jokowi fans selalu menampilkan kalimat positif ..
    Mari buat perubahan dgn tindakan nyata
    Salam 🙂

  98. Om, gimana kalo sebenernya ekstrimis sosial media pasangan capres no.2 sebenarnya adalah pendukung pasangan capres no.1, dan sebaliknya?!
    Hal tersebut bisa/mungkin dilakukan untuk menjelek-jelekan para pendukung capres lawannya agar ‘swing voters’ yang muak akan hal ini memihak capres yang lebih ‘teraniaya’ .
    Kemungkinan ini memang kecil, tapi cukup layak untuk dipertimbangkan.
    Akan tetapi, pada kenyataannya, strategi ini lebih efektif jika diterapkan oleh pendukung pasangan capres yang ‘dicap’ memiliki ‘raport merah’ dan relatif lebih mudah untuk ‘dianiaya’, untuk menjelekan citra pendukung dari capres lain yang ‘terlihat’ bersih dan relatif sulit dicari kesalahannya.
    Anda yang menilai, Om. 🙂

  99. Maaf bung, simple aja.. Ini dari pandangan org awam.
    Apa sampean tidak trfikirkan bahwa dunia maya sapi bisa jadi srigala dan srigala bisa jadi domba. artinya buuung, bisa jadi memang itu kerjaan salah satu tim sukses capres yg bisa saja tim sukses jokowi di dunia maya ngaku tim sukses prabowo dan sebaliknya. Serang sana serang sini dgn bahasa yg kasar malah. Tujuan nya satu saja, membuat gusar pendukung dan mempengaruhi pemilih. artinya jugaaa anda telah berhasil di pengaruhinya menjadi gusar dan membenci org yg sependapat dgn anda. Daaan yg membuat gusar anda itu hanya lah seorang robot panasbung..
    1 orang robot panasbung bisa punya 100 account di fb, tweet dan media sosial lainya.
    Selamat bung, anda sudah bisa di pengaruhi robot.

  100. Damnit! I so wish I had written this article. Very well done, sir. I’ll see if I can write something to follow this up.

    Asli gw blon pernah naro apapun di timeline FB gw hal-hal yang berkaitan dengan pipres 2014. But this article is definitely worth it.

  101. Soal jawaban Prabowo dalam debat capres lalu “silahkan tanyakan pada atasan saya”,saya nilai seperti menangkis smash lawan dengan tepat sasaran. Secara,atasan yang dimaksud adalah Wiranto,yaitu di kubu Jokowi.

    Secara objektif saya menyukai Prabowo dalam debat tsb,pertanyaannya tentang wawasan pihak lain,yg bisa memberi nilai positif untuk lawannya. Tapi sayangnya,pihak Jokowi malah melontarkan pertanyaan tentang luka Indonesia ’98 dan menekannya,cara ini terasa kurang beretika dan kurang berpendidikan. Saya sangat menyesali sikap Bapak Jokowi.

  102. Tulisan ini utamanya membahas pendukung Jokowi yang fanatik, dan sepenangkapan saya kritik yang muncul adalah sikap sekelompok orang yang emosional/irasional/nggak konsisten, begitu kan ya?

    Paragraf pertama tulisan Arie langsung menunjukkan gimana sikap emosional, nggak konsisten, dll sejenisnya itu gampang banget menular.
    Pendukung fanatik -> Emosional 1
    Pemilih yang berpindah pilihan karena kesal terhadap sikap pendukung fanatik -> Emosional 2

    Pendukung fanatik, menurut Arie disayangkan karena tujuan mereka (J menang) bisa gagal gara2 ulah sendiri yg irasional/emosional itu. Jadi, saya setuju ama Arie, kalo tujuan mau tercapai, ya rasional dong. Dan ini bisa juga diaplikasikan di kelompok pendukung P. Intinya, para pendukung, kalo mau jagoannya menang, pikir2 lebih panjang sebelum propaganda kalian jadi senjata makan tuan. Kritik diterima sebagai bahan pelajaran/pengayaan aja. Kalau ada isi kritik yang dianggap keliru, dijelaskan/didiskusikan dengan rasional.

    Nah, kalo pemilih yang berpindah pilihan karena naik pitam/kesal/malas, tujuannya apa ya? Subjek pilpres kan presiden, bukan pendukungnya. Jadi kalo pindah pilihan karena alasan2 emosional, apa yang mau dicapai? Saya malah bisa lihat persamaan cara pikir (atau mungkin tepatnya cara merasa) kalian dengan kubu pendukung fanatik. Sama2 berlebihan menjunjung rasa.

    Sementara ini dulu. Salam & makasih!

  103. Ini artikelnya bagus. Nonton debat capres kemarin, dua calon memang punya kelebihan dan kekurangan masing2. Semoga siapapun yang menang, yang kalah pun tetap mendukung pemenangnya karena saya percaya tujuannya sama baiknya. Konyol lah yang pake fanatik2 segala. Belum dewasa secara politik. Sama seperti temen mas penulis yang dukung no.1 cuma karena pengen bikin kesal pendukung fanatik no.2 kesel. Grow up please. Masa depan bangsa ini ada di pilihan anda. Jangan digunakan dengan alasan konyol model gitu lah. Mendingan golput sekalian.

  104. Tujuan qta berdemokrasi itu menuju Indonesia yg lbh baik. Buka pikiran lah, Indonesia lbh penting drpd siapa yg jd presidennya. Jgn sampai fanatisme ke salah satu calon membuat qta terdisintegrasi. Sapa yg untung? Yg jelas bkn bangsa ini. Maaf jika komentar saya cuma sprti ini

  105. terus apa hubungannya fans fanatik sama capres cawapres? emang yg bakal jadi president capres cawapresnya? kl mau milih gak usah lihat dari fans fanatik or tidak bisa saja di adu domba (pura2 jadi fans fanatik biar u kesel terus berbelok arah mendukung), seharusnya liat dari visi misi, prestasi, jejaknya karirnya di dunia birokrasi dan pemerintahan. bagi saya anda belum dewasa 🙂 terima kasih itu pendapat saya.

    • maaf typo: emang yg bakal jadi president capres cawapresnya? ==> emang yg bakal jadi president fans fanatiknya?

  106. terus terang paparan nya agak tendesius.kalau mau jujur 2 kali puisi dari fadly zon betul sudah kelewatan dan tidak beradab menurut saya.
    kalau mau di perbandingkan fanatisme ke dua pihak jelas sekali ,kubu prabowo lebih membabi buta dalam hal menyerang dan bertahan.saya saat sekarang cukup intens dalam hal kampanye di media sosial. semoga tulisan bapak betul dari hati yang paling dalam tanpa maksud apa apa

  107. Wah saya sampe capek om baca commentnya, artikel yang bagus dan open minded 🙂

    Btw saya mahasiswa dan saya belum tau mau pilih siapa, saya awam sejarah, awam politik, dan bisa dibilang saya swing voters. Dan perlu kalian tahu, pemuda kayak saya banyak banget dan bisa berubah pikiran sewaktu-waktu termasuk mungkin anak-anak para tim sukses kedua capres. Nah saya juga termasuk orang yang mudah muak dengan segala sesuatu yang berlebihan. Inget guys, berlebihan itu gak baik. Berlebihan itu ‘alay’ haha :))

    Kalo saya, semakin banyak fans fanatiknya, semakin bulat tekad saya TIDAK memilih capres tsb. So, we’ll see sampai 9 Juli itu mana fans fanatik yang lebih banyak 🙂 dan siapapun yang kepilih, saya tetep akan jadi warga Indonesia yang baik dan mematuhi aturan. Rasanya kalau saya tidak melakukan hal baik hanya karna capres tidak terpilih itu namanya bodoh dan mendzolimi diri sendiri 😀

    Kalo dalam kurun lima tahun Indonesia tidak lebih baik, bukan hanya salah presidennya. Coba introspeksi diri, udah bener belom jadi warga Indonesia? udah gak make jalur busway? masih pernah ga buang bungkus permen yang dianggep sepele itu di jalan? atau, hal yang kecil deh.. duit kembalian bakso yang kelebihan gak dibalikin ke abangnya? sama aja korupsi. Katanya orang berpendidikan? kalo kata dosen saya, kelakuan seseorang itu nular, kalo kalian masih gak tanggung jawab sama diri kalian sendiri, pasti deh nular ke temen, rekan kerja, bahkan anak. Gak mau kan sama-sama bau sampah karna temenan sama tukang sampah? tukang sampah aja pahalanya gede banget ngumpulin bungkusan permen yang kalian buang itu 🙂

    Semoga komentar saya menyadarkan orang2 untuk tidak bersikap berlebihan. Segala sesuatu yang kita sukai, belum tentu baik bagi Allah. Sebaliknya, sesuatu yang sangat kita benci belum tentu buruk di mata Allah.

    “One step by 100 persons is much better than 100 steps by one person”

    Thank you 🙂

  108. Setuju..namum perlu ditekankan. Untuk kita yg mengerti dalam dunia perpolitikan harus membantu masyarakat yg buta akan politik. Hal anarkis seperti ini lah yg membuat indonesia tidak pernah maju, dan membuat para elite tertawa serta lebih leluasa berbuat sesuatu yg merugikan kita. Karena mereka menganggap kita tidak mengerti apa2 tentang politik. Sangat diperlukan pembangunan dan pendewasaan politik pada masyarakat.
    Ada saran juga untuk mas. Agar mengkritik jgn hanya satu pihak, karena ditakutkan akan menimbulkan perselisihan lebih ketika ada yg tersinggung.
    alangkah indahnya negeri ini jika masyarakat bersatu dan saling mengingatkan.
    kita berdoa semoga siapapun yg terpilih nanti dapat membawa negeri ini lebih maju dan dapat bersaing serta diperhitungkan oleh negara lain.

  109. Ikut komen ya bang. Kenyataan yg saya liat, temen-temen saya yg dukung jokowi, lebih cerewet menyebarkan negative & black campaign prabowo. Tapi yang dukung prabowo (saya tau dia dukung prabowo krn pernah ngobrol ), mereka cenderung gak aktif di sosmed. Kalaupun aktif, dia bilangnya “saya netral” supaya gak dibully di kolom komentar. Memang tukang bully ini ada di dua kubu, mereka saling membicarakan kejelekan lawan jagoannya. Tp ini bukan hal yg baru terjadi, menurut saya ini memang kebiasaan orang kita ngobrolin kejelekan orang lain 🙂

    Masalahnya, kita membicarakan si ini baik dan si itu buruk krn berdasarkan berita. Kita menganggap sesuatu itu fakta karena ada beritanya, bukan karena ada buktinya. Apalagi berita kadang memutarbalikkan fakta.

    Karena itu, saya sendiri udah berhenti percaya berita capres, berhenti percayai artikel apapun tentang capres dari manapun sumbernya, berhenti percayai katanya katanya. Saya lihat saja video yg dimana capres-cawapres berbicara secara langsung (bukan video berita / video debat tim pendukungnya). Karena dari situ terlihat langsung seperti apa dia sebenarnya, gaya berbicaranya, cara dia membakar semangat pendengarnya, cara dia menjelaskan visi misinya (ini penting bagi pemimpin). Dari sini juga terlihat, sebenarnya siapa pemimpin yg berjiwa kepemimpinan, mau menghormati orang lain termasuk lawannya, dan siapa yg menyimpan dendam / kebencian. Ini penting, Karena tukang bully ada di dua kubu, tapi kalau pemimpinnya punya sifat menghormati lawan, cepat atau lambat sifat itu menular ke semua pendukungnya dan kegiatan bully itu hilang.

    Saya gak mau bayangin kalau pemimpin terpilih ternyata yg meyimpan kebencian kepada lawannya. Berbeda pendapat langsung diserang, bukan oleh pendukungnya saja, tapi pemimpinnya juga. Kita semua melihat, dia sendiri yg bilang kalau dia terpilih dan pemimpin daerah tidak sependapat dengannya, maka anggarannya langsung dipotong. Sepertinya kebebasan berpendapat akan kembali hilang, tanpa diberi ruang tapi diberi serangan dan ancaman 🙂

  110. Beuhh…. Maen Cantikkk neh mas, dgn bikin artikel seolah2 bijaksana, tp secara ga langsung lagi kampanye. Namanya juga pesta demokrasi ya di nikmatin aja. Ga suka ga usah di liat, suka tinggal di LIKE. Sorot dong ke 2 belah pihak jgn cuma yg fans3 yg fanatik, tp fans2 yg negatif juga dong. Pinter ih ngaku2 dukung jokowi tapii tapii tapiii nyari celah buat ngejatohin. Pasti nilai bahasa indonesianya seratuss. Soalnya mas jagooo ngarang. Hahahaha.

    • Hahahaha… tau aje nilai Bahasa Indonesia ane 100 jaman SD. 😛

      Tapi nggak lah, sama sekali gak ada menjelek-jelekan Capres mana pun. Yang saya bahas kan pendukungnya. Mengenai pendukung tim lain, saya rasa penjelasan saya terhadap komentar-komentar serupa bisa menjelaskan.

  111. Menarik mas.
    cuma, nampaknya ada satu katagori lagi yg terlupakan. yaitu para penyusup. orang yg memang ditugaskan melakukan pekerjaan undercover. bukan untuk menggali info spt undercovernya detektif. tp bertugas merusak dari dalam.
    yaitu orang yg mengaku dirinya dukung capres no 5, tp berbahasa nya tidak bermartabat.

    yg spt ini, memang kadang bisa terdeteksi. tp jangan salah, bnyk juga yg lolos dari “penglihatan bathin” kita. alhasil….dst dst, u know what I mean.

    Salam,

    • Aduh maaf mas Andy, komentarnya sudah ada 300-an. Saya agak susah mencari komentar mas Andy yang salah tempat. Bila bisa diinformasikan kalimat dalam komentarnya, mungkin saya bisa cari.

  112. hahahahaha, tulisan bagus dan menghibur.
    saya golput, dan tentu saja bangga dengan ke-golputan saya.
    membaca tulisan diatas beserta komen-komennya sungguh memberi hiburan tersendiri bagi seorang golput. mengapa sih kita harus memilih sesuatu yg kita tidak punya kontrol atas apa yg kita pilih tsb? mengapa diantara sekian juta penduduk indonesia, kok hanya diberi pilihan 2 orang? itu namanya hak pilih atau dipaksa memilih? ketika memilih untuk tidak memilih (golput) kok dibilang tidak punya prinsip dan tidak menggunakan hak pilih, sedangkan kita memang tidak punya hak pilih.

    hahasudahlah, malah bego sendiri jadinya. aku berfikir, maka aku golput.
    maaf mas, jadi nyampah disini.

  113. Jujur saya juga merasakan yg ada diartikel ini.. Tp saya sangat kagum dgn sosok jokowi… Tp saya mulai berpikir, betapa malunya saya jika mendukung orang yg tidak pantas menang dikarenakan kebobrokan lawannya dimasa lalu… Saya juga mulai merasakan inikah satu2nya cara kubu jokowi untuk menang? Dgn mengumbar kesalahan yg dilakukan prabowo?
    Untuk para pendukung fanatik jokowi : ayolah… Pilih jokowi karena dia emang pantas memimpin negara kita, jgn sampe kalian memilih jokowi karena masa lalu prabowo…

  114. Kalau gw sih mikirnya gampang aja bro.. dari awal kubu prabowo terus menerus melakukan black campaign, fitnah2 terhadap jokowi.. kebanyakan orang pasti emosi waktu difitnah ataupun idolanya di fitnah.. yah akhirnya muncullah orang2 yang tidak tahan lagi dengan kelakuan “timses” lawan yang fitnah2 itu.. sekali lagi dari kubu prabowo, bukan hanya fans yang menyerang, tetapi justru “timses”-nya dan dengan cara yang sangat tidak terpuji.. wajarlah kalau fans jokowi melakukan “counter attack”, karena pasti pak jokowi nya “biasa saja” 😀

    masalah dokumen negara itu memang boleh dipublikasi, bukan dokumen rahasia yang public tidak boleh tau.

  115. Halo Mas Arie, tulisan yg menarik. Saya pikir, mungkin udah kebiasaan orang sini untuk over-idolized seorang yg dianggap pemimpin. Saya sebenarnya agak risau jg, orang2 yg fanatik sama jokowi nantinya malah memaki-maki balik kalau mereka kecewa terhadap satu cacat saja. Mungkin saya teringat kasus waktu Aa Gym dielu-elukan, kemudian Pak SBY juga sempat mengalami perlakukan serupa. Over-expectation. Saya setuju dengan beberapa pendapat Mas Arie bahwa setiap calon dan kubu masing-masing memiliki kekuarangan, dan harapan ke depan saya sama seperti Mas Arie, spy etika berpolitik masyarakat bisa lebih teredukasi, berdebat secara sehat, bisa menerima perbedaan secara adil, bukan memaki dan berkeras diri pada fakta yg lemah. Terima kasih untuk tulisannya ya. Salam.

  116. Ya gini aja masnya-mbaknya yang pada komentar disini dan baca tulisan ini. Kalau kita suka dan mendukung salah satu capres, kenapa nggak kita share aja yang baik-baik tentang mereka, prestasi mereka, apa kehebatan mereka yang belum terungkap dan belum diketahui banyak orang. Gak usah ngurusin orang dan gak usah ngeburuk-burukin atau menyebarkan berita buruk tentang orang lain. Dari kecil sudah diajarkan bukan kalau kita gak boleh ngeburuk-burukin orang lain? Tetap berpikiran positif dan lihat sisi baik setiap orang saja. Bicara keburukan gak akan ada habisnya dan gak akan dapat pahala juga 🙂

  117. CAPRESKepada Bapak Prabowo/Hatta dan Jokowidodo/JK.Siapa pun diantara kalian yang terpilih beka, kami tak hirau. Kami hanya tau kalian dilayar kaca saja, dikoran-koran, dan dari muncung-kemuncung. Tapi epa boleh buat, kemanga kami lay..??Kami harus memilih juga, kami harus mencucuk kalian juga. Kalian tidak akan mendengarkan kecat kami? Suara kami seperti suara koncat dalam tempurung kerambir, tak ada gunanya. Pitis untuk menjadi Presiden itu tidak seketat, puluhan Milyar pitis mengalir tak bersisa.Apolai piti Pak JK yg kabanya ma agih piti 10T..Kami angko 10T tu aja paning kami mehituangnya..Apo lai mamaciknya..tegang” kami ma..Gaji indak sabara,proyek pengusahanya yg di arap.. Jadi untuk itu tak banyak yang kami pintak, tak gedang yang kami nia. kami hanya nia keadilan dan kemakmuran untuk kesada rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari yang ber kutang sampai yang ber konde, dari Aceh hingga Papua, dari yang ber serawa hingga yang ber koteka. Pedih hati iko Pak mendengar pejabat-pejabat yang seenaknya mencilap pitis rakyat, padahal kami mencari pitis untuk makan saja, sesak-sesak engap kami jadinya, tak jarang kami makan hanya dengan goreng sapat atau ikan maca saja. Jangan Korupsi ya Pak. Jangan sampai kami bercarut-carut ke bapak. Sebenarnya kami telah muak dengan kesada ika. Dah itu saja dari kami Pak.., lah berjabur-jabur air liur saya dek mangecat pak. Penat saya Pak.. Penat benaaa.. Untuank2 sampae lah ka pak capres. .Minang punya, tidak mengerti, angguk angguk balam saja ya..dek 😀

  118. Setuju dengan tulisannya..

    Saya sih belum menentukan mau pilih yang mana. Kaya’na memang musti semedi dulu..hehehee

    Dari kedua belah capres yang jadi perhatiaan saya orang2 yang ada dibelakangnya. Fans jokowi bilang koalisi prabowo didukung orang2 yang gak beres semua. Tapi apa mereka gak sadar klo jokowi di belakang nya ada megawati yg jadi ketua partai nya? Memang trackrecord nya bagus? Mungkin klo KPK ada dari jaman dulu, bakal lain cerita nya. Yang bikin saya makin gak yakin.. Semisal jokowi yang jadi R1, apa mungkin jokowi tidak mengikuti keinginan megawati? Klo gitu siapa presidennya jokowi atau mega?

  119. fanatisme ini pernah saya bahas juga di http://insideedee.wordpress.com/2014/06/05/kenapa-prabowo-bukan-jokowi/ (maaf, bukan promosi. sekadar berbagi opini dan mengingatkan), Om. menakutkan sekali fanatisme yang sedang terjadi hingga mengingatkan saya pada kecintaan rakyat pada sosok Soekarno yang sebenarnya sejak lama sudah harus diganti. pada akhirnya fanatisme ini menggiring Indonesia pada situasi yang genting dan kacau yang berujung pada pemberontakan mahasiswa dulu. tulisan yang bagus sekali. 🙂

  120. jujur, saya malah melihat hal yg berbeda dari penulis. Justru saya jadi simpati dengan jokowi yang begitu sabar menghadapi fitnah2 yang jahat , disebut2 bapa nya keturunan cina, bukan muslim. Saya sampai shock dengan fitnah tsb alias Black campaign… Sampai saya cari tahu kebenarannya ,.. bukan itu saja .. saya juga melihat .. banyak pengikut jokowi marah dengan fitnah tersebut dan tentunya ini dapat menjatuhkan Jokowi.

    Berbeda dengan Penulis, Justru saya yang sempet berpikir mau memilih Prabowo, jadi berbalik 180 derajat dan memilih Jokowi. Dan semakin Mantap, sejak melihat Debat Capres yang menunjukkan visi misi jokowi yang jelas untuk mensejahterakan rakyat , bukan malah memperkaya pejabat.

  121. Bagus artikelnya…. cuman yang gak daku ngerti adalah alasan pindah pilihan karena suporternya yang fanatik ?
    Motivasi penulisannya yang membuat artikelnya yang bikin replynya panjang.
    Kalo pun murni untuk membuka mata dan menjadi penyeimbang kedua kubu, maka pertanyaan-nya adalah “kan yang fanatik juga bukan hanya jokowi, prabowo juga”, Pertanyaan selanjutnya, kenapa juga gara2 pendukung yang fanatik jadi pindah pilihan?
    Jujur awalnya juga gol-put, setelah debat kemarin pak jokowi ngomong soal “mental yang musti di ubah” jadi mendadak ingin tahu soal pak jokowi. Lagi utak utik mba goo-gle, nemu yang ginian….

    wasalam….

  122. Halo mas arie, salam kenal yah. Tulisan yang sangat saya setujui, yang mengajak kita semua untuk berpolitik secara santun. Bahkan saking menariknya, saya baca semua komentar yang begitu banyak. Dan saya baca juga beberapa komentar yang mengkritik supaya tulisannya berimbang, dimasukkan juga cara2 dari pendukung prabowo yang tidak kalah fanatiknya. Dan disini kalo boleh saya tambahkan kritiknya supaya kita semua mempunyai tanda2 berpolitik secara santun yang saya sangat setujui, mas arie harusnya menghargai kritikan dari temans yg sudah membaca dan melakukan perbaikan di tulisan tersebut. Kalo mas arie merasa tulisannya sudah benar dan tidak berat sebelah sehingga menolak kritikan, maka mas arie tidak memberikan contoh dan teladan, bagaimana menerima sebuah kritik.
    Untuk masalah substansinya, analisa seharusnya dibuat tidak hanya dilihat pada apa yang sekarang terjadi, tapi harus dilihat juga sejarahnya. Bagaimana kronologi peristiwa tsb, faktor apa pemicunya?
    Kalo dalam fenomena di socmed dimana kampanye negatif dan hitam menghantui timeline kita, kita harus tarik dulu beberapa bulan ke belakang, kronologisnya gimana sih? Kalo saya gak salah ingat (tolong dikoreksi kronologis ini jika salah) kampanye negatif dan hitam ini dimulai dari ketika jokowi resmi dicalonkan menjadi capres dari pdip. Selama saya 4 kali ikut kampanye, saya tidak pernah memilih pdip (tidak bersimpati kepada ketua partai dan beberapa kadernya). Tapi karena kekaguman saya pada jokowi dalam memimpin jkt selama 2 tahun (saya merasakan enaknya pasar minggu yang bisa dilewati kendaraan lagi, pelayanan kelurahan yang ramah dan cepat, pelayanan puskesmas yang bagus pula) saya kemarin memilih pdip untuk pertama kalinya dengan harapan jokowi dapat melenggang dengan mulus ke istana. Ini adalah jokowi effect yang juga di alami oleh pasar modal sebagai pelaku pasar. Jokowi effect juga inilah yang menyebabkan banyak lembaga survey yang jauh mengunggulkan jokowi dalam capres. Nah disinilah saya melihat kampanye negatif dan hitam itu mulai marak. Prabowo sebagai tokoh unggulan teratas sebelum jokowi dicalonkan, menjadi nomor 2. Jokowi kelihatan sekali sangat marah. Dimulai dari puisi asal santun dari prabowo, diteruskan dengan puisi raiso opo opo dari fadli zon. Kemudian ada sebutan capres boneka, direleasenya perjanjian batu tulis, penganalogian jokowi bagai ayam diusap pantatnya oleh fahri hamzah sampai yang paling parah pengingkaran terhadap apa agama dan keterunannya jokowi dst dst. Hal ini memicu reaksi dari pengagum jokowi. Mereka menyerang balik serangan2 ini dengan fanatisme yang disebutkan dalam tulisan mas arie. Ada aksi ada reaksi. Parahnya adalah pendukung jokowi ini banyak yang berasal dari grass root yang tidak mengerti cara berpolitik yang santun. Jadi akhirnya yah seperti dikeluhkan kita semua, timeline menjadi penuh dengan caci maki yang bikin eneg. Yang menariknya adalah, bagaimana strategi dari prabowo dalam menghadapi fenomena ini. Barusan saya baca link di fb dari sebuah portal berita, bahwa prabowo dalam kampanyenya memuji muji pasangan jokowi dan jk. Bisa melihat apa yang saya lihat gak mas, bagaimana rapinya strategi dan taktik dari prabowo ini membolak balik perasaan kita. Kita dibuat lupa siapa yang memulai kampanye negatif dan hitam ini. Dan sekarang kita dibuat mempercayai bahwa pendukung jokowi ini meyerupai fpi seperti kata mas arie dan prabowo adalah politikus yang santun. Bahkan ada juga link di fb saya tadi siang yang menyebutkan bahwa kampanye negatif ini diperintahkan oleh jokowi. Betapa rapinya strateginya ini, yang sebenernya tak mengherankan mengingat dia adalah bekas danjen kopassus yang membawa indonesia sebagai militer ketiga terkuat di dunia dengan kekuatan intelijennya. Kronologis ini yang mungkin perlu dipertimbangkan oleh mas arie, untuk membuat tulisan ini supaya lebih berimbang. Kalo mengupas dari sudut fanatisme pendudkung jokowi saja , berarti mas arie hanya melihat fenomenan ini beberapa minggu yang lalu saja, tidak melihat lebih jauh secara keseluruhan. Dan ini sebagai pengingat dari pendukung jokowi, jangan sampai terikut arus dan terus mencaci ke pihak prabowo, karena isu ini yang dikeluarkan oleh prabowo sekarang, bahwa pendukung jokowi tidak santun dan beradab dan itu diperintahkan oleh jokowi. Jadi temans, berhentilah mencaci.
    Sebagai tambahan, saya adalah pengagum jokowi dan saya sekarang mendukungnya. Karena dalam politik dewasa ini, kita tidak tidak bisa melihat siapa orang baik dan beriman, orang baik dan beriman hanya bisa dan boleh dinilai oleh allah swt dan ketika mati bagaimana dia dikenang. Kedua capres memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. Kita hanya bisa memilih yang terbaik sesuai dengan kecocokan ideologi dan kepentingan masing2. Jadi kita harus bisa meraba ideologinya dan apa kepentingannya dalam mememerintah. Karena dari ideologi itu pastinya akan terefleksikan pada kebijakan yang akan diterapkannya. Dan menurut saya, pada debat capres pertama kemarin, agak sedikit terbuka kalo prabowo ini penganut pahamnya hegel, teori organis. Teori organis menyebutkan bahwa ketika ada anggota badan yang rusak, maka badan itu harus dipotong supaya tidak menyebar ke yang lain. Ketika ada riak2 di rakyat jika riak ini dianggap menggangu kestabilan nasional, maka riak ini harus ditumpas habis. ‘Demi kepentingan rakyat indonesia yang banyak.’ Kalo saya, paham ini ngeri sekali, karena paham inilah yang diterapkan pada demokrasi pancasila versi orde baru (dijelaskan lebih rinci pada buku marsillam simanjuntak). Akhirnya yang terjadi adalah kesejateraan semu seperti pada orde baru. Saya seperti mas arie juga, yang turun ke jalan pada tahun 98, tidak ingin paham ini yang dikemas dalam demokrasi pancasila versi orde baru terjadi lagi. Apalagi bila terjadi seperti keinginan prabowo yang ingin menghilangkan amandemen UUD45 terjadi, kita akan kembali dapat terterapkan paham ini yang dikemas dalam ‘Melaksanakan Demokrasi Pancasila yang Murni dan Konsekuen’. Sedangkan ideologi jokowi menurut saya adalah demokrasi kerakyatan, ‘Demokrasi adalah mendengar suara rakyat’. Ini yang menyebabkan saya mantap memilih jokowi.
    Sebagai perbandingan, debat capres kemaren kok mirip dengan pertarungan antara partai republik dan demokrat di AS ya. Mirip pertarungan george w bush dan obama (ngambil tokoh yang kita tau aja sih) kalo maju bareng. Partai republik yang konservatif yang didukung oleh kapitalis besar (status quo?) Dan partai demokrat yang demokrat sosialis yang didukung minoritas dan kerakyatan (silahkan cari referensi di google tentang partai republik dan demokrat ini di google). Quo vadis? Yang menjadi teladan dari demokrasi ini adalah ketika pada masanya masing2 partai berkuasa, mereka akan berusaha memajukan bangsa dan negaranya sesuai dengan ideologi masing2.
    Jadi mari kita disusikan bersama, apa sih ideologi kedua capres ini? Karena ideologi ini yang menentukan kebijakan apa yang akan dikeluarkan oleh mereka, sesuai tidak dengan kepentingan dari diri kita masing2.
    Maaf ya mas kalo terlalu panjang, mohon ditanggapi, karena terus terang baru dua hari ini saya ikut aktif dalam beropini capres ini. Ketika saya tawarkan diskusi ini, tidak ada yang berani komen ato membully saya, yang menandakan sebenernya kita kekurangan wacana dalam mendalami pemilihan pemimpin kita ini. Tapi saya yakin mas arie mau diajak untuk berdiskusi masalah ini sehingga mas arie jadi mantap untuk 100 persen memilih yang nantinya akan diputuskan oleh mas arie. Terima kasih.
    Wassalamualaikum

    • Waalaikumsalaam.. Terima kasih atas komentarnya yang mendalam, mas Pepeng. 🙂

      Terus terang, saya tidak pernah menyangka artikel ini akan mendapat respon sebesar ini. Hingga saat ini sudah ada 300 komentar yang masuk. Bila saya tidak menanggapi permintaan-permintaan teman-teman, bukan karena saya tidak mau, tetapi karena saya tidak sempat. Saya bukan penulis blog penuh-waktu, untuk membalas komentar-komentar ini pun saya sudah mulai kelimpungan. 😀

      Saya harap sumbangan tulisan mas Pepeng dapat menambah informasi pada teman-teman yang mengunjungi artikel ini. Terima kasih.

  123. sebaik-baiknya pemimpin kalo rakyatnya ga mau diatur ya sama aja..
    entah siapa pun ntar presiden yg terpilih..
    paling ntar kalo harga2 sembako, listrik, pln, bbm pada naik mereka yang katanya “pendukung fanatik” juga bakal ngomel2 sama presiden yang di-fanatik-in itu..
    kalo saya sih santai aja…
    selamat malam..
    berkah dalem..

  124. Kalau ada org yg beralih pilihan hanya karena segelintir orang yg mengganggu, kok kayanya dangkal bgt ya? Capek2 cari informasi dan fakta kanan kiri, percuma kalo digoyangnya gampang bgt. Jangan sampai pindah-pindah agama juga ya… Fanatik agama lebih banyak dan lebih mengganggu soalnya.

    ✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌

  125. Saya setuju dengan maksud artikel ini, tapi kalo diperhatikan dan dicermati isinya kenapa jadi kubu capres jokowi yang dihajar, dijelaskan tentang kejelekan dan kekurangan capres prabowo, tapi lebih dijelaskan lagi bahwa kejelekan dari capres prabowo berasal dari para pendukung capres jokowi senriri, bahkan lebih diperjelas, dan bisa menyebabkan masyarakat jadi bersimpati kepada capres prabowo.
    Marilah kawan2 kita dengar dan lihat visi dan misi dari para capres, kekurangan dan kelebihan kedua calon harus kita telaah dan jangan ditambah atau dikurangi, berkampanyelah dengan tertib dan bersih.
    Saya mendukung capres jokowi untuk menjadi RI 1

  126. Oiya, saya punya satu pertanyaan. Teman Anda yg pindah pilihan apa kabarnya setelah melihat kubu sebelah juga punya luar biasa banyak orang-orang yg fanatik? Pindah lagi? Hehehe… Membingungkan dan menyesatkan loh ini mengingat kedua kubu punya orang-orang fanatik (Anda juga pasti tau ini kan? Gak perlu saya beberkan fakta-faktanya), lalu apa point orang yg pindah hanya karena segelintir penggemar fanatik? Untuk bertemu penggemar fanatik dari kubu sebelah? Semoga Anda benar pendukung Jokowi. Maaf, bukan bermaksud menyinggung, hanya bingung dan tersesat dalam tulisan Anda.

    Terima kasih✌

  127. Beberapa catatan :
    1. Terus terang saya masih belum bisa sepenuhnya percaya bahwa mas Arie ini benar2 pendukung jokowi yang sedang galau karena teman seperjuangannya “kurang santun” dalam berpolitik.
    2. Saya mendukung Prabowo, bukan karena dia adalah dewa dalam suatu hal (karena saya tidak mengikuti militer, jadi saya tidak tahu setinggi apa prestasi maupun mal-prestasinya di mata para pelaku militer), tapi karena saya memang tidak melihat kekurangan Prabowo selain dari kasus ’98. Segala tuduhan terhadapnya, seakan bisa diklarifikasi dari beberapa artikel yang secara rasional bisa dimengerti (contohnya adalah kenapa pada masa-masa sebelum pilpres tahun ini, kasus itu tidak dikaitkan dan diperiksa secara mendalam, padahal sudah berlalu tanpa kepastian nyata selama lebih dari 10 th. Apakah karena sudah clear? Apakah karena sudah terbukti Prabowo tidak bersalah? Atau memang disimpan untuk saat-saat seperti ini?)
    3. Saya kurang mendukung Jokowi, bukan karena saya tidak suka dengan pribadinya, tapi karena masih terdapat banyak tanda tanya dari segala prestasi yang dikabarkan sudah diraihnya.
    4. Tentang pak Hatta, saya pun sebenarnya masih tidak begitu mengerti akan pilihan pak Prabowo. Karena sejak ditentukan pilihan cawapresnya, SEMUA orang *saya rasa* sudah tahu akan ke arah mana serangan yang disiapkan oleh para pendukung maupun timses kubu lain. Dan masih ada rasa takut bahwa pak Hatta hanyalah sekedar titipan SBY :p Perlu diingat bahwa kasus putra pak Hatta adalah murni kecelakaan. Dan apabila keluarga korban sudah rela dengan yang terjadi dan bisa menerima pertanggungjawaban keluarga pak Hatta…kenapa masih dipersoalkan?

    Satu hal yang mungkin bisa dijadikan bukti atas tulisan mas Arie ini, terlepas dari apakah dia benar-benar pendukung pak Jokowi yang sedang galau, atau hanya sekedar panasbung dari kubu pak Prabowo.
    Saya rasa dari sisi bahasa penulisan mas Arie, sudah benar dijelaskan bahwa dia PERNAH berada pada titik ingin meninggalkan status pendukung Jokowi HANYA karena muak dengan ke”kurang santun”an teman-teman sesama pendukung pak Jokowi. TAPI KENAPA BANYAK YANG MENYIMPULKAN BAHWA MAS ARIE HANYALAH ORANG BAYARAN? Apakah itu bukannya malah menjadi bukti kebenaran dari tulisan mas Arie ini? Bahwa masih lebih banyak para pendukung pak Jokowi yang membabi-buta dalam menghakimi dan mem-bully orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka?

    Wallahu a’lam…semoga kita semua menjadi semakin cerdas dalam hidup.

    • Bila saya tidak terlihat sebagai pendukung Jokowi, mungkin karena saya merasa beliau masih banyak PR yang harus diselesaikan sebelum layak memimpin negara ini. Tetapi karena saya melihat PR Prabowo lebih banyak, ya sudah saya merapat ke Jokowi saja.

      Ya, saya tidak bisa memaksa orang-orang untuk percaya 100% kepada saya, maupun menghentikan mereka untuk menghakimi saya. Bila kritik dalam artikel ini kepada para pendukung fanatik justru membuat mereka marah, berarti saya telah membuktikan poin-poin saya.

  128. Sangat sayang mengabaikan kebebasan memilih capres yang sudah diperjuangkan susah payah hanya karena gak tahan dengan kampanye para fans fanatik kedua capres. Dan pindah haluan hanya karena kesal dan ingin membuat kesal fans kubu satunya, juga betapa tidak bertanggungjawabnya. Bayangkan, nasib bangsa ini dipertaruhkan hanya karena kesel, ckck, sayang sekali. Kita harus memilih salah satu. Dan memang keduanya tidak sempurna. Saya fans Prabowo, beliau pemimpin brilian, banyak berjasa untuk negeri kita, tapi beliau melacurkan segala cara untuk jadi presiden. Janjikan ARB ini itu biar mau gabung, janjiin ke PKS untuk pemurnian agama, visinya mencegah korupsi, tapi dengan misi menaikkan gaji pejabat biar gak tergoda, jujur saya kecewa. Saya tidak yakin beliau bisa bawa Indonesia maju. Tidak bisa kita menilai seorang calon presiden dari kegemilangan atau sejarah kelam masa lalunya saja. Saya yakin mereka telah belajar dari itu. Saya yakin mereka menyesali kesalahan di masa lalu, tapi kita melihat Indonesia ke depan mau dibawa kemana. Dan tidak jadi memilih salah satu capres, hanya karena kesel dengan euforia para pendukungnya, bukan karena visi misinya yang tidak sesuai, adalah salah satu tingkah yang mengecewakan.

    • Ada banyak alasan yang lebih sederhana dibanding kekesalan; misalnya memilih seorang pejabat publik karena penampilan fisiknya, persamaan suku, atau kedekatan personal. Hal-hal intagible seperti preferensi yang dipengaruhi emosi bukan hal yang tidak lazim. Seperti yang bisa disimak dari sekian banyak komentar di artikel ini.

      Memang ini proses pendewasaan masyarakat dalam berdemokrasi. Termasuk pembelajaran kepada para pendukung Capres agar tidak lagi terpolarisasi dalam kampanyenya, memandang pendukung Capres pesaing sebagai lawan yang layak dimusuhi.

  129. Saya setuju banget dengan tulisannya om Arie ini. Tapi lucu banget sih liat tanggapan2 dan komentar2 di sini dan di FB wall saya saat share link blog ini. Kalo boleh saya rangkum sih sebagian besar dari pendukung fanatik Jokowi yg meradang karena dapet self-critic dan sebagian lagi dari pendukung fanatik dari Prabowo yg kesenengan kayak dapat angin.. Apakah mungkin karena sebagian besar pembaca blog ini seperti sebagian besar pembaca di Indonesia yg cuma baca judul aja kah? Hehehe.. Anyway tulisannya keren, om. All Hail om cunihin 🙂

  130. Great Point of View mas Arie 🙂 ..Stuju bgt.. lama-lama berasa annoying juga dengan pemberitaan yang sering di share di facebook.. karena yang di share itu terkadang perlu di pertanyakan juga validitasnya.. klo untuk capres dr dua belah pihak, menurut saya utk debat kmrn, mgkn hanya jokowi yang tersebut detail-detail program yg akan ia canangkan.. maaf, tp prabowo subianto baru sekedar di awang-awang saja.. atau mgkn teman-teman ada yg menangkap pesan prabowo detail program yang akan ia buat? semoga debat kedepan benar-benar debat (saling beradu tanggapan, bukan sekedar memberi jawaban karena ini bukan Kuis Cerdas Cermat tanpa ada perlawanan).. seperti yg ada di pemilu US Obama dan lawannya.. spya masy bisa menilai kecerdasan para calon pemimpin ini..

  131. buktiin donk kakak kalo loe emang pendukung jokowi!!! , tapi dari tadi kok jokowi di SALAH kan mulu… Heheh

    itu tadi gue baca, kerusuhan mei98 gak terlalu signifikan ya??? Kakak diam di merauke ya??? Jangan seolah-olah tutup muka la, kakak tau RAS aku dibantai saat itu, toko” orang chienes diBAKAR, diPERKOSA, disuruh pemimpinnya itu prabowo?? Kalo pemimpinnya minta istrinya gimana?? Dikasih juga itu… Udah tau buruk masih dilakuin, gak ada otaknya ya itu prabowo???

    # yang kita itu mencari PEMIMPIN bukan ORANG yang ada di BELAKANG pemimpin
    artikel kakak nih GAK ADIL, TERLALU MEMBERATKAN SEPIHAK
    GUE PENDUKUNG PRABOWO, MAU SAMA KAYAK KAKAK ARIE YANG NYAMAR JADI PENDUKUNG PAK JOKOWI, ATI LOE BUSUK BRO….

    • Saya minta maaf bila artikel ini menyinggung perasaan mas Andri. Sama sekali tidak ada tujuan ke arah sana. Dan saya ikut prihatin atas segala keburukan yang menimpa Anda dan keluarga.

      Memang saya terkesan mengritik Jokowi. Tetapi bila dibaca secara cermat dari awal hingga akhir, saya mengritik pendukung Jokowi yang tidak bisa menerima kritik terhadap beliau. Termasuk kenyataan bahwa di PDI-P, partai Jokowi, terdapat orang-orang yang tangannya juga berlumuran darah. Menuntut keadilan akan pelanggaran HAM memang penting, tetapi kita juga harus menyadari tuntutan tersebut juga bisa diarahkan ke kubu Jokowi.

      • melihat byknya pembaca yg sesat dgn artikel anda, itu ya artinya yg ingin anda sampaikan tidak tertangkap ,,,,,kok malah merasa berhasil? seorang penulit yg tdk bias hrs bs mengakomodasi dua sisi ,,,,berarti anda kalo blm bs nulis coba deh cari artikel yg lbh gampang…ya

    • Perkenankan saya mengutip kalimat-kalimat Andri:

      “gak ada otaknya ya itu prabowo???”
      “GUE PENDUKUNG PRABOWO”

      Sebentar… Jadi Andri mendukung Prabowo yang tidak punya otak? Kalau tahu Prabowo begitu, kenapa masih di dukung. Saya penasaran jadinya yang tidak punya otak siapa?

      Sepertinya malah Andri yang merupakan pendukung Jokowi tapi menyamar jadi pendukung Prabowo.
      Kalimat terakhir Andri menulis Jokowi dengan “Pak”. Andri sepertinya justru lebih menaruh hormat sama Jokowi.

  132. Kalau menurut saya, yang kita pilih itu capresnya, menurut saya jangan terpengaruh oleh sikap pendukungnya.

  133. Kalau menurut saya, untuk artikel mas ari emang bagus, cuma terlalu menyudutkan aja, kaya kasus ham itu sebenarnya kan keluar setelah pemfitnahan atas jokowi terlebih dahulu, lalu dr pihak jokowi mulai mengeluarkan pernyataan ham, memang semha orang tau kalo kasus ham itu bukan isu tapi sejarah yang nyata, jokowi juga diserang dr pihak lawan dengan permasalahan keyakinan, sara, korupsi, kematian, ketidak tegasan, pelanggaran masa bakti kerja, tidak layak memimpin indonesia karna cm mampu memimpin kota, dsb.

    Tapi saya setuju dengan mas ari, kenapa para relawan gotong royong bukan nya membuat klarifikasi terhadap sosok jokowi, memang head to head saat ini, menurut pribadi saya masih bagus jokowi, cm dengan adanya perilaku2 fans sperti ini, malah memperkeruh nama beliau, tolong bagi kalian yang merasa pendukung jokowi, bantu dan support beliau dengan banyak hal, cb memperbanyak good campaign drpd black campaign, walopun dr pihak jokowi sering di serang, jika kita terus membalas, malah akan trrlihat seperti adu serang

    Coba kalau dr pendukung jokowi melakukan good campaign, yang ada kan dr pihak lawan semakin kelihatan busuk nya, dengan pemfitnahan segala arah tetapi dari kubu jokowi lebih ber “koar2” ke arah visi misi mreka, ini sangat kritis, dr pihak lawan mereka selalu balance, di internet mereka menyerang pihak jokowi, di tv mreka iklan program2, tp dr pihak jokowi yg ada malah meladeni cemooh kalian

    Dimana mana kebusukan pasti akan tercium, saya yakin itu, cm kalau kita sebagai pendukung jokowi yang selalu meladeni kebusukan mereka, mungkin masyarakat luas tidak bisa melihat dan membedakan mana yang bersih dan yang kotor, jadi saya mohon mulai tunjukan sikap kita sebagai simpatisan dari leadership yang bersih

    Kan sudah ada tuh slogan “the right man always on the right place”, kita sebagai pendukung yang cerdas harus mengikuti slogan itu
    Ayo dukung terus Pak Jokowi agar bisa membenahi negara ini menjadi lebih maju

  134. Tulisannya bagus, dan bukan berarti saya nimpali ini sebagai bagian untuk mendukung prabowo, tapi cuma dihitung dari pemberi komentar dari tulisan mas Arie ini, mayoritas adalah pendukung fanatik jokowi. dan terjebak pada pikiran subjetifitas masing-masing tanpa mendalami maksud dan tujuan tulisan mas Arie.
    Saya juga bagian dari pihak yang merasakan euforia tahun 1998 dan mencoba objetif menyikapi segala hal yang berhubungan dengan pengungkapan sejarah sebenarnya. Tapi jika hal tersebut dijadikan alat untuk mendorong sebuah citra yang tinggi atas sosok orang yang kitapun hanya melihat sisi baiknya saja, dan kita tidak akan pernah bisa menilai orang secara objektif punya kebaikannya. Kalo ditanya satu persatu seberapa lama anda mengenal sosok pilihan anda pastinya yang didapat jawaban tidak tegas, dan rata2 adalah floating voters yang tidak pernah tahu alasan untuk memilih. Jadi mari deh kita menjadi orang yang selalu melihat dua sisi kebaikan dan keburukan, jadi jangan hanya melihat setengah-setengah dan langsung mengambil kesimpulan. Saya yakin sebagian dari kita adalah orang-raoang cerdas sebagai orang yang merasakan perjuangan eurofira tahun 1998 itu, selamat menjadi pemilih yang cerdas.,

  135. Tulisan yg menyejukkan mas Arie

    Mk yg perlu ditegaskan lg adl perlunya positive campaign, drpd negative campaign sj. Stop menjelek2-an pihak lain, dan mulai kampanye kebaikan pihak yg kita dukung.

    Sy terus terang pendukung Prabowo krn :

    1. Kerja kerasnya utk mempersiapkan visi-misi
    Bude sy yg salah satu pengurus di Gerindra, jd sy tahu bhw sdh sejak 2 thn lalu org2 Gerindra menyiapkan program2-nya. Tiap sabtu sdh jadwalnya utk pertemuan di kantor Gerindra. Fyi bude sy adl mantan Dirjen Dept Pertanian urusan Bibit.

    2. Visi Misinya msh lebih masuk akal drpd visi misi kandidat yg lain.
    Ok, ini mk keliatan absurd, tp sy melihat bhw ini visi misi yg dipersiapkan dgn baik. You can see what writers minds by his book. Dan jika lihat wawancaranya di Youtube dgn tagline : ” Prabowo : Apa Perlu Kita Undang Belanda Lagi”, it clear for me that I will vote him.

    3. Keputusannya utk bersikap “tanya pimpinan saya” utk menjawab pertanyaan seputar kasus 1998.
    Sy rasa mas Arie lbh paham, krn jika ini dibuka lebar2, tdk hanya kita membuka aib bangsa ini ke dunia luar, tp jg membuka peluang utk terjadi perang saudara terbuka. Buat sy ini sikap negarawan, yg lbh memilih utk mengorbankan harga diri dibandingkan mengorbankan rakyat banyak. Kl hal ini dibuka lebar2, siap2 pindah negara sj.

    4. Saya orang Surabaya dan saya dukung Bu Risma utk menutup dolly.
    Utk yg ini sy tdk perlu panjang lebar. Biar fakta bicara.

  136. Tulisan yang bagus yang menceritakan pendukung fanatik. Dimana-mana, dan dalam hal apapun, kalau sudah mencapai level fanatik pasti sudah buruk. Entah dalam kebaikan/agama, apalagi politik.
    Tapi saya justru tertarik dan tercerahkan dengan kontra argumen para fanatik Jokowi yang anda tuliskan. Begitu banyak kebenaran yang justru membutakan para pendukung fanatik Jokowi, tapi yang lebih mengejutkan bahkan yang bukan fanatik. Kepercayaan atau pilihan kita terhadap salah satu capres memang bukan karena hati nurani saja, tapi kepercayaan juga tumbuh karena derasnya informasi dari media-media. Apabila kita berharap pilihan dari hati nurani, informasi dari tulisan ini yang mengungkapkan dengan gamblang kontra argumen para fanatik dan bukan fanatik Jokowi dalam tulisan ini bisa menjadi pembuka hati nurani.

  137. Saya ingin memohon perbedaan. Saya setuju pendukung fanatik cenderung akan “buta” dan tumpul terhadap kebijakan idolanya.
    Tetapi satu hal tentang blusukan yg saya pikir di twist oleh kubu prabowo sebagai pencitraan. Intinya:
    1. Pencitraan adalah kegiatan yg menimbulkan persepsi yang bukan sebenarnya. Kalau saya miskin, saya mejeng sama ferari di parkiran mall, mencitrakan saya kaya.

    2. Kubu prabowo kewalahan soalnya blusukan adalah metode yang susah dilakukan pejabaat saat ini, atau kata anda: pejabat orde baru. Mereka tahunya meetig meeting membahas persenan dan komisi untuk korupsi. Tidak ada yg mau mendengarkan. I rest my case, karena keadaan tidak membaik until jokowi/ahok/ridwan/risma menjabat. Blusukan HAMPIR PASTI dilakukan oleh pejabat bersih, seperti ahok, jokowi dll untuk menemui warga.

    3. Ingatlah metode blusukan adalah inisiatif Jokowi untuk memvalidasi pekerjaan bawahannya. Karena mental yg udah bobrok sampai pembersihan oknum sdah harus dilakukan sendiri. Justru ini awal revolusi di jajaran pemerintahan: validasi. Lu bilang sudah, gua cek blum, gua pecat lu.

    4. Kalau jokowi blusukan, sayarnya jujur bukan pencitraan. Media mengawal dan over expose blusukan ini karena jokowi adalah pundi emas buat mereka. Tahukah berapa pemasukan masuk dari sini? Semua media yg dukung prabowo sempat “membesarkan” metode blusukan. Sorry, media yg bertanggung jawab atas hype nya, jokow bertanggung jawab atas efektifitas blusukan itu sendiri

    5. Apa jadi presiden bisa blusukan terus? HELL Yea he must! Why not? Kubu prabowo terlalu naif kalau semua yg makro di identikkan dengan kerja belakang meja. Well technicly nggak harus 24 jam kerja blusukan, klo jokowi harus ke confrence luar negri ya dia pasti pergi. Klo dia mesti ngetem di istana ya nggak mungkin dia tinggalkan. Kadang org indo terlalu harafiah, jadi detailnya harus dijelaskan. Yang kita mau blusukan jadi CULTURE. Jangan jokowi doang. Hidup jokowi sehari 24 jam sama dengan kita gak mungkin pake blusukan sabang-merauke. Tolol itu. Anak kecil juga tau. Tapi dia bisa buat ini jadi CULTURE, mentri blusukan, bupati blusukan, walikota blusukan, lurah camat blusukan, oh indahnya, ini kan yg kita mau? Lama2 punah sendiri pejabat yg cuman kerjanya tidur di meetingb or main golf sembunyi2 sambil nego komisi.

    Semoga ini memberi perspektif baru buat blusukan.

    • Saya nggak pernah mau menjelekkan pihak Prabowo-Hatta, soal HAM atau apapun itu.Tapi tulisan ini bodoh sekali sih. Anda yang buruk muka cermin dibelah. Bilang orang lain hipokrit, fasis & tidak berimbang, tapi tolong baca lagilah tulisan anda, apakah sudah berimbang? Adanya pro-kontra di masa Pemilu skrg menurut saya menunjukkan adanya partisipasi politik di masyarakat dan itu bagus, masyarakat terus menggali apa yg dimiliki oleh calon pemimpin mereka. Dibanding masyarakat yang apatis. Dibanding masyarakat yg dimana memilih presiden karna bete sama pendukungnya, abg banget nggak sih mas? Kalau memang tidak suka dengan black campaign buatlah sesuatu yg positif, jangan cuma bisa komentar!

  138. kalo di beberapa forum atau televisi masing-masing pihak memang saling serang full bodi contact 😀 Tapi kalo di media sosial dan forum-forum bahkan blog juga ada beberapa yang gak waras menurut saya fans fanatiknya terutama pihak JKW. Bahkan pernah saya ingatkan untuk lebih sopan dalam mendukung atau share konten calon presiden ga perlu negatif atau black, tetap saja saya di serang, menyebut kata binatang atau tak punya pikir, bahkan ada yang bilang sadarlah(di kira saya pingsan mungkin) padahal saya juga share prestasi ke dua calon di wall.

    Wong mau Ramadhan harusnya menyebar kebaikan malah menyebar fitnah dan dosa :mrgreen:

  139. Benarkah demikian pendukung prabowo santun2, kalau saya malah terbalik dari yang tadinya saya diam akhirnya saya bersuara untuk jokowi,di sosmed karena pendukung prabowo lah yang lebih dulu tidak santun, dan mengusung isu2 SARA, seperti jokowi china, noni, kristen. Saya percaya isu2 HAM prabowo dikeluarkan untuk mengimbangi ketidak santunan pendukung prabowo sejak mulai jokowi menjadi capres. Karena sudah terbukti awal kesantunan Jokowi dan pendukungnya membuat banyak orang percaya pada isu black campaign tersebut dan terbukti membuat suara gerindra naik, efek jokowi untuk pileg teredam dan hasil survey prabowo yang meningkat lebih baik dibanding jokowi. Jadi ini adalah seperti pepatah siapa menanam angin dia akan menuai badai. Lihatlah statistik ini untuk membandingkan tingkat “kesantunan” pendukung prabowo, sampai 7 kali lebih santun atau tidak menurut anda

    http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/06/269582957/Jokowi-Diserang-Isu-Bohong-Bagaimana-Prabowo

    • Yang saya tulis di artikel ini adalah “Tentu, masih banyak pendukung Jokowi yang santun…Saya menghormati mereka, sebagai mana saya menghormati para pendukung Prabowo yang santun.

      Maksudnya adalah: saya menghormati pendukung yang santun (di kedua belah pihak). Yang tidak santun (di kedua belah pihak), tidak saya hormati.

      Saya harap misinterpretasi seperti ini tidak terjadi lagi.

  140. Pingback: A SILENT NOTES

  141. Saya pendukung Jokowi. Saya paham dengan apa yang anda coba sampaikan. Namun demikian, bukankah sebaliknya juga berlaku, bagaimana pendukung Prabowo juga menjelek-jelekkan Jokowi dengan segala cara, yang paling parah adalah isu SARA. Kalau mau fair, apakah anda juga tidak muak dengan “fasisme” dari pendukung Prabowo? Kecuali kalau memang kenyataannya pendukung Prabowo semua santun-santun, sangat wajar anda berkata seperti ini. Tapi saya kalau baca news, komentar-komentarnya pendukung Prabowo juga bikin radang telinga (atau radang mata lebih tepatnya). Saya tidak menepis memang pendukung Jokowi ada banyak yang tidak santun, dan saya beberapa kali juga menegur mereka. Tapi demi keadilan, bagaimana bila anda juga membahas bagaimana pendukung Prabowo berkomentar dan menebarkan kampanye hitam? Kalau kedua kubu tidak ada yang sama baiknya, maka tidak adil menurut saya bila anda hanya menulis artikel yang meng-bash kefasismean pendukung Jokowi, namun ternyata sebenarnya pendukung Prabowo pun tidak lebih baik. Bila anda melihat bagaimana pendukung Prabowo bertingkah, anda bisa-bisa jadi golput, nda milih sapa-sapa, gara-gara melihat pendukung masing-masing capres.

    • Betul, saya juga sudah berulang kali menjelaskan di kolom komentar bahwa saya tahu pendukung fanatik ada di kedua belah pihak. Tetapi karena saya bukan pendukung Prabowo, dan saya jarang terpapar oleh kelakuan berlebihan pendukung fanatiknya, akhirnya kegeraman saya lebih tertuju ke teman-teman sesama pendukung Jokowi yang berlebihan dalam dukungannya.

  142. saya lebih memilih … masa kampanye via media sosial ini cepat berlalu … buat saya semua kubu itu punya pendapat masing-masing itu sah walau terlihat banyak minesnya (saling menjantuhkan lawan bukan saling membahas masing-masing visi misi nya jargonnya.

  143. Bagus banget artikelnya….

    artikel ini membuat keyakinanku lebih mantap utk ttp memilih pak prabowo…

    aku sih bukan ga suka sama jokowi. jokowi bagus kok hanya saja aku rasa terlalu cepat saja jokowi utk memimpin indonesia… aku pengen liat jakarta dipimpin oleh seorang jokowi… tapi untuk presiden aku lebih suka pak prabowo… itu menurut pendapatku loh…

    pertama sih aku ga suka sama prabowo ttg isu2 yg beredar.. tapi setelah saya cari tau kenapa sampai ada isu2 saya jadi berpihak pd prabowo… untuk siapa pemenang presiden nanti saya dukung kok… yah semoga gak mengecewakan pemilihnya.. well, masing2 kan berhak untuk memilih pilihannya kan? nah pilihanku prabowo…

    J for Jakarta P for Prabowo… hehee sekian…

  144. setuju banget dengan tulisan kang arie… memang boleh dibilang timses udah berlebihan dalam menjual dan menyokong capres usungannya. baik itu dari capres A dan capres B. sebenarnya sama aja…
    mungkin mereka dulu waktu dibriefing hanya soal bagaimana menjatuhkan lawan dan mengeksplorasi sisi kelam sang lawan. memang manusia tak ada yang benar-benar putih dan benar-benar hitam, semua memiliki sisi sebaliknya juga. sebagaimana filosofi yin-yan yang mengatakan bahkan ditempat tergelap pun masih ada cahaya, dan ditempat terterang pun masih ada kekegalapan. justru sebaliknya para timses ini menjual prestasi capres usungannya. bahkan tak mungkin pula mengkomparasi prestasi capres lawan dengan capres usungannya.
    toh seandainya capres lawan yang menang, apa mreka lantas akan kluar dari indonesia karena saking bencinya dengan sang capres pemenang itu? atau apakah mereka akan melakukan makar ato mungkin kudeta kepada capres pemenang tadi? bila itu yang terjadi apa bedanya sekarang dan dulu?
    saya jadi teringat omongan presiden jancukers mbah tejo, dia berucap “pemimpin bertangan besi akan mematikan nyali, pemimpin yang dinabikan akan mematikan nalar.” sekarang tinggal kita mau memilih mati nyali atau mati nalar? tapi saya percaya rakyat indonesia ini sudah sangat cerdas, mereka tau siapa yang terbaik buat mereka. mereka tau siapa yang akan mereka pilih dan mungkin apa konsekuensi yang mungkin terjadi bila pilihannya jadi presiden nanti.
    akhirnya biarlah tanggal 9 Juli yang akan membuktikan siapa pilihan rakyat itu. yang jelas siapapun yang menjadi presiden nanti harus kita dukung 100% bukan bahkan harus 1000% karena ini soal Indonesia.. Indonesia milik kita bersama.. bukan Indonesia milik segelintir orang… ini Indonesia kita.. kita semua yang akan membawa Indonesia ini semakin maju kedepan ato justru sebaliknya. MERDEKA!!!!!!!!

    PS: sebuah catatan penting, saya bukan sama sekali pendukung ato timses salah satu capres. saya hanya bloger biasa yang nyambi jadi tukang sebar brosur kreditan.

  145. Assallamu’allaikum wr wb. Pak Arie M. Prasetyo, terima kasih atas artikel ini semoga saja menjadi pembelajaran buat kita semua dalam mengemukan pendapat, saat ini memang negeri ini sedang dalam tahap transisi untuk mengarah kepada hal-hal yang lebih baik (etc, kebebasan berpendapat, kebebasan pers dbs).

    Namun demikian dalam perhelatan Pilpres kali ini fenomenanya sungguh diluar dugaan kita semua, sehingga euforianya terlalu berlebihan. Menangkap dari semua tulisan Pak Arie, awal membaca saya agak kaget, namun setelah saya teruskan sampai kalimat-kalimat terakhir, saya akhirnya menangkap apa yang Pak Arie sampaikan, bahkan kegundahan Pak Arie pun sama dengan kegundahan saya, tentang apa yang terjadi di media sosial saat ini, bahkan dalam beberapa Fans Page FB saya menuliskan kegamangan dan bahkan ketakutan saya setelah tgl 9 Juli nanti, bila para pendukung salah satu perserta Pilpres yang kalah tidak bisa menerima kekalahannya akan berujung pada keos negeri ini (bahkan saya pernah mengatakan akan terjadi disntegrasi bangsa).

    Sampai saat ini saya masih setia dengan pilihan hati saya pada salah satu Capres, mudah-mudahan bukan akibat sakit hati kepada salah satu Capres.

    Akhirnya saya menunggu tulisan-tulisan Pak Arie baik di kompas maupun buku-buku Pak Arie, salam saya buat Pak AB yang saat ini tertimpa musibah, semoga beliau tabah dan tawakal, memang benar pepatah yang mengatakan suatu kebaikan ongkosnya sangat mahal.

    Wassalam

    • Terima kasih Pak. Benar sekali, kegundahan yang mendorong saya menulis artikel ini adalah saat saya mulai melihat munculnya bibit-bibit perpecahan di antara rekan sebangsa yang mendukung Capres-Capres yang berbeda. Semoga hal ini tidak sampai berlanjut menjadi disintegrasi bangsa yang Bapak sebutkan tadi.

      Saya pun insyallah hingga saat ini masih tetap pada pilihan semula. Di artikel ini saya ingin membuka mata teman-teman yang berhaluan keras, bahwa sikap fanatik mereka justru menimbulkan banyak kerugian. Baik itu dari tujuan mereka berkampanye, maupun dalam hal persatuan bangsa.

      Terima kasih telah sudi menyumbangkan pikirannya di artikel saya yang tidak seberapa ini, Pak Aries.

      Waalaikumsalam Wr. Wb.

  146. Artikel yang sangat menarik dan menyuarakan pendapat saya terhadap pendukung fanatik Jokowi yang saya bilang agak kebablasan. Bisa dibilang saya bukanlah pendukung Jokowi jadi cukup merasa terganggung dengan para pendukung Jokowi yang merasa dirinya paling benar dan terus mengejek lawannya di hampir semua sosial media. Saya percaya masing-masing kubu punya pendukung cerdas yang lebih mementingkan menyebarkan kebaikan daripada menyebarkan keburukan. =)

  147. saya adalah salah satu swing voters itu.. saya trauma mengkritik jokowi di media sosial, kritik sama dengan bully..

  148. Saya cuman bisa bilang. Sabar. Tarik napas dalam. Hembuskan.
    Membaca tulisan Mas, seperti membaca seseorang yang lagi emosi ( emosi bukan hanya marah yaaa ), sebel, gemes, geram, ihh banget gitu.
    Sama, sih Mas. Saya juga ga habis pikir dengan pendukung2 fanatik kedua capres. Aneh. Kampungan. Hati kok isinya penuh kebencian dan kedengkian. Tapi, itu kan yang membedakan kita dengan mereka? Kita dengan pendukung2 fanatik itu. Saya tidak pernah sama sekali ambil peduli dengan perkataan, tulisan, caci maki mereka. Cenderung saya hindari, karena kalo enggak, hati ini rasanya kesal setengah mati. Ganggu pikiran.

    Dan benar, pendukung2 fanatik ini, yang ‘jauh’ dari kandidat kita, ga usah kita perdulikan. Pedulilah pada pendukung2 kandidat kita yang ada dekat disekeliling beliau. Karena merekalah support system sang kandidat.

    Dokumen apapun yang tersebar, selama ada pada artikel yang web addressnya udah ga ‘bonafide’ ga usah dibaca.
    Fokus pada kebaikan, dan cerita orang yang benar2 pernah bersinggungan dengan pilihan kita. Cari titik lemah pilihan kita. Bantu awasi nanti kalau terpilih.

    Hehehe.. salam 2 jari mas!

    • Haha… betul, saya memang agak emosi saat menulis artikel ini. Emosi gemes melihat kelakuan teman-teman yang tidak bisa lebih santun membela Capres jagoannya. Sekali lagi terima kasih sudah mengingatkan. Salam 🙂

  149. Ada banyak yg ngeshare tulisan ini dengan kebanggaan bahkan alibi knp mereka blm menentukan pilihan. Menurut saya lucu, meski itu berarti tulisan agan emang bagus. Saya setuju idenya. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Tp saya selalu tidak mengerti tentang fenomena apapun yg berusaha di blow up. It happen man.. it happen. Dimanapun, dan tiap tahun pemilihan. Jujur saja saya lebih menikmati masa2 kampanye selepas orba. Lebih tertib dan aman meski banyak cara yg msh tdk sehat seperti merusak tata kota dgn baliho liar dsb. Itu aja. Coba ada rekom di awal klo kolom komentar jg ga kalah bagus ya.. 😉 salam kenal.

    • Saya tidak berusaha mem-blow up apa pun. Saya cuma membagi tulisan ini di Facebook wall saya satu kali. Tetapi apa daya efek bola salju dari share teman-teman saya di Facebook membuat artikel ini menjadi viral, melebihi ekspektasi saya.

  150. tulisan yang bagus….mewakili apa yang saya rasakan juga. Saya tidak pernah menunjukan dukungan kepada salah satu capres dan memang belum menentukan. Kalo di grup fb,wa dll emang yang kerasa banget para pendukung jokowi yang mati2an ngebela, seakan2 jokowi itu gak boleh ada kurang-nya.
    Kalo di twitter, saya mulai unfollow orang2 terdidik yang tadinya saya kagumi karena tiap hari kerjaannya ngehina2 pasangan no.1(mungkin karena in the right side, jadi merasa paling benar). Sampe2 ada ada yang nge-tweet “Prabowo,Hatta,n Bakri is the same sh*t dst”…ini orang terdidik lo yang nulis. Sefanatik itukah,sampe2 harus setiap saat ngehina orang??. Tiap hari kerjaan ngejelek2in orang, coba ngaca, pasti ketauan tuh siapa yang jelek… 😀

    Hiduplah Indonesia Raya…

  151. “Jujur saya ikut mentertawakan Hatta Rajasa saat ia berbicara mengenai kepastian hukum. Tapi lucu sekali bila yang mentertawakan adalah orang yang membela seorang sastrawan tertuduh pemerkosa.” —-> wow. Wkwkwkwkwkkwwk sumpah lah ngakak

    • Bila saya terkesan tidak bisa menerima kritik, saya mohon maaf dan terim kasih telah mengingatkan. 🙂 Tulisan ini semata-mata demi suasana demokrasi yang lebih kondusif, bukan terpecah belah.

  152. Saya setuju dengan pak arie.. Semoga bisa dijadikan untuk intropeksi dr masing2 pendukung capres.. Bukan tentang capresnya, tapi tingkah laku pendukungnya.. Bagaimana menpromosikan capresnya kepada masyrakat dengan baik n ga bikin illfeel..

  153. Apa pun yg kita katakan walau ada sisi baiknya tdk akan pernah diterima orang…kenapa demikian…. ? tdk dg hati. Kebencian sudah tertanam dan subur denga hasutan-hasutan. Kita tdk sedang mencari lawan hingga ke tingkat permusuhan, tetapi kita mencoba berfikir positif demi sebuah perubahan moral bangsa yang ada di negeri ini…..Kawan kawanku sekalian tetaplah semangat…kalian Tunas Bangsa yg sedang mekar untuk mengharumkan bangsa dan negara.

  154. Assalamu’alaykum.
    Hihi.. akhirnya jadilah Anda spt judul topik. ..Tapi msh ada waktu koq utk kembali.. Anggap sj itu ujian. Ilmui. Luruskan niat lillahi ta’ala. Pertahankan. Perjuangkan kemenangan ini. Move on.. Selamatkan Indonesia.

  155. iya, apesnya mas arie akhirnya dibully sama pendukung fanatiknya Jokowi di postingan ini…
    Tapi itu udah konsekwensinya sih,..

    Btw, saya setuju dengan tulisan mas Arie.
    Saya pertama masih bingung mau dukung siapa tambah dengan pencapresan Jokowi waktu itu saya asumsikan Jokowi gila jabatan,.. tapi pendukung fanatik Jokowi yang cinta buta dan tutup telinga membuat saya jengkel dan membuat saya dukung Prabowo mati-matian, padahal dulu di dua pipres terdahulu saya nggak pernah dukung Prabowo… lucu kan ?…

    dukungan fanatik yang buta dan tutup telinga itu bahaya untuk Negara ke depannya.

  156. Tanya saya blm memutuskan siapa yg akan saya pilih tp setelah menonton mata najwa beberapa waktu lalu saya jadi tertarik dgn sosok prabowo…ini kok najwa berat sebelah ya?? Lalu saya lihat di wall fb saya isinya simpatisan yg fanatik komennya seram2 akhirnya saya simpati sama prabowo…saya lihat klo ada tokoh yg gabung ke jokowi dipuji2 klo ada tokoh yg gabung ke prabowo langsung dihujat… saya setuju dgn anda yg mengatakan hal2 bgs ttg jokowi ada mrk yg hidup nyaman,bekerja di ruang acc jd bisa dengan lantang berbicara soal idealisme… tp saya banyak bergaul dgn kaum buruh,tkg sampah,pemulung,saya prihatin dgn nasib mrk…anda2 yg hidup mapan bisa teriak jgn terima uang serangan fajar tp apakah anda2 akan mengulurkan tangan utk menolong mrk membeli makanan hari ini,membiayai sekolah anak2 mrk?? Jd jgn hanya blusukan,tolonglah pikirkan masa depan mereka…terima kasih

  157. Salam hangat mas..
    Saya juga pendukung jokowi..tapi jujur saya juga gerah dan tidak suka apabila ada pendukung lain yang saling menjatuhkan padahal belum tentu itu yang disampaikan benar, malah bisa-bisa menjadi fitnah dan dosa kita. Ayo kampanye santun dengan membahas visi misi dan langkah-langkah kontrol kita agar visi dan misi terlaksana apabila pak Jokowi atau pak Prabowo menjadi Presiden.

    “Kita sedang tidak mencari seorang sosok Presiden yang sempurna, maka kita lah sebagai penyempurna nya, apabila ada pimpinan yang salah, kita wajib untuk mengingatkan. Sama halnya apabila kita salah ya kita harus legowo untuk diingatkan”.

  158. Terima kasih atas tulisannya yang menarik.
    Waktu pertama kali baca tulisan ini, ingin segera men-sharenya di facebook dan social media yang lainnya because it resonates my mind, namun sempat mikir-mikir, karena apapun kritik atau pertanyaan yang saya sampaikan di social media mengenai Jokowi akan langsung ditanggapi seolah-olah saya pendukung Prabowo, tidak pro-perubahan, tidak pro-HAM, mendukung black campaign dan lain sebagainya. Mem-posting yang lain pun yang tidak terkait langsung dengan capres dan cawapres akan langsung memperoleh komentar “jangan lupa pilih nomor x, y atau z”.
    Saya sepakat bahwa fanatisme terhadap salah satu capres dan cawapres bisa menjadi kontra-produktif bagi calon yang kita dukung. Menurut saya, bagian yang paling menarik dari tulisan ini adalah bagian komentarnya, karena menunjukkan bahwa masih banyak voters yang menggunakan kesempatan untuk mengenal lebih jauh pasangan calon dan tetap santun dalam menyuarakan dukungannya pada salah satu calon tanpa harus merendahkan atau mengejek pendukung calon lainnya, yang kemungkinan besar adalah teman atau bahkan saudaranya sendiri. Untuk Indonesia yang lebih baik, may the best men win.

    Salam

  159. Tulisan yang bagus mas Arie, saya setuju dengan anda, jujur saya pendukung Prabowo pun kadang juga empet baca status di sosmed kalo mereka menjelekan Jokowi, dan juga sebaliknya, dengan nge-share link2 yang memang mungkin sudah “dipelintir” kebenarannya karena media tersebut mungkin memang mendukung salah satu capres.
    Sedikit mau cerita saja kenapa jatuh pilihan saya kepada Prabowo, simpel, karena saya masih ingin Jokowi memimpin Jakarta, why ? karena menurut saya Jokowi so far selama 2 tahun kepemimpinannya cukup baik (menurut saya loh ya, saya tinggal di Jkt). Contoh nyata yang saya lihat langsung adalah program kartu sehat dan kartu pintar, dimana kartu sehat itu untuk masyarakat kurang mampu dan kartu pintar untuk anak yang ortunya kurang mampu, saya lihat sendiri jika kartu tersebut memang berfungsi sesuai keharusannya karena asisten rumah tangga saya mempunyainya dan bisa digunakan saat kartu tersebut beredar di masyarakat kurang mampu. Disini saya melihat kepemimpinan pak Jokowi baik karena program tersebut memang berjalan, isu banjir ? atau macet ? itu lebih faktor kesadaran kita sebagai masyarakatnya saja menurut saya.
    Dan dari sisi Prabowo sendiri sebagai orang awam saya melihatnya sebagai upaya untuk “membersihkan namanya” jika memang dia terpilih, karena namanya selalu mengarah kearah negatif, tentu maksud saya disini upaya membersihkan namanya dengan cara2 yang benar, seperti memimpin negri ini dengan baik tentu saja.
    Karena jika dianalogikan, Presiden adalah seorang sutradara, bawahannya bahkan kita sebagai masyarakat dianalogikan sebagai aktor. Sutradara sudah memberikan arahan semaksimal mungkin dengan benar namun sang aktor yang ia (sutradara) sudah mempercayainya diperan tersebut namun akting (kerjanya) tidak sesuai harapan, lalu siapa yang salah ? ya sutradaralah (presiden) yang salah karena hasilnya tidak sesuai harapan. Maksud saya disini adalah saat pemerintahan (dikementerian misalnya, apapun itu) bekerja tidak baik yang menjadi kambing hitam pertama adalah presiden, padahal bisa saja menteri tersebut yang tidak becus. Itu contoh dipemerintahan, dikehidupan sehari-hari misalnya, pelanggaran lalu-lintas, dan nyogok polantas, kita sebagai aktor juga telah melanggar aturan, dari sisi korupsi, ini pengalaman pribadi saat saya delivery McDon*ld, mas2 yang nganternya (aktor) tidak mengembalikan kembaliannya, ya walaupun tidak seberapa setidaknya harus dia harus ngembaliin dong terus baru bisa saya bilang “ambil aja mas”, jangan langsung nyelonong ketika saya abis bayar.
    Jadi intinya siapapun yang menang, segala lapisan masyarakat harus sadar dulu apa kekurangan dari diri mereka sendiri, bisa beretika dimasyarakat umum, mengetahui apa kewajibannya, tahu mana yang haknya mana yang bukan. Karena yang dikhawatirkan dari pendukung fanatik jika yang didukungnya menang, lalu tidak bekerja sesuai harapan, apa yang mereka lakukan ? menjilat ludah sendiri ?
    Maaf tulisan yang panjang ini sekaligus curhatan saya yang saya alami sehari-hari hehehe….
    Salam.

  160. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka PERIKSALAH dengan TELITI agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ALHUJURAT 49:6 – Relevan buat para calon pemilih CAPRES

  161. Reblogged this on Rumahku Di Dunia Maya and commented:
    Seperti yang saya sampaikan bahwa dalam persoalan pendidikan politik, ini bukan hanya masalah penyuluhan bagaimana caranya menyoblos yang baik dan benar. Pendidikan politik harusnya menjadi lebih luas daripada sekedar penjelasan hal-hal normatif yang sistemik. Maraknya pelanggaran pemilu yang tidak disadari sebagian warga, mulai dari membawa anak-anak ke kampanye hingga politik uang, adalah bukti bahwa pemilu menjadi momentum prosedural semata untuk meramaikan sesuatu yang kita beri nama demokrasi. Refleksi masyarakat kritis yang dapat membangun negara seyogyanya dapat dilihat dari tanggapan mereka terhadap kampanye politik calon pemimpin.

  162. Dan karena dua kubu saling serang dg kampanye2 hitam, saya jadi memiliki pandangan negatif terhadap kedua pasangan capres dan cawapres ini setelah membaca puluhan artikel yg mengkutubkan masyarakat pada umumnya. Hanya saja ada orang2 yg tak dapat dikutubkan dan salah satunya saya yg pada akhirnya memutuskan untuk golput saja.

  163. Saya sangat setuju sekali dengan tulisan anda gan, mual rasanya melihat perang antara penghujat jokowi dan “penyembah” jokowi alayhissalam. Awalnya saya kira masalah selesai dengan memblock atau mem-unfollow akun yang berbuat demikian, tp ternyata hampir disemua tempat juga terjadi gan….gak cuma dimedsos didunia nyata pun begitu…miris gan liatnya sampe ada yang menganggap pendukung si A tidak secerdas dirinya yang mendukung si B (mungkin karena ada jargon “rakyat sudah cerdas” yah) dan yang mendukung si B kumpulan orang cerdas, intelektual, pemikir negara, filsuf pakar-pakar :-D, Tp saya yakin untuk maju itu gak cukup hanya dengan otak yang cerdas, pidato yang bisa meruntuhkan langit atau bahasa yang melenakan dan meruntuhkan akal. Ingat ada kasus tukang becak berantem gara capres-capresan dan semua kubu menganggap memperjuangkan wong cilik ? wong cilik silit pithik !
    mereka ini berantem gara-gara siapa kalo bukan gara-gara nabi kalian yang dipoles habis-habisan oleh timses.
    Kalo ini semua dianggap cuma euphoria atau apapun….Hey yang berantem bukan bapak atau tetangga kalian sih ya ?
    Kalo yang berantemnya kaum “intelektual” kan paling2 sasaran marahnya sama kibot, mereka (tukang becak) ini lho yang sehari-hari hidup ditengah2 kita, kalo berantem bisa bunuh2an…daripada ngurus capres-capresan mending ngurus tetangga kalian yang masih butuh uluran tangan, saya membayangkan dana kampanye kedua capres ini disumbang buat mereka-mereka pasti akan lebih bermanfaat.

    Oya saya memilih golput,

  164. Saya risih dengan isue pemecatan Prabowo yg selalu digembar-gemborkan. Saya berharap Saudara membahas hal ini juga. Masalahnya di kubu Jokowi, ada juga yg dipecat, yaitu JK. Kabarnya JK dipecat Gusdur dengan tuduhan KKN. [Kapan ya, pata pendukung fanatik itu bertindak lebih elegan dengan menyosialisasikan program kerja?].

  165. Artikel yang dampaknya bisa berbahaya terhadap para swing voters yang pikirannya kurang terbuka. Seperti yang sudah disebutkan dalam salah satu komen, bisa-bisa nada emosional artikel ini yang justru membuat para swing voters beralih memilih Prabowo. Saya paham bukan itu tujuannya. Saya cuma cemas, karena orang-orang yang pikirannya kurang terbuka itu terlalu banyak. Tapi saya berharap, ya sekedar berharap, bahwa artikel ini serta berbagai tulisan lain yang punya nas bisa menjadi bagian dari pendidikan politik untuk rakyat. Saya follow ah blog-nya. Saya sih tertarik dengan gaya menulis masnya. Salam kenal.

    Dalih Sembiring

  166. Super sekali mas arie artikelnya

    Jujur saya terkesan dengan jokowi diawal kepemimpinan dijakarta, tapi kesan itu memudar dengan sendirinya…

    Semenjak pesta demokrasi dinegara ini digelar, Debat2 antara pendukung kedua kubu capres sangat saya perhatikan dengan melihat pendidikan dan latar belakangnya. Namun saya sangat tidak abis pikir tentang pembicara salah satu/beberapa dari kubu capres Joko** dimana saat diberi penjelasan hanya cengegesan dan bahkan menggunakan headset untuk menghindari pembicaraan #inisial pake kacamata dan satunya tampang reman :v terkesan SOMBONG, dan SOK BENAR apakah sesuai prilaku tersebut dengan tingkat pendidikannya ??!! << itu salah satunya !!

    Saya juga sudah muak dengan pembicaraan pelanggaran HAM !! kalau memperdebatkan pelanggaran HAM bukan lewat pers tapi lewat pengadilan jangan cuma kompor2in masyarakat biar ngk milih yang no #1 padahal tidak terbukti dan dalangnya pasti tidak ada dipihak no #1 hehe :v bikin banyak dosa aja :p

    Perlu dipikirkan juga keterlibatan capres no 2 dengan ketua umum partainya ~ takutnya aset bangsa di….. bukan maksud berburuk sangka tapi harus diantisipasi.

    Mungkin menurut saya agar lebih baik untuk memilih capres/cawapresnya baca biografinya jangan sekedar menjadi korban pers, karna kebanyakan pers tidak NETRAL !!

    Walaupun sebenarnya saya belum memiliki hak memilih dalam pemilu nanti, tapi saya berhak untuk berpendapat.

    1 Hal yang Guru besar indonesia katakan dan saya ingat, " orang yang banyak bicara belum tentu bijaksana "

    Sekali lagi saya ucapkan buat mas arie, artikelnya super sekali ~

  167. Indonesia sekarang ini terbagi-bagi. para pendukung No. 1, para pendukung No. 2. Sebagian dari para pendukung No. 1 dan No. 2 yang kemudian saling menjelek-jelekkan akhirnya melahirkan kelompok baru, kelompok yang muak terhadap serang-serangan di sosial media. Kebanyakan dari para pendukung “yang terbutakan” itu bisanya cuma cuplik sana cuplik sini, copy paste link, share di akun facebooknya, twitter, path dan juga sosmed lainnya. Seharusnya pemilu ini kan mencari pemimpin Indonesia, itulah esensi sejati pemilu. tapi banyak yang lupa soal itu sepertinya. Mereka terlalu meresapi tapi jadi larut didalamnya Sebagai pertimbangan lain saya mohon ijin menyertakan 2 artikel saya yang kurang lebih “bernada” sama seperti tulisan anda.

    Meresapi Tapi Tak Larut Didalamnya
    http://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2014/06/06/meresapi-tapi-tak-larut-didalamnya/

    Jika Tak Ada Yang Pantas, Lalu Siapa
    http://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2014/05/21/jika-tak-ada-yang-pantas-lalu-siapa/

    Terimakasih.

  168. waduh saya sudah cape membaca kampanye2 hitam atas nama blog dan forum dkknya, pilihan cm ada 2, A ato B. dua2nya ga sempurna, dua2nya punya pendukung fanatik, ente jengah dgn pendukung no 2, saya sebaliknya.

    saya percaya, seorang bekas pembunuh yg belum pernah bertangggungjawab atas kerusuhan 98, ga akan pernah saya pilih sbg seorang yg nantinya menjadi pemimpin saya. simple as that. banyak org mati taon 98 tanpa penjelasan apapun dr pemerintah bahkan seakan2 masih ditutupi2, tp sampe skrg udah 2014 masih belum pernah terungkap, Buat saya sih ga akan pernah deh namanya “basi”, krn nyawa manusia yg ilang taon 98 itu masih tetap diingat oleh keluarga kawan dan negara, jd klo banyak yg bilang kasus HAM prabowo itu udah basi, coba deh liat keluarga ente yg udah meninggal, apa dlm 16 taon keluarga ente menganggap almahumah itu udah “basi”? skrg sih byk org koar2 “basi, udah lewat” yah krn org2 itu ga pernah merasakannya, saya sih lahir jauh sblm kerusuhan terjadi dan saya merasakan sekali rasanya kerusuhan itu dan ga akan pernah saya lupakan.

    Lalu ttg dokument 98 ttg pemecatan dia yg disebar2kan, knp anda yg harus malu, emangnya anda di dalam surat itu ya?? Heran sih, knp banyak skali org indo yg terlalu tinggi “pride”, pdhl ga ada sangkut pautnya sama sekali. Klo saya pembunuh, silahkan ekpos saya, hukum saya, dan pandang saya sebelah mata yah krn emang pantas. Begitu pula dgn prabowo, Dgn di ekspos ya smua berharap kalau si pembunuh itu malu dan bakal berubah sikap untuk menjadi yg lebih baik ya. itu namanya proses pembelajaran diri. Common sense, ya?

    dan yg terakhir, tolong dong klo mau membela pilihan sodara, apa sih yg bisa dibanggakan sepanjang hidup dia? apa sih pencapaiannya selama ini selain dikenal sbg penjahat HAM 98? kelihatannya byk sekali kampanye hitam jokowi yg bilang beliau “serakah”, tp coba deh dilihat prabowo yg udah nafsu sekali mau memimpin dr 2009 sampai skrg, berapa banyak uang yg dikeluarkan untuk kampanye yg pdhl bisa dipakai buat ngegaji karyawan di pabrik kertas milik dia, mana sih yg “serakah”?

    fyi : tulisan anda ini termasuk kampanye hitam dr kubu prabowo, cuma berbeda cara pengemasannya aja lah 😉
    jgn maling teriak maling lah. coba lah menulis dr sisi positif jgn dr sisi negatifnya melulu…

      • Loh lalu klo saya nabrak org “ga sengaja” trus udah gitu aja?

        Yah intinya sih smua org bs liat ini salah satu kampanye hitam dr no.1 lah.
        Klo mau positif jgn jelek2in kubu lain dong disini. Tulisan anda ga lebih baik drpd para pendukung jokowi yg ente blg fanatik… maling teriak maling

      • Karena saya merasa, sebanyak apa pun alasan yang saya kemukakan, saya tidak akan bisa merubah penilaian Anda terhadap saya. Ya, jadi saya cuma bisa menanggapi singkat saja. Tapi terima kasih sudah mau mampir di blog ini. 🙂

    • maaf nih mas sebelumnya… setau saya khasus yg terjadi d thn 98 itu terutama di dki di dalangi oleh polri. bkn kopasus atau bawahan prabowo. tp sekali lagi silahkan di cek kebenarannya.

  169. Berkaca dari pilpres-pilpres sebelumnya pasca Orba, segala hingar bingar saling menjatuhkan ini akan segera berlalu. Selanjutnya adalah saling menyanjung, saling memuji, dengan harapan, bagi yang kalah dapat ikut menumpang gerbong si pemenang sedang bagi yang menang dapat berkuasa dengan kerjasama atau paling tidak minimal gangguan dari pihak yang kalah. Tinggal kita, rakyat Indonesia yang harus menerima konsekuensinya paling tidak selama 5 tahun.

    Oleh karena itu, tak perlu dihiraukan segala hingar bingar itu, sadari pula bahwa siapapun presidennya, ia tak berkuasa penuh. Harus dicermati macam apa rangkaian gerbong sarat muatan dan penumpang yang dibawa ke dalam pemerintahan masing-masing capres. Karena itu yang menentukan kemana arah perubahan yang sejati dan bukan sekedar visi, misi dan jani-janji. Pertimbangan inilah, menurut saya yang harus nomor satu. Soal siapa presidennya, itu nomor dua.

  170. Mas, semua pendukung seperti itu deh. Pendukung Prabowo malah lebih serem. Pakai fitnah2 serta posting status di Medsos, isinya mengulang2 fitnahannya. Kalo ditanyain baik2 apa prestasi Prabowo, cm bisa copas lagi black campaign buat Jokowi ( china lah, kafir lah dll). Jujur saja, gara2 bosen baca comment2 pendukung fanatiknya Prabowo, sekarang saya memutuskan untuk lebih berani posting dukungan Jokowi di wall FB saya. Maaf, ini bukan mau memojokkkan Mas, ini cuma curhatan saya.

  171. Saksikanlah jika Jokowi jadi presiden:
    1. Keta Umum PDIP pada akhirnya diambil alih Jokowi
    2. Terjadi regenerasi di tubuh PDIP, keluarga atau trah Bung Karno tidak lagi mendominasi.
    3. Jokowi akan membesarkan PDIP yang selama ini tergantung pada konstituen loyalis soekarno/marhaen.
    4. PDIP meninggalkan ideologi Marhaenisme/ Soekarnoisme diganti dengan Kapitalis Liberal Sekuler.
    5. Pribumi khususnya mayoritas umat Islam akan bergejolak ketika Jokowi terbukti boneka mafia, China Connection, Arkansas Connection, koruptor BLBI, NKRI bisa pecah.
    6. Mayoritas konglomerat China, Majikan Jokowi utamanya konglo2 hitam, koruptor BLBI, perampok kekayaan dan SDA RI, bersatu padu meraih kesempatan emas berkuasa dan berdaulat di RI.

  172. artikel yang baik, kritik boleh saja, semua orang punya opini.. sekedar saran, kalau saya hanya melihat figur dan ngga peduli dengan apa kata orang.. figur yang jujur, bersih, sederhana, melayani rakyat dan pekerja keras. karena dari sikap dan karakter orang demikian biasanya lebih banyak mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadinya.. hal terpenting adalah adanya penghargaan dari negara lain terhadap bukti nyata yang sudah dikerjakan.. pilihan saya hanya Jokowi yang tetap saat ini membuat perubahan di Indonesia.. demikian mas Arie..

  173. sama gan… ane jg lama2 malah risih dengan pencitraan yang cenderung seperti pemaksaan produk dalam iklan televisi. padahal dulu ane orang yg fanatik sama Jokowi sewaktu masih konsisten jadi Gubernur Jakarta

  174. Kampanye negatif dilawan dgn kampanye negatif macam ini. Tulisan anda ga lebih baik drpd para pensukung jokowi yg anda sebut “fanatik”… ngaca loh mas. Klo tulisan ini bener mau mengangkat prabowo secara positif, anda ga akan pake nyindir2 lawan la… maling teriak maling sgt cocok dgn tulisan ini. Contoh aja, anda seharusny menulis prestasi2 prabowo selama dia.hidup, tulisan anda sgt personal dan sgt negatif buat kubu lawan…

    • Mmmmh… saya tidak akan menulis prestasi Prabowo karena saya bukan pendukung Prabowo.

      Apabila saya mengritik Jokowi, mengritik kelakuan pendukung fanatik Jokowi, apakah itu otomatis membuat saya sebagai pendukung Prabowo?

      • Aneh bukannya ada jelas2 tertulis ya di atas dukung prabowo, yah boleh lah dikemas seakan2 bukan tp saya capek debat bahasa indonesia yg baik benar.. intiny yg ditangkap kan begitu…

        anway saya sih sedih ya klo lihat org2 pindah pilihan krn cuma alasan dangkal sedangkal ketek, krn kelakuan fansya jokowi ato oun prabowo.. lah emgnya fans nya ini yg akan dr presiden? Mungkin org2 yg ky gini lah ga pantas ikut pemilu, mending diam aja dirumah drpd ikut menghancurkan indonesia…

    • Betul kata Mas Arie mas… kita di sini tidak sedang black campaign. tapi sebuah keluhan betapa masyarakat itu sudah muak dipaksakan untuk membenci kelompok lain dan di sisi lain kita jg harus mendewakan kubu yg satunya. makanan jg klo hanya sekali2 akan terasa enak, tapi kalo tiap waktu disuguhkan hal2 yang sama malah berbalik mual dan tidak suka. kalo blac campaign tuh yg kaya begini:

      • Black campaign itu intinya menjelek2an idola, lawan, siapa pun lah dgn alasan ato gosio ato komentar yg bersifat subjektif, belum tentu benar, dan ga jelas sumbernya… klo saya blg k tmn2 klo muka anda jelek itu udah termasuk black campaign loh.. bukan brati black campaign itu harus yg anarkis dan kasar. Tulisan yg terlihat halus dan dibalut kata2 manis klo isinya ga bener jg udh black campaign boss..

  175. nice artikel mas. ikut komentar ah 🙂
    jujur udah males ngikutin berita pemilu. tiap buka artikel berita, bagian komentar isinya kok serang serangan antar dua kubu. twitter facebook enggak luput dari negative / black campaign terus. kubu A nyerang pake kata HAM sama Mei 1998, kubu B nyerang pake kata pencitraan sama boneka. lol. Toh salah satu dari mereka (yang sekarang mereka caci maki) jadi pemimpin negara.
    tapi bersyukur juga temen & keluarga gw termasuk ‘pendukung yang santun’.
    dan lebih bersyukurnya pemilunya bulan Juli, gw dapet ktp bulan agustus, jadi ga perlu masuk kubu kemudian ikut serang-serangan. haha 😀

  176. gw sebenrnya ARB hater, jangan sampe kubu ARB (prabowo) menang karena ituah gw mau pilih jokowi tapi kelakuan fenboy jokowi yg mendewakan tokoh membuat gw berpikir ulang. kayaknya sih gw bakal golput aja.
    tapi gw setuju sama pemikiran lu kalau fenboy jokowi telah menjadi kelompok fasisme baru yg terindikasi dari antikritik.
    tapi ketara banget sih kelas menengah ngehenya fenboy jokowi macam anak “dem ay laf endonesah”. mudah2an nanti pas jokowi cabut subsidi BBM tuh kelompok kelas menengah ngehe tetep “dem ay laf jokowi”.
    eniwey, Habib Rizieq (FPI) setahu gw gak pro salah kedua capres. tapi yg jelas FPI itu dekat dengan WIRANTO :D:D

  177. #BukanKampanye# Jokowi adalah muslim, terlepas dari kadar keislaman dan pemahamannya terhadap Islam, dia punya kelebihan. Kelebihannya sudah sering diumbar oleh para pendukungnya di berbagai media. Semoga Allah Ta’ala memberikannya balasan yang setimpal. Prabowo juga seorang muslim, terlepas dari kadar keislaman dan pemahamannya terhadap Islam, dia juga punya kelebihan. Kelebihannya pun juga sering diberitakan para pendukungnya di berbagi media. Semoga Allah Ta’ala memberikannya balasan yang setimpal. Janganlah kelebihan kedua orang ini membuat masing-masing pendukung buta mata, mati akal, dan kerasnya hati, sampai membela keduanya secara membabi buta dan serampangan, hingga mendudukannya sekelas nabi. Jokowi adalah seorang manusia, maka dia punya banyak kekurangan dan kesalahan. Sebagaimana kekurangannya itu disebarkan oleh lawan-lawannya juga melalui berbagai media. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya atas kekurangan dan kesalahannya itu, dan mau menerima taubatnya jika dia bertaubat, karena ampunan-Nya begitu luas. Prabowo juga seorang manusia, maka dia punya banyak kekurangan dan kesalahan. Sebagaimana kekurangannya itu juga disebarkan oleh lawan-lawannya melalui berbagai media. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya juga, dan mau menerima taubatnya jika dia bertaubat, karena ampunan-Nya begitu luas. Janganlah kekurangan dan kesalahan kedua orang ini membuat lahirnya mata kebencian dari pendukung masing-masing, lalu olok-olok, caci maki, serapah, dan fitnah, sampai mereka menjadikan lawannya sekelas setan. Pujilah yang perlu dipuji, dan kultus bukanlah pujian… Kritiklah yang perlu dikritik, dan fitnah bukanlah kritikan… Pilihlah salah satu di antara mereka berdua, bukan karena benci dan cinta buta kepada pribadi, tapi karena ingin membangun negeri Indonesia, bumi Allah, bumi kaum muslimin…  Kita harus memilih salah satunya, karena tidak mungkin memilih keduanya sekaligus, tidak mungkin pula membiarkan keduanya sekaligus… Ketika kita memilih A, bukan karena membenci dan memusuhi B, bukan pula karena B tidak cakap dan tidak mampu…. Ketika kita tidak memilih B, bukan karena A lebih jago, cakap dan mampu dibanding B. Karena selama keduanya masih “Capres” maka keduanya sama-sama belum teruji kemampuannya sebagai Presiden. Namanya juga calon, belum ngapa-ngapain, baru rencana dan impian. Ketahuilah, cinta secara ekstrem itu buruk, dan benci secara ekstrem juga zhalim. Posisikanlah kedua Capres ini sebagai manusia biasa. Bukan malaikat, nabi, apalagi Rabb semesta alam. Tapi jangan pula posisikan mereka seperti setan yang jahat. Bagi seorang muslim, al- Quran dan as- Sunnah adalah panduan, kapan pun dan di mana pun, dan dalam hal apa pun. Keduanya adalah pegangan hidup yang telah bergaransi anti sesat dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pilihlah Capres yang lebih kecil keburukannya, ketika kita tahu semuanya memiliki keburukan. Sesuai kaidah irtikab akhafu dhararain (menjalankan kerusakan yang lebih ringan di antara dua kerusakan). Pilihlah Capres yang lebih berpihak dan mengajak kepada shirathal mustaqim, Islam, dan al-Quran, yang semakin membuat kita dekat dengan Allah Ta’ala, bukan justru semakin jauh dari Allah Ta’ala dan agama, hura-hura dan maksiat, ketika kita mengetahui bahwa kedua Capres ini pasti memiliki goal setting dalam hidup mereka. Sesuai firman-Nya, “Inna Haadzal Quran Yahdi Lillati Hiya Aqwam,” (Sesungguhnya al-Quran memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus). Pilihlah Capres yang lebih dicintai ulama dan dekat dengannya, mereka pun juga mencintai ulama dan menjadikan ulama sebagai tempat bertanya. Bukan hanya ketika kampanye saja, bukan pula sowan kepada musuh-musuh agama, ketika kita tahu bahwa ulama lebih paham tentang standar baik dan buruk, benar dan salah, dibanding orang kebanyakan. Sesuai firman-Nya, “Fas’aluu Ahlaz Zikri Inkuntum Laa Ta’amun,” (Bertanyalah kepada ulama jika kalian tidak mengetahui). Juga sabda nabi, “Al-mar’u ‘Alad Diini Khaliilih,” (Keadaan agama seseorang tergantung siapa kekasihnya). Pilihlah Capres yang di sekelilingnya berkumpul ahlul khair (pelaku kebaikan), bukan ahlul ma’shiyah (pelaku maksiat), ahlut thaa’ah (taat) bukan ahlul hawa (penyembah hawa nafsu). Sesuai sabda nabi, “Al Arwaahu Junuudun Mujannadah,” (Sesungguhnya jiwa-jiwa itu akan berkomunitas dengan orang yang setipe dengannya). Pilihlah Ccapres yang track record-nya jujur bukan pendusta. Karena nabi bersabda, “‘Alaikum Bish Shidqi Inna Shidqa Yahdi Ilal Birr Wal Birru Yahdi Ilal Jannah,” (Hendaknya kamu jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga). Pilihlah Capres yang track record-nya bukan pendusta, karena berdusta adalah penyakit jiwa yang sulit sembuhnya. Ketika sudah terbiasa berdusta, maka korbannya bukan lagi satu manusia tapi satu negeri. Karena nabi bersabda, “Wa Iyyakum Wal Kadzib, Innal Kadziba Yahdi Ilal Fujuur Wal Fujuur Yahdi Ilan Naar,” (Takutlah kamu terhadap dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka). Pilihlah Capres yang mampu menjaga amanah bukan mengkhianatinya. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Yaa Ayyuhalladzina Amanuu Awfuu Bil ‘Uquud,” (Wahai orang-orang beriman penuhilah janji-janji kalian). Firman-Nya juga, “Laa Takhuunullah wa Rasuul wa Takhuunuu Amanaatikum wa Antum Ta’lamun,” (Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan mengkhianati amanah yang ada pada kalian dan kalian sendiri tahu hal itu). Pilihlah Capres yang mampu bekerja secara genuine bukan dibesar-besarkan, dan puja puji oleh media semata, sebab kita memilih Presiden bukan aktor sandiwara. Pilihlah capres yang kuat dan pemberani, itu modal untuk keselamatan negaramu dari serangan asing, dan modal perlindungan untuk rakyatnya. Selamat memilih!! Semoga Allah Ta’ala memberkahi. oleh : Ust. Farid Numan

    Repost

  178. Kedua kubu ni sebenernya sama-sama fanatik, yang satu mendiskreditkan yang kedua, yang kedua banyak Curiga sama motif ambisi Dari yang nomer satu. intinya ingin kebaruan dengan Alasan berbagai Hal dan pertimbangan tentunya. Tergantung cara pandangnya masing-masing. Baru kali ini juga di Indonesia suhu pemilu nya dahsyat, bener-bener mencairkan hati ini untuk tidak golput hhaha God Bless Indonesia !

  179. Saya rasa tulisan ini objektif mengenai dua kubu FANATIK Capres dan Cawapres 2014. Saya tidak suka melihat atau membaca yang menjelek-jelekkan atau bahkan mungkin memfitnah si A atau si B. Apakah moral rakyat Indonesia ini sudah sangat bobroknya sehingga “HANYA” mendukung si A atau si B kehilangan kejernihan berpikir, rasa saling menghormati, tenggang rasa, ilmu agamanya??. “HANYA” mendukung si A atau si B banyak rakyat Indonesia jatuh ke dalam jurang “FITNAH” dan “KEBENCIAN”. Saya lebih respect kepada manusia-manusia yang mencoba mengambil simpati rakyat dengan sesuatu yang positif dan sesuai jalurnya. Menurut saya, si A atau si B yang mereka perjuangkan sama-sama memiliki ide yang baik untuk menggapai cita-cita NKRI ini, namun alangkah sedihnya bila hal ini “dibumbui” dengan yang kurang baik. Kita melaksanakan Pemilu ini adalah untuk mendapatkan seorang Nahkoda dengan Kapal yang bernama “INDONESIA” yang إن شاء الله akan mampu mengarungi lautan luas hingga sampai di suatu daratan yang kita sebut “cita-cita”. Bagi saya siapa pun pemenang pemilu ini adalah manusia yang diberikan mandat oleh rakyat untuk memimpin NKRI. Jadi alangkah baiknya tidak menjelek-jelekkan si A atau si B karena diantara mereka itulah yang akan menjadi pemimpin NKRI ini. Saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah atau menyinggung perasaan pembaca.
    Salam damai karena damai itu indah

  180. sebenernya tingkat “kemilitanan” itu berlaku untuk kedua kubu. Sejujurnya gw awalnya menyembunyikan pilihan gw…namun karena udah tidak tahan ama gelombang black campaign fitnah yang disebar oleh kelompok yg ngakunya Islam yg sangat keji akhirnya lama kelamaan gw kepaksa melayani mereka…dan akhirnya makin militan gw……jd emang dunia ini banyak sebab akibatnya, intinya makin ada militansi akan makin berkembang biak itu…akhirnya terpecah dua lah negri. Gw berusaha menjaga diri dari black campaign berusaha defensif, namun itu memang tidak mudah, its a losing battle

  181. Saya melihat peristiwa2 di indonesia mulai dari g30s, peristiwa lampung, timtim, 1998, dst dan saya setuju dg anda banyak yg menyimpang kan isue sesuai sekehendak hatinya, penyimpangan isue ini tdk terlepas dari persaingan 2 kelompok jendral2 tua dg jendral2 yg lebih muda ( Sby bermain 2 kaki).
    Dari sisi Jokowi : saya tdk respect n tdk percaya dg hendro dan muchdi, wiranto jendral yg berpolitik, agum saya lihat dari dia komandan korem sangat suka bola tapi ternyata gak sukses juga mengelola PSSI.
    Dari sisi Prabowo : yang merapat di luar bekas org dekat nya spt kivlan zein, suryo prabowo yg lain adlah jendral2 yg leading pasca 1998, saya lihat jendral yg cendrung bersih spt djoko santoso dll.
    Kalau menurut saya jendral2 tua ini hrs legowo dg system demokrasi ini, mrk hrs lupakan paradigma lama nya, kalau mau aktualisasi diri jgn mengganggu dan menghasut dua capres- cawapres ini. Persaingan masa lalu jgn di bawa kesini. Kekisruhan2 pasca reformasi tdk terlepas peran SBY yg tdk tegas dan cendrung meng akomodir semua pihak atau berkompromi, terakhir semua pihak juga menyerang dia.
    Jadi untuk memilih dari dua calon capres ini di samping visi misi, juga perlu di lihat siapa di belakang nya.
    Karena banyak nya masalah di bangsa indonesia butuh pemimpin yg berkarakter, cerdas dan punya akses ke dunia internasional.

  182. Salut buat mas Arie… tetap cool mas yah … saya ga baca semua reply yang ada diatas cuma mas arie ini saya anggap tetap konsisten cool … salam semoga mas arie memang orang baik … dan tetap menjadi baik …. salam

  183. suatu hal yang juga terjadi pada saya,, hehe…
    dulu saya pendukung jokowi, tapi di fb fansboy jokowi yang lain kok selalu membalas dengan berlebihan ketika di kritik, akhirnya saya malah mencari info kedua capres… betapa banyak kesaksian dan berita tentang kedua capres, baik dan buruk… dengan berbagai pertimbangan saya akhirnya bertekad memilih pak prabowo pada pilpres nanti… bukan karena saya benci jokowi-jk, atau pada fansboy nya, tapi karena visi misi pak prabowo lebih masuk akal di pikiran saya dan warisan yang akan ditinggalkan jokowi pada jakarta… pada akhirnya siapapun yang akan menjadi presiden terpilih hendaknya kita sebagai rakyat memberikan dukungan dan suport, jangan mencaci atau memprotesnya..berikan waktu agar mereka bisa memberikan yang terbaik buat kita semua.

  184. Setelah membaca ratusan komen di sini, semakin menguatkan isi tulisan Anda benar, dan apa boleh buat semakin menguatkan saya memilih Prabowo.

  185. saya juga melihat artikel ini ada ajakan halus untuk meninggalkan Jokowi dan memilih Prabowo. Pengalaman orang mungkin lain-lain. Kalau pengalaman saya, justru pendukung Prabowo yang sukanya main hujat. Itu terjadi di goup FB, dan wall. Teman-teman yang jadi pendukung Jokowi rata-2 rasional, mendukung karena melihat Jokowi lebih bisa diharapkan. Tentu ada pendukung Jokowi yang ngawur, dan pengalaman saya tak banyak pendukung Prabowo yang bisa santun, apalagi diskusi sehat. Tapi, ya pengalaman lain-lain. Semoga artikel ini memang wujud dukungan pada Jokowi, bukan cara halus untuk menjelekkan Jokowi.

  186. widiiiih…. seru nich… ikut nimbrung ya…
    maaf nich sebelumnya… yg aq denger ttg gosip sara yg menyerang jokowi itu tim suksesnya sendiri… seperti halnya ttg babinsa. tp untuk lbh lanjut monggoooo di selidiki sendiri…

    jujur aja secara terang2an saya pilih pak prabowo. selain dr sikap, ketegasan & intelektual yg ada pd dirinya saya muslim dan saya g mau nantinya mesjid2 yg ada d jkt makin habis krn d gusur. tetangga saya seorg bendahara di salah satu pemda dki. yg mana apabila ada pengajuan IMB itu melalui birokrasinya beliau. dan tahun ini sdh byk yg mengajukan Ijin membangun gereja d dki. bkn saya tdk mengizinkan. hanya saja yg jd pertanyaan lahan mana lg d dki yg akan di gunakan untuk membangun gereja tersebut…

    dan kalau ada yg blg pak prabowo itu kinerjanya blm ada… kata siapa??? dya ada kok. hanya saja tdk pernah d ekspos ke media.

    ada yg bilang jokowi adalah presiden boneka… kl saya lihat itu dari kata2 bu mega sendiri. beliau yg bilang kalaupun bapak menjadi presiden, bapak tetap menjadi petugas partai. setahu saya seorang petugas partai itu mengikuti apaa yg di katakan oleh atasannya. jd saya berfikir apa kah nantinya bila pak jokowi jd presiden beliau akan terus bertindak sesuai arahan dr pemimpin partainya??? kalau iya sama saja donk yg jd presiden itu bu mega dan jokowi itu hanya raganya saja…

    kalau ttg FPI saya punya bukunya tuch mas yg d tulis langsung oleh habib riziq sihab selama beliau dalam tahanan… kl ada waktu nanti dech sy bahas jg di forum ini ttg asal mula pembentukan FPI.

  187. Setelah saya lelah membaca semuanya,,, dari awal comment sampai reply anda yg d atas,,,
    Kesimpulannya anda semua pintaaaar pintar,,, sy salut,, semoga kita mendapat yg terbaik siapapun yg terpilih mari kita dukung, jgn saling mencari kesalahan dikemudian hari,,, para pendukung juga memiliki ambisi,,, sama seperti kita menanyakan siapa yang terbaik messi atau cristiano ronaldo,,, pasti semua ada haternya,,, semakin anda baca dan ikuti semakin anda sakit hati,,, lihat sekeliling anda keluarga anda dan laksanakan tanggung jawab utk memenuhi kebutuhannya,, simpel saja disaat kita ngotot sampai adu jotos hanya demi memilih salah satu,, saya bertanya dimana presiden anda pada saat anda kelaparan, kesakitan, mereka tida ada,,, orang terdekatlah yg akan membantu anda,,, jaga silaturahim,,, perbaiki sikap kita dan hargai pendapat yg berbeda,,,
    Trims. Salam damai buat anda semua,,, tetap spotif…

  188. “Ini bukan kali pertama seseorang menyampaikan hal seperti itu kepada saya. Beberapa orang pernah menyampaikan hal yang sama. Warga negara Indonesia dewasa dengan latar belakang pendidikan tinggi serta pekerjaan mapan dengan alasan kuat atas pendapatnya. Inti ucapan mereka sama, mereka adalah pendukung Jokowi yang terdorong untuk memilih Prabowo akibat kesal pada kelakuan fans garis keras Jokowi.”. Orang yg berpendidikan saja mengubah pilihan hanya karna kesal, bukan karena alasan yang rasional…. terbukti kalau org indonesia itu lebih mengutamakan emosi dari pada otak… *sekedar pendapat”

    • saya setuju dengan pendapat ini. orang berpendidikan pun bisa dengan mudah memalingkan dukungan hanya karena kesal. Seharusnya berpikir objektif adalah hal yang diutamakan. Bukan karena emosi semata, atau pilihan tersebut menjadi pilihan mayoritas dari orang-orang sekitar kita. Atau kadang saya suka berpikir apakah orang-orang yang memalingkan dukungan karena kesal adalah orang-orang yang ingin mengucilkan pendukung fanatik tersebut di kemudian hari. hahaha ini cuma pemikiran pendek. jangan dihiraukan 🙂

  189. Artikel yang bagus Mas Arie. Saya belum pro ke salah satu pasangan. Masih menimbang2 soal itu. Tapi saya mau kasih masukan sedikit saja. Kalau masalah fanatik, menurut saya itu resiko dari demokrasi, setiap orang bebas mengeluarkan pendapat. Dan ga cuman mas yang kesel, banyak kok yang kesel sama pedukung fanatik dari kedua kubu (termasuk saya sendiri). Tapi kampanye ini kan hanya sementara. Jangan sampai kesal sementara, kedepan 5 tahun tersiksa. Pilihlah capres yang memang menurut anda bisa memimpin Indonesia kearah postif untuk 5 tahun kedepan. Siapapun yang terpilih, semoga bisa memajukan Indonesia. 🙂

  190. (Tolong dibaca ketika anda2 sudah bisa berpikir jernih..jangan dibaca kalo anda masih merasa defensif untuk membela KEEGOISAN anda, bukan capres anda :P)

    Post ini kan pendapat pribadi penulis tentang fenomena pendukung pak jokowi, walau udah ditulis bahwa beliau tidak mendukung prabowo…
    LANGSUNG KELIHATAN kan tingkah para pendukung fanatik kedua kubu tersebut???
    kalau anda2 merasa tulisan penulis tidak benar JANGAN bertingkah yang seperti dikritik oleh penulis lah(hmph…). Dukung capres anda dengan cara yang pintar, caranya? JANGAN langsung menjudge pendapat orang sebagai sesuatu bentuk penghinaan/perlawanan thd capres dukungan anda…itu menunjukkan anda sebagai pendukung yang berotak kecil….
    Pendukung yang percaya atas kemampuan dan kebersihan capresnya pasti tidak perlu khawatir dengan dengan sindiran dan kritikan seorang warga Indonesia yang punya hak untuk berpendapat kan?

    Saya bukan pendukung jokowi atau prabowo,tidak terang2an mendukung salah satu capres, tidak tertarik dengan cara black campaign dari pendukung2 mereka yang berotak kerdil….

    ps: kalo anda2 bahkan masih tersinggung dengan komen saya….duh…. mau dibawa kemana negara ini?
    sekian 🙂

  191. satu hal yang saya perlu konfirmasi dari artikikel anda, kenapa anda menggunakan kata “kalian” bukannya menggunakan kata “kita” ?

    “kalian” dalam konteks ini adalah para pendukung “fanatik” yang anda akui perlu di beri pencerahan atas kefanatikan mereka, dan anda mengaku anda bagian dari para “kalian” ini yang tidak bersifat “fanatis”, bukan begitu?

    saya mengerti anda bertujuan untuk “menasehati” sebagai mana seorang senior yang mengerti perilaku baik seperti apa yang perlu di contoh para juniornya.

    tapi yang saya bingung atau mungkin sebagian pembaca yang lain kenapa anda menggunakan kata “kalian” dan tidak menggunakan kata “kita” untuk menggambarkan para “fanatik” yang anda akui berada di sisi yang sama dengan anda.

    dalam penggunaan kata “kalian” ini lebih mencerminkan anda di sisi yang berbeda dengan niatan “men-judge” ketimbang dengan tujuan untuk “manasehati”.

    dan hal itulah mungkin yang dirugakan sebagian pembaca bahwa anda bertujuan “menasehati”.

    tak heran ada beberapa pembaca yang merasa adanya tendensi tersulubung atau udang di balik batu dari artikel anda.

    terima kasih.

  192. Permisi kakak mau ikutan komen sedikit. Sebelumnya semua yang saya ungkapkan di sini cuma berdasarkan pemikiran dan pengalaman pribadi saya, maaf kalo ada pendapat saya yang kurang berkenan. Mengenai masalah pendukung fanatik jokowi sebenarnya bukan masalah baru, kelakuan mereka seperti yang anda jabarkan di atas sebenarnya sudah berlangsung saat kampanye pilakada DKI hingga saat ini di salah satu forum terbesar dunia maya buatan orang Indonesia. O iya sebenarnya dua kubu pendukung fanatis masing-masing capres lahir dari satu sumber yaitu pendukung jokowi-ahok. Dalam forum tersebut, jika ada satu orang saja menjelek-jelekkan jokowi-ahok, langsung mereka counter dengan membabi buta dan mereka tidak segan-segan membully orang yang menghina. Jadi menurut saya kedua kubu ini sama saja, hanya saja saat ini mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Saya sangat setuju bahwa oknum-oknum pendukung fanatis ini sudah keterlaluan dan cenderung kampungan. Justru oknum-oknum seperti mereka inilah yang menurut saya bisa memperburuk citra jokowi dan menyebabkan pemilih awam jadi berpaling seperti yang anda kemukakan di atas dan lagi oknum-oknum tersebut tidak ada bedanya dengan FPI yang mengaku membela islam tapi nyatanya malah merusak citra islam. Tapi apapun itu saya sudah yakin dan mantab untuk menjatuhkan pilihan saya pada nomor 2. Sekian dari saya dan terima kasih.

  193. Pendukung Fanatik Ke 2 Capres itu tidak semua jelek2,… Ada juga yang baik dan bijak, Semua tergantung tingkat pengetahuan dan emosi cara penyampaian masing2,…jadi kalau ada Pwndukung Ke 2 Capres yang merasa lebih baik seharusnya mengarahkan atau mengkoordinir Pendukung yang sama dengan dirinya demi kehormatan Prinsip Pilihan kita masing2,…bukan Plin Plan kayak ga punya prinsip Bagaimana pemimpin yang sesuai dan tepat menurut hati nurani kita,…..Salam 2 jari, Jangan Lupa Pilih JOKOWI..!!!

  194. Sama, saya juga muak dengan pendukung fanatik Jokowi. Di belakang Jokowi juga ada orang2 yang diragukan ketulusannya, juga ada beberapa orang masih tersandera kejadian masa lalu yang belum terjelaskan sampai sekarang. Tapi jangan karena ingin menghukum para fanatik itu lalu Anda memilih kubu yang bukan hanya banyak pendukungnya yang bermasalah, tapi malah pemimpinnya, calop presiden itu sendiri yang bermasalah.
    Mengapa saya memilih Jokowi, karena dia berjanji tidak mengadakan transaksi politik. Jadi semoga aja orang2 yang diragukan kebersihan dan ketulusannya seperti Wiranto, Hendro Priyono, Muhaimin Iskandar, nantinya jangan diberi jabatan apa2.
    Jangan lupa, pendukung Prabowo yang asli dari partai Gerindra (kecuali Ahok mungkin) juga tak kalah fanatiknya, dan juga tak kalah memuakkannya. Tapi bukan itu alasan saya memilih Jokowi. Jelas kan?
    Ada yang beranggapan bahwa Prabowo sedang menerapkan strategi perang yaitu: yang penting menang dulu, yang penting berkuasa dulu, bantuan apa pun diterima, walau dari orang2 yang dia tahu penjilat dan punya kepentingan pribadi. Janji apa pun dia berikan dulu, mau menteri utama, mau bagi2 kursi, dia iyakan aja dulu. Mau preman, mau aliran garis keras, mau koruptor, pengemplang pajak, dia terima menjadi koalisi. Soal nanti dia tak penuhi janji itu urusan belakang. Kalau sudah jadi presiden dia bisa menyingkirkan orang2 yang tak beres itu. Paling2 dapat hujatan tapi bisa apa mereka, karena rakyat toh senang dan mendukung kalau para pendukungnya yang bermasalah itu di-“khianati” oleh dia. Tanpa dukungan koalisi partai2 tersebut sudah pasti Prabowo akan kalah. Kalau sekarang, situasi bisa fifty-fifty.
    Walau saya juga ada pikiran positif seperti itu, tetapi tetap saya tidak setuju dan tidak akan memilih Prabowo, karena orang jujur akan mengutamakan proses, bukan hasil akhir yang penting menang. Karena walaupun Prabowo sudah menjadi presiden, bila suatu saat ia terdesak, ia akan kembali kepada tabiatnya mencapai tujuan maupun mempertahankan diri dengan menghalalkan segala cara.
    Soal kebangsaan kedua calon tidak diragukan idealismenya, tetapi soal karakter, sudah jelas bedanya. Kesimpulannya, kalau kedua calon sama bersihnya maka saya ingin golput saja, tapi kali ini terpaksa saya ikut mencoblos supaya masa depan bangsa tidak jatuh ke tangan orang2 yang (menurut saya) berbahaya.

  195. “Orang yang kau pilih waktu pemilu adalah dia yang dengan sirine polisi akan menyuruhmu minggir di jalan raya.” -Pidi Baiq-

  196. nice article…. sorry to say that you do vote not because the candidat…. tapi karena pendukungnya… it’s not objective and unfair soundly … tidak mendukung Prabowo katanya, tapi di paragraf awal disebut kalau beralih dari jokowi ke parabowo…

  197. bebas aja sih.stiap org punya alasan untuk dukung dan tarik dukungan. hanya menurut saya adalah tidak fair kalau alasan saat kita mendukung pakai rasio dan pertimbangan yg matang tapi saat kita menarik dukungan hanya pakai emosi dan alasan yg tidak substansial. logikanya kalau saya pendukung berat BARCA dgn alasan yg ckup logis tp ternyata bbrp hari kmdian sy ketemu org yg sy tdk suka adl jg pendukung BARCA, mk sy skrg ganti mendukung MU…. lalu apakah JKW atao Prabowo hrs membatasi pendukungnya hrs bergaya spt Prabowo keras atao santun spt JKW..?

  198. Secara pribadi saya sangat kagum dan salut dengan ide dan strategi penulisan bapak, Bapak benar-benar tahu cara menulis dan mempengaruhi orang. Saya pikir saya musti banyak belajar, baca2 tulisan bapak agar bisa kebagian ilmu bapak.
    Hanya saja, saya agak kurang setuju dengan konten yang bapak tulis, karena sejauh yang saya lihat baik di media sosial maupun TV, semua hal yang bapak keluhkan tentang pendukung Jokowi juga buuuaaaaannnnnyyyyyaaak dilakukan oleh para pendukung prabowo. Jadi harusnya kalo mau ilfeel ya ke kedua-duanya.
    #just a thought.

  199. Suka banget dengan artikelnya mas Arie. Inspiratif buat saya yang swing voters.

    Terus terang saya tidak berminat dengan politik. Saya hanya ingin menyalurkan hak suara saya di Pemilu nanti.
    Kalau saya perhatikan dari jaman Pemilu dahulu sampai sekarang gaya simpatisan PDI-P lebih agresif, sementara Golkar lebih ‘santun’ dan manipulatif. Sampai sekarang masih terasa pertarungan antara Soekarno – Soeharto, atau PDI – Golkar mereka selalu berseberangan. Kemasan berbeda, rasanya bagi saya koq sama? Namun, kebebasan bersuara dan dari rasa takut sudah jauh lebih baik dari ketika Orba berkuasa. Saya belum lahir ketika jaman Orde Lama.

    Saya suka dengan Jokowi dan yakin kalau dia bisa merubah Jakarta menjadi lebih baik. Visi J yang akan mensejahterakan rakyat banyak terbukti. Saya takut memilih J karena orang2 jahat yang ada di belakangnya, mereka pelelang aset bangsa dan para jendral pelanggar HAM itu. Saya tidak menutup mata dengan adanya orang2 baik cendekia di belakang J, tetapi….apakah mereka berani dan kuat melawan penjahat? Saya belum yakin kesanggupan J dalam membangun keadilan dan kekuatan hukum.

    Saya tadinya berharap sekali dengan Prabowo, terlebih dia bisa membebaskan TKI dari hukuman mati di negara orang dan membangkitkan harga diri saya sebagai bangsa Indonesia. Sekarang saya takut memilih P karena ada penjahat koruptor di belakangnya. Saya tahu beberapa alim ulama mendukung P, tapi….apakah mereka berani dan kuat melawan penjahat? Saya belum yakin P akan memberantas korupsi.

    Sebagai swing voters pertimbangan saya jika memilih P adalah hak hidup dan harga diri, Jika memilih J adalah sejahtera. Bagaimana ya? Mau hidup miskin atau mati kaya…hahaha. Mau dua2nya ya hidup selamat dan sejahtera.

    Saya lihat perdebatan2 CaPres selanjutnya deh.

    Salam kenal dan terima kasih mas Arie..

  200. Semoga penulis tahu apa yg sudah dilakukan Prabowo dan pendukungnya, yg sebelum Pileg sudah memulai menyerang individu Jokowi dg merendahkan kinerjanya. Belum lagi soal iklan RIP, kampanye hitam dg tabloid picisan.

  201. knp sih kalian pd ribut2 masalah pilpres, emang klo capres pilihannya menang kalian akan menjadi menteri, anggota DPR atau lain sebagainya, kalau memang kalian pendukung salah satu capres, gausah diumbar2 lah, klo kta anak gaul mah “biasa aja keles” 🙂
    skrg mah kita berdoa aja, siapapun presiden yang terpilih nanti bisa mensejahterakan rakyatnya..

  202. Rie, gw setuju bahwa dalam mendukung capres jangan bersandar ke figur dan masuk ke jebakan pengidolaan – itu akan menjadi antitesis dari demokrasi sendiri yang adalah check and balance.

    Tapi ada beberapa hal yang gw mau klarifikasi:
    Pelanggaran HAM Prabowo – buat gw ini bukan hal kecil dan gw ga merasa ini hiperbola untuk gw menjadikan ini isu serius (gw ga ngefans segitunya sama jokowi tapi buat gw ini bener-bener menyinggung apalagi kasus ’98 belum terselesaikan).
    Gw ngerti ada beberapa hal seperti
    – dia disuruh atasan
    – dia dijadiin kambig hitam
    – wiranto dan hendropriyono aja dukung jokowi

    Tapi Prabowo akan jadi PRESIDEN. Gw naro standar yang lebih tinggi. Dia bahkan menolak datang ke HR Court untuk mengklarifikasi isu. Bahkan setelah keluar dari militer dia menolak untuk memberikan keadilan ke korban ’98 yang masih digantung sampai sekarang. This is sad dan I know this is not just Prabowo. But he decided to run as president!!! Rie, gw adalah bagian dari orang yang marah bahwa 16 tahun dan kita ga bisa meminta akuntabilitas dari siapapun atas pelanggaran HAM 98. Tapi apa hiperbola dan berlebihan kalo gw minta itu dari orang yang akan run as president?? That’s the least we can do.

    Jadi iya gw setuju bahwa kita harus lebih rasional dan punya penjelasan yang logis dalam mendukung kandidat dan tidak masuk ke pengidolaan buta. Tapi buat gw orang juga punya hak untuk:
    1. Mempunyai emosi dalam mendukung kandidatnya atau mempertanyakan kandidat lain
    2. Menyampaikan emosi tersebut sebagai bagian dari diskusi yang membuat demokrasi

    Iya penyampaian bisa selalu diperbaiki dan dipertajam. Tapi buat gw, gw seneng banget melihat tingkat partisipasi politik pemilu ini. When people are this involved, I’d like to think people care. Gw berharap orang-orang tidak menggunakan standar intelektualitas tertentu (cuma boleh ngomong kalo penjelasannya faktual), atau ayat agama (cuma boleh ngomong kalo ga menjelekkan yang lain), atau UU ITE anti black campaign untuk menekan partisipasi politik ini. Kebebasan berekspresi bersandar pada pemikiran, ekspresi yang buruk akan diimbangi dengan debat dan kritik publik yang lebih berkualitas, bukan dengan mengekang ekspresi tersebut (baik secara regulasi maupun moral).

    Having that said – I really like your writing 🙂 it’s an important message to elevate the level of political discourse.

  203. Sebaliknya, saya pendukung prabowo yg pindah ke jokowi, gara2 tdk tahan ngelihat pendukung fanatik nya prabowo. Black campaign mulu, tabloid Obor tuh, ketauan bgt dr namanya, prabow- obor

  204. Siapa yang terpilih, dialah presiden kita. jika tidak suka 1, juga tidak suka 2, mari kita golput rame-rame…

    Hidup Golput…. Hahahha…. 😀

  205. Diantara 2 capres saya pilih salah 1nya dan saya dukung ke 2nya siapapun yg kelak memimpin negeri ini… Doa saya semoga yg terbaik yg terpilih dan mungkin saja bukan pilihan saya atau sukur2 pilihan saya…

    Pada dasarnya kultur orang indonesia itu fanatik bila sudah mempercayai sesuatu entah itu agama, klub bola, sampe tokoh tertentu. Dalam hal ini capres pun saama saja. Bila ada yg buruk akan saingannya pasti sdh di blow up besar2an dgn tujuan membunuh karakter saingannya bila keburukan yg dia pilih diblow up pasti akan defends mati2an cari pembenaran. Sdh biasa buat saya yg seperti itu…
    Mengenai tulisan saudara, sebetulnya kedua kubu itu sama saja di wall fb saya justru yg masif adalah dr kubu prabowo drpd jkw. Tapi ya biar saja. Kalau teman dekat ya kadang saya usili saya panas2i sekalian haahaha…
    Cuma yg saya sedih itu mereka suka sekali saling hujat, saling fitnah untuk hal yg belum tentu kebenarannya. Mereka tanpa sadar menyebarkan bibit2 kebencian dan perpecahan. Disindir dgn status apapun mereka sdh ga peduli lagi. Karena fanatisme yg berlebihan tadi. Jadi menurut saya kedua kubu sama saja busuknya sebetulnya. Bukan pihak yg satu lebih busuk dr yg lain. Sama saja.
    Ga perlu saling serang. Mari kita doakan yg terbaik buat negeri ini. Jangan ada lagi perpecahan, kemarahan, kebencian antara saudara sebangsa meskipun pandangan politik ideologi atau pilihannya berbeda. Semua sama ingin indonesia yg lebih baik.
    Itu saja tanggapan saya, semoga bermanfaat…

  206. Saya setuju bahwa mengemukakan masalah HAM hanya untuk tujuan kampanye pilpres adalah hal yang kurang tepat tetapi saya tidak sependapat untuk pernyataan saudara tentang “retorika HAM… menyedihkan dan memalukan”. Saudara mungkin di jalanan pada waktu itu, sama seperti saya, bahkan jauh sebelum peristiwa itu saya selalu ikut demonstrasi menentang rezim soeharto. Tapi saya bukan korban bahkan belum pernah kena hantaman aparat. Ibu saya tidak perlu kamisan bertahun-tahun di depan istana negara. Atau dia dan anak2 saya tidak perlu ragu2 dan bertanya apakah anaknya adalah seorang pejuang atau pengacau negara seperti yang dikatakan Prabowo dalam debat capres yang lalu. Jadi selama masih ada korban (bukan pelaku maupun bukan korban) yang masih terus mencari kebenaran tentang hal tsb., pengungkapan pelanggaran HAM harus terus disuarakan.

  207. Masalah HAM selalu dikaitkan dengan prabowo dimasa pilpres ini, padahal banyak jg yang melanggar HAM ada dikubu Jokowi. Banyak orang bertanya kenapa prabowo nggak buka saja siapa yg dimaksud dg ‘atasan saya’ itu krn alasan skr sudah pensiun shg bisa tinggal sebutin saja. Kenapa harus prabowo yg dituntut padahal prabowo tidak merasa melakukan tindakan pelanggaran HAM itu.
    Skr publik sudah tahu dengan beredarnya surat pemecatan prabowo, kenapa tidak tuntut juga para jenderal dewan kehormatan itu atau siapa saja yg tidak terima perihal pelanggaran HAM prabowo untuk mempidanakan prabowo secara hukum.
    Justru skr saya berharap para pemerhati HAM, lembaga HAM, institusi HAM dan ham ham yg lain untuk bisa menindaklanjuti masalah pelanggaran HAM prabowo ini. Jadi bukan hanya bisa menuduh tapi langsung ada action spt gayanya jokowi yg suka action daripada debat/pidato.
    Semisal terbukti prabowo bersalah, berarti jokowi bisa jadi R1 tapi
    semisal tidak terbukti prabowo bersalah, apa yg akan anda lakukan?
    Lebih bikin penasaran lagi, bisakah terbongkar siapa pelaku penyebar surat rahasia pemecatan prabowo.

    Mengenai pengalaman kerja Jokowi atau Prabowo, keduanya sama sama belum ada pengalaman untuk pekerjaan sebagai Presiden RI.
    Pekerjaan walikota atau gubernur beda dengan seorang presiden.
    Pekerjaan militer jg beda dengan seorang presiden.

    Lihatlah dan pakailah logika akal sehat dan obyektif mengenai visi misi mereka berdua demi kemajuan bangsa indonesia yg kita cintai ini.

  208. MENURUT SAYA KEDUA KUBU CAPRES SAMA2 HARUS MENDIDIK PENDUKUNG ATAU SIMPATISTAN MEREKA BERPOLITIK YANG SANTUN,SEBELUM PILEG DAN PILPRES INI SAYA SECARA PRIBADI SEMPAT KAGUM DENGAN SOSOK JOKOWI TAPI SEMUA BERUBAH 360 DERAJAT,DIKARENAKAN KELAKUAN FANATISME MEMBABI BUTA MEREKA JADI BIKIN GAK RESPEK,SELAIN ITU FAKTA YANG SAYA JUMPAI DI DAERAH SAYA MEMANG TERJADI MONEY POLITIK SEORANG KADER PARTAI NASDEM MEBAGIKAN UANG 15 RB KE TUKANG2 OJEK 10 RB BUAT MRK 5 DISUMBANGKAN UNTUK PENGGALANGAN DANA JOKOWI-JK INI NYATA FAKTA YG BENAR2 TERJADI SAYA GAK MAU NGOMONG DAERAH LAIN DI INDONESIA SAYA HANYA BICARA DI DAERAH SAYA SAJA DAN TOLONG CATAT INI BUKAN FITNAH INI FAKTA,TANDA TANYA BESAR DALAM BENAK SAYA APAKAH INI YG NAMANYA REVOLUSI MENTAL..??? CATAT JUGA SAYA BUKAN ORG PARTAI ATAU FANATIK KE SALAH SATU CAPRES,SAYA JADI SINIS DENGAN JARGON JOKOWI >> JUJUR,MERAKYAT SEDERHANA TANDA???? BESAR,.DULU ERA 98-99 SAYA JG SEMPAT TURUN KEJALAN BANYAK SEKALI TEMAN2 SAYA YG DITANGKAPI DAN DIPUKULI BAHKAN ADA YG SAMPAI MASUK TIVI LAGI DIGEBUKIN POLISI SWKT MEMBELA KAUM PETANI DI DAERAH TAPOS BOGOR,BAHKAN SAYA JUGA PERNAH TERJUN IKUT SAMA MENDIRIKAN POSKO PEMILU DAMA THN 99 DI DEPAN TUGU KUJANG BOGOR,WAKTU ITU ADA SDR PIUS DATANG MEMBERIKAN SUPPORT KE TEMAN2 SEKADAR ILUSTRASI KE NETRALAN SAYA HEHE..SALAH SATU TEMAN SEPERJUANGAN 98-98 BAHKAN ADA YG EKSTREM BIAR AJA PRABOWO BERKUASA JADI TANGAN BESI SAYA NGAKAK SY BILANG NGERI KALI KEK BAJAK LAUT DONG SY BLG TRS SAY JG BLG SM DIA OGAH GW TURUN KE JALAN LAGI MALU SAMA ANAK ISTRI HAHAH,,JADI GAK USAHLAH KITA KOAR2 MEMBABI BUTA DUKUNG CAPRES PILIHAN KITA YG ADA HANYA PERMUSUHAN,APALAGI RAMADHAN MENJELANG.WASSALAM

  209. gila gw ngerasain itu pas demo sama yang namanya Pam Swakarsa, kebetulan waktu itu masih anak baru masuk kuliah jadi disuruh senior ada digarisan depan, asal tau aja pam swakarsa saat itu sangat ramai dan hampir semua bawa senjata tajam diacung-acungkan keatas dan ke arah mahasiswa waktu itu, Parahnya lagi antara mahasiswa dan pamswakarsa hanya dibatasi satu barisan polisi…..

  210. Ini yg terjadi pada saya. Padahal dulunya cenderung milih Jokowi,tp lama kelamaan jadi kurang sreg terutama melihat bagaimana usaha mereka menjatuhkan lawan sementara yg dijatuhkan terus menanggapinya dgn kepala dingin.. Lebih patut dicontoh.

  211. Sejujurnya saya pusing kalo soal politik begini. Saya tidak sedang menyetujui atau tidak menyetujui apakah jJokowi/Prabowo memang memiliki pendukung garis keras atau tidak dan saya juga tidak sedang berpihak mendukung salah 1 capres. Tapi sekarang begini, tulisan anda menyadarkan saya akan kehebatan seorang tokoh.

    Membaca tulisan anda, terlintas satu hal di benak. Betapa hebatnya seorang tokoh mendapat dukungan, yang dengan begitu2 saja (sebutlah jokowi yg menurut beberapa org hanya blusukan saja) tetapi dapat menarik banyak orang menjadi simpatisan bahkan pendukung garis kerasnya. Karena tulisan anda menyoroti Jokowi, maka komentar saya ini saya fokuskan juga pada Jokowi.

    Sungguh saya tidak banyak mengikuti berita kehebohan kampaye capres tahun ini, tapi sejauh yang saya lihat, baik dr tv, radio, internet, atau media apapun itu, yang tersorot dr mata saya hanyalah blusukan, kemdian saya jd terheran-heran sendri “orang yg hobi blusukan satu ini sungguh hebatnya punya pendukung garis keras”. Dengan kata lain saya ingin bilang bahwa ada yang menarik dari jokowi yang membuat banyak orang menyukainya, sampai-sampai muncullah pendukung garis keras., *sekali lagi saya tidak sedang berpihak pada jokowi loh ya, ini hanya karena tulisan di atas menyorot pada Jokowi*

  212. Terkadang ada kampanye hitam yang elegan.. ^_^
    tapi orang pintar akan dapat melihatnya..

    jokowi ga tegas ngomong aja njowo gitu, ga tegas kyk prabowo.. Seorang pemimpin itu harus tegas !! <– hasil omongan gw sama temen tadi ( pendukung prabowo )
    gw cuma bs bilang : kelakuannya, tegas-an mana ? jokowi berhasil memindahkan penduduk pinggir kali, digusur dengan ketegasan, lalu dibangunkan rumah dengan biaya sewa rendah ( tempat tinggal yang layak ), lah prabowo kelakuannya tegas? kalo tegas harusnya insiden 98 itu dapat terkontrol dengan tegas pula ^_^

    jangan menilai orang dari gaya nya, tapi tindakan nya..

    tanpa sok sok elegan gw blg "gw memang pendukung jokowi"
    tapi, gw liat dari sisi sisi perbandingan kelesuruhannya..

    gw berani bertaruh, orang pintar pasti bisa menilai perbandingan keduanya..

    No Offense.. TS elegan ^_^

  213. Ane sih nyantai aja. Kagak milih dua-duanya. Makin banyak yang saling menjelekkan, makin bingung orang-orang buat milih. Makin banyak yang golput.

  214. Tmn sy ad yg dlux timses Jkw-Ahok bs sy lhat dr fto dy yg brbju kotak” brsma Jkw. Tp mngkn dy brpkir ushax dlu memenangkan Jkw-Ahok sia” krn blm staun amanah itu gnap. Dan skrg dy mlh mndkung Pbw-Htt. Inkonsisten kh?tdk dy brpkir rasional 🙂

  215. Dear Mas Arie M. Prasetyo
    Postingannya keren, cukup mewakilkan apa yg saya rasa belakangan ini! Ga masalah netral apa engga karena anda bukan hakim yg siap menggetukkan palunya kepada pihak yang salah (hakim juga manusia, blm tentu adil). Saya juga tidak setuju dengan cara pendukung fanatik capres tertentu menyuarakan pilihannya, seakan capres rival seorang yg hina. Menurut saya daripada melemparkan kata-kata negatif yg akan menyakiti seseorang, lebih baik diam, diam itu emas. Siapapun pilihan anda, itu hak anda untuk memilih tanpa harus dicacimaki, itu yang namanya HAM.

  216. Tulisan yg menarik, enak dibaca pula.
    Semoga sang penulis mendapat keteguhan dan kesabaran utk menghadapi komentar para fans fanatik yg bertubi tubi.

  217. artikel yang sangat bagus sekali ^_^

    terkadang gw suka berpikir apakah kampanye seperti ini hanya terjadi di Indonesia saja?
    bagaimana keadaan kampanye di luar negri oleh beberapa pendukung calon pemilih?
    apakah saling serang dan menjatuhkan sama seperti kita?

    tiap buka jejaring sosial temen-temen gw pada ngepost tentang kedua calon itu melulu.
    kalo ngepost nya yang lucu-lucu sih oke lah ya. nah yang saling buka aib dan saling menjatuhkan ini lho yg bikin males. lu aja deh yang jadi presiden, rasain coba rasanya dibikin bahan guyonan ama rakyat. dikira mencalonkan diri jadi pemimpin itu gak berat tugas dan tanggung jawabnya? eh malah dibikin lucu-lucuan.

    menurut gw sih siapapun presidennya nanti yang terpilih, gak akan bakal sukses visi misinya kalau rakyatnya sendiri pun gak mau sadar diri dalam berbenah dan mendukung visi misi sang pemimpinnya tersebut.

    terkadang rakyat kita suka menuntut yang lebih dan menuntut yang enggak-enggak (menurut gw). gak ada puasnya, nuntuuuuuut mulu kerjaannya. ya cape lah pemimpin kita kalo digituin melulu.
    berharap jakarta bebas dari banjir, udah buang sampah belom pada tempatnya? *sodorin cermin*
    baru masalah banjir, belom macet, belom kumuh, belom MRT. maunya yg instant dan cepat (bikin indomie sono).

    yaaa sebagai TKI yang belom bisa menetapkan pilihan untuk tanggal 9 july nanti (itu juga kalo bisa dateng milih, dubesnya jauh masbro T_T), gw gak berharap banyak dari calon kedua presiden, gw selalu berharap dari rakyatnya aja deh. apapun kesalahan dan aib (mungkin) yang dipunya para pemimpin kita, jangan dijadikan senjata utama kalo beliau bikin kesalahan. however, seorang pemimpin tetap butuh dukungan dari rakyatnya agar kesejahteraan terlaksana.

    salam olahraga, 🙂

  218. Sedap sekali artikelnya, sangat membuka mata dan pikiran.
    Tapi isi artikel kurang seimbang atau emang artikel ini ditujukan hanya untuk jokowi fan boy.
    Untuk semua para pendukung garis keras, mau pendukung capres atau klub bola atau android dan apple, supaya untuk bisa berpikir terbuka dan menghindari segala macam sikap menyudutkan salah satu atau lebih pihak.
    Terima kasih 🙂

  219. Hanya sekedar sharing pendapat saja.

    Saya juga salah satu yang awalnya kagum dengan Jokowi. Saya merasa heran dengan pendukung-pendukung fanatiknya Jokowi yang menganggap Jokowi seperti seorang “Tuhan” yang tidak memiliki satu pun kekurangan. Selain itu mereka selalu menjelek-jelekan kandidat capres lain, yaitu Prabowo, di mana segala hal yang dilakukan Prabowo itu adalah suatu kesalahan oleh pendukung-pendukung fanatik Jokowi tersebut. Hal ini membuat saya semakin melihat bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia yang saya cintai yang memiliki moral rendah dan tidak berpendidikan, serta tidak dapat menghormati orang lain. Hinaan yang mereka lontarkan ke Prabowo justru membuat saya semakin mempelajari lebih detail mengenai Prabowo. Jujur saja saya sangat kagum dengan sosok Prabowo, beliau memiliki jiwa nasionalisme yang mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk bangsa Indonesia yang dia cintai. DIa adalah seorang Jendral yang langsung terjun ke lapangan, tidak seperti jendral-jendral pada umumnya yang hanya duduk manis di belakang meja menerima beres saja. Di mata saya Prabowo adalah sosok yang ingin selalu memberikan yang terbaik untuk bangsanya, tanpa memerlukan suatu jabatan di pemerintahan. Kita bisa melihat beberapa hal yang dia lakukan seperti dukungan terhadap atlit pencak silat dan berkuda, dukungan terhadap kaum tani, dan banyak lagi. Saya juga melihat Prabowo lebih dihormati dan lebih berwibawa oleh pemimpin-pemimpin negara lain, tidak seperti Jokowi yang terkesan “ndeso” dan memiliki kemampuan berbahasa Inggris tidak terlalu baik, yang justru hal ini membuat Jokowi menjadi bahan tertawaan. (silahkan lihat sendiri di Youtube).

    Beberapa hal yang saya sesalkan dari Jokowi yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jakarta, belum sampai setengahnya dari masa jabatannya, Jokowi justru mengingkari janjinya untuk mengurus Jakarta selama 5 tahun dan menerima “tawaran” partai untuk menjadi calon Presiden, dengan alasan itu adalah “tugas dari partai”. Apa jadinya nanti jika Jokowi memang menjadi Presiden Indonesia dan terus menerus mendapatkan tugas dari partai, berarti ini sama saja orang-orang partai tersebut yang mengendalikan Jokowi untuk bekerja karena alasan “tugas dari partai” tersebut. Menurut saya ini berbahaya karena nantinya keputusan-keputusan yang dibuat oleh Presiden justru atas dasar kepentingan partai tersebut. Bagi saya, seorang kandidat Presiden yang terbaik adalah yang mencalonkan diri atas dasar kecintaannya terhadap bangsa Indonesia dan ingin mensejahterakannya, bukan mencalonkan diri karena “tugas dari partai”.

    Dari beberapa pertimbangan tersebut, saya mantapkan untuk memilih Prabowo sebagai Presiden Indonesia.

  220. sebenarnya saya gak yakin klo mas arie dulu ingin memilih jokowi dan cuma masalah kelompok garis keras akhirnya berpindah memilih prabowo.. karena menurut saya :
    1. Di setiap kubu pasti punya kelompok garis keras (fanatis berlebihan).. klo di kubu prabowo apa gak lebih parah ya????
    2. Klo memang mendukung “jokowi” kenapa bukan dimulai dari diri kita sendiri saja yang membentuk “komunitas santun”
    3. Setiap warga di negeri ini bebas mengekspresikan pilihannya termasuk dalam pilpres (baik/buruk caranya)
    Perlu diketahui saja saya dan keluarga adalah salah satu Voter “PKS” yang notabene pendukung prabowo tapi untuk pilihan presiden absolutely kami Vote “JOKOWI”… banyak teman2 saya bertanya tentang pilihan kami yang beda dengan lingkungan kami tp jawaban kami hanya satu… “Hanya Allah saja yang tahu”

  221. Terima kasih mas Arie untuk tulisannya. Kalau membaca komentar dibawah, terutama komentar dari fanboys/girls fanatik 02, sesungguhnya telah menjadi bukti dari apa yang mas Arie tuliskan. ‘Menuduh’ anda berkampanye terselubung lah, kubu sebelah mulai dulu lah, dll dll :). Bukti bahwa mendukung babi buta tanpa peduli apapun.
    Dan saya kagum atas kesabaran Mas Arie untuk membalas satu persatu komentar-komentar negatif tersebut (walaupun saya tidak baca sampai akhir seluruh komentar, karena keburu mual sendiri dengan hipokritnya para pendukung – dan naga-naganya, setelah ini bakal ada tuduhan saya kampanye utk lapak sebelah).
    Dan untuk pendukung fanatik 02, berikut ada tulisan Rocky Gerung tentang hipokrasi, silakan dibaca. Ini gak berlaku untuk pendukung fanatik 02 saja, tapi juga berlaku untuk 01 kok, jangan khawatir!
    http://www.nefosnews.com/post/opini/hipokrasi

    PS: Mas Arie, saya lagi mulai belajar coding nih, siapa tahu bisa ikutan hackathon :D:D.

  222. kalau saya pribadi, saya mendukung prabowo menjadi capres, ya tentu saja dengan berbagai pertimbangan pribadi, rasa-rasanya “fan boy” dari kedua belah pihak berasa primadonaisme dan anti-primadonaisme cenderung “fasis” Tidak Primadonaisme dan tidak Anti primadonaisme, atau tidak mengidolakan dan tidak membenci bisa membuat kita berpikir jernih dan tidak terjebak dalam perangkap Primadonaisme atau Anti Primadonaisme. jelasnya memang kita harus berfikir jernih, siapapun nanti yang terpilih mereka adalah presiden dan wakil presiden untuk 5 tahun kedepan. jika salah dikritik tapi berbobot jika benar didukung!!

  223. artikel anda sangat cerdas, pendukung ke dua nya sama2 mirip infotaiment atau acara gosip yang lebay. kalau saya lebih optimis, siapapun presidenya negara ini tetap kacau. yah karena yang menang dipilihnya oleh manusia2 seperti mereka.

  224. Memang segala yang berlebihan itu tidak baik dan membuat ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan yang ekstrim akan mengakibatkan kerusakan. Ini berlaku untuk apa saja.. mo ditubuh manusia, alam semesta, pola pikir dan sebagainya.

    Berhubung nama FPI ikut dibahas mohon izin untuk memberikan sebuah link untuk memperbaiki presepsi kita tentang organisasi ini. Semoga dapat membuat cara pandang kita menjadi seimbang kembali –> http://www.taklim.tv/fpi-menolak-kekerasan-dialog-habib-rizieq-syihab-dengan-jaya-suprana-di-tvri

  225. Ada gak yang bahas… Jakarta itu mesti dipimpin oleh yang lebih tinggi (Presiden) mengingat banyak banget level di atasnya (Pusat) Punya kepentingan. Seperti pembangunan MRT – gak jadi-jadi karena stadion lebak bulus belum diijinkan oleh kementerian olah raga misalnya. Atau penangangan dari hulu ke hilir soal banjir karena melewati kewenangan beberapa propinsi..
    Oh yaa tentu saja terima kasih untuk semua tulisan yang ada – saya percaya kebaikan akan kembali kepada orang yang memberikan kebaikan. Terima kasih untuk yang menjaga kesantunan.
    Kita gak tahu berapa lama lagi kita di dunia… dan semua tahu bahwa paspor surga atau neraka berdasarkan perbuatan termasuk tulisan-tulisan kita…
    Semoga saya diberikan petunjukNYA dan diperlihatkan bahwa yang benar itu benar…

  226. Saya sependapat dengan artikel diatas, walaupun tidak begitu mendalami artikel diatas karena lebih fokus membaca komentar2 yang sangat menarik. dan sampai saat ini saya malah kurang tertarik membaca berita2 atau isu2 terbaru tapi lebih tertarik baca komentar yang sangat panas, dan itu memang realita bahwa pendukung fanatik di dua kubu bisa jadi merugikan bagi capres yang didukungnya,,,walaupun pendukung tidak bisa sebagai tolok ukur orang yang didukung tapi menyebabkan jengah dan berubah pikiran,,,,semoga setelah tanggal 9 juli nanti semua kubu fanatik bisa saling menerima, siapapun presidan yang terpilih,,,,

  227. Boong banget kamu dukung Jokowi.
    Coba kasih usul yang konstruktif.
    1) Blusukan: terus pendukung Jokowi disuruh menggubris kritik atas blusukan? Gimana cara menanggapinya?
    2) Masalah HAM, ya ini emang penting, dan nggak heran kalo digembar-gemborkan. Tugas utama presiden, nantinya, adalah melindungi hak azasi rakyatnya. Taruhlah Hendropriyono adalah pelanggar HAM juga, tapi ‘kan Hendropriyono nggak nyapres. Terus gimana? Pendukung Jokowi disuruh berhenti membicarakan masalah HAM sepanjang kampanye? Supaya apa? Supaya orang lupa bahwa Prabowo adalah penculik (dan penculikan adalah perampasan kebebasan dan adalah pelanggaran HAM).
    3) Kemampuan berorasi berapi-api supaya apa? Supaya mirip pemimpin jadul? Isinya gimana? Terus usul lo apa? Jokowi disuruh meniru tokoh jadul berapi-api, tapi nggak ada isinya? Biar mirip Prabowo? Lo udah survey dan analisis nggak, emang gaya Prabowo laku? Lo kok jadi menghakimi gaya Jokowi gitu sih?
    4) Lha, sikap bermusuhan dengan FPI paling-paling diekspresikan dengan apaan sih? Paling-paling nyela, pake tulisan. Sikap bermusuhan FPI ngapain? Mentung! Ngerusak kafe! Mukulin orang! Lo bilang nyela pake tulisan mirip FPI? Bisa bedain yang non-violence sama yang violence nggak sih?
    5) Fasisme? Lo nggak nyadar ya arti kata ini apa? Lo nggak tahu siapa yang lebih fasis dari Jokowi? Yang kerjasama sama kelompok militan sayap kanan yang mengganggap diri paling Islami dan sisanya kafir tuh siapa? Yang tadinya menulis pemurnian agama, terus dihapus dan dikoreksi tuh siapa?
    6) Jujur saya bukan cuma menertawakan Hatta, tapi juga menertawakan kamu yang keliatan kalo nyamar jadi pendukung Jokowi. Yang menertawakan Hatta ternyata juga yang membela pemerkosa? Ya biarin aja dia ngaco. Orang ngaco, orang goblok, penjahat HAM, koruptor sekalipun kan ada aja yang dukung Jokowi. Terus gimana? Lo nggak ngeliat Jokowi 100% sempurna, tapi lo ngarep hanya orang yang sempurna 100% aja yang dukung Jokowi? Jalan pikiran lo gimana sih?
    7) Orde Baru = Korea Utara, sama dengan nomor 6. Kalo ngaco nggak usah diikutin. Nggak usah ikut-ikut ngaco, tapi lo nggak bisa berharap semua pendukung Jokowi 100% sempurna. Ada aja yang ngaco, termasuk yang bilang Orde Baru = Korea Utara. Korea Utara itu komunis, Orde Baru itu anti-komunis, kesamaannya, sama-sama banyak pelanggaran HAM di zaman Orde Baru dulu dan di Korea Utara dari dulu sampai sekarang.
    8) Sama seperti soal Hendropriyono. Wiranto, taruhlah dia pelanggar HAM, tapi dia bukan capresnya.
    9) Ngapain menginformasikan bahwa Prabowo hanya pion yang dikorbankan atasannya? Pertama, fakta, bukti, data apa yang kudu diinformasikan bahwa betul Prabowo itu hanya pion yang dikorbankan atasannya. Atasan yang mana, siapa mengorbankan Prabowo, dan untuk apa? Kalo lo sendiri nggak punya informasi itu, kenapa juga orang laen disuruh berkampanye buat Prabowo. Prabowo aja nggak bilang begitu. Ya lo aneh-aneh aja. Ini tugasnya kubu Prabowo untuk memberikan informasi yang dirasa perlu untuk membuat Prabowo kelihatan sebagai korban yang dizalimi, biar orang kasihan, lalu milih dia jadi presiden. Ngapain juga lo nyuruh-nyuruh pendukung Jokowi berkampanye positif soal Prabowo? Logika lo keblinger banget sih.
    10) Siapa dengan bangga memamerkan dokumen rahasia negara? Dokumen tersebut penting, bukan soal bangga atau nggak bangga. Pertanyaan banyak soal pemberhentian dan kesalahan Prabowo, kenapa dia diberhentikan dari dinas militer, klarifikasi nggak pernah ada, dokumennya dirahasiakan. Dokumen sepenting ini, apa lagi mengenai seorang calon presiden ya memang penting. Ya kalo emang ini pelanggaran hukum, laporkan aja ke polisi, biar pembocornya ditangkap, diadili, dan diputus selayaknya.
    11) //Di dalam situasi perang, melawan perintah atasan dapat dihukum dengan eksekusi di tempat.// Makin ngaco. Pertama, Indonesia tidak dalam situasi perang. Kedua, tentara boleh menolak perintah yang tidak sah. Perintah yang melanggar HAM dan hukum tidak harus dijalankan. Tentara yang baik dan punya prinsip nggak asal nurut perintah atasan. Kalo atasan ngaco dan akan menghukum, dieksekusi di tempat sekalipun, dia terima dihukum dengan gagah berani untuk sebuah prinsip. Kalo prabowo takut dieksekusi di tempat, artinya dia nggak layak jadi presiden. Oh Prabowo nggak takut dieksekusi. Kenapa dong dia jalankan perintah atasan yang melanggar HAM itu? Karena dia setuju dengan atasannya bahwa melanggar HAM itu ok-ok saja? Lo mau usul apa kepada pendukung Jokowi dalam soal ini? Minta supaya pendukung Jokowi sama keblingernya seperti elu?
    12) Yah, sebetulnya, percuma lo berharap pendukung Jokowi bakal berubah. Lo sendiri pendukung Prabowo nyamar dan pura-pura jadi pendukung Jokowi. Lo cuma berharap serangan terhadap capres pujaan hatimu, Prabowo, menurun setelah pendukung Jokowi baca tulisan lo. Jangan ngarep. Tulisan lo logikanya berantakan. Lo kira pendukung Jokowi sekacau elo pikirannya?

    Slamet ngimpi deh lo.

  228. keren mas, bolehlah berpendapat begitu…
    hanya pengin mbedain saja, yang di unggah tentang pemecatan itu fakta, bukan fitnah… dan saya pikir kalau penggemar garis keras di kedua kubu sama saja pastinya, saya hanya banyak menilai tentang kreatifitas, kejujuran, santun dan inovasi kampanye para fans capres. Selebihnya… lebih nikmat ngopi dan menentukan pilihan tanpa harus terpengaruh dengan fans-fans capres yang punya lingkup pembicaraan dan saling adu jotos di media deh 🙂

    Kalo isu HAM, memang bukan hal remeh di negeri ini, mengerikan….

  229. Memang harus baca 2x mgkin biar nagkep isinya, saya pun mengalami ini…..puk puk puk sabar bunk…..dibully trus

  230. Terimakasih untuk tulisannya. Dari awal saya memilih Prabowo, karena saya lihat dia yang lebih apa adanya, santun dan bukan hanya siap menang tapi juga siap untuk kalah. Jokowi bersama rakyat, Prabowo memimpin rakyat. Nothing wrong with both approaches. Hanya saya punya keyakinan lebih besar kepada Prabowo, Indonesia akan lebih “terarah” di tangan beliau.yang visioner Ayo budayakan cara berpikir, berbicara/mengungkapkan pendapat atau bersikap yang positif & konstruktif. Tidak peduli dari kubu mana..

  231. Hehe..kalau dibuat imbang jadi “para pendukung fanatik” juga bisa loh ,mas
    Tinggal kumpulin kelakuan simpatisan Prabowo. Teman saya bahkan sampai dipertanyakan keislamannya krn tdk ikut memilih Prabowo.
    & utk kekurangan dlm hal debat/orasi, bukankah itu yang diatasi mati2an oleh timsesnya Jkw, sampai kursus dan gladi resik segala (& dijadikan bulan2an oleh kubu lawannya). Tapi saya memandangnya ya.. Sebagai org yg mau belajar & memperbaiki kesalahannya saja. Tokh hasilnya ‘cukup terlihat’ di acara debat 9 Juni.
    Tapi overall, tulisannya bagus,mas..
    Apalagi jika berimbang.
    Data tersebar kok…di berbagai media sosial.
    Bahkan kubu Prabowo kadang lebih sadis dgn membawa2 ‘fisik’ Jkw, sesuatu yg tdk dpt (sulit) diubah manusia

  232. Menarik. Saya pendukung Jokowi, dan setuju dengan artikel ini. Saya kok geli sendiri, kenapa begitu mudahnya sebagian orang di kolom komentar terbutakan, merasa diserang, apalagi gagal mengidentifikasi inti tulisan Mas. Serangan lah, ajakan halus untuk pro-Prabowo lah. Desperate sekali. Kritik sedikit ada saja yang salah tanggap dan mencaci, padahal tata bahasanya sudah halus. Mau dijelaskan berapa kali pun akan tetap kekeuh dengan pendapatnya. Inilah dekatnya contoh nyata, kelompok yang dibicarakan dalam tulisan Mas, fans garis keras yang malah bikin ilfil 🙂 Salam sejahtera.

  233. Memilihlah karena hati nurani jangan pakai kata org atau pengikut. Mau prabowo mau jokowi jadi sama penjahatnya jika kedua bukan membangun bangsa ini tetapi utk kepentingan partai, grup tertentu dan kroni2nya. Setiap presiden harus membangun pondasi agar presiden berikutnya bs membuat bangsa dan rakyat ini lebih maju, beradab dan nakmur

  234. Menurut saya pemikiran anda tidak konsisten. berpijak pada logika berpiir anda ya menstinya jadi golput, bukan malah pindah ke prabowo karena perilaku pendukung dimana mana sama saja, sama sama brutal dan liar. Logika berpikirnya ga ‘make sense’. kalau pindah ke prabowo gara gara pendukung jokowiyang tidak sopan, nah apa anti kalau anda lihat pendukung prabowo tidak sopan juga (yang notabene sama fanatiknya) lalu anda balik pindah dukung jokowi? sayang sekali dengan tingkat intelegensia anda yang cukup tinggi dan gaya penulisan yang sangat baik kesimpulan yang anda ambil tidak menunjukkan dalamnya pemikiran, hanya seperti group sakit hati yang cara memilihnya ‘asal bukan’ …..peace

  235. Namanya juga pendukung fanatik, sudah pasti nggak rasional biasanya kita liat di dunia olah raga seperti bola, tak hanya itu saja, bahkan pendukung fanatik lebih agama mengerikan lagi. Dalam sebuah masyarakat orang fanatik sangat sedikit, golongan ekstrim ini paling nyaring suaranya tetapi itu tidak mencerminkan sikap masyarakat pada umumnya yang cenderung tidak bersuara secara lantang. Kembali ke Pilpres, siapapun calon presiden yang kita pilih secara rasional tentu kita akan melihat track record sang calon selama ini, visi misinya, kali memilih seorang calon presiden yang akan menentukan masa depan sebuah bangsa hanya karena kita tidak suka dengan sikap orang lain, terutama yang fanatik, rasanya cara berpikir kita harus dievaluasi lagi, karena itu adalah cara berpikir yang ekstrim juga atau mungkin bisa dikatakan irasional 🙂 karena kita tidak bertanggung jawab kepada diri sendiri terhadap sebuah keputusan kita, dan bukan melemparkan tanggung jawab itu kepada orang lain jika pilihan itu ternyata salah 🙂

  236. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya, ada yang karena track recordnya, kemudian ada yg perbawaannya, ada juga karena hal yg simple….semuanya menjadi parameter masing2 pihak…..dan setiap WNI disini diberi hak yang sama dalam memilih…..saya setuju pendapat penulis seharusnya kita menilai dengan jujur calon presiden yg bakal kita pilih……tidak merendahkan, tidak memfitnah, atau pun mengada-ada…..tetapi sayang semuanya tidak ditunjukkan oleh calon presidennya sendiri…..Hanya saja kalau saya perhatikan kondisi pendukung Jokowi yang fanatik dan terkesan Jumawa memberikan efek resonansi terhadap Jokowi sendiri…dalam beberapa kesempatan head to head Jokowi menunjukkan kelemahan mentalnya dgn selalu bersikap under estimate terhadap lawannya dan sedikit terkesan angkuh…..semoga Jokowi dan Prabowo sadar bahwa Allah tidak buta dalam menilai seseorang…..maka jauhkan lah orang yang tidak Amanah, tidak jujur dan sombong untuk memimpin Negeri tercinta ini…..

  237. Bagus sekali artikelnya gan,
    Sebenarnya saya sudah muak dari dulu gan, sejak jaman nabi jokowi alayhisalam mencalonkan diri dari gubernur gan, mau tidak mau, suka atau tidak suka, faktanya fenomena ini sudah terjadi sebelum capres2an ini gan…buzzer2 online sang nabi sudah lama bekerja, baru kemudian buzzernya sang prabs ikut2an gaya buzzernya nabi jokowi 😀

    *jamandulu* Seorang pemuda diperiksa karena dinilai mengkritik pemimpinnya
    *jamansekarang* Seorang pemuda dibully dimedsos setelah berkicau yang dianggap memojokkan gubernurnya

  238. Tulisan yg Bagus, sy kira Bukan hanya Membahas kekurangan Pendukung Jokowi, tapi kekurangan Pendukung Prabowo juga dalam Tulisan ini. Ayo ah jangan dibutakan / ditulikan terhadap kebenaran karena fanatisme thdp 2 Capres ini. Berbesar hati thdp Kritikan, Jgn anggap Kritikan sebagai SERANGAN.

  239. so.. mari kita beri dukungan kepada keduanya, berikan dukungan pada jokowi untuk memimpin jakarta agar lebih baik, dan berikan dukungan pada prabowo untuk memimpin indonesia agar lebih maju…..

  240. Saya tahu Jokowi hanya dari pemberitaan. Cuma saya jarang ikutin berita2. Fans2 fanatik Jokowi terlahir dari blow up media yang berlebihan dan cenderung alay sehingga saking butanya cinta mereka, begitu Jokowi melakukan kesalahan yang sepatutnya dikritik atau ada yang mengkritik sikap/kebijakan Jokowi, mereka in denial. Menganggap faktor di luar Jokowilah yang salah, INTInya Jokowi mustahil salah. Secinta2nya saya ke pemimpin/ seseorang. Saya tidak sampai sebodoh itu mengorbankan objektivitas dan idealisme saya untuk membela pemimpin yang jelas terbukti tidak sempurna.

  241. Banyak yang mengatakan bahwa “PEMILIH DIINDONESIA SUDAH PANDAI DAN TAU UNTUK MEMILIH” kenyataannya yang pandai dan tau membedakan untuk memilih itu adalah kelasnya kita2 yg terbiasa denagn akses social media ,koran/suratkabar, Televisi saja, sementara kebanyakan rakyat indonesia tidak punya akses kita tersebut…!!! jadi segala komentar atau kampanye hitam itu ga ada pengaruhnya kepada lapisan pemilih kelas “bawah” mereka inilah sebenarnya pemilih mayoritas!! jumlahnya mungkin lebih dari separuh jumlah pemilih di Indonesia, jadi kenapa kita permasalhkan Klaim2 yang timbul di sosmed atau TV…??? ga akan ada pengaruhnya kepada pemilih mayoritas koq!!!! kaum pemilih mayoritas itu ga pernah memikirkan masalah debat atau kampanye hitam, mereka sibuk dengan usaha mereka untuk mencari nafkah…!! yg petani sibuk disawah/ladang, yang nelayan sibuk menjemur ikan atau menangkap ikan mungkin mereka bahkan listrik saja belum punya!! apalagi TV atau HP atau Komputer….!! berapa banyak sih rakyat indonesia yang punya akses media2 dyang saya sebut tadi???? mungkin hanya 10 atau 20% dari pemilih, lainnya buta akan semua yang terjadi di socmed… jadi segala macam kampanye itu tanpa kita sadari sebenarnya hanyalah retorika politik untuk sebagian kecil rakyat Indonesia saja!!! mana mungkin petani/nelayan/buruh sempat mengingat segala macam janji2 tentang perbaikan ekonomi atau tentang perbaikan iklim investasi??!! atau tentang cara2 mengontrol likuiditas keuangan?? atau tentang pembangunan infrastruktur?? atau tentang perbaikan ilim investasi??? mereka baru akan mengingat janji2 klu terkait langsung dengan kehidupan nyata mereka!! bangsa kita khan maunya kayak makan cabe!! begitu jadi harus besoknya langsung terasa perubahan nyatanya didiri mereka…!!jadi kalau kampanyenya menjanjikan kenakian Gaji atau kenaikan harga jual produk mereka maka barulah mereka akan menentukan pilihan secara objektif demi keuntungan masing2… kesimpulannya ngapain juga kita pada ribut dukung sana atau dukung sini??? ga manfaat koq malah menjadikan bibit2 perpecahan sesama bangsa, lebih baik tentukan pendapat dalam hati dan silahkan memilih nanti di bilik pencoblosan…!!! kalau mau mempengaruhi orang pengaruhilah lingkungan terdekat…!! itu saja sudah cukup…!!! Salam persatuan INDONESIA..!!!

    • om mohon maaf nih coba diliat2 lagi org indonesia mulai darisegala kalangan udh melek teknologi loh, coba liat mulai dari petani, pedagang kaki lima pasti punya hp loh.nah sumber informasi dari televisi juga mempengaruhi loh, menurut saya informasi yang paling mudah merubah persepsi orang dan mengaburkan sebuah fakta ya di tv apabila tv tersebut tidak fair dalam memberikan informasi.

  242. Salam kenal Mas Arie…

    Ini tulisan yang sangat bagus Mas… Saya baca semuanya dan (mungkin) setengah komennya sampai per tanggal 11 atau 12… Capeek juga bacanya… 🙂

    Dan tetap saja ada yang tidak bisa ‘membaca’ dengan baik apa yang Mas Atulis, karena kefanatikan yang Mas Arie sebutkan di atas. Terlihat dari banyaknya komen yang saya baca di atas… 🙂

  243. Apa yg sdr tulis….itulah yg berkecamuk dalam fikiran saya semenjak sebelum debat Capres Pertama …karena itu saya belum menentukan pilihan (GOLPUT) Sebelum Debat itu ……tetapi setelah debat Pertama tsb….ketika pada debat itu Pak Yusuf Kala Menanyakan tentang HAM kepada Pk. Prabowo…saya berfikiran lain pertanyaan ini pasti pertanyaan titipan dari orang orang di belakang Jokowi ….karena dibelakang Jokowi seperti yang saudara kemukakan pada artikel saudara …ada Wiranto..ada Hendropriyono… yang lebih bertanggung jawab pada waktu itu…Saya Suka Jokowi Tapi saya Tidak Suka dengan Pendukungnya …para Jenderal Pensiunan Yang Busuk…maka oleh karena itu sekarang telah bulat tekat saya menetapkan pilihan Pada “PRABOWO – HATTA”

  244. hehe bagus mas…
    katanya kita disuruh jadi pemilih cerdas ya, tapi begitu ngritik si A langsung dihajar habis2an. ngritik si C juga sama babak belurnya. udah capek2 argumen pakai mikir, eehh dibalas sama hate speech….malesin banget.

    sy rasa SEMUA YG MASIH WARAS perlu untuk terus gaungkan akal sehat.
    ga sengaja saya nemu tulisan Kill the DJ (Jogja Hip Hop Foundation) yang ruhnya persis itu. http://killtheblog.com/2014/06/16/jangan-memilih-jokowi-karena-kill-the-dj/

    sy sendiri blm bisa banyak menggaungkan akal sehat; baru sumbang 1 tulisan ini: http://politik.kompasiana.com/2014/06/16/debat-kedua-kala-keduanya-gagal-paham-utang-666739.html

  245. tulisan yang menampar tapi memang benar adanya. saya tambahkan juga, saya risih juga tiap hari dapet broadcast message yang beberapa isinya sbb :
    – prabowo sabar walaupun difitnah
    – prabowo tegas
    – prabowo asal usul jelas
    – prabowo bukan capres boneka
    dan masih ada 23 poin lagi yang bikin saya geli sendiri bacanya. dan untuk fans Jokowi, gunakan kalimat lain kalian untuk mendukung jokowi misalnya dengan memaparkan program kerja beliau, prestasi-prestasi beliau. untuk pendukung prabowo, lakukan hal serupa. perbedaan pendapat, beda pilihan ini hanya sementara. setelah pelantikan presiden okteber nanti, mari rangkul kembali saudara kita yang berbeda pendapat. bersama kita awasi jalannya pemerintahan mendatang. terima kasih mas Arie

  246. masing2 kubu punya pendukung yang over reaktif, nggak bisa lihat kritik sedikit aja buat capres-cawapres yang didukung. pembelaannya juga nggak masuk akal. kalo begitu terus bisa-bisa makin banyak yang golput kaya saya -_-

  247. wah tulisan yang bagus mas, saya juga ga yakin mei 98 itu seluruhnya kesalahan prabowo, dan terus terang saya lebih benci sama wiranto yg bisa melemparkan kesalahannya kepada prabowo seluruhnya. Saya sendiri sebagai pendukung jokowi kaget dan kecewa ketika wiranto merapat ke blok jokowi. padahal secara suara dan kursi hanura kurang signifikan dibandingkan partai penyusun blok jokowi lainnya. kesannya ada deal khusus yang membuat wiranto bisa di terima di aliansi itu.

  248. si Nabi gak ada yg bisa dijelek2in,,,giring opini nyari2 kesalahan ke fanboy nya

    yg mau jadi presiden emang siapa???

  249. artikel menarik mas, terlebih ini terjadi bukan hanya di sosmed…tetapi juga terjadi dikeseharian, misal beberapa hari lalu saat di daerah solo…banyak simpatisan2 pendukung jokowi yg cenderung mengganggu dengan melakukan kampanye terbuka dan dengan atribut suara motor yg mengganggu…
    tidak bermaksud menyalahkan tetapi bukankah dg kejadian seperti itu bisa membuat citra negatif untuk pengguna jalan yg lain terhadap para pendukung jokowi. yg pada akhirnya akan menjatuhkan pilihan untuk tidak simpati lagi dengan jokowi.
    sangat disayangkan memang, seseorang yg digadang2 sebagai kandidat kuat pemimpin negeri ini didukung oleh orang2 yg terlalu berlebihan dalam memberi dukungan.

  250. Yg harus saya saluti juga adalah, setelah seminggu tulisan ini diturunkan dan 500an komentar, sang penulis masih memantau komentar dan menjawab bila perlu. I guess our country is so prone to “us vs them”, the dutch knew this, soeharto knew this, and surely our next president knows this.

  251. tulisan yang bagus. tapi berpindah haluan hanya karena banyak pendukung fanatik disalah satu kubu saya rasa terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. semua sama mas, baik di kubu prabowo ataupun jokowi ada pendukung fanatik. yang terbutakan oleh kebenaran dan tidak menerima kesalahan dari kedua calon. semoga mereka sadar bahwa panggung politik itu adalah panggung sandiwara. bahwa yang sebenarnya pion itu adalah mereka yang fanatik berlebihan

  252. top banget deh tulisannya pd saat kejadian 98 sy ga bsa pulang k rumah dan nginep d ktr, dan tentang pelanggaran HAM yg d lakukan kang mas wowo itu jga belum terbukti kan kang mas wowo bersalah ataw tdk nah ini masing2 pendukung malah saling menjelek jelekan, yg disini jelek jelekin s bowo, yg d sana jelek jelekin s joko lah org dua2nya jga ga ganteng ko jd yg ganteng sapa nih jd binun, makanya untuk saat ini sy memilih untuk tdk memilih memilih itukan pilihan makanya sy tegaskan sekali lg memilih untuk tdk memilih thanks om atas artikelnya

  253. Hahahahahaha ini banyak yg komen di artikel ini fans boy jokowi dan merasa tersindir. itu laah fans boy yg di anggap beda itu pendukung sebelah pd hal belum tentu looh… di kasih tau ko malah memojokan penulis, aneeh emang para kelakuan fans boy cmn bisa ngakak baca komen2 yg menyudutkan penulis.

  254. Pingback: Otokritik | A. Famasya

  255. pak kalau sempat mau kasih masukan juga ya. saya masih kecil si pak, tapi cuman mau kasi pandangan + nih.
    menurut saya memang betul artikel bapak ini agak jadi janggal. ingin bersifat netral tp jd sedikit ga adil. toh yg dipilih jokowi nya bukan pendukung jokowi. namanya juga fans pak, pasti lebay. 🙂 saya si sbagai warga jakarta skrg terharu ya liat progress sudah banyak bgt smpe skrg gini. saya kl jalan tu kaya brterimakasihhhh bgt lo sm ahok jokowi. entah la siap yg kerja, apakah sala 1 aatau dua dua nya atau bkn mrk, tp yg saya tau sejak ada mrk, saya merasa kota saya ini lebih sehat loh. pak. bapak org jakarta jg bukan? hehe? gini pak, emg betul jokowi blusukan mulu masi krg pengalaman, aga ragu. tp maslanaya lawannya kan prabowo pak. mgkn org2 fans jokowi itu ga suka bgt jokowi tp mgkn mrk benci sm prabowo, jd mrk otomatis harus bela kubu satu lagi dong. sbagai korban keluarga 98 pasti takut pak, saya pun jg 🙂 hehehe. maaf ya pak, saling belajar kok.

    tp sekali lg, cb di cek aja gitu, skrg kykny kit lgsg liat keSOSOKnya aja ya, udah ga bs ngmg partai nya ini partai itu, pendukung ini pendukung itu. partainya ga ada yg bener pak jg semua. heheh.
    bukti nyata nya gitu pak. jadi boneka atau ga pak, setidaknya jokowi lbh baik drpd prabowo yg emg udah terbukti byk yg sakit hati dan TRAUMA.

    makasi pak
    waktunya milih dr hati ke hati pak.
    thank u

  256. Siapapun pemimpinnya nanti, buat gua rakyat Indonesia selalu harus tetap memposisikan diri sebagai oposisi & pengawas. Pertanyakan segalanya. Tinggal Capres mana yang lu prefer untuk diawasi! Saya pribadi ga terlalu peduli dengan pola tingkah laku absurd Fansboy Capres 1/ Capres 2. Walaupun sebagai Voter saya udah tahu siapa yang akan saya pilih, saya cuma mau mengkoreksi pernyataan situ tentang Masalah HAM ini seolah-olah “dikomersialisasi” demi meraih suara pemilih? Bro coba deh bro tanyakan ibu-ibu yang tergabung disini -> https://twitter.com/AksiKamisan ataupun coba tanyakan ke mantan kawan Pius Lustrilanang yang pernah juga merasakan penculikan 97-98 yang membuat organisasi korban dan keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia (IKOHI). Bukan melacurkan dirinya agar masuk ke dalam sistem dan tiba-tiba amnesia terhadapa nasib mantan teman-temannya yang belum kembali itu. Saya juga merasa jargon #MenolakLupa harusnya tidak tebang pilih karna semua perlanggar HAM harus segera diadili agar Negeri ini tidak Ahistoris. Dan kalo memang Capres No 1 tidak terbukti dengan Kejahatan HAM, So Prove It! Jangan terus mengelak, Ingat, Pansus Orang Hilang DPR-RI pada 2009 lalu sudah merekomendasikan beberapa hal, salah duanya adalah pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc dan merekomendasikan agar Presiden serta segenap institusi pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk segera melakukan pencarian terhadap 13 orang yang oleh Komnas HAM masih dinyatakan hilang. Tapi nyatanya memang tidak ada political will dari Pemerintah SBY dan terduga Otak pelakunya juga pun masih bisa petatang-petenteng malah dengan mulusnya berniat jadi RI-1. Kalo masalah Tragedi Trisakti ataupun Kerusuhan Mei 98, silahkan googling sendiri Apa itu ASIAWEEK INVESTIGATION 24 Juli 1998, Siapa itu Ita Martadinata Haryono dan Apa alasannya USA memblacklist sosok Prabowo untuk masuk ke negeri Paman Sam (Termasuk Wiranto juga).

    Intinya silahkan saja membenci para Fansboy para Capres yang cenderung absurd tapi kalo situ gua pribadi agak suka pernyataan situ tentang Masalah HAM ini seolah-olah “dikomersialisasi” demi meraih suara pemilih dan situ mencoba mengambil sudut pandang Orang yang sudah melacurkan dirinya kepada orang yang menyiksa dirinya dan menghilangkan nyawa teman-temannya hanya untuk masuk kedalam sistem agar dapat merasakan “Kue Pemerintahan”, Dangkal sekali analoginya. Maaf saya agak reaktif tapi kebetulan saya teman selingkungan anak yang Bapaknya turut dijemput paksa dan sekarang belum kembali! Saya tidak perlu menceritakan bagaimana nasib anak tersebut dan keluarga yang ditinggalkan seorang kepala rumah tangganya, Silahkan saja bayangkan sendiri bila anda ada di posisi teman selingkungan saya tsb!!

  257. yang gak saya habis pikir terhadap anda bung. anda kan mengaku sebagai pendukungnya jokowi tapi kok sekarang berbalik jadi gak suka sama pendukungnya jokowi ya?? agak aneh lho.. bukankah yang didukung itu jokowinya bukan pendukungnya… mau pendukungnya kaya apakek kalo anda udah mantab memilih jokowi gak pedulilah sama pendukungnya yang fanatis,black campaign atau apalah.. itu artinya anda belum memantapkan hati untuk mendukung jokowi. kalo kata pengamat politik yang pernah saya lihat di TV2 nih,anda kena underdog effect,artinya anda akan merasa kasihan dengan orang yang mendapat tekanan. saya rasa semua fans di dunia ini pasti punya rasa fanatisme masing2 entah ditunjukkan atau tidak,entah berlebihan atau tidak. bahkan tindakan fanatis yang berlebihan dan anti kritik bisa dimaklumi selama tidak anarkis. bagi saya,kita nikmati saja pesta demokrasi yang hanya 5tahun sekali ini. boleh fanatis asal habis pilpres ini kita baikan lagi… bukan begitu bung??

  258. Artikel yg menarik…
    Kayaknya para komentator cerdas2 semuah nich…
    Bung arie kan pdukungnya p.jkw nich?,,saya cm ingin tau,,maksud iklan jkw-jk adalah kita itu maksudnya apan ya..apa yg dimaksd “adalah kita” itu saya,anda,,dan semua WNI.,atao ada maksd yg ln.?

    • Mungkin maksudnya Jokowi adalah bagian dari rakyat. Saya sendiri mendukung Jokowi karena melihat kekurangannya tidak sebanyak Prabowo, bukan karena melihat lebih banyak kelebihannya.

  259. Hmmmm, menarik sih tulisannya bapak ini. Walaupun sekali lagi, tulisan ini masih tendensius which mean :”strongly favoring a particular point of view in a way that may cause argument :” (kata dictionary online). Karena menurut saya, kedua pendukung sama-sama menjengkelkan, mendukungnya seperti gelap mata. Walaupun di halaman media sosial saya kebetulan memang (sedikit) lebih banyak pendukung Jkw-Jk yang melakukan dukungan dengan fanatisme berlebih. Itu-pun (mungkin) juga karena komunitas saya kebetulan komunitas minoritas, jadi kelihatannya lebih banyak pendukung Jkw-Jk yang terlihat berlebihan menunjukan dukungannya. Atau memang lebih banyak pendukung Jkw-Jk? Kita lihat saja nanti di 9 Juli 2014.

    Saya sendiri pendukung capres nomor 1, dengan alasan karena saya tidak sejalan dengan pemikiran-pemikiran Jokowi, khususnya masalah karya beliau selama menjabat DKI 1. Masalah berubahnya arah dukungan seseorang karena jengah sama sikap pendukung fanatik salah satu capres (dari 1 ke 2, vice versa) mungkin saja terjadi pada para swing voters. Tulisan pak Arie ini cuma salah satu alasan dari beragam alasan lainnya, kalau menurut pendapat saya karena faktor KEMUNAFIKAN. Seperti kata Alm. Soe Hok Gie (temannya Prabowo remaja) : “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

    • Betul fenomena ini terjadi di kedua belah pihak. Banyak pendukung masing-masing kubu yang menutup mata dari kekurangan calon yang mereka dukung.

      Artikel ini bertujuan agar para pendukung fanatik tidak terbutakan oleh tujuan kemenangan. Saya sendiri merasa cukup terasing di antara para pendukung Jokowi lain akibat artikel ini yang berisi kritikan terhadap beliau. Bila saya dianggap munafik karena mengritik Jokowi padahal saya mendukung beliau, sungguh mengerikan bila semua pendukung bersikap seperti itu. Bisa-bisa bila beliau menjadi Presiden, tidak akan ada kontrol terhadap kepemimpinannya.

  260. Wahh akhirnya sampai bawah juga. Cukup amat melelahkan fisik, hati, dan pikiran bagi saya yang hanya seorang pengunjung untuk membaca komentar – komentar di halaman ini, apalagi mendapati banyaknya komentar yang semakin membuktikan point – point dari mas penulis. Ya, saya membaca ke semua 539 komentar yang ada di atas saya. Dan membacanya membuat saya rasanya ingin mengumpat berkali – kali akan entah itu -maaf- kebutaan atau apapun itu yang menjangkiti kalian wahai saudara – saudaraku , tapi tidak jadi karena saya kemudian memilih berada di jalur yang ditawarkan oleh mas penulis. Kalau saya mengisi komentar ini dengan umpatan dan hinaan, saya menjadi sama saja dengan para fanatis, hanya bedanya kemudian saya bukan fanatik terhadap salah satu capres melainkan fanatik terhadap ketidakfanatikan, yang menyebabkan saya anti terhadap fanatisme dan menganggap bodoh orang – orang fanatik, saya tidak ingin seperti demikian. Maka saya kemudian memutuskan untuk memaklumi fenomena fanatisme dan kebutaan ini.
    Sesungguhnya hal yang sama juga diharapkan oleh mas penulis dan juga saya terhadap kalian para pendukung jokowi. Membalas cacian dan berbagai berita negatif dari kubu seberang dengan hal yang serupa ditambah dengan perilaku defensif yang berujung dengan anti terhadap kritikan, sesungguhnya itu membuat kalian tak ubahnya seperti mereka. Jangan salahkan para swing voters yang melihat fenomena ini kemudian mencap kubu kalian sama saja dengan kubu seberang, dan jargon “stand on the right side” tidak berbicara sebagaimana artinya, kalian justru akan tampak “stand on the same side”. Buktikan bahwa kalian berbeda dengan kubu seberang dengan tidak terbawa arus mereka, dengan tidak menjadi serupa mereka. Jika kubu seberang menunjukkan fanatismenya lewat berbagai tindakan yg kurang baik, maklumi saja, namun jangan diamkan. Tanggapi dengan sikap yang sebaliknya, santun, elegan dan terbuka, bukannya malah balik menyerang dan menutup diri dari kritikan. Reaksi yg demikian sesungguhnya mengecewakan saya yg juga berharap banyak pada kalian pendukung jokowi yang saya yakin sesungguhnya santun dan cerdas.
    Sebenarnya masih banyak yang ingin saya utarakan, namun meracau terlalu panjang akan membangkitkan emosi yang membuat pengutaraan semakin ngalor ngidul. Sekian dan terima kasih untuk mas penulis yang menunjukkan pada saya masih ada orang berpikiran serupa dengan saya dan menerjemahkannya lewat tulisan yg begitu bagus ini.

    • Saat komentar mencapai sekitar 300 – 400-an, saya juga sebenarnya sudah cukup lelah untuk membalas masing-masing komentar. Sehingga akhirnya saya langsung meng-approve setiap komentar yang masuk tanpa sempat mem-reply. Apalagi karena sebagian isinya kurang lebih sama, ketidakterimaan beberapa pendukung fanatik terhadap kritikan saya. Yang tentu saja membuktikan isi artikelnya.

      Terima kasih sudah mampir dan sudi membaca setiap komentar yang, kalau boleh saya bilang, membuat artikel ini jauh lebih menarik. 🙂

      • emang om suka pada lebay pendukungnya, apalagi pemberitaan media yg lebay satu sama lain, ada yg ngakunya netral tp mihak juga, sekarang voters mau dapt info yg relevan dari mana lagi, jika hampir semua informasi sudah ditunggangi oleh kepntingan masing2

  261. GOLPUT Sejak tahun 1999, Baru sekarang saya mulai fokus karena satu sosok anak bangsa fenomenal dengan segala keterbatasan dan ketulusannya “JOKOWI”, selebihnya adalah produk lama kemasan baru, lagu lama kasetnya baru, setelah melihat pendukung keduanya……hhhmmmm sebaiknya GOLPUT aja lagi deah…..kecewa

  262. menyimak informasi yang anda paparkan di atas dari istri saya, saya jadi bertanya-tanya.. apa yang sedang anda lakukan pada saat (yang katanya) reformasi ini dimulai?
    bagi saya ini sama saja dengan yang sudah-sudah, banyak artikel memihak capres A dan B, banyak yang fanatik sampai mengurangi akal sehat mereka. dan ini masih terkesan sama saja dengan apa yang sudah-sudah. yang agak sedikit berbeda hanya sasaran anda, menggunakan citra pendukung fanatik Jokowi untuk menyindir Sang calon presiden. namun bagi saya, hal itu biasa terjadi di tahun-tahun politik.
    memang menjadi pertanyaan, kenapa kasus HAM dan tragedi 98 baru dibuka sekarang padahal periode sebelumnya sosok yang sama muncul sebagai cawapres. bagi saya hal itu sangat tidak etis, namun anda tentunya juga menyadari kalau tidak semua orang lahir dan terbentuk seperti anda.
    Saya sepakat dengan anda yang berkata lebih fokus pada visi misi calon presiden. menurut saya artikel ini akan lebih mencerahkan jika menceritakan soal visi misi tersebut secara lebih luas.

    Menurut saya, kebanyakan masyarakat Indonesia sudah terlanjur lelah dengan kehidupan mereka sekarang ini. dan hal-hal semacam ini (saling ejek di media sosial, saling bantah, adu argumen) mungkin bisa menjadi salah satu terapi pengenduran saraf bagi mereka. apakah mereka fanatik atau bukan, saya tidak akan bisa menilai, mengingat hipokrit yang melekat cukup kuat.

    Banyak orang yang merasa muak dengan situasi seperti ini, dan kemudian memutuskan untuk tidak mempedulikan sama sekali. efek yang lebih besar adalah, mereka mungkin akan mulai bersikap apatis terhadap negara, dengan segala isinya yang carut marut ini. menurut saya, hal itu akan lebih merugikan lagi. dan kekhawatirkan saya adalah artikel yang anda paparkan di atas cukup memiliki potensi untuk membuat orang bimbang, atau malah memutuskan untuk tidak memilih. bagi saya itu lebih merugikan dari adu argumen para pendukung fanatik dari kedua belah pihak.

  263. Tulisan yg tepat. Saya jam 5 subuh dihari coblosan merubah pikiran saya memihak Pravowo. Saya eneg liat kubu Jokowi baik itu timses maupun fansnya, Mereka bisa saja teriak teriak= Lihat Jokowinya jangan lainnya, tapi kalian lupa kalian satu gerombolan manusia yg meneriakan kata “REVOLUSI MENTAL”, maka mulailah dengan diri sendiri= jujur, santun, cerdas spt halnya kelompok terdidik baik. Belum jadi presiden saja gak bisa ditegakan, gimana nanti jadi presiden beneran? Thanks sdh menuliskan ini, mengajak kita semua jernih melihat masalah bahwa ternyata itu semua jualan politik, pepesan kosong, susah ditepati bahkan kedirinya sendiri.

  264. hmmmm … luar biasa…. aku ada info menarik nih.. tapi masih kabar2 an….. bahwa katanya sesungguh nya Pak Joko belum siap untuk jd presiden namun ada semacam pemaksaan dari para atasannya… hmmm… beliau akan menjadi presiden yg ke 7 namun hanya akan berkuasa sekitar 2 thn saja… wiw… dan rakyat lah yg akan menurunkan beliau.. siapa yg akan naik? tentunya Pak JK yg akan maju… mungkin ini lah intrik nya…. apakah info ini akurat dan bs dipercaya… well let see!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s