Meninggalkan Sarang

Para orang tua akan mengalami yang namanya momen “leaving the nest“. Masa-masa di mana anak yang beranjak dewasa mulai menjelajah dunia sendirian. Belasan tahun menjaga & menemani,- mulai dari mengajarinya berjalan, mengendarai sepeda, hingga melepaskannya berangkat sekolah sendirian-, lalu akan tiba saatnya untuk melepaskan pegangan tangan.

Ada sebuah emosi yang berbeda saat anak mulai menjelajah dunia atas pilihannya sendiri. Saya sendiri merasa sedang memasuki tahap awal dari sebuah akhir. Akhir dari masa-masa di mana anak berada di dalam pengaruh orang tuanya. Dan sebuah awal dari masa-masa ia mulai menjalani dunianya sendiri, independen dari keinginan orang tuanya.

Ini emosi yang saya rasakan saat anak sulung bercerita dia dan teman-temannya akan berwisata ke ibukota. Memang sebelumnya saya pernah melepas dia ke tempat yang jauh, seperti saat ia berdarmawisata ke Bali bersama rombongan dari SMA. Tetapi itu adalah sebuah acara sekolah. Sebuah kegiatan resmi yang melibatkan banyak siswa dan juga guru. Ada yang berbeda saat si anak memutuskan untuk berkelana mandiri. Menggunakan uang sendiri (hasil menabung uang saku), menentukan tempat menginap sendiri, dan mengurus keberangkatan sendiri. Memang ia masih berangkat bersama beberapa orang teman dekatnya, ke kota yang tak terlalu asing. Tetapi tingkat kemandirian yang ditunjukkan di sini lebih tinggi dibanding pada kegiatan-kegiatannya di masa lalu. Dan mengingat kondisi di mana saya dan ibunya berada di benua lain, semakin memperkuat rasa bahwa kami sebagai orang tua memang harus sudah siap untuk berkurang pengaruhnya dalam hidup si anak. Sudah saatnya si anak untuk belajar keluar dari sarang.

Making the decision to have a child – it is momentous. It is to decide forever to have your heart go walking around outside your body.

Saya pun teringat pada sebuah kutipan dari seorang penulis, Elizabeth Stone. Ia pernah menulis, “Making the decision to have a child – it is momentous. It is to decide forever to have your heart go walking around outside your body.” Suatu saat anak akan hidup mandiri, bersama dunianya dan keluarga intinya sendiri. Seorang manusia independen yang memutuskan jalan hidupnya sendiri. Tapi ia selamanya akan menjadi buah hati orang tuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s