Kenapa RK Harus Dibela

Keputusan Ridwan Kamil untuk maju sebagai calon gubernur di Pilkada Jabar mulai menunjukkan reaksi. Dan bukan reaksi yang bersifat positif atau alami. Seperti yang dilaporkan di artikel ini, berbagai fitnah dan serangan atas pribadi RK mulai bermunculan di media. Beberapa orang mungkin lantas bertanya: kenapa harus membela RK? Memangnya apa prestasi dia untuk Bandung, untuk negara?

Saya rasa pertanyaan seperti itu adalah respon yang salah. Sebuah perspektif sempit terhadap masalah besar yang sedang meliputi bangsa. Apakah RK seorang walikota yang sempurna? Tentu tidak. Apakah ada penduduk Bandung yang tidak suka ke dia? Tentu saja. Sama seperti Basuki TP, RK akan tampak hebat di benak pendukungnya, tetapi nista di benak yang tidak suka. Bila berangkat dari sudut pandang ini, kita tidak akan mencapai titik temu.

Sebelumnya izinkan saya menceritakan kesan pribadi akan RK. Jujur bagi saya, selama beraktivitas di Bandung dari tahun 1992 hingga 2016, melewati era Orba hingga Reformasi, belum pernah ada walikota yang sebaik RK. Pejabat pemerintah yang memiliki gairah dan rasa memiliki akan kotanya. Yang terlihat berupaya membangun semua aspek kehidupan warga. Yang terbukti menata kota Bandung dengan teknologi maju dan seni bercita rasa tinggi.

Tentu saja, ada beberapa catatan merah selama ia menjabat walikota. Banyak orang menyebutkan bahwa program-program RK bersifat kosmetik belaka. Tidak menyentuh hal-hal yang lebih penting bagi masyarakat, seperti masalah ekonomi, keamanan, atau toleransi. Saya pribadi pun pernah mendebatnya di media sosial tentang program yang sempat ia canangkan. Poin-poin debat tersebut saya tuangkan dalam bentuk artikel yang dibaca ribuan orang. RK bukan figur yang dicintai semua orang, itu jelas. Tapi bukan berarti ia layak menerima berbagai fitnah di media sosial.

Mengenai langkah politisnya di 2018, bisa dibilang saya kecewa. Saya sedih beliau melepaskan peluang jabatan walikota periode kedua, karena saya menghargai berbagai pencapaiannya selama bertugas. Dan keputusannya maju menjadi calon di Pilkada Jabar saya rasa juga kurang tepat. Posisi lebih tinggi belum tentu otomatis akan dengan mudah menyelesaikan masalah di tingkat lebih rendah.

Tapi apa daya, potensi untuk memperbaiki Jabar mungkin berhasil merayu beliau untuk maju sebagai calon. Sebuah keputusan yang saya amati menjadi awal smear campaign untuk menjatuhkan citranya. Jawa Barat, propinsi dengan populasi terbesar di Indonesia, tentu akan sangat strategis posisinya di Piplres 2019 nanti. Kubu-kubu pengincar kekuasaan nasional tentu sudah mulai mempersiapkan jagoan masing-masing di Jabar. Dan RK sebagai calon kuat harus dijatuhkan dari awal. Maka bermunculanlah berbagai serangan-serangan tersebut.

Serangan atas identitas keagamaan RK. Atas posisinya dalam hubungan antar-agama di Bandung. Serangan atas posisinya dalam topik LGBTQ. Serangan-serangan di ranah pribadi yang sering kali tanpa dasar.

Terlepas dari apakah baik atau tidak kinerja Ridwan Kamil, serangan-serangan bersifat pribadi dan tak berdasar tidak boleh didiamkan. Keputusan masyarakat di pemilu harus berdasarkan program kerja, bukan sentimen pribadi. Saya tidak suka dengan beberapa program Ahok selama beliau jadi gubernur. Saya mengecam keras salah satu program kampanyenya di Pilkada DKI lalu. Tetapi saya menolak segala bentuk serangan pribadi berbau SARA yang diarahkan ke beliau. Saya mengritik penggunaan pasal karet digunakan menjerat orang yang tidak tunduk pada penguasa. Ketidaksukaan (atau kesukaan) atas program kerja seorang pemimpin tidak boleh membuat kita bersikap tidak adil atau tak peduli.

Saya tegaskan bahwa saya tidak mengajak pembaca untuk memenangkan RK di Pilkada Jabar. Anda dapat memilih siapa saja yang anda suka. Yang saya harapkan dari artikel ini adalah kita mulai dengan aktif meniadakan ruang bagi kebohongan-kebohongan bermotif politik. Kebohongan yang setiap hari menjalar di masyarakat. Agar kita siap memberi informasi yang benar saat melihat ada orang yang sengaja atau tidak sengaja menyebarkan hoax. Berhenti berpikiran saya pro-anu atau saya anti-anu dalam menyikapi sebuah informasi fiktif. Selalu memeriksa keabsahan sumber berita. Dan jangan sampai ketidak sukaan atas salah satu sosok membuat kita dengan enteng menyebarkan berita bohong.

Kita tidak boleh membiarkan tren negatif yang terjadi di iklim politik saat ini berlarut-larut. Kita harus bersikap waspada dan vigilant. Jangan sampai proses kampanye politik Indonesia tak lagi bergantung pada adu program antar kandidat, tetapi pada adu kemampuan menyetir opini masyarakat, di media sosial, media massa, daring, ataupun luring. Para spin doctor & avonturir politis tidak peduli apakah meme-meme politis yang digunakan adalah fakta. Yang penting bagi mereka adalah efeknya di masyarakat.

Bila kita diam saja, bisa-bisa semua proses pemilihan kepala daerah di Indonesia dipenuhi perang fitnah. Mengiris masyarakat menjadi kubu-kubu yang berseberangan dan saling curiga. Ini akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan bangsa. Di Pilkada Jabar yang mulai panas ini, mari kita bersama-sama membela RK (dan calon-calon lainnya) bila ada berita bohong yang menyebar di masyarakat. Jadilah contoh yang baik bagi masyarakat dalam menghadapi pemilihan-pemilihan selanjutnya. Terutama pada Pilpres 2019.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa RK Harus Dibela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s