Being Jokowi’s Fanatic: A Satire

Beberapa minggu terakhir ini saya merasa jengah. Dan rasa kesal di dalam benak ini lama-kelamaan menggumpal menjadi amarah. Saya marah pada kalian para Jokowi-haters! Orang-orang nggak tau diuntung yang terus-menerus mengritik kebijakan-kebijakan penuh berkah dari Kanjeng Presiden dari Negara Kesatuan pusaka jaya ini.

Kalian tahu berapa lama kita menunggu seorang pemimpin bagaikan Kanjeng Jokowi? Seorang ksatria piningit yang akan memberantas segala macam bentuk kebusukan dalam pemerintahan? Segala bentuk korupsi dalam birokrasi?

Kalian anak-anak ingusan nggak ngerti jaman Orde Baru. Kalian pingin kita balik lagi ke jaman Orba hah? Saat itu Polisi bisa bertindak apa saja, menangkap siapa saja yang dianggap merugikan mereka. Saat harga-harga komoditas melonjak tak terkendali, tanpa ada kepedulian pemerintah pada jeritan rakyat kecil yang tak mampu membeli bahan-bahan pokok. Saat para anggota kabinet tidak memiliki integritas; di satu waktu membuat peraturan, tapi kemudian hari dia sendiri yang melanggarnya. Kalian mau balik lagi ke jaman itu?!

Oh iya, kamu-kamu orang-orang sok pinter yang suka ngehina anggota kabinet, kelian punya otak? Itu orang-orang hebat yang udah dipilih secara pribadi oleh Kanjeng Jokowi. Apa hak kalian mengritik judgement beliau? Udah ketinggian ilmunya?

Jadi Presiden itu susah. Butuh duit, butuh dukungan. Semua yang kick-ass akan kiss-ass pada waktunya. Elu kira duit buat kampanye jatoh dari langit? Metik dari pohon? Semua itu butuh duit dari partai-partai koalisi. Dari kocek Banteng Merah Perkasa yang mengumpulkannya dengan susah payah dari APBD ratusan kabupaten di pelosok Nusantara.

Butuh juga yang namanya dukungan moril, sprituil, dan tentu saja restu Maharatu Banteng Merah Perkasa. Elu kira gimana lagi caranya ngelawan mesin perang mutakhir bergelimang emas-nya Pak Jenderal Tembem? Kalian itu, goblok jangan dipiara.

Jadi kalo penerus tahta Banteng Merah Perkasa pengen jadi Menteri, ya kalian mesti mikir. Itu logis.. gis.. gis. Kalau partai-partai yang udah ngucurin dana pengen ada perwakilan di kabinet, ya wajar.. jar.. jar. Apa kalian tahu seberapa besar pengorbanan Maharatu dan rekan-rekan dalam pertempuran melawan Pak Jenderal menantunya Bapak Pembangunan tempo hari?

Kalau ada mantan Capres yang gagal di konvensi, terus ingin bergabung sambil ngajakin konstituennya dengan pengikut berratus-ribu untuk pindah ke kubu Paduka, ya bagus tho? Kalau dia terus jadi Menteri di kabinet Paduka, lah kita ini kan orang Timur. Kita ngerti yang namanya balas budi. Makanya sekolah yang bener. Kurikulum elu apa sih dulu? Gak pernah turun tangan ya gitu, otaknya mampet.

Kalau ada Jenderal dengan sejarah penculikan, Jenderal dengan rekening super-gendut, diperintahkan kepada Paduka Jokowi untuk diberi posisi tinggi, ya itu juga ciri-ciri budaya adiluhung. Mikul dhuwur, mendhem jero. Ngerti nggak? Ada masalah negara yang lebih urhen dan mendesak bagi Kanjeng Presiden daripada mikirin Munir dan Poliklinik.

Mungkin kalian kurang makan, karena nggak bisa beli sembako yang harganya keburu naik. Makanya sekolah yang tinggi biar ngerti yang namanya kebijakan fiskal dan finansial. Biar sebelum banyak bacot protes kenaikan BBM kalian bisa mikir dulu yang bener. Pemotongan subsidi itu juga untuk ngebantu kalian rakyat miskin tau. Buktinya kan sekarang harga premium turun lagi, akibat kemurahan hati Kanjeng Jokowi. Kalau harga bahan pokok di pasar nggak ikut turun, ya cari aja pasar yang lain. Makanya kalo gaji sebatas UMR itu dipake beli makanan sehat yang bagus untuk otak, bukan nyicil motor sport.

Dan kalian kaum yang gak punya pendirian, kaum Golput yang gak punya nyali: dasar warga negara gak tau diri. Kalo kalian gak mau bantu Kanjeng Jokowi berjuang ngeberesin negeri ini, pergi aja sana keluar dari wilayah NKRI. NKRI hanya untuk kami orang-orang berdarah merdeka.. hahahaha..

Atau sekalian jadi TKI sana di Malesia. Mending lah, masih bisa nambah2 devisa buat Kanjeng Jokowi ngeberesin banjir di Ibukota bersama Paduka Ahok. Elu tau ngeberesin banjir itu butuh duit ribuan trilyun? Makanya ampe sekarang belum beres-beres tau! Udah mau 3 tahun, masih bodo aja kelian ampe sekarang. Setelah jadi Presiden, Kanjeng jadi lebih banyak urusan. Jadinya ya lebih susah ngeberesin banjir lah. Mikir… mikir…

Saya yakin kejadian akhir-akhir ini diprovokasi oleh kalian para pendukung Prabowo. Sudah lah, kalau sudah kalah nggak usah banyak mulut. Patetik tau nggak. Emangnya kalo dia jadi Presiden negara bakal bener? Hahaha… mana mungkin. Saya tahu pasti itu. Tuhan langsung yang memberi informasinya kepada saya.

Kalian para Jokowi-haters Prabowo-lovers pun kini bersatu dengan Rakyat Nggak Jelas. Rakyat Nggak Jelas yang dulu ngakunya pendukung sejati Kanjeng Jokowi. Tapi sekarang malah berani-beraninya ngeritik beliau. Dulu saja di jaman kampanye, setiap ada kritik pada beliau, mereka pasti langsung lawan. Dulu mereka masih meyakini bahwa kesempurnaan beliau itu tiada batasnya dan di luar kritik. Setiap orang yang mengritik Kanjeng Jokowi akan segera mereka bully beramai-ramai di Facebook dan Twitter. Tapi sekarang, justru mereka yang menebar kritik. Memalukan. Dasar kaum munafik!

Kalian Rakyat Nggak Jelas maunya apa? Maunya Kanjeng Presiden segera memecat para Polisi yang kurang ajar berani-beraninya mengobrak-abrik KPK? Hahahahaha… Kalian ingin balik lagi ke jaman Orba, saat para Panglima semuanya nyembah di kaki Presiden? Presiden kita yang sekarang lebih hebat. Beliau sedang mempermainkan Polri dan KPK. Tunggu saja waktunya, kalian akan tahu bahwa semua itu adalah kejeniusan beliau. Bukan karena beliau takut pada Polri atau sang Maharatu yang telah memilihkan calon Kapolri. Kalian itu kekanak-kanakan memang.

Tulisan ini sekedar uneg-uneg saya, sebagai patriot sejati NKRI. Pendukung hingga darah penghabisan Kanjeng Presiden Jokowi, sang Negarawan Sejati. Beliau tahu yang paling benar. Bukan kalian para haters beliau. Jadi pesan saya bagi kalian-kalian yang meragukan kesempurnaan Kepresidenan ke-7 ini:

Pake otak gan…

Piss, Love and Gawl!

Artikel ini adalah sebuah satire.

Advertisements

12 thoughts on “Being Jokowi’s Fanatic: A Satire

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s