Hari #3: Kekerasan Dalam Pendidikan

Beberapa hari terakhir linimasa media sosial diramaikan oleh berita seputar persidangan seorang guru di Sidoarjo. Guru tersebut diadukan orang tua siswa karena telah mencubit anaknya. Kubu yang membela sang guru menyatakan bahwa tindakan tersebut semata-mata sebuah bentuk pendisiplinan. Sementara orang tua siswa tidak terima dan merujuk undang undang perlindungan anak untuk membawa sang guru ke pengadilan.

Berbagai sentimen pun bermunculan. Mayoritas komentar yang saya baca di media sosial awalnya berupa bentuk-bentuk dukungan terhadap tindakan sang guru. Tetapi lama kelamaan terjadi pergeseran pesan. Diskursus bergeser ke arah dukungan terhadap tindakan kekerasan pada siswa.

Kita semua tahu siswa, apalagi mereka di usia remaja, dapat bersikap menyebalkan. Terkadang malah bersikap kurang ajar. Kepada temannya, lingkungannya, bahkan pada guru-guru di sekolahnya. Tetapi apakah perilaku tersebut layak diberi hukuman kekerasan fisik? Pesan apa yang hendak kita sampaikan pada generasi muda bila kita menjustifikasi kekerasan sebagai sesuatu yang wajar?

Beberapa orang berkomentar dalam konteks masa kecil mereka masing-masing. Bahwa mereka dulu sering diperlakukan secara kasar oleh guru, bahwa itu bukan sesuatu yang berlebihan, no big deal, dan menuduh bahwa anak-anak sekarang “manja”. Anak sekarang dihukum fisik langsung ngadu, begitulah kurang lebih sentimennya. Well, saya pribadi sebagai orang tua berharap anak saya mengadu bila mereka diperlakukan kasar oleh pendidiknya di sekolah.

Saya pribadi pernah merasakan langsung perilaku guru yang menghalalkan hukuman fisik. Pukulan rotan dan tamparan adalah hal biasa, bahkan berlangsung rutin di sekolah saya dahulu. Dan saya ingat tidak pernah ada masalah antara orang tua siswa dan guru-guru tersebut. Apakah saya menyetujui aksi tersebut? Tentu saja tidak. Kekerasan bukanlah bentuk pendidikan yang baik ataupun layak. Lantas apakah saya mendukung guru menghukum siswanya yang bandel? Tentu saja. Tetapi sekali lagi hukuman tentu tidak dalam bentuk kekerasan fisik. Senakal apapun kelakuan si murid.

Oleh sebab itu dalam hal ini saya berharap generasi yang lebih tua dapat lebih arif menyikapi situasi ini. Tentu kita boleh membela guru dalam mendidik para siswa. Di dalamnya termasuk memberi hukuman bila para siswa melanggar norma dan peraturan. Tetapi bukan dengan cara mengglorifikasi kekerasan dalam pendidikan.

Advertisements

2 thoughts on “Hari #3: Kekerasan Dalam Pendidikan

  1. Aku setuju hukuman fisik kalau ada maknanya. Lari keliling lapangan, olahraga. Bersihin WC sekolah, kebersihan. Ngerapihin buku perpustakaan, kerapihan.

    Eh sekolah jaman sekarang masih punya perpustakaan gak ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s