Hari #8: Mudik

Ah, mudik. Kegiatan rutin tahunan jutaan warga negara yang besar dan indah ini. Menghabiskan belasan jam di perjalanan, menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Sebagian bahkan sambil tetap menahan lapar dan dahaga. Dan semua keletihan itu terhapus saat disambut senyum dan tawa handai taulan di kampung halaman. Ah, mudik. Ingin sekali saya merasakan tradisi itu.

Di usia yang menjelang 39 tahun ini, saya bisa dibilang belum pernah merasakan yang namanya mudik. Setidaknya seperti konsep mudik yang dilalui jutaan orang lain dengan segala drama dan romansanya. Pengalaman saya yang paling mendekati dengan konsep mudik terjadi dahulu kala di tahun 1984-1986. Waktu itu ayah saya ditugaskan detasemen angkutan AD di Padang.

Ayah saya dilahirkan di Nareh (Naras), sebuah desa di kabupaten Pariaman. Sebuah kawasan pesisir yang indah menghadap Samudera Hindia. Setiap lebaran kami sekeluarga akan berkunjung ke rumah Aba’ di Nareh. Tetapi di luar lebaran, kami sekeluarga juga sering berkunjung ke sana, bisa dibilang hampir sebulan sekali. Jarak antara kota Padang dan Pariaman cuma 60 kilometer dengan jalur relatif lurus menyusuri pantai barat Sumatra. Apalagi ini Sumatra di tahun 80’an. Kemacetan lalu lintas itu non-existent. Akibatnya mudik ke Pariaman bagi saya tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Hanya seperti kegiatan piknik keluarga lainnya.

Sebelum pindah ke Padang, saya pernah mengikuti perjalanan mudik ke orang tua ibu di Surabaya. Tetapi saya masih terlalu kecil untuk mengingat kesan perjalanan mudik dari Bandung ke Surabaya yang selalu kami tempuh dengan kereta api itu.

Setelah berkeluarga, saya tinggal di Bandung sementara orang tua menetap di Cimahi. Akibatnya, perjalanan mudik anak-anak saya ke rumah datuk dan eyang mereka cuma memakan waktu paling lama 30 menit :D. Masuk pintu tol, keluar pintu tol. Bahkan biasanya kami berangkat setelah shalat ied terlebih dahulu di rumah. Hanya beberapa kali saja kami menginap di rumah orang tua saya sebelum hari raya. Bukan apa-apa, saya dan keluarga minimal sebulan sekali berkunjung ke Cimahi. Terkadang menghabiskan akhir pekan di sana. Jadi ya mudik ke Cimahi terasa seperti main biasa saja. Diiringi takbir saja bedanya.

Oh ya, mertua saya tinggal di Bandung. Bahkan di kompleks sebelah. So it’s only a walk away. An even shorter mudik route… 😛

Terkadang saya juga ingin merasakan mudik seperti orang lain. Bersiap-siap sekeluarga dari jauh hari untuk menempuh perjalanan ribuan kilometer, di kendaraan selama berjam-jam, semua demi bertemu sanak saudara dan handai taulan yang hampir setahun tak bersua. Mungkin tahun depan saya dan keluarga dapat mewujudkan keinginan tersebut. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s