Pahami Situasi

Beberapa waktu lalu saya menulis mengenai diskursus LGBT yang semakin meluas di masyarakat dan reaksi dari kelompok pro yang semakin gencar membela keyakinannya. Di artikel tersebut saya mempertanyakan kearifan gerakan aktivis pro-LGBT di negara yang mayoritas religius konservatif ini.

Ada satu hal yang sangat ingin saya utarakan di sini berkaitan dengan perkembangan situasi dialektika yang semakin tidak menentu. Saya prihatin melihat kedua pihak sama-sama bersikap keras kepala, menggunakan us-versus-them mentality, dan memandang banyak hal hanya melalui lensa hitam dan putih.


Dalam argumennya, kelompok anti-LGBT menggunakan beberapa poin. Tetapi poin dasarnya selalu mengerucut ke arah implementasi hukum-hukum agama. Di mana intinya adalah dalam kitab suci tidak ada tempat bagi kelompok LGBT. Seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf awal, kelompok ini adalah kelompok mayoritas. Jauh lebih banyak, dan pada beberapa posisi, jauh lebih berkuasa dibanding kelompok yang pro.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, saya mencemaskan salah satu tipe sanggahan kelompok pro-LGBT dalam menyikapi argumen kelompok seberangnya. Di beberapa kesempatan saya melihat, saat seseorang dari kelompok anti menyatakan keberatannya yang berlandaskan agama, kelompok pro menganggap orang tersebut sudah “tertutup hatinya” atau “tertutup nalarnya”.

Di sini saya tidak ingin mempermasalahkan sikap yang bisa dibilang menghakimi tersebut. Namun yang hendak saya soroti adalah apa yang dapat diartikan oleh penerima jawaban tersebut. Saat seseorang mengatakan bahwa agama dan Tuhannya mengatakan LGBT itu salah, lalu dijawab dengan “hatimu tertutup”, secara tidak langsung itu mengimplikasikan bahwa agama dan Tuhannya membuat hati orang tersebut tertutup. Agama dan Tuhan seperti apa yang membuat hati seorang hambanya tertutup? Apakah ia menyiratkan bahwa agama dan Tuhannya itu salah?

Di sinilah diskursus menjadi semakin runcing. Ini berpotensi membuat kelompok pro merasa bahwa diskursus tidak lagi sekedar berkutat di ranah LGBT, tetapi mulai memasuki ranah benar atau tidaknya agama yang ia anut. Ini yang menurut saya selama ini membuat bola salju resistensi terhadap LGBT membesar begitu cepat dan deras.

Tidak ada satu orang pun yang ingin mendengar bahwa mereka salah. Apalagi bila itu menyangkut agama. Saat keyakinan seseorang ditantang, hal itu hanya semakin membuat keyakinannya semakin kuat. Hal ini disebut backfire effect. Dan ini yang membuat diskusi LGBT di negara kita semakin terpolarisasi. Saya takut akan lahirnya radikalisme baru sebagai akibat semakin kuatnya resistensi masing-masing kelompok. Radikalisme lahir saat kebencian bertemu ketidaktahuan yang menjangkiti populasi usia produktif.

Sekali lagi, saya tidak anti atau pro kaum LGBT. Hal ini sudah saya tegaskan di artikel-artikel sebelumnya. Yang saya risaukan adalah gerakan aktivis pro-LGBT yang justru semakin membahayakan kelompok LGBT itu sendiri. Membahayakan mereka yang justru tidak tahu menahu atau tidak ambil pusing dengan kelompok aktivis pro.

Saya masih ingat, hampir 20 tahun yang lalu, Amerika digegerkan oleh sebuah episode sitkom di televisi. Saat itu, Ellen Degeneres mengumunkan bahwa dia seorang homoseksual di serial TV “Ellen” yang dibintanginya. Mungkin saat ini kita akan menganggapnya sebagai suatu hal yang lazim. Sebagai contoh, serial Modern Family yang menampilkan keluarga pasangan gay memiliki rating yang sangat tinggi dan memiliki jutaan penggemar. Tapi tidak demikian halnya di tahun 1997.

Saat itu Ellen mendapat banyak kecaman. Kelompok-kelompok religius di Amerika banyak yang memrotes. Ancaman boikot datang dari berbagai pihak, termasuk korporasi-korporasi besar. Tetapi serial Ellen mampu bertahan hingga satu season lagi. Dan sedikit demi sedikit masyarakat Amerika mulai dapat menerima seorang tokoh homoseksual di televisi.

Ini yang tidak dipahami oleh kelompok pro-LGBT di Indonesia. Sikap mereka yang terus menerus mengampanyekan secara terang-terangan sama sekali tidak memerhatikan situasi dan kondisi. Di iklim masyarakat yang jauh lebih konservatif seperti Indonesia, mereka seharusnya dapat lebih menahan diri. Lebih bersabar dalam perjuangannya. Setiap satu artikel yang mereka terbitkan akan mendapat balasan sepuluh artikel yang semakin keras mengecam. Dan apa hasilnya? Bukannya penerimaan tetapi lebih banyak kebencian.

Hal yang memancing saya untuk menulis artikel ini adalah sebuah berita menyedihkan yang baru saja saya baca. Mengenai ancaman-ancaman yang diterima oleh sebuah madrasah untuk kaum transgender di Yogyakarta. Kita semua tahu waria adalah kelompok yang sangat tersisihkan di negeri ini. Saya ingat pertama kali mengetahui keberadaan madrasah ini melalui televisi sekitar 1 atau 2 tahun yang lalu. Saya senang mereka mendapat tempat di mana mereka merasa seperti di rumah, di mana mereka diterima. Dan saya ingat tidak ada masalah setelah penyiaran beritanya saat itu.

Madrasah transgender

Lalu apa yang berubah? Apa yang menyebabkan tiba-tiba muncul gejolak penolakan yang amat besar terhadap madrasah ini, sehingga muncul ancaman-ancaman mengerikan bahkan ancaman pembunuhan.

Saya pribadi menganggap bahwa diskursus LGBT di negeri kita sudah mencapai tahap yang tidak sehat. Dan berita ancaman tadi mengindikasikan bahwa ini sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

Maka dengan artikel ini, sekali lagi saya memohon kepada kedua belah pihak untuk lebih arif dalam bersikap. Saya berharap aktivis anti-LGBT dapat membedakan mana yang dibenci oleh agama: perbuatannya atau orangnya. Dan lebih mengerti bahwa tidak semudah itu meminta orang-orang serta merta merubah kepribadiannya.

Dan terutama kepada aktivis pro-LGBT agar lebih arif menyikapi situasi dan kondisi di tanah air. Jangan mengipas-ngipas bara di dalam sekam. Lebih toleranlah dalam menyikapi pandangan seseorang yang dilandasi keimanannya pada agama dan Tuhannya.

Hanya dengan mencoba memahami alasan-alasan pihak yang berseberangan, mencoba berempati dengan pikiran-pikiran mereka, maka proses mencari jalan tengah atas polemik yang semakin tajam ini dapat kita tuntaskan dan perpecahan serta permusuhan dapat kita hindari.

Advertisements

One thought on “Pahami Situasi

  1. Yang sangat disesalkan adalah agama kemudian dipakai untuk membenarkan tindakan kekerasan kepada kaum LGBTQ. Seolah-olah karena tafsiran agama mereka menyudutkan kaum LGBTQ, maka mereka patut/bisa/boleh menghilangkan nyawa orang-orang yang mereka beri cap “berdosa”, karena hal itu didukung oleh agama (atau “agama”?). Bahkan sampai ada mantan menteri yang dengan santainya menggunakan agama untuk meneriakkan “Ganyang para LGBTQ!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s