Tanggapan Atas Tanggapan Atas “Warisan”

Beberapa hari yang lalu, Afi Nihaya Faradisa, seorang siswi SMA dari Banyuwangi membuat tulisan berjudul Warisan yang lantas menjadi viral. Dari yang saya baca, inti tulisan tersebut adalah mengajak bangsa Indonesia untuk berhenti menilai orang lain dari agamanya. Berhenti merasa lebih baik dari yang lain hanya karena perbedaan iman. Menurut saya sebuah tulisan dengan isi yang luhur. Sama sekali tidak ada yang salah dari pesan yang hendak ia sampaikan.

Hari ini saya membaca sebuah tulisan dari Gilang Kazuya Shimura. Beliau tampaknya kurang setuju dengan isi tulisan Afi. Tentu saja, kita tidak harus setuju dengan pemikiran orang lain. Dan saya menghargai upayanya untuk mengungkapkan ketidaksetujuan tersebut dengan tulisan pula. Selain menambah ilmu orang-orang yang membacanya, cara ini jauh lebih elegan daripada sekedar memberi komen kekakanak-kanakan di profil seseorang. Sebuah praktik yang sayangnya saat ini lebih banyak terjadi.

Oleh sebab itu izinkan pula saya menyatakan ketidaksetujuan saya akan beberapa poin saudara Gilang dalam tulisan saya ini. Semoga tidak dianggap sebagai serangan pribadi. Hanya sekedar berbagi pandangan. Kalau canda saya kelewatan, harap dimaafkan.

Pertama-tama perspektif yang digunakan oleh saudara Gilang. Sebagai seorang Muslim, beliau mencoba menelaah poin-poin Ayi dalam artikelnya dibahas dari sudut pandang Islam. Saya tidak akan melarang seseorang memandang sesuatu dari paham yang ia imani. Tetapi bukankah ini sebuah ironi? Mengritik sebuah artikel yang mempromosikan kesetaraan menggunakan kacamata pemahaman kelompok sendiri?

Sama seperti bila ada yang bertanya kepada saya, ritual keagamaan apa yang paling saya ingin lakukan, saya pasti akan jawab menunaikan ibadah haji di Mekah. Bukan ke Lourdes, Vatikan, atau Gangga. Bila anda menanyakan apa makanan paling enak di dunia kepada saya, tentu saya akan menjawab rendang dan ikan sambal lado. Mengritik sebuah artikel pro-keberagaman dan memulainya dengan mengutarakan keutamaan kelompok sendiri adalah sebuah langkah yang salah. Kealpaan logika.

Yang kedua adalah sikap saudara Gilang yang menganggap remeh sebuah pertikaian ideologis, dalam hal ini agama. Bahkan menyamakannya dengan pertikaian para penggemar artis K-Pop. Saya terus terang belum pernah melihat ada genosida atas nama membela artis K-Pop. Mungkin mas Gilang sudah, saya kurang tahu juga.

Menerima keberagaman beragama tidak sama dengan menganggap semua agama benar. Tentu saja tidak. Tetapi dalam keberagaman agama, kita dapat berusaha untuk tidak menjadikan apa yang kita percayai menganggu persatuan bangsa. Ini adalah sebuah sikap kedewasaan. Sesuatu yang dalam hal ini saya melihat Ayi menggunakannya secara lebih baik daripada anda.

Rasulullah mencontohkan agar kita menjaga lisan, agar tidak melukai perasaan orang lain (HR Bukhari 6475). Bila menggunakan kata-kata seperti “kafir” melukai perasaan orang lain, apakah kita sudah meniru adab Rasulullah? Bila anda mengatakan bahwa agama-agama lain adalah sebuah kepalsuan ciptaan orang dhalim, apakah anda bersikap toleran dan menghargai manusia lain? Bila anda tahu tulisan-tulisan tersebut melukai teman-teman anda sebangsa dan setanah air, bagaimana anda berusaha menjustifikasi penggunaannya?

Negara ini, negara yang ada di artikel Afi, adalah negara yang memandang setara semua agama dan suku. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu semuanya sederajat di mata negara. Semuanya harus dihormati oleh setiap warga negara. Menghormati keimanan, ibadat, dan ritualnya. Tidak cuma menghormati hari liburnya di kalender.

Mengatakan bahwa agama-agama minoritas harus menghormati adat istiadat Islam karena ini agama mayoritas di Indonesia adalah sebuah kesalahan. Indonesia bukan negara Islam. Jadi bukan soal anda mau menerima atau tidak keberadaan adat istiadat agama lain ada di Indonesia, tetapi sudah menjadi kewajiban anda sebagai warga negara untuk menerima adat istiadat umat agama lain ada di Indonesia. Saya kecewa dan tak habis pikir bahwasanya anda melihat keberadaan bangsa ini cuma hasil perjuangan para ulama dan santri. Mungkin anda yang sebaiknya kembali membuka-buka koleksi buku sejarahnya.

Sebagai penutup, pada akhirnya tulisan saya ini hanya sebuah respon terhadap sebuah respon terhadap sebuah tulisan. Hanya sebuah sanggahan pada poin-poin argumen dalam tulisan saudara Gilang. Poin-poin argumen yang menurut saya hanya semakin menjauhkan makna Islam dari kodratnya sebagai rahmatan lil alamin. Karena bagaimana Islam dapat menjadi berkah pada seluruh alam bila masih ada seorang Muslim yang menganggap orang dengan Tuhan yang berbeda sebagai manusia kelas dua? Bila saudara Gilang berusaha membagi pengetahuannya akan ayat-ayat Quran dan hadis, maka saya hargai upayanya. Tetapi bila tujuannya adalah memupuk sikap toleransi pada umat Muslim, saya anggap beliau gagal total.

“Manusia ada dua macam. Saudara dalam iman dan sederajat dalam kemanusiaan.”
Ali bin Abi Thalib

Dari yang tak pernah lelah mencari ilmu dan kebenaran.
Assalamualaikum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s