Kritis Bukan Berarti Benci

Saya ingat dulu ibu menasehati saya agar tidak terlalu kritis dan terus menerus menyerukan kritik pada pemerintah. Bahwa negara dan pemerintahan tidak lah sempurna, tugas kita sebagai warga negara cukup bekerja sebaik-baiknya. Dalam kasus saya dulu sebagai mahasiswa, belajar sebaik-baiknya.

Mungkin beliau khawatir melihat saya yang lebih banyak mengikuti aksi demo (ini di tahun 1998) daripada kuliah. Mungkin beliau khawatir melihat perdebatan-perdebatan saya dengan ayah di rumah (ayah saya, seorang Kolonel, adalah pendukung setia Jenderal Soeharto).

Tapi apa daya saya tidak bisa sepenuhnya mengikuti nasehat beliau. Mungkin saya bisa menghindari konflik lebih lanjut dengan ayah di rumah, tapi saya tetap mengikuti aksi-aksi mahasiswa saat itu dalam menggulingkan rezim Orde Baru.

Sesungguhnya bila ibu dapat melihat, sifat kritis saya bersumber dari tempat yang sama dengan sifat patriotis ayah. Kita sama-sama mencintai negara ini. Mungkin ayah tidak melihat ada hal yang salah dengan negara karena beliau sangat mencintai Presiden saat itu. Bagi semua kalangan militer, bahkan hingga saat ini, Soeharto adalah pahlawan yang menyelamatkan kita dari komunis.

Rasa cinta pada pemimpin yang menutupi objektivitas bukan hal yang aneh. Kita melihatnya pada para pendukung Presiden yang sekarang, Joko Widodo. Bahkan pada calon Presiden lawannya di Pemilu lalu, Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Tidak hanya pada skala nasional, kita juga melihat fanatisme pada skala kepala daerah. Kontroversi para pendukung Basuki Tjahja Purnama beberapa waktu lalu adalah contohnya.

Mungkin saya juga terkadang tertutup kabut subjektivitas. Bila ada sifat terlalu fanatik pada pemimpin, tidak tertutup ada juga sifat terlalu kritis. Bila itu terjadi, saya harap teman-teman mau mengingatkan.

Seperti judul artikel ini, kritis bukanlah benci. Bila saya terus-menerus mengeluarkan kritik pada pemerintah, tujuannya adalah saya ingin ada perubahan yang signfikan. Dan mungkin dalam beberapa kesempatan, bahasa saya terlalu pedas. Ini lebih karena luapan emosi melihat betapa lambatnya negara bertindak.

Saya cinta negara ini. Saya melihat begitu besar potensinya, potensi orang-orangnya. Oleh sebab itu saya terkadang merasa sedih, malu, dan marah saat masih banyak rekan-rekan sebangsa kita memperoleh perlakuan yang tidak adil dari negara. Dan selama saya melihat hal seperti ini masih terjadi, saya akan terus bersikap kritis pada negara.

Jayalah negeriku.

Advertisements

One thought on “Kritis Bukan Berarti Benci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s