Kafir, Peyorasi, Kearifan

Apa yang ada di pikiran anda saat saya mengajak anda ‘hepi-hepi di karaoke’ lalu ‘pijat-pijat di spa’? Bagi banyak orang ajakan tersebut membawa kesan negatif. Akibatnya banyak tempat usaha karaoke dan spa menambahkan kata ‘keluarga’ di belakangnya demi menanggalkan citra buruk yang sudah terlanjur melekat. Sebuah contoh sederhana proses peyorasi (perubahan makna kata menjadi berkesan lebih rendah/kasar daripada makna semula) pada kosakata.

Akhir-akhir ini kata ‘kafir’ naik ke permukaan. Kata ini menjadi fokus di banyak diskusi publik maupun percakapan privat. Lantas kenapa banyak orang merasa penggunaannya dalam diskursus berbangsa dan bernegara sebuah kontroversi?

Secara harfiah kata ‘kafir’ berasal dari ‘kfr’, kata dalam bahasa Arab yang berarti ‘tidak percaya’ (Bahasa Inggris: ‘disbelief’). Ada pula yang mengartikannya ‘tertutup dari kebenaran’ (Bahasa Inggris: ‘covered from truth’), yang menurut saya tidak jauh berbeda dalam konteks kepercayaan. Jadi bila saya bercakap-cakap dengan warga Arab Kristiani, lalu dia menyebut saya ‘kafir’ (disbeliever), saya rasa tidak salah. Dalam pandangan dia, saya tidak percaya. Jadi sebutan kafir yang ia sematkan pada saya sangat wajar. Baginya saya tidak percaya.

Lalu apa hubungannya dengan peyorasi? Tidak dapat dipungkiri, kata ‘kafir’ kini membawa stigma negatif. Coba kita lihat kata-kata seperti ‘bule’ atau ‘negro’. Kata-kata ini biasa kita gunakan untuk menunjukkan ras; orang kulit putih disebut ‘bule’, orang kulit hitam disebut ‘negro’ (Bahasa Spanyol untuk ‘hitam’). Tidak ada yang salah secara harfiah. Tapi stigma negatif yang dibawa kata-kata ini membuatnya tidak dapat dipergunakan secara bebas. Walaupun orang yang kita ajak berbicara dari ras negroid, anda dapat menyinggung perasaannya dengan memanggilnya ‘negro’.

Oleh sebab itu, walaupun tidak salah menggunakan kata ‘kafir’ untuk menyebut golongan di luar kepercayaan yang kita anut, saya rasa adalah sebuah kearifan bila kita menghindari penggunaannya dalam percakapan sehari-hari. Karena menjaga perasaan orang adalah perbuatan mulia.

Wallahu’alam bishawab.

Advertisements

4 thoughts on “Kafir, Peyorasi, Kearifan

  1. “kafir” berasal dari kata “kufur” yang merupakan antonim dari “Syukr”, yang selain artinya “tidak percaya” juga memiliki arti “tidak memiliki harapan”

    maka dari itu, keimanan terdiri dari tiga hal : “Love, Hope and Fear”,

    tanpa tiga hal hal ini yang menyebabkan seseorang menjadi kafir, hingga orang yang tidak memiliki keimanan itu “dijauhkan” dari Rahmat-Nya, seperti setan setelah kufur tidak mau sujud pada Adam.

    ya memang sayang sekali akhir2 ini kata kafir digunakan untuk mengejek mereka yang berbeda agama, padahal that’s not the point,

    menggunakan kata kafir untuk merendahkan suatu kelompok, itu sama saja seperti sebuah kesombongan, dan sifat sombong itu adalah sifat yang sangat tercela, bahkan kita tidak dapat masuk surga jika masih memiliki sifat itu.

    (nulis disini karena males ke fesbuk yang penuh diskusi tidak berujung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s