Hari #5: Damai

Awalnya hari ini saya hendak menerbitkan tulisan tentang budaya mudik. Tetapi berita mengejutkan dari Madinah tadi malam membuat saya memutuskan untuk menerbitkan tulisan ini. Sebuah ledakan di dekat Mesjid Nabawi beberapa jam yang lalu yang mengagetkan dunia Islam. Serangan di salah satu tempat paling suci bagi milyaran umat Muslim.

Reaksi pertama saya saat mengetahui berita itu adalah kaget. Lalu rasa kaget pun berangsur-angsur digantikan oleh berbagai perasaan yang campur aduk di dalam hati. Rasa marah, sedih, geram, dan rasa takut.

Saya marah dan cukup terguncang karena para penyerang melakukannya di sebuah lokasi yang suci. Sebuah tempat yang selama ini saya, dan mungkin banyak orang lain, yakini takkan terusik. Tak terpikirkan bagi saya ada orang yang tega dan mampu menodai sebuah tempat yang disucikan oleh banyak orang. Bukan hanya tempat suci seperti Masjid Nabawi, tetapi juga tempat-tempat suci lainnya di dunia, apapun agama dan kepercayaan penganutnya. Entahlah, saya tak mengerti orang macam apa yang begitu tega bertindak sekeji itu. Apapun motifnya, organisasinya, kepercayaannya, yang jelas mereka bukan orang baik.

Saya sedih karena lagi-lagi orang tak berdosa jadi korban. Dan ledakan tadi malam terjadi di dekat sebuah mesjid, tempat orang-orang datang dengan tujuan beribadah. Kesedihan yang juga saya rasakan saat penembakan di mesjid di Houston beberapa hari lalu. Atau pembakaran di depan sebuah mesjid di Perth beberapa hari lalu. Atau saat penembakan jemaat gereja Charleston tahun lalu. Dan lebih menyedihkannya lagi, serangan tadi malam seperti juga beberapa serangan sebelumnya, terjadi di bulan suci.

Geram rasanya karena saya ingin sekali mampu berbuat sesuatu. Sesuatu yang dapat menghilangkan kebencian yang menyelimuti dunia beberapa hari terakhir ini. Menghapus kebencian yang membuat korban-korban tak bersalah berjatuhan di berbagai belahan bumi. Berbuat sesuatu untuk menghapus kebodohan yang menjadi sumber kebencian tersebut.

Lalu saya pun merasa takut. Takut akan masa depan keluarga dan anak-anak saya. Akan dunia yang mereka diami. Bagaimana saya harus melindungi mereka di sebuah dunia yang tercabik dan penuh ketidakpastian seperti sekarang ini. Sebuah dunia yang begitu banyak orang di dalamnya membenci mereka, hanya karena agama yang mereka anut. Dunia tempat orang-orang saling membenci demi alasan-alasan sepele, saling memerangi hanya karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian.

Semua perasaan yang bercampur aduk ini membuat saya merasa kecil. Merasa tak berdaya. Menyadari betapa tak berartinya saya di muka dunia ini. Betapa saya, pada akhirnya, cuma sanggup menyerahkan segala harapan pada Sang Pencipta. Cuma sanggup meminta padaNya dalam doa. Meminta akan keselamatan keluarga dan keselamatan orang-orang di sekitar saya. Akan keselamatan semua orang. Orang-orang yang saling berbagi tempat di sebuah batu kecil yang mengapung di luasnya jagad raya dan alam semesta ini. Meminta padaNya agar dilimpahkan kedamaian seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya, bagi seluruh makhluk. Siapa pun, di mana pun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s