Seperti Alan Turing

Cepat, topik apa yang sedang hangat di media sosial saat ini? Fanboy #TeamJokowow versus fanboy #TeamPrabowow? Basi! Kopi sianida? Bisa! Tapi yang hendak saya bahas kali ini adalah polemik yang mulai memecah belah° netizen lokal: Lesbian Gay Bisexual Transgender Queer.

Sebelumnya mungkin bisa saya mulai dengan menerangkan sikap-sikap saya. Mengenai legalisasi pernikahan LGBT di negeri tercinta, sikap saya bisa dibaca di sini. Sementara itu, mengenai rekan-rekan warga negara Republik Indonesia yang memiliki orientasi/preferensi seksual LGBTQ, pernyataan sikap saya wakilkan pada Rhett Butler.

Intinya, saya tidak ambil pusing. Preferensi seksual adalah identitas pribadi setiap orang. Bukan urusan orang lain, urusan tetangga, atau urusan pemerintah. Dan juga bukan urusan saya untuk menghakimi atau mendukung orientasi seksual orang lain.

Sebagai contoh, anggaplah saya memiliki seorang tetangga yang baik, tidak pernah mengganggu orang lain, tidak pernah melakukan tindakan di luar norma masyarakat setempat, dan dia gay. Saya akan langsung membela bila orang-orang bertindak tidak adil atau zalim terhadapnya. Bukan karena saya pro-LGBTQ, tetapi karena saya pro-keadilan. Dan bila seorang tetangga saya ternyata anti-LGBTQ, saya tidak akan serta merta mengatakan bahwa dia berpikiran sempit, picik, dan terbelakang. Adalah hak azasi dia untuk tidak mendukung sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya.

Sudah berhari-hari saya melihat berbagai post di Facebook¹ mengenai masalah LGBTQ. Tentu saja ada yang pro, dan ada yang kontra. Semuanya bisa saya tolerir. Semua orang boleh memiliki pendapatnya masing-masing. Kalau sudah bikin jotos-jotosan, baru saya tidak bisa saya tolerir.

Nah, hari ini muncul sesuatu di linimasa yang menggelitik saya. Menggelitik untuk mengeluarkan uneg-uneg mengenai polemik yang sudah berlangsung berhari-hari ini. Sebenarnya saya agak malas menulis lagi tentang beliau, tapi ya sudahlah, kebetulan memang doi lagi yang menggelitik jemari yang pedantik ini. Hehe.

Di tweet-nya beliau berkicau: “Lihat saja apakah ada azab untuk negeri2 yg menolerir LGBT? Mereka malah pada makmur semua. 🙂 “.

Saya hendak menggunakan kacamata saya yang paling sederhana. Mencoba mengartikan ucapan beliau tanpa prasangka dan konotasi. Dan, sekali lagi mohon maaf bila saya salah tafsir, yang saya tangkap dari kata “…mereka malah makmur…” adalah: sikap toleransi pro-LGBTQ tidak akan membawa azab, tetapi justru kemakmuran.

I really am having trouble understanding his logic in this. Azab adalah domain Yang Di Atas. Saya tidak akan berusaha mencoba memahami masalah azab. Tetapi saya kesulitan memahami anggapan Ulil jikalau sikap pro-LGBTQ akan membawa kemakmuran. Well, saya sudah membaca buku-buku dari Acemoglu & Robinson, Diamond, dan Chomsky. Tidak ada satu pun bab yang membahas toleransi terhadap LGBTQ akan membawa kemakmuran pada suatu bangsa.

Saya yakin Ulil adalah orang terpelajar. Mungkin saya yang salah menganggap bahwa ia menyusun kalimat-kalimat di tweet tadi untuk menunjukkan korelasi sebab-akibat. Karena bila itu benar maka berarti ia menggunakan argumen post hoc ergo propter hoc: “karena negara-negara tadi menolerir LGBTQ, maka negara-negara tadi makmur”. Akan sangat memalukan kalau memang ini yang beliau maksud. Ah, mungkin beliau cuma bercanda.

Berhubung di sini saya menulis topik LGBTQ, sekalian saja saya membahas satu lagi poin yang juga menggelitik benak. Mengenai argumen kealamian perilaku homoseksualitas dan apakah perilaku tersebut adalah bawaan dari lahir (genetis).

Pertama-tama, sesuatu yang alami tidak selalu berarti bagus atau normal. Banyak ketidaksempurnaan dan kecacatan yang terjadi di alam. Kesalahan dalam penyalinan gen, mutasi gen, dan berbagai sebab-sebab biologis lainnya. Menggunakan alam sebagai argumen pro-LGBTQ, menurut saya pribadi, rasanya kontra-produktif. Anemia sel sabit, Down Syndrome, semuanya alami. Terjadi karena proses-proses genetis dan juga terjadi pada spesies lain. Tapi apakah kondisi-kondisi ini normal, dalam arti menjaga/meningkatkan probabilitas keberlangsungan spesies tersebut?

Beberapa argumen dikemukakan mengenai keuntungan homoseksualitas dalam beberapa spesies hewan. Teori evolusi bersandar pada kenyataan bahwa tiap spesies terus menerus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Suatu waktu akan  terjadi mutasi yang menguntungkan dan sifat ini akan diturunkan pada keterunannya melalui gen. Bila sebuah sifat memang menguntungkan tetapi tidak dapat diturunkan (melalui reproduksi seksual, karena manusia bukan tanaman yang bisa distek), lantas apa gunanya?

Richard Dawkins dalam bukunya yang hebat, “The Selfish Gene”, menyatakan bahwa organisme hanyalah kendaraan bagi gen. Dan tujuan utama gen adalah menduplikasi dirinya. Dengan konsep Dawkins ini serta fondasi dari teori evolusi, rasanya kurang tepat  menjadikan genetika sebagai salah satu argumen utama proponen LGBTQ. I’m just sayin’, man.

Dan seharusnya oponen LGBTQ santai saja dengan argumen genetis ini. Karena sifat-sifat genetis yang tidak diturunkan akan berkurang jumlahnya di gene pool. Dan akan hilang dengan sendirinya. But then again, we’ve seen homosexuality recorded since ancient Greece. Jadi kenapa belum hilang? Apakah proses evolusi belum selesai? Atau memang homoseksualitas ada hubungannya dengan pengaruh lingkungan?

Mengenai pengaruh lingkungan, saya rasa kedua belah pihak cenderung terjebak dalam persepsi hitam-putih. Bahwa preferensi seksual itu cuma dua: murni homoseksual dan murni heteroseksual. Come on, guys

Pada tahun 1948 Alfred Kinsey memublikasikan hasil penelitiannya mengenai perilaku seksual pada laki-laki. Dan hasilnya adalah terdapat spektrum antara kedua kutub homo dan hetero. Anggapan bahwa semua orang terlahir 100% heteroseksual dan 100% homoseksual mulai tidak mendapat tempat. Fenotip tidak hanya ditentukan oleh satu alel dalam gen. Pada banyak kasus, kombinasi alel menghasilkan spektrum fenotip. Contohnya mulai dari warna rambut, warna kulit, hingga kemampuan tangan non-dominan. Sebagai contoh: ada orang-orang yang hanya aktif menggunakan tangan kanan. Sementara yang lain hanya dapat menggunakan tangan kiri. Tetapi ada spektrum di antara dua kutub tersebut².

So let say a baby boy was born with 60% homosexuality inclination and 40% for heterosexuality. Apakah kita dapat dengan pasti mengatakan bahwa jika ia hidup di lingkungan yang 100% menekan gaya hidup LGBTQ, anak laki-laki tersebut akan tumbuh menjadi seorang gay? Dan bagaimana bila kasusnya dibalik, seorang bayi perempuan terlahir dengan kecenderungan homoseksualitas sebesar 40%, dibesarkan di lingkungan yang permisif terhadap LGBTQ, seperti Yunani kuno dan sebagian Amerika Serikat. Lalu saat dewasa, dia memilih untuk berpasangan dengan perempuan lain. Apakah hal tersebut tidak mungkin terjadi?

Di sini saya tidak berniat membedah atau apalagi mementahkan teori-teori perkembangan psikologis. Tetapi saya percaya bahwa preoferensi seksual adalah hasil nature and nurture. Sehingga menafikan kemungkinan pengaruh lingkungan dalam perkembangan potensi preferensi seksualitas seorang anak, menyatakan bahwa seorang anak terlahir 100% heteroseksual atau 100% homoseksual, adalah tidak bijaksana.

Ya sudahlah. Saya sudah terlalu banyak bicara (menulis). Padahal tadi asalnya cuma ingin sedikit membahas tema LGBTQ dari sudut pandang pribadi. Pada akhirnya saya cuma ingin mengatakan, daripada kita terus mempermasalahkan kelurusan moralitas orang lain, kenapa tidak kita buktikan saja siapa yang lebih banyak kontribusinya untuk negara. Yang lebih banyak sumbangsihnya pada bangsa. Lebih baik seperti Alan Turing, memiliki jasa yang besar³ bagi dunia sains komputer. Debat kusir tak menentu di dunia maya akan membawa apa? Tidak ada.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Catatan:

0- Kapan sih orang Indonesia tidak mudah dipecah belah?

1- The most likely place where you can find me online these days.

2- Orang-orang yang hanya aktif menggunakan tangan kiri, biasa disebut kidal, adalah golongan minoritas. Juga sering dianggap aneh. Dan juga mengalami diskriminasi dalam berbagai rancangan berbagai instrumen. Mengenai spektrum tangan yang dominan, saya sendiri dominan tangan kanan, tetapi lebih mudah menggunakan ponsel dengan tangan kiri, menggunakan pisau dengan tangan kiri saat makan steak, dan bisa menggosok gigi dengan tangan kanan maupun kiri. Pada orang-orang yang belajar piano, lama-kelamaan mereka akan memiliki kemampuan yang seimbang di kedua belah tangan.

3- Bukan penemu komputer ya, Mas Ulil. Hehe.

Advertisements

3 thoughts on “Seperti Alan Turing

  1. Mungkin menjelaskan siapa dan apa kontribusi Alan Turing serta dampaknya di masa ini sebelum membahas yang lain akan jauh lebih bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s