“Para Pendukung Fanatik Jokowi” dalam 5 Fabel Sederhana

Saat ini artikel saya yang diterbitkan 4 hari lalu dengan judul “Para Pendukung Fanatik Jokowi” telah mencapai 115 ribu lebih views dengan 400 lebih komentar. Terus terang, saya tidak menyangka artikel yang merupakan curahan kekesalan pribadi ini mendapat tanggapan yang begitu luas dan begitu beragam.

Tetapi ada satu hal yang sulit untuk saya pahami, yaitu berbagai misinterpretasi terhadap tulisan itu. Saya tidak mengerti apakah diakibatkan oleh gaya penulisan yang terlalu rumit hingga sulit dicerna intinya. Atau apakah karena beberapa pembaca meresponnya dengan penuh emosi dan tidak mampu memandangnya melalui sudut pandang yang jernih.

Oleh sebab itu, untuk menjelaskan inti dari tulisan tersebut, sekaligus untuk menjawab puluhan komentar dari pembaca yang rupanya menemui kesulitan dalam memahaminya, saya akan menjabarkan inti-inti dari “Para Pendukung Fanatik Jokowi” dalam 5 buah fabel sederhana. Semoga setelah fabel-fabel yang seharusnya mudah dipahami ini, tidak akan ada lagi misinterpretasi. Selamat membaca. 🙂

Pemilihan Kepala Desa di Hutan Bambu

Di suatu hutan bambu yang lebat di atas pegunungan. yang selalu tertutup kabut sepanjang hari, para penghuninya berkumpul untuk memilih Kepala Desa. Mereka telah melalui berbagai musyawarah hingga pada akhirnya terpilihlah dua calon: Pak Parkit dari keluarga burung parkit yang diusung oleh para burung penghuni hutan, bersaing melawan Pak Panda dari keluarga panda.

Pak Parkit dan Pak Panda sama-sama mendapat dukungan luas dari seisi penghuni hutan. Tetapi lama kelamaan dukungan itu semakin membuat suasana hutan menjadi tidak nyaman. Terutama saat Kiki Parkit, keponakan Pak Parkit yang baru lulus dari universitas terkenal di kota, terbang ke sana kemari bercerita mengenai Pak Panda yang katanya dulu pernah mencuri tanaman salah satu penghuni hutan lainnya.

Dori Parkit, adiknya, berusaha memberitahu Kiki agar tidak terus menerus menyebar berita pencurian oleh Pak Panda, karena dia tahu salah satu anggota keluarga parkit juga dulu pernah dikabarkan mencuri. Tapi Kiki mengacuhkan permintaan Dori. “Biar saja, yang hendak menjadi kepala desa kan Pak Parkit, bukan saudara kita yang suka mencuri itu”, ujar Kiki.

Tetapi Dori merasa, bila Pak Parkit berhasil menjadi Kepala Desa, Kiki tidak akan selantang itu menuntut saudara mereka yang suka mencuri untuk juga dihukum. Mungkin cita-cita melihat Pak Parkit menjadi Kepala Desa membuat Kiki berat sebelah.

Budi, Anak Kancil Yang Soleh

Budi adalah anak kancil yang hendak melanjutkan sekolahnya ke pesantren. Di perjalanan, dia telah melihat beberapa pesantren, namun masih belum menentukan pilihannya.

Saat Budi menyebrangi jembatan di atas sungai yang memisahkan hutannya dengan hutan pinus di kaki gunung, ia bertemu dengan sekelompok santri. Mereka berjalan berbondong-bondong, wajah memerah, sambil menyerukan kata-kata yang tidak terdengar terlalu jelas, tenggelam oleh deru sungai.

Saat rombongan tersebut mendekat, Budi bertanya pada salah satu dari mereka. “Teman, kalian akan ke mana?”

“Kami akan berkelahi dengan siswa-siswa sekolah agama di hulu sungai!” seru jerapah salah satu dari mereka.
“Kamu juga akan sekolah di pesantren kan? Berarti kamu harus bergabung dengan kami menyerang siswa-siwa sekolah itu! Mereka agamanya berbeda!” sambung temannya si badak yang berbadan besar.

“Maaf teman, memang benar saya datang ke sini untuk belajar di pesantren. Tapi bukankah salah bersikap bermusuhan seperti itu, apalagi hanya karena agama mereka berbeda,” jawab Budi.

“Heh! Kamu ini bagaimana? Kamu kok malah menasehati kami! Berarti kamu bukan golongan kami! Kamu pasti golongan mereka!” badak yang berbadan besar tadi terlihat marah ke Budi.
“Betul itu! Lagi pula, siswa-siswa sekolah itu juga banyak yang senang berkelahi!” jawab jerapah di depannya.

“Betul, di mana-mana pasti ada yang senang berkelahi. Tetapi, teman-teman ini saudara seiman saya. Saya malu kalau teman-teman memilih cara-cara kekerasan. Semoga teman-teman segera sadar. Assalamualaikum.”

Budi si kancil melanjutkan perjalanannya dalam mencari pesantren. Ia merasa setidaknya ia telah menunjukkan kesalahan teman-teman seimannya tersebut dan berusaha menasehatinya.

Rori Si Landak dan Stiker Mobilnya

Rori si landak baru saja dibelikan mobil baru oleh ayahnya yang pengusaha ekspor impor di ibukota. Ayahnya yang karismatik adalah salah satu calon walikota di kota kelahiran Rori.

Rori sangat mengagumi ayahnya. Ia memesan stiker berukuran besar untuk ditempel di bagian belakang mobilnya. Tidak tanggung-tanggung, ia memesannya ke Stefan Zebra, desainer grafis paling top di ibukota.

Setelah stiker itu selesai, Rori berkeliling kota bersama-sama teman-temannya. Mobil Rori dan mobil-mobil teman-teman Rori terpasang stiker yang sama, stiker keren hasil karya Stefan Zebra. Tak lupa mereka membunyikan klakson mereka sepanjang jalan, agar penduduk kota melihat stiker kampanye ayah Rori di belakang mobil-mobil tersebut.

Stiker tersebut bergambar wajah ayah Rori yang sedang tersenyum lebar. Di bawah wajah ayah Rori, Pak Joni Landak, terdapat tulisan “Joni Landak, Walikota Pilihan Orang Baik-baik“. Di bagian bawahnya ada tulisan lebih kecil yang bertuliskan “Kami berdiri di samping Joni Landak, Pendukung Keberagaman dan Persatuan“.

Sementara itu, di bagian paling bawah stiker besar yang menempel mentereng tersebut, terdapat tulisan kecil yang tidak akan terbaca bila mobil sedang bergerak. Tulisan tersebut bertuliskan “Yang Tidak Pilih Joni Landak, Berarti Bukan Orang Baik-baik. Kalian mending ke laut saja.

Wooza, Si Anak Kelinci Penggemar Sepak Bola

Wooza baru saja lulus Sekolah Dasar. Ia senang bermain sepak bola. Ia senang melihat kakak-kakaknya yang berjumlah belasan itu menggunakan seragam klub sepakbola kesukaan mereka masing-masing di akhir pekan. Wooza juga ingin menjadi penggemar klub sepakbola.

Masalahnya, di kota tempat tinggalnya terdpata dua buah klub sepakbola. Di mata Wooza, kedua klub sepakbola tersebut sama menariknya. Ia bingung harus memilih klub yang mana, Bunny Athletics atau Hare United. Ia sempat mendukung masing-masing klub tersebut di akhir pekan, sekedar meramaikan suasana bersama kakak-kakaknya.

Ia lalu teringat, Boora kakaknya yang nomer 11, menyukai Bunny Athletics. Boora adalah kakaknya yang paling baik. Saat itu juga, Wooza memutuskan untuk menjadi pendukung Bunny Athletics.

Tetapi apa daya, kakak-kakaknya yang lain para pendukung Hare United menganggap Wooza anak kelinci yang plin-plan, bodoh, dan labil. Mereka tidak mau lagi bermain bersama Wooza.

 ♦

Loli, Si Kucing Persia Kolumnis Berita

Loli si kucing Persia bekerja di salah satu koran nasional. Ia menulis sebuah tulisan di kolom “Santai Bersama Loli” yang isinya mengritik kelompok fanatik di negerinya. Kelompok ini menurutnya berisi kucing-kucing yang tidak mau menerima kritik dan menganggap kritik sebagai serangan, bukan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Beberapa hari setelah kolom itu terbit, Loli mendapat ratusan komentar negatif dari kelompok tersebut, sebagai bentuk ketidak sukaan terhadap tulisannya.

Loli mengambil segelas chamomile tea hangat di mejanya, berjalan mendekati jendela, dan memandangi lanskap kota yang indah di sore hari. Ia menyeruput teh di cangkir seraya berpikir, “..thank you for proving my point, fanatics.”

Advertisements

8 thoughts on ““Para Pendukung Fanatik Jokowi” dalam 5 Fabel Sederhana

  1. Nice article bro. Saya pernah ngalamin adu argumen di socmed dengan salah satu fans, disaat mereka tidak bisa balas dgn disertai fakta atau referensi mereka balas dgn memaksakan asumsi, saya balas dgn logika + fakta dan saat mereka tidak bisa balas itu yang diserang adalah hal pribadi bukan lagi soal bahasan yang dibicarakan.. Saya cuma ketawa aja dan sepertinya kalimat ini memang bisa mewakili sebagai penutup “..thank you for proving my point, fanatics.”

  2. 5 Fabel-nya sangat menarik, mewakili keberagaman sikap.

    Yang saya rasakan, pendukung fanatik itu hanya kuatir bahwa elektabilitas jagoan lawannya itu naik setelah diungkapkan banyak informasi (ada fakta di dalamnya). Makanya, budaya anti kritik tetap dipelihara.

    Tulisan saya di blog, juga gara-gara pendukung fanatik Jokowi itu menyentuh “hot button”. Kalo mereka tidak menyentuh “hot button” itu mungkin saya gak akan nulis di blog soal ucapan Jokowi 🙂

  3. Sedih pak bacanya, bahkan seorang panutan, senior, teman diskusi sekarang berkelakuan seperti si rori landak, yang menempel stiker di belakang mobilnya bertuliskan “yang tidak memilih pak joni landak itu bego, mending masuk comberan.” Saya sampai bingung dengan fenomena saat ini, dan takut membayangkan kedepannya negara ini jika Joni Landak jadi kepala desa. Dengan sikap fanatik berlebih seperti sekarang, saya ragu mereka akan bisa mengkritik si Joni Landak. Karena Joni Landak tidak pernah salah.

  4. Menohok sekali fabelnya hahaha tp penceritaannya menarik lo, mungkin di kemudian hari masnya bisa pertimbangkan bikin buku kumpulan fabel dengan pesan moral yang cukup dewasa seperti ini, karena fabel – fabel yg sudah ada banyak yg terasa usang dan relevansinya dipertanyakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s