Lamunan Dalam Segelas Frozen Green Tea

Bila mengacu pada Clash of Civilizations-nya Samuel P. Huntington, ada 4 negara yang memperebutkan posisi sebagai negara paling dominan di dunia Islam: Turki, Arab Saudi, Iran, dan Pakistan. Saya sebenarnya bingung kenapa Huntington tidak memasukkan Indonesia atau Nigeria di situ. Mungkin karena posisi geografis dan status perkembangan (pada era buku tersebut ditulis) ke-empat negara tadi lebih dominan. Atau memang karena Indonesia maupun Nigeria tidak menunjukkan kecenderungan politis ke arah sana.

Dalam buku Rogue State, William Blum berargumen bahwa Amerika akan melakukan apa saja untuk menjaga hegemoninya. Dalam hal ini, menurut saya, menjaga agar tidak ada adidaya-adidaya baru yang dapat mengancam posisinya. Pemimpin dunia Islam jelas akan membuat posisi Amerika sedikit banyak goyah di kawasan Timur Tengah. Kawasan yang strategis tidak hanya untuk Amerika, tetapi juga untuk sekutu utamanya di kawasan, Israel.

Saat ini Turki, yang paling “Barat” dari ke-empat negara tadi, sedang menjadi sorotan. Terutama oleh negara-negara Eropa, benua di mana Turki merasa mereka berada dan mencoba mencari pengakuan. Meningkatnya kebijakan-kebijakan opresif Erdogan di Turki menjadi sumber kritik media-media liberal Eropa. Tapi kita tahu, Turki adalah lokasi banyak stasiun militer Barat. Baik itu NATO maupun Amerika. Serangan-serangan Amerika di beberapa perang mereka di Timur Tengah diluncurkan dari Turki. Kepentingan ini yang menurut saya mengapa Amerika masih menutup mata terhadap Erdogan. Bila rezim Erdogan tetap berkuasa, kemajuan ekonomi Turki kemungkinan akan mengalami tekanan besar dari tetangga-tetangganya yang kuat.

Arab Saudi sudah lebih dari setengah abad menjadi sekutu militer dan ekonomi utama Amerika. Rasanya tidak sulit memperkirakan pengaruh besar Amerika pada negara penghasil minyak terbesar di planet ini.

Pakistan, terkoyak oleh konflik politik dalam negeri yang berkepanjangan, bisa dibilang yang paling tertinggal. Belum lagi kantung-kantung teroris yang membuat militer Amerika leluasa keluar masuk wilayah Pakistan.

Sejak kejatuhan Dinasti Pahlavi, Iran adalah duri dalam daging di kawasan Timur Tengah bagi Amerika. Bahkan Iraq yang didukung Amerika tak berhasil mengalahkannya setelah 8 tahun berperang. Bila tiga negara sebelumnya berada di dalam naungan Amerika, hanya Iran yang berani terang-terangan menantang. Kekuatan militer dan ekonomi mereka pun bisa dibilang salah satu yang terkuat di kawasan. Belum lagi stabilitas politik di negeri itu yang telah berlangsung sejak Revolusi Islam 1979. Tidak heran bila Iran menjadi topik favorit semua kandidat Presiden Amerika.

Saya rasa Amerika tidak akan berani melakukan konflik langsung dengan Iran. Terlalu mahal dan beresiko. Jadi yang bisa mereka lakukan saat ini, menurut saya, adalah mengikis dukungan-dukungan negara Islam lainnya terhadap Iran. Mengisolasi Iran di pergaulan negara-negara Islam. Dan bila melihat tren popularitas Iran di antara penduduk negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, strategi ini mulai menampakkan hasil.

Advertisements

3 thoughts on “Lamunan Dalam Segelas Frozen Green Tea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s