Resep dan Biaya Kesehatan

Di negara kita ada sebuah ungkapan yang lucu sekaligus perih: orang miskin dilarang sakit. Lucu karena sifatnya yang menertawakan diri sendiri, menertawakan kondisi pelayanan kesehatan yang gitu-gitu aja. Ungkapan tersebut juga terasa perih karena kita masih dapat melihat orang-orang yang tidak mampu mendapat layanan kesehatan. Mulai dari kendala infrastruktur hingga tidak mampu secara finansial.

Ada banyak faktor penyumbang kondisi pencetus ungkapan tersebut. Belum adanya jaminan kesehatan yang komprehensif, baik, dan tidak memberatkan rakyat; kualitas infrastruktur pelayanan kesehatan yang masih jauh dari standar negara maju; penyebaran tenaga profesional kesehatan yang tidak merata di seluruh pelosok negeri; serta kerja sama kasat mata antara profesional kesehatan dan industri obat yang meningkatkan biaya pengobatan.

Sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang yang bersinggungan dengan dunia layanan & industri kesehatan bahwa salah satu porsi dalam anggaran pemasaran produk farmasi adalah “pendekatan ke profesional kesehatan”. Persaingan obat bermerek sudah sangat sengit sehingga para produsen tidak ragu-ragu mengeluarkan dana demi menjamin produk mereka diresepkan oleh profesional kesehatan. Berbagai bonus ditawarkan semata-mata untuk meningkatkan omset produk mereka di pasar. Seolah-olah menutup mata pada kenyataan bahwa praktek tersebut menjadi faktor tingginya biaya kesehatan.

Berbagai peraturan dan undang-undang dikeluarkan pemerintah untuk menekan harga obat yang dikonsumsi pasien. Salah satunya dengan mendorong peningkatan penggunaan obat generik1. Dalam hal harga, obat generik lebih murah. Harga obat generik bisa sampai 30% – 80% lebih murah dibanding obat bermerek. Perbedaan harga ini sering kali disebabkan oleh kandungan zat inaktif serta biaya penelitian pengembangannya.

Beberapa hari lalu Komisi IX DPR-RI kembali mengeluarkan rekomendasi untuk semakin menekan biaya konsumsi obat. Komis IX merekomendasikan agar dokter tidak lagi menuliskan merek (brand) obat di dalam resep. Dokter diminta agar menulis zat aktifnya saja. Tujuannya jelas, memudahkan pasien memilih obat yang sesuai dengan kemampuan finansialnya.

Saat dokter menuliskan zat aktif, pasien dapat berkonsultasi pada apoteker untuk mendapatkan harga yang paling sesuai dengan kemampuannya. Pasien dapat memilih obat generik atau memilih mengonsumsi obat branded, berdasarkan zat aktif yang disebutkan di resep. Ini tidak dapat dilakukan dengan leluasa bila dokter menuliskan merek di resep. Dapat kita bayangkan bila pasien kurang mampu diberi resep bermerek (branded) dengan harga mahal, padahal tersedia alternatif versi generik yang lebih murah2.

Oleh sebab itu saya merasa sangat sedih dan geram saat tujuan mulia ini disikapi dengan olok-olok oleh beberapa oknum. Saya tidak mengerti apa motifnya. Penulisan zat aktif pada resep tidak membahayakan pasien selama obat yang diterima berisi kandungan zat yang sama. Apakah ini ada hubungannya dengan kongkalikong profesional kesehatan dan bagian pemasaran industri obat? Wallahualam.

 

Catatan

1. Obat generik adalah obat yang ekivalen terhadap obat paten (patented/brand-name drug) dalam hal dosis, kekuatan, rute penyampaian, kualitas, performa, dan tujuan penggunaan (Wikipedia)

2. Sebagai gambaran banyak proses pengobatan yang terputus karena pasien tidak sanggup membeli obat. Dan menjadi sangat berbahaya bagi populasi saat pengobatan tersebut melibatkan antibiotik. (Thanks Deni atas koreksinya mengenai TB).

Advertisements

2 thoughts on “Resep dan Biaya Kesehatan

  1. Di situasi begitu point pentingnya adalah pelayanan primer.
    Kl dokter cuma sekedar dignostik dan tidak bertanggung jawab pd pengobatannya ya malah meringankan beban.

    Dan ini ga membahas kombinasi dan interaksi obat-obat dalam penanganan klinis pasien.

    Tapi kl ada alergi, drug eruption atau efek lain yg tak diinginkan lainnya siapa dong yg tanggung jawab? Apotekernya?
    Jangan2 nanti ada jurusan apoteker layanan primer

    Terlepas dari yg berbau teknis yang kompleks, para pembuat kebijakan mestinya lebih fokus ke hal-hal makro, misalnya:
    Kenapa ga pabrik farmasinya aja dilarang produksi obat bermerk yg masa patennya sdh habis, harus generik semua.
    Masalah awalnya regulasi industri farmasi nasional kan di situ

    • Kombinasi dan interaksi antar senyawa aktif obat saya rasa dapat ditangani apoteker. Faktor alergi dan efek lain dari senyawa inaktif juga dapat dikonsultasikan ke apoteker. Dan dalam undang-undang setiap penggantian merek dalam resep harus ada konsultasi antara dokter dan apoteker. Jadi selama ada komunikasi dua arah antara dokter & apoteker saya rasa penulisan resep tanpa merek tidak menjadi masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s