Islam Tidak Susah

Percakapan mengenai riba beberapa hari terakhir ini mengingatkan saya akan materi pengajian yang saya ikuti beberapa minggu lalu. Saat itu sang ustadz mengutip salah satu bagian di Al-Baqarah ayat 143, “Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat pertengahan“. Yang bisa saya ambil dari kutipan tersebut adalah keluwesan Islam. Dalam Islam, semuanya dilakukan secukupnya. Ibadah kita dilakukan dalam moderasi (in moderation). Tidak terlalu bebas, tak juga terlalu kaku. Islam itu tidak ekstrim, mudah untuk dilaksanakan, dan tidak merepotkan penganutnya.

Kita melakukan shalat 5 waktu. Tapi kita tidak boleh melakukan shalat seharian. Saya yang tinggal di negeri yang mayoritas non-Muslim, mencari tempat shalat tak seperti di Indonesia. Islam tidak melarang kita untuk menjamak shalat bila terpaksa. Saya sering shalat sambil duduk di kursi kereta sepulang dari kantor. Dan karena di sini susah mencari tempat wudhu, saya bisa bertayamum saja. Mengusapkan tangan pada dinding-dinding gerbong kereta.

Alhamdulillah di negeri yang saya tinggali, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim dingin. Saya cukup berpuasa 11 jam saja. Lebih singkat dari saudara-saudara yang tinggal di katulistiwa. Lalu bagaimana dengan umat muslim yang ada di kutub utara saat ini, di mana matahari tidak terbenam selama 6 bulan? Tentu mereka tidak berpuasa selama 24 jam terus menerus. Mereka mendapat dispensasi untuk berpuasa mengikuti waktu di negara asalnya. Atau bisa juga dipotong beberapa jam menurut beberapa ulama.

Islam tidak melarang umatnya mengumpulkan kekayaaan sebanyak-banyaknya. Tetapi mengeluarkan kekayaan tersebut harus dalam kadar secukupnya. Tidak bermewah-mewah. Dan terutama tidak melupakan kewajibannya pada orang-orang yang kurang beruntung. Saat ini riba ada di mana-mana, buah dari sistem ekonomi pasca Revolusi Industri dan paham kapitalisme. Memang susah menjauhinya. Sebisanya kita kurangi interaksi dengan riba satu persatu. Tapi tak perlu ngoyo bila memang belum bisa dihindari sepenuhnya. Sebagai contoh: bila untuk membeli rumah kita masih harus menggunakan KPR, ya tidak apa-apa. Belilah rumah dengan fasilitas KPR. Karena rumah adalah kebutuhan yang sangat primer. Kebutuhan yang sangat penting untuk membangun keluarga, salah satu tulang punggung umat.

Secukupnya adalah sebuah prinsip Islam yang ditegaskan Rasulullah dalam hadisnya, “jangan ekstrim dalam hal agama” (hadis Ibn Majah). Jadi dalam ber-Islam itu kita tak perlu berlebihan. Karena Islam tidak diturunkan untuk menyusahkan pemeluknya.

Wallahu’alam bishawab.

Advertisements

One thought on “Islam Tidak Susah

  1. Dapat saran dari komunitas anti riba agar yang terlanjur ambil rumah pakai KPR, jual rumahnya. Lunasi. Setelah itu ngontrak gak papa, asal gak riba. Hmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s