Tanggapan terhadap “Alasan-alasan kenapa kamu akan menikahi orang yang salah”

Di dalam artikel blog-nya, Choro menulis tentang mengapa dalam pernikahan kita akan memilih “orang yang salah”. Berikut saya mengutip sebuah kalimat dari paragraf pembukanya: “pada akhirnya, kita tidak akan bisa menghindari menikah dengan orang yang salah karena beberapa alasan“.

Berikut ini adalah tanggapan saya terhadap delapan poin dalam artikel tersebut. Poin-poin yang diungkapkan oleh Choro sebagai penyebab mengapa kita tidak dapat menghindari menikahi orang yang salah.

Pertama, tidak memahami diri sendiri bukan alasan kita tidak akan menemukan calon yang tepat.

Manusia bukan parameter di dalam sebuah fungsi pemrograman. Saat nilai yang berbeda pasti akan memberi hasil yang berbeda. Manusia berubah, beradaptasi, berkembang. Bila pernikahan adalah sebuah fungsi, maka f(x) dapat menghasilkan a, b, atau z.

Pernikahan adalah proses yang tepat untuk menemukan jati diri.

Kedua, apa yang kita pahami seutuhnya di dunia yang asiri. Saat satu-satunya hal yang konstan adalah perubahan.

Kita bukanlah sebuah enigma yang harus diurai setiap rahasianya. Justru di situ lah salah satu keindahan matrimoni: menemukan kejutan-kejutan menyenangkan sepanjang jalan.

Ketiga, tidak terbiasa bukan berarti tidak bisa. Memang benar, terkadang ada tendensi psikologis untuk merasakan rasa sakit. Rasa sakit yang familier.

Tetapi spesies kita telah berkembang ribuan tahun untuk merasakan bahagia. Diselimuti euforia. Endorfin yang mengalir saat kita merasakan hangatnya mentari. Saat deru ombak menghempas kaki yang terbenam di pasir. Saat kita menatap senyuman orang terdekat, bintang-bintang di dalam rasi yang megah.

Kita hidup terlalu cepat. Berlari menuju sesuatu yang bahkan kita sendiri terkadang tidak tahu apa. Padahal keindahan, dan kebahagiaan, terpapar begitu jelas saat kita berhenti sejenak.

Keempat; betul, kesendirian itu menakutkan. Tetapi kita memiliki akal, naluri, pengalaman. Seperti lentera, tersesat hanya bagi orang-orang yang tidak menggapainya di saat gelap.

Kelima, pernikahan tidak sepenuhnya rasio. Tidak juga sepenuhnya romansa. Tapi keduanya adalah komponen utama.

Bila pernikahan adalah sebuah rumah, maka rasio menjaga integritas strukturalnya. Dan romansa menghangatkan orang-orang di dalamnya.

Keenam, kita tidak perlu memahami apa-apa untuk mencintai. Perlu kah seorang ibu diajarkan bagaimana cara mencintai anaknya?

Ketujuh, kita ingin kebahagiaan abadi, padahal kita tidak terbiasa bahagia? Sedikit paradoksal, bukan? Ya, bahagia selama-selamanya hanya ada di dalam kisah-kisah pengantar tidur. Kita semua tahu itu.

Saat dua manusia memutuskan untuk menikah, tentu mereka telah sepenuhnya paham. Paham dan siap akan kenyataan bahwa pernikahan bukan hanya hari-hari cerah. Tetapi juga hari-hari mendung, hujan, bahkan badai.

Kita tidak bisa memandang pernikahan sebagai suatu ikatan tanpa pertikaian. Karena itu bagaikan menginginkan hidup yang selamanya berjalan sesuai rencana.

Kedelapan, pernikahan adalah sebuah perjalanan.

Bila pelarian adalah tujuannya, maka kita tidak akan pernah sampai. Selamanya akan berlari, selamanya dalam lelah, selamanya terpenjara pengingkaran. Jangan salahkan jalannya, bila jurusan yang telah dipilih adalah sesuatu yang buruk.

Jadikan bahagia sebagai tujuannya. Maka seberat apa pun perjalanan, sebanyak apa pun rintangan, kita tidak akan menyerah. Semenggoda apa pun persimpangan, kita tidak akan berpaling. Kita akan terus melangkah. Bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s