Membaca

Dalam banyak kurikulum negara-negara maju, siswa dituntut untuk menghabiskan beberapa judul buku dalam satu tahun ajaran. Jenis buku disesuaikan dengan umur, di mana siswa kelas-kelas akhir diharapkan mampu membaca dan membuat laporan tentang karya-karya sastra klasik. Efeknya adalah anak-anak ini tumbuh dengan karakter terbiasa membaca buku. Membaca tidak lagi menjadi aktivitas yang asing dan buku bukan sesuatu yang aneh.
 
Mungkin ada yang bertanya, kenapa negara sangat perhatian pada kebiasaan warganya dalam membaca buku? Berbagai penelitian telah mengungkap banyak keuntungan membaca, baik pada anak maupun orang dewasa. Kemampuan berpikir analitik (runut dan logis) berawal dari kebiasaan membaca buku sedari kecil. Kemampuan untuk menerima dan terbuka terhadap perbedaan (toleransi) berasal dari banyak membaca berbagai buku. Kemampuan untuk menuangkan pikiran secara lisan dan tulisan bisa dilatih dengan banyak membaca. Dan tentu saja membaca meningkatkan daya fokus, konsentrasi, dan intelegensia.
 
Jadi saya tidak terlalu kaget saat membaca berita bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara dalam sebuah survey minat baca. Di negeri tercinta Indonesia, kita masih banyak melihat orang-orang yang tidak mampu berpikir rasional, tidak toleran terhadap perbedaan, serta tidak mampu menyatakan pendapat secara dewasa. Sedihnya, bila melihat kebiasaan membaca masyarakat di tanah air, rasanya hal ini tidak akan segera berubah.
 
Maka wahai para orang tua, ayo kita tanamkan sifat membaca pada anak-anak. Bila berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, selalu sempatkan berkunjung ke toko buku. Bisa sekedar melihat-lihat, lebih baik jika memborong buku. Kita tahu anak belajar dari orang tuanya. Maka dari itu biasakan sebagai orang tua kita juga membaca buku di rumah. Setengah hingga satu jam sehari rasanya sudah cukup. Semoga anak-anak bangsa saat ini dapat mencintai buku, gemar membaca, dan menjadi generasi yang jauh lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.
 

Continue reading

Advertisements