Ulasan “Interstellar” (2014)

PERINGATAN: Artikel ini berisi jalan cerita film Interstellar. Jangan dibaca sebelum menyaksikan filmnya.

 

Film fiksi-ilmiah terbaru dari Christopher Nolan, Interstellar, akhirnya ditayangkan 6 November lalu. Saya sendiri telah menunggu lebih dari satu tahun semenjak teaser trailer film ini muncul di YouTube pertengahan 2013 lalu. Dan penantian tersebut benar-benar sepadan. Sebuah film megah, dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan besar.

Interstellar adalah impian para penggemar hard sci-fi. Distopia, teknologi futuristik, ancaman kemusnahan global, & perjalanan antar-bintang. Saya hampir tidak merasakan 169 menit dari durasi film ini berlalu.

Dari awal saya ditarik masuk ke dalam sebuah dunia yang mencekam. Sebuah zaman pasca-apokaliptik, di mana tidak ada lagi perang dan tentara. Kelaparan siap memusnahkan seluruh manusia di muka Bumi dalam hitungan tahun. Kemungkinan masa depan yang tidak terlalu musykil, bila manusia terus menghabiskan sumber daya alam seperti sekarang. Hal ini yang membuat visi masa depan dalam Nolan semakin menakutkan.

interstellar-08

Ketidakberdayaan manusia terlihat jelas. Sekolah-sekolah menghapus salah satu kemenangan terbesar manusia dari sains dari buku sejarah. Bagaimana sebuah lembaga yang begitu besar di abad 20 terpaksa bersembunyi di bawah tanah, menghindari amukan massa yang tak ingin uang negara dihambur-hamburkan untuk eksplorasi angkasa. Sebuah kritik terhadap penghapusan misi lunar oleh NASA beberapa tahun lalu?

Tidak dapat dipungkiri, Christopher Nolan dipengaruhi oleh banyak karya besar fiksi-ilmiah di Interstellar. Saya sendiri langsung teringat kepada satu judul, sekitar 30 menit ke dalam film. Mahakarya sutradara besar Stanley Kubrick, 2001: Space Odyssey.

Mulai dari adegan docking dengan Endurance (tambahkan Blue Danube Waltz dari Strauss dan… voila!) hingga TARS yang mengingatkan pada Hal-9000. Akan tetapi sosok robot-robot di Interstellar sangat jauh berbeda dengan sang antagonis di film Kubrick. TARS, CASE, dan KIPP¹ adalah karakter protagonis. Karakter yang memberi ketenangan dan kepastian dalam banyak adegan di dalam film. Berbeda dari robot-robot dan entitas AI di film-film Hollywood beberapa tahun ke belakang.

Screen shot 2014-11-11 at 6.38.52 PM

Mungkin menurut Nolan sudah saatnya kita mencoba bersahabat dengan makhluk-makhluk sentien non-organik ini. Bisa jadi ia juga dipengaruhi oleh saga Star Wars-nya George Lucas. Di beberapa detik akhir film, Cooper terlihat mengambil alih sebuah pesawat luar-angkasa ditemani TARS, yang telah menjadi bagai teman setianya. Semua fans Star Wars akan berteriak dalam hati, “Luke dan R2-D2!”.

 

McConaissance

Matthew McConaughey, peraih Oscar untuk Aktor Terbaik 2014 dipercaya untuk menjadi pemeran utama di Interstellar. Memerankan Cooper, seorang astronot hebat yang hidup di era yang tidak membutuhkan astronot. Pada suatu zaman saat manusia membenci teknologi dan lebih mementingkan untuk mencari sumber-sumber makanan demi bertahan hidup. Bahkan tim sekaya New York Yankees pun harus bermain di sebuah kota kecil. Sebuah kritik pedas terhadap kefoya-foyaan dan konsumerisme manusia pascar Perang Dunia ke-2.

McConaughey mempertegas kebangkitannya dalam dunia akting (“McConaissance”) berkat penampilan yang luar biasa di Interstellar. Kehampaan hidup sebagai seorang petani, jauh dari langit tempat hatinya berada. Penjiwaannya saat menceritakan momen ia kehilangan istrinya. Dan tentu saja saat ia berpamitan dengan Murphy. Semua ditampilkan dengan kemampuan dan luapan emosi yang mengagumkan. Another Oscar on the way?

Tujuh belas tahun lalu McConaughey bermain dalam salah satu film fiksi-sains paling berpengaruh, Contact. Bersama Jodie Foster, dalam sebuah kisah adaptasi novel Carl Sagan, disutradarai oleh Robert Zemeckis. Dan kini dengan Interstellar, McConaughey mengukuhkan tempatnya dalam aula ikon-ikon fiksi-sains.

 

The Dark Cosmos

Tidak kurang dari astrofisikawan besar dunia seperti Michio Kaku dan Neil DeGrasse Tyson memberikan komentarnya mengenai Interstellar. Ada begitu banyak teori, hipotesa, dan pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang dibahas dalam film ini.

Mulai dari fenomena yang terjadi saat sebuah objek mendekati horison peristiwa. Penjelasan mengenai wormhole menggunakan kertas dan pensil (untung saja mereka tidak berakhir di neraka seperti Capt. Miller dan pesawatnya).

Hingga interpretasi akan singularitas di dalam inti lubang hitam dan representasi dimensi hyperspace, saat setiap peristiwa berada dalam ruang dan waktu yang sama. Serta tak ketinggalan, monolog karakter Dr. Amelia Brand beserta pengalaman Cooper dan TARS di dalam struktur menyerupai tesseract. Di sini Nolan seolah mendeskripsikan kekuatan cinta yang mampu menembus empat dimensi alam semesta yang kita tempati. Apakah mungkin emosi seperti cinta, seperti konsep spooky action in a distance-nya Einstein, terwujud dan bergerak dalam dimensi yang lebih tinggi?

Visualisasi ruang angkasa ditampilkan begitu baik. Seolah menyaksikan Cosmos di layar lebar. Semua film fiksi-ilmiah di masa depan harus mengikuti standar yang telah ditinggikan oleh Nolan dalam Interstellar. Penggambaran lingkungan exoplanet: ombak besar setinggi gunung di planet Miller, awan es di planet Mann, hingga lubang hitam Gargantua, begitu menawan. Tidak terlalu berlebihan dalam SFX dan CGI, dunia-dunia asing ini ditampilkan di dalam nalar. Sistem cryogenic/hibernasi dan propulsi ditampilkan secukupnya. Dan di akhir film, semua penggemar Nolan akan langsung teringat pada Inception saat melihat bagian interior stasiun angkasa Cooper.

Screen shot 2014-11-11 at 6.39.06 PM

Ruang angkasa yang sepi sekaligus menakjubkan, berhasil diciptakan. Adegan menembus wormhole di dekat orbit Saturnus mengingatkan akan adegan perjalanan Jodie Foster menembus ruang-waktu dalam Contact. Ellie, karakter Foster dalam Contact, mencari jawaban akan rahasia alam semesta dan mendapatkan lebih banyak pertanyaan dari entitas yang termanisfestasi dalam wujud ayahnya yang telah wafat. Sama seperti saat kita menatap langit penuh bintang. Setiap jawaban hanya menghasilkan lebih banyak pertanyaan.

 

Fathers & Daughters

Dalam Interstellar, Cooper pergi menyelamatkan dunia, tanpa harapan untuk kembali, didorong oleh cinta pada anak perempuannya Murphy. Rahasia penyatuan hukum gravitasi dan mekanika kuantum dikirimkan melalui jam tangan pemberian Cooper pada Murphy sebelum ia berangkat.

tmy6asbhmuzjiz8xjpnh

Tampaknya Hollywood begitu senang mengaduk emosi penonton dengan menampilkan pengorbanan seorang ayah untuk anak perempuannya. Well, it works goddamit. Saya tidak malu untuk mengakui bahwa ada banyak adegan antara Cooper dan Murphy yang membuat saya meneteskan air mata. Adegan saat Cooper berpamitan pada Murphy remaja (diperankan oleh Mackenzie Foy), serta adegan saat Murphy dewasa (Jessica Chastain) mengirim pesan ke Endurance puluhan tahun kemudian, memiliki potensi menguras air mata seperti adegan saat Bruce Willis berpamitan pada Liv Tyler di film Armageddon.

 

Now we’re just here to be memories for our kids

Selain McConaughey, Chastain dan Foy, film ini juga diisi oleh aktor-aktor hebat lainnya. Mulai dari John Lithgow², Michael Caine dan Anne Hathaway (reuni Dark Knight Rises?), Casey Affleck, dan tentu saja penampilan kejutan dari Matt Damon.

Dan kita tidak dapat membahas Interstellar tanpa menyinggung komposisi musik yang digubah oleh Hans Zimmer. Rasanya tidak berlebihan bila saya mengatakan: tanpa Zimmer, Interstellar tidak akan semegah ini. Nolan dan Zimmer telah bekerja sama sejak Inception dan Batman Begins, hampir sepuluh tahun lalu. Kombinasi sutradara dan komposer yang menyatu, bagaikan Burton dan Elfman, menghasilkan pengalaman audio-visual yang abadi.

Interstellar memiliki drama, dialog saintifik, adegan-adegan menegangkan, kritik sosial, dan makna filsofis. Ia juga memiliki unsur komedi & romansa dalam jumlah yang tepat. Film ini membuat saya menangis, tertawa, dan memikirkan berbagai pertanyaan akan kehidupan. Ada adegan-adegan yang membuat jantung berdebar. Dan ada pula adegan yang membuat mata terbelalak, mulut menganga penuh kekaguman. Tetapi yang paling penting, film ini membuat saya tergerak dan terinspirasi.

Beberapa pertanyaan besar dijawab dengan jawaban yang mengagumkan. Beberapa dengan sedikit canggung. Ya, memang tidak ada yang sempurna. Tetapi tetap, sebuah mahakarya oleh Christopher Nolan.

Bila saya harus memilih satu judul film untuk saya tonton hingga akhir hayat, saya akan memilih Interstellar karya Christopher Nolan. Salah satu film sains-fiksi terbaik sepanjang masa.

Screen shot 2014-11-11 at 6.39.18 PM

Catatan

  1. Penyelia sains di Interstellar adalah Dr. Kip Thorne.
  2. Bermain sebagai alien yang menyamar menjadi manusia dalam sitkom “3rd Rock From The Sun”.
Advertisements

2 thoughts on “Ulasan “Interstellar” (2014)

  1. Scifi terbaik? Lebih suka Inception. Jelas karena temanya nggak asing dan filmnya keren abis (meski aku nggak suka scifi). Mungkin karena aku nggak terlalu tertarik dengan luar angkasa yang begitu sepi dan ceritanya cukup melelahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s