Hilangnya Nalar, Raibnya Logika

Saya telah 5 kali mengikuti Pemilu. Dari Pemilu terakhir di era Orba pada tahun 1997, hingga Pemilu Legislatif 2014 yang baru saja kita lewati. Dan bagi saya pribadi, Pemilu Presiden tahun ini terasa begitu menyedihkan. Bukan karena adanya dugaan kecurangan, bukan karena adanya pembungkaman aspirasi, pun bukan karena ada kesan compang-camping pada penyelenggaraannya. Tetapi karena terkikisnya rasa hormat, etika, dan sopan-santun antar para pendukung masing-masing kandidat Presiden.

Entah sudah berapa puluh kali saya melihat sikap merasa paling benar di masing-masing anggota kubu pendukung Capres. Pihak A mengganggap pihak B salah dan sebaliknya pihak B menganggap tidak ada kebenaran di pihak A. Kalau semuanya salah, lalu siapa yang benar?

Saya ingin tanya ke pendukung-pendukung militan para kandidat Presiden, apakah kalian bisa menjamin bila calon kalian menang, negara ini otomatis akan menjadi negara yang ditakuti di kancah politik internasional? Apakah kemakmuran akan serta merta tersebar merata di seluruh lapisan masyarakat?

Wahai para pendukung kandidat Presiden, apakah kalian bisa menjamin bila calon kalian menang, sistem birokrasi negara ini akan menjadi bersih total? Apakah orang-orang yang tepat lantas akan memegang posisi-posisi penting di pemerintahan?

Apa yang menjadi landasan kalian bahwa kalian 100% benar dan orang lain 100% salah? Sejak kapan demokrasi artinya adalah perayaan chauvinisme? Sebegitu tergantungnya kah kalian pada hasil Pemilu?*

*buzzer/agency yang dibayar oleh timses masing-masing kandidat tidak perlu menjawab. Terima kasih.

marktwain_cc_img_0 copy

Mendukung sih boleh-boleh saja. Tetapi jangan serta merta memaksa pilihan kalian ke orang lain. Setiap orang punya hak pribadi atas pilihannya, punya alasan dan nalar atas keputusan politisnya.

Hanya karena orang lain memilih kandidat yang berbeda, lantas orang tersebut bodoh? Orang tersebut kafir? Memangnya kamu siapa hingga berhak menghakimi orang lain? Tentukan pilihanmu dan ceritakan alasannya bila ditanya. Selebihnya, shut the fuck up.

872px-Portrait_of_Edmund_Burke

Sebagian dari kalian salah mengartikan ucapan Edmund Burke. Bagi kalian, berbuat sesuatu untuk mencegah keburukan seolah-olah sama artinya dengan secara aktif, bahkan terkadang eksesif, mengajak orang lain memilih kandidat yang kalian dukung. Bukan. Bukan itu maksudnya.

Bila pemerintah berbuat salah, kritiklah. Jangan tinggal diam. Bukan menyerang orang lain yang sikapnya berbeda dengan kalian. Apakah kalian sudah pernah mengritik sikap tidak terpuji para kandidat yang kalian dukung? Tolong jangan naif dan mengatakan bahwa kandidat kalian tidak pernah berbuat salah.

Apakah pro terhadap salah satu calon artinya harus bersikap militan? Apakah seseorang tidak boleh menentukan sikap politisnya tanpa harus menggembar gemborkan ke orang lain? Apakah setiap pendukung harus secara agresif mengajak orang lain untuk memilih calon yang sama? Tolong lah, hormati hak orang lain untuk merahasiakan pilihannya sebagaimana kalian juga ingin dihormati haknya untuk memilih.

Akhir kata, saya ingin mengingatkan lagi kepada para pendukung militan para Capres yang merasa benar sendiri dan pendukung lawan selalu salah, sebuah tweet dari Sudjiwo Tedjo berikut. Semoga mata hati kalian terbuka.

Lalu di mana nalar, di mana logika? Men… bahkan sang legenda pop Indonesia pun mencarinya. Semoga lekas bertemu. Mungkin nanti, sesudah tanggal 9 Juli 2014.

Advertisements

3 thoughts on “Hilangnya Nalar, Raibnya Logika

  1. Kadang2 untuk meyakinkan para undecided voters (krn mrk sasaran kampanye sebenarnya,bkn mrk yg sdh yakin dg pilihannya) yg menganggap tdk ada yg baik dr kedua capres, akhirnya disodorkanlah keburukan2 dr capres lawan, either with black or negative campaign. Sehingga diharapkan para undecided voters itu akan memilih capres mrk berdasarkan siapa yg paling sedikit keburukannya, alias minus malum. #akhirnyamilihjokowi

  2. Kondisi di pemilu 2014 cukup menunjukkan bahwa bangsa kita belum siap dengab perbedaan, kita masih dipenuhi ketakutan akan hal-hal yang (mungkin tak akan) muncul. Kita masih melihat dari kulit, tanpa pernah sekalipun menyentuh dagingnya. Seperti kulit ayam yang mungkin paling enak, tapi ternyata menimbulkan banyak penyakit dibanding dagingnya.

  3. Betul, saya milih #1 tapi saya selalu berusaha netral kalau ada berita baik/buruk dr masing2 capres, dicek ricek dulu, di timeline twitter saya sebagian pilih 2, di facebook sebagian besar pilih 1, jadi saya liat kalau 2-2nya yaaah hampir mirip, walaupun ada 1 yang saya notice, pendukung no 1 sering bilang ‘gw g bilang prabowo itu sempurna yah’, kadang lucu juga sih liat postingan fanboy2 itu yang seringnya gak penting&keliatan banget cuma mau menebar kebencian u/ kubu sebelahnya, miris juga bahkan ada yg berani mention capres dengan kata2 yang sangat gak sopan, yang saya penasaran, kalo no 2 menang trus ternyata dia g sebaik yang pendukungnya harapkan gimana? Kalo saya sih pasti malu kalo Pak Prabowo ternyata g sebaik yang saya harapkan, makanya seringnya saya jadi penonton aja instead of bikin postingan nyinyir hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s