Tanggapan Terhadap “Kenapa Dunia Islam Terbelakang?”

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tweet yang berisi tautan ke sebuah artikel. Berjudul “Kenapa Dunia Islam Terbelakang?”, terbit sekitar tahun 2012 dan ditulis oleh Ulil Abshar-Abdalla. Pertanyaan yang menjadi judul artikel tersebut juga telah lama menjadi perhatian saya pribadi. Di setiap buku sejarah, saya mencari jawaban atas pertanyaan berusia ratusan tahun ini. Tetapi jawaban yang definitif belum berhasil saya temukan. Ada begitu banyak faktor yang terlibat. Sehingga cukup sulit untuk menunjuk alasan sebagai jawaban atas pertanyaan besar tersebut.

Dalam bukunya, Samuel P. Huntington menceritakan mengenai Benturan Kebudayaan antara Islam & Barat. Tetapi di abad ke 7 Masehi, dunia adalah tempat yang sangat berbeda. Definisi identitas agama-agama samawi belum setajam sekarang. Di antara banyak kelompok keagamaan Abrahamik di Timur Tengah, sebuah perspektif baru muncul. Islam muncul dari pedalaman gurun Arabia. Saat ekspansinya mencapai daerah Levant & pesisir utara benua Afrika, transformasi politis di kawasan berlangsung mudah.

Hanya dalam waktu beberapa tahun, entitas baru ini mencapai pintu kekaisaran Romawi Timur. Tidak adanya friksi yang tajam dalam identitas keagamaan, sistem pemerintahan yang relatif toleran, serta inovasi-inovasi militer, menyebabkan penyebaran kekhalifahan Islam yang sangat cepat di awal kelahirannya (Fuller).

Selama 700 tahun berikutnya, dunia Islam menjadi pusat-pusat peradaban dunia. Dari Mali di barat Sahara, ke Kordoba di Andalusia, Baghdad di mesopotamia, hingga Delhi di anak benua India. Kebudayaan-kebudayaan ini menjadi lokasi banyak pencapaian besar umat manusia dalam bidang ekonomi, budaya, sains, dan militer. Saat itu hanya kekaisaran Cina di timur jauh yang cukup mendekati kejayaan umat Islam.

Lalu apa yang menyebabkan dunia Islam saat ini hanya menjadi bayang-bayang kebesarannya di masa lalu?

Dalam artikelnya, Ulil Abshar-Abdalla mengemukakan sebuah penjelasan oleh Amir Syakib Arsalan (1869-1946). Arsalan adalah seorang cendekiawan asal Lebanon yang menulis buku “Limadza Ta’akhkhar al-Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum?” (Kenapa Umat Islam Terbelakang, dan Kenapa Umat Lain Maju).

Seperti yang ditulis Abshar-Abdalla dalam artikelnya, terdapat tiga “penyakit mental” yang oleh Arsalan dianggap menjadi alasan kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah diri (al-istikhdza’), cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Bila Abshar-Abdalla atau Arsalan menganggap tiga hal ini sebagai sifat intrinsik umat Muslim, maka di sini saya sangat tidak setuju.

Apakah mungkin sebuah kebudayaan yang mencakup milyaran manusia, mulai dari Moor hingga Melayu memiliki sifat intrinsik merugikan yang sama? Di sini kita membicarakan bangsa-bangsa yang menjadi kekuatan adidaya selama ratusan tahun. Jika sifat itu sekarang menghinggapi pikiran kolektif ummah, apa yang menyebabkan sifat-sifat itu muncul? Saya yakin tentu saja bukan karena ajaran Islam. Arsalan sendiri berkata bahwa “hukum kemajuan berlaku secara konsisten bagi bangsa Islam dan non-Islam”. Tentu saja juga hukum ini konsisten bagi umat Islam di abad 7-14 Masehi dan umat Islam di abad 20-21 bukan?

Arsalan mencontohkan Eropa Barat dan Jepang sebagai kebudayaan maju di awal abad 20. Seperti yang tertulis dalam artikel Abshar-Abdalla, ia menjelaskan bahwa “dua dunia itu maju tanpa harus mengabaikan tradisi keagamaan mereka” dan “bangsa-bangsa itu maju karena kerja keras untuk meraih kemajuan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan”.

Mari kita lihat sejarah bangsa-bangsa ini. Untuk Eropa Barat saya akan memilih Inggris, negara yang memulai Revolusi Industri. Dan Prancis, negara yang memulai hak-hak kesetaraan antar warga negara.

Sekitar abad 17, Inggris dan Prancis relatif tidak jauh berbeda dengan Ottoman. Kekaisaran Turki Ottoman adalah imperium besar terakhir dari abad pertengahan. Di puncak kekuasaannya di abad 15, hanya gabungan kekuatan negara-negara Eropa yang mampu menahan gempuran Ottoman. Saat itu ia menguasai sebagian Eropa di Laut Mediterania dan Semenanjung Balkan.

Ada satu hal yang membuat Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa Barat berhasil mengejar ketertinggalan mereka dari Ottoman: mesin cetak temuan Guttenberg. Saat Eropa Barat menikmati kemajuan yang dihasilkan oleh penyebaran ilmu pengetahuan karena kemudahan akses ke buku-buku, Ottoman mengalami stagnasi sains & pengetahuan. Pemerintah Ottoman tidak memberi akses kepada rakyatnya ke inovasi ini. Akibatnya, presentase rakyat Ottoman yang buta huruf sangat tinggi.

Ottoman adalah kekaisaran yang luas. Jajahannya meliputi negara-negara di pesisir Mediterania, Asia Minor, Levant, Mesir, Timur Tengah, hingga Irak. Seperti para absolutis lainnya, para sultan Ottoman mencurigai setiap benih instabilitas. Dan mereka memandang buku sebagai instrumen yang dapat memicu pemberontakan di koloni-koloni. Kebijakan tersebut sukses mempertahankan kelanggengan Ottoman hingga 3 abad lagi. Tetapi saat musuh-musuh mereka di Barat terindustrialisasi, Ottoman bertahan di abad pertengahan.

Sementara itu pada tahun 1688, Inggris mengalami peristiwa besar, Glorious Revolution. Sebuah revolusi terpenting dalam 2000 tahun terakhir (Acemoğlu dan Robinson). Glorious Revolution menandai awal dari akhir absolutisme monarki. Sesuatu yang pernah dicapai bangsa Romawi, tetapi hilang semenjak Julius Caesar naik tahta.

Apa arti hilangnya absolutisme monarki bagi Inggris? Sistem politik yang pluralis dan inklusif. Sistem politik yang tidak lagi dapat didominasi oleh seseorang atau sekelompok orang. Sistem yang menjamin perkembangan ekonomi rakyat dan inovasi sains. Walau pada awalnya tidak sempurna, Inggris mampu mempertahankannya hingga lebih dari 100 tahun. Tepat hingga saat revolusi industri hendak dimulai. Kombinasi antara sistem politik, ekonomi, dan sains yang  progresif ini membawa Inggris menjadi penguasa dunia di abad 19.

Prancis juga sebelumnya adalah negara yang medioker. Pada tahun 1789, dimulai dari serangan ke Bastille, Revolusi Prancis dimulai. Absolutisme yang mengakar ratusan tahun dihapus dengan menggelindingnya kepala para aristokrat di bawah guillotine. Republik Prancis pun lahir. Puncaknya adalah saat sang jenderal brilian yang muncul di tengah kemelut revolusi memimpin Prancis. Napoleon Bonaparte menganeksasi negara-negara tetangga, menciptakan imperium Prancis di Eropa.

Memang, Napoleon membawa banyak kesengsaraan dalam penaklukannya. Tetapi bangsa Prancis juga membawa sesuatu yang sangat berharga ke wilayah-wilayah baru mereka: Belgia, Belanda, dan Jerman. Bangsa Prancis membawa paham kebebasan dan kesetaraan hak bagi setiap warga negara. Liberté, égalité, fraternité. Revolusi mental yang dalam jangka panjang menghapus absolutisme di negara-negara Eropa barat tersebut. Ini adalah salah satu alasan mengapa Belgia, Belanda, Jerman, seperti juga Prancis dan Inggris, mengambil keuntungan besar dari industrialisasi di abad 19.

Pada abad 18, Cina dan Jepang tidak jauh berbeda dalam hal kemajuan. Tetapi pada pertengahan abad 19, sesuatu yang monumental berlangsung di negeri sakura. Revolusi dramatis yang efeknya menyerupai Glorious Revolution dan Revolusi Prancis satu abad sebelumnya: Restorasi Meiji.

Selama 300 tahun para shogun dari klan Tokugawa berkuasa. Hilangnya kekuasaan absolut mereka membawa kemajuan pesat bagi Jepang. Di awal abad 20, Cina memodernisasi militer dengan membeli banyak senjata dari Barat. Sementara Jepang telah memiliki kompleks industrial militer mereka sendiri. Saat raksasa komunis Cina mengalami stagnasi, Jepang telah menjadi negara industri maju abad 20.

Apa yang terjadi pada umat Muslim di Afrika Utara, Timur Tengah, India, hingga Nusantara di saat yang sama? Kolonialisasi. Imperialisme Eropa. Absolutisme tanpa akhir. Bagi bangsa-bangsa Timur Tengah pra-kemerdekaan, mereka hanya mengerti kehidupan di bawah kekuasaan absolut penjajah. Selama ratusan tahun. Diawali oleh Ottoman, lalu ditutup Inggris Raya.

Seperti yang dijelaskan oleh Acemoğlu dan Robinson, kemajuan atau kemunduran sebuah bangsa tidak ada hubungannya dengan lokasi geografis atau sifat bangsa-bangsa tersebut. Tetapi pada keberadaan sistem politis yang pluralis dan inklusif. Negara-negara maju saat ini telah mengalami revolusi ke arah tersebut dalam 300 tahun terakhir. Tetapi bagi banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, hal ini masih dalam proses. Atau bahkan tidak pernah terjadi.

Banyak negara-negara bekas jajahan yang terjebak dalam sebuah “lingkaran setan”. Robert Michels menyebutnya sebagai “Iron Law of Oligarchy“. Saat negara-negara ini merdeka, mereka hanya berganti dari satu pemerintahan absolut ke yang lain. Pemerintahan absolut yang bersifat ekstraktif. Para pemimpinnya hanya memikirkan cara-cara untuk melanggengkan kekuasaan. Cara terbaik adalah dengan mengorbankan perkembangan ekonomi, demi menghindari kelas menengah yang kuat. Dan pada akhirnya, membunuh inovasi.

Bahkan bagi beberapa negara, mereka tidak murni lepas dari penjajahan. Neo-imperialisme Amerika di abad 20 menyebabkan kesengsaraan dan kematian di banyak sudut bumi. Didukung para diktator korup, negara adidaya ini dengan segala upaya mempertahankan hegemoninya. Mulai dari Mesir, Iran, hingga Indonesia (Blum).

Ratusan tahun hidup dalam opresi, dijajah oleh bangsa lain, lalu oleh bangsa sendiri, apa efeknya bagi ummah? Pesimisme? Rendah diri? Cepat putus asa? Tidak mengherankan bila hal ini dirasakan banyak umat Muslim. Tetapi apakah sifat ini eksklusif hanya di dunia Islam?

Amerika Latin dengan jumlah penduduk Katolik mendekati 400 juta jiwa, masih termasuk kategori negara berkembang. Bahkan beberapa negara yang memiliki tradisi absolutis semenjak zaman Inca dan Maya dapat dikategorikan sebagai negara ketiga. Ethiopia, sebuah kekaisaran Kristen selama hampir seribu tahun, yang dilanjutkan oleh para diktator pasca kemerdekaannya, memiliki salah satu ekonomi terlemah di dunia. Eropa Timur yang mayoritas penduduknya penganut Kristen Ortodoks tertinggal jauh dalam hal industri, sains dan ekonomi dari tetangganya di barat.

Saya rasa, Muhammad Basuni Imran & Amir Syakib Arsalan salah mengambil sudut pandang masalah. Bukan umat Islam yang tertinggal per se, tetapi negara dunia ketiga lah yang tertinggal. Tertinggal dari negara-negara maju di Eropa Barat, Jepang, dan Amerika Utara. Dan sayang sekali, banyak negara-negara Muslim berada kategori dunia ketiga.

Di abad pertengahan, kebudayaan-kebudayaan Cina (Budha, Konfusianisme, Daoisme), Moor, Arab, Parsi (Islam) meninggalkan Eropa (Kristen) dan Jepang (Shinto) di belakang. Di abad 20 situasi pun berbalik. Tetapi sekali lagi, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tradisi keagamaan.

Di akhir artikel, Abshar-Abdalla menulis tentang pendapat seorang penulis asal Pakistan, Dr. Farrukh Saleem. Saleem memiliki pendapat mengenai kunci kemajuan Islam. Ia menyebutkan bahwa umat Muslim harus mengejar ketertinggalannya dalam bidang pendidikan dan riset.

Dalam hal ini saya sangat setuju. Kebesaran Islam di abad pertengahan diawali sifat progresif para cendekiawan Muslim saat itu. Serta dukungan penuh para khalifah bagi kemajuan pendidikan dan sains.

Di luar itu, menurut saya pribadi, umat Muslim juga harus memupuk semangat inovasi dan kewirausahaan. Kekuatan ekonomi akan menghasilkan kelas menengah yang kuat. Kelas sosial yang dibutuhkan untuk mengawasi keberlangsungan pemerintahan.

Sejarah membuktikan bahwa sebuah bangsa menjadi maju saat mereka berhasil lepas dari absolutisme. Dan ketertinggalan kebudayaan dan dunia Islam bukanlah akibat sifat-sifat di dalam diri umat Muslim. Oleh sebab itu, mereka memiliki kemampuan untuk memperbaiki nasibnya sendiri. Insyaallah, kombinasi kemajuan sains dan kekuatan ekonomi akan mampu mendekatkan dunia Islam kembali pada kejayaannya.

Wallahu’alam bissawab.

Advertisements

4 thoughts on “Tanggapan Terhadap “Kenapa Dunia Islam Terbelakang?”

  1. Pingback: Seperti Alan Turing | Codes, Colours, Chemistry

  2. Assalammualaikum,

    Pendapat saya, mungkin sebahagian umat muslim diingatkan mengenai hidup di dunia hanya sementara, seperti numpang lewat di dunia (maaf, memang saya baca dr postingan berantai tausiah).. sehingga saya pun ikut berfikir mengenai hal tsb, seakan dilemma.. kalau mengejar dunia, jadi setengah2 ngejar akhirat.. karena hidup balance terkadang sulit menghasilkan ilmuwan2 yg dahsyat, karena mereka harus fokus berfikir menelaah suatu hal secara mendalam.. belum lagi memikirkan keluarga, ekonomi, sosial, dan yg terpenting, ibadah..
    Tapi saya paham maksud penulis, itu juga saya rasakan, dan pada ujungnya kita harus memilih..

    Salam

  3. Jelas2 ini gara2 islam kok masih nyalahin orang lain. Gak usah jauh2 deh lihat Indonesia. Negara lain sibuk berlomba2 memajukan teknologi, indonesia sibuk halal haram, melarang menyolatkan pendukung ahok, mengkafir2kan, Dikit2 bawa islam, ahok didemo 7jt (katanya) org, tp 7jt ini gk satupun mendemo koruptor. Ada ustadz kok ceramah “sebaik2nya ahok masuk neraka, seburuk2nya koruptor (muslim) masuk surga”. Jelas, negara islam manapun gk ada yg maju kalau tanpa bantuan barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s