Tugas Membaca

Salah satu hal yang saya sukai dari sistem edukasi di Australia adalah tugas membaca (reading assignment). Setiap beberapa hari setiap anak akan membawa pulang buku untuk dibaca di rumah. Orang tua dapat berdiskusi dengan anak tentang buku yang sudah selesai ia baca. Topik diskusinya bebas. Orang tua dapat meminta anak menceritakan ulang isi buku atau sekedar menanyakan kesan anak terhadap buku yang baru ia baca. Kita juga dapat berdiskusi tentang kosakata-kosakata baru yang mungkin belum dimengerti oleh anak. Materi yang dibaca tidak akan keluar dalam ujian atau tes. Tugas ini hanya untuk melatih kemampuan bahasa dan membaca para siswa. Dan tentu saja mengakrabkan mereka dengan buku.

Sistem pendidikan yang kita terima di Indonesia, setidaknya yang saya alami saat masih sekolah, belum menempatkan buku sebagai teman. Buku, bagi banyak siswa, lebih menyerupai monster yang harus dikalahkan dan dikuasai agar siswa dapat lulus tes atau ujian. Akibatnya bagi para lulusan sistem edukasi kita, buku hanya dibutuhkan saat seseorang ada di bangku sekolah. Di luar itu buku tidak diperlukan. Bahkan kalau perlu dijauhi, karena mengingatkan akan trauma bangku sekolah.

Saya pernah mendengar beberapa orang di Indonesia yang mengeluh akan kesulitan mengingat apa yang ia baca. Akibatnya ia tidak terlalu suka membaca buku, karena menganggap bila ia tidak dapat mengingat apa yang sudah ia baca maka itu adalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Ini salah satu akibat dari motivasi membaca demi lulus ujian yang ditanamkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Padahal kegiatan membaca tidak memerlukan tolok ukur. Selama kita menikmati yang kita baca, itu lah penghargaan (reward) yang kita dapat. Tugas membaca yang diberikan pada siswa di Australia tidak mengharapkan si anak menghapal isi buku agar nanti dapat diuji di kelas. Anak diminta membaca demi kegiatan membaca itu sendiri. Menikmati aktivitas membaca itu sendiri. Sehingga tertanam kesan bahwa buku adalah teman membagi waktu, bukan monster yang harus ditaklukan.

Saya harap sekolah, dan terutama orang tua, dapat mulai menanamkan paham ini. Bahwa buku tidak selalu menyeramkan. Bahwa buku cukup dinikmati, tanpa harus ada ekspektasi tinggi dari kegiatan membaca. Bila banyak isinya yang kita ingat, tentu akan sangat baik. Tetapi bila hanya sedikit, itu bukan masalah. Karena kegiatan membaca itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang berharga dan menyenangkan. Harapannya adalah di masa depan minat baca bangsa ini semakin meningkat. Karena bangsa yang rajin membaca adalah bangsa yang memiliki masa depan lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s