Hari #4: Gim dan Ngabuburit

Di bulan puasa seperti sekarang, semua orang memiliki caranya masing-masing untuk menghabiskan waktu menunggu saat berbuka. Kalau di tanah Priangan kegiatan ini istilahnya ngabuburit. Ada yang beribadah (mantap…), ada yang keliling-keliling komplek dengan sepeda motor, dan ada pula yang kesana-kemari berburu takjil. Lalu ada orang-orang seperti saya yang lebih senang menghabiskan waktu di dalam rumah.

Bermain video gim saat bada ashar di bulan Ramadan bagi saya sudah menjadi tradisi. Seperti halnya takjil saat berbuka dan shalat tarawih kala bada isya. Sejak kecil, saat baru pertama kali belajar shaum, gim sudah menjadi bagian integral kegiatan menunggu saat-saat berbuka. Bila teman-teman di komplek rumah menunggu saat matahari terbenam dengan bermain di luar, saya tetap anteng di dalam rumah. Mulai dari bermain “gimbot” (Nintendo Game & Watch) di pertengahan 80’an, lalu beralih ke konsol 8-bit, hingga ke gim-gim PC. Saat ini saya lebih banyak menggunakan Playstation 4 sebagai sarana gaming utama.

Salah satu kenangan yang membekas jelas di benak hingga saat ini adalah suasana Ramadan di rumah orang tua pada awal 90’an. Aroma adonan kue lebaran memenuhi sudut-sudut rumah, lantai yang dipenuhi berbagai peralatan masak dan cetakan-cetakan yang siap dipanggang, siaran televisi yang saat itu hanya diramaikan oleh RCTI dan TVRI, serta saya yang menghabiskan waktu di depan komputer memainkan gim-gim seperti Sid Meier’s Civilization, Microprose F-117, dan Sim City 2000.

Saya bukan tipe anak yang senang menghabiskan waktu di luar rumah. Mungkin istilah jaman sekarangnya “mager”. Dan saya memang cenderung introvert. Lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, bermain gitar sambil mendengarkan radio, dibanding bermain di lapangan misalnya. Maka di kala teman-teman sebaya berkeliaran di sore hari menunggu adzan maghrib berkumandang, saya bisa dipastikan ada di rumah. Di depan layar televisi atau monitor komputer.

Fast forward 20-25 tahun kemudian, kegiatan saya masih memiliki pola yang sama. Menghabiskan waktu di rumah, menonton televisi, membaca buku, dan tentu saja, bermain gim, adalah kegiatan utama saya di sore hari setiap bada ashar. Saya bukan “pemburu bukber”. Paling banter 1-2 kali selama Ramadan saya menghadiri buka bersama, itu pun hanya dengan teman-teman dekat. Apalagi tahun ini saya hanya bertiga saja dengan anak-anak karena istri sedang menuntut ilmu di seberang samudra. Akibatnya saya tidak leluasa menghadiri berbagai undangan buka bersama.

Intinya, setiap orang punya kebiasaan masing-masing saat ngabuburit, di menit-menit akhir menjelang berbuka. Maka isilah waktu luang tersebut dengan kegiatan yang tidak mengurangi pahala shaum Ramadan. Syukur-syukur kalau bisa menambah pahala. Sekarang kita sudah mendekati Idul Fitri, tetapi masih ada waktu untuk kuantitas dan kualitas ibadah. Tetap semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s