Moral dan Relevansi Kitab Suci

Salah satu meme* yang biasa digunakan ateis dalam menyerang kelompok teis adalah keusangan (obsoleteness) dan ketidak relevanan (irrelevancy) kitab suci dalam kebutuhan manusia akan moralitas. Dalam argumennya mereka mengatakan bahwa untuk menjadi manusia bermoral seseorang tidak membutuhkan agama atau segala komponennya; para nabi, kitab suci, hingga sosok entitas omnipoten. Ini tentu saja adalah sanggahan terhadap argumen kelompok teis yang menggeneralisasi kelompok ateis sebagai manusia-manusia amoral. Tulisan ini tidak tentang proses kemunculan moral dalam seorang insan semenjak ia dilahirkan. Tetapi lebih ke tanggapan apakah kitab-kitab suci agama-agama di dunia memiliki peran dalam perkembangan moralitas masyarakat modern. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

Manusia pada dasarnya, menurut Thomas Hobbes dalam karyanya Leviathan, adalah makhluk egois. Bila dibiarkan begitu saja, maka kita hanya akan melakukan hal-hal yang menguntungkan diri sendiri. Matt Ridley dalam Origins of Virtue menjelaskan panjang lebar secara naratif bagaimana pola pikir anti-altruis dapat membentuk masyarakat yang mengutamakan kerja sama. Pada akhirnya, masyarakat modern mungkin terlihat cukup beradab. Tetapi salah satu sumber keberadaban tersebut, moral, tidak langsung ada saat nenek moyang manusia pertama kali turun dari pepohonan, mengarungi padang savana Afrika dua ratus ribu tahun lalu.

Mengatakan bahwa seorang anak dapat bermoral hanya dengan belajar dari masyarakat di lingkungannya memiliki kebenaran. Tetapi apakah yang dimaksud standar moral sebuah masyarakat? Karena tidak selamanya masyarakat modern memiliki standar moral yang kita ketahui saat ini.

Saat ini dianggap tidak bermoral bagi seorang laki-laki untuk memukul perempuan. Padahal dulu tidak seperti itu. Hanya beberapa ratus tahun silam ada tradisi bagi seorang istri untuk menemani suaminya ke alam baka bila sang suami meninggal terlebih dahulu. Kita pernah melalui masa-masa di mana orang tua membunuh bayi yang tidak diinginkan dapat diterima oleh masyarakat (dan tidak hanya spesies kita yang melakukan infantisid). Dahulu di beberapa masyarakat, menikah dengan saudara kandung dapat diterima. Kini adalah sesuatu yang amoral. Intinya, moralitas adalah sesuatu yang dinamis.

Apa yang menjadi akal sehat saat ini belum tentu adalah akal sehat bagi masyarakat di waktu dan tempat yang berbeda. Di sini terletak masalah bila kita hanya mengandalkan akal sehat sebagai kompas moral. Di masyarakat di kota-kota modern, berganti-ganti rekan seksual bagi pasangan yang sudah menikah dianggap amoral. Tetapi di tempat lain, misalnya di suku Ache di Paraguay, seorang perempuan bebas mendapatkan seks dari pria-pria lain. Bagi mereka, tindakan tersebut masih ada di dalam koridor akal sehat yang diterima masyarakatnya. Apakah kita menjadi lebih bermoral dibanding suku Ache karena mengikuti aturan agama mengenai bagaimana hubungan seksual diatur? Bisa diperdebatkan. Tapi yang tidak bisa diperdebatkan adalah peran kitab suci dalam membawa masyarakat dengan moral non-promiskuos ini mengikuti aturan-aturan main yang disepakati bersama.

Aturan-aturan yang menjadi acuan moralitas masyarakat saat ini adalah hasil perjuangan banyak orang. Apa yang kita anggap lumrah untuk ditaati saat ini, belum tentu dianggap lumrah ribuan tahun lalu. Perlu banyak perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan yang bahkan masih berlangsung di banyak tempat di dunia. Kesetaraan gender, persamaan hak antar warga negara, hak asasi manusia. Di beberapa tempat sudah menjadi kelumrahan yang ditaati semua orang, sementara di tempat lain sayangnya tidak.

Dalam perkembangan budaya manusia, banyak para pencerah bermunculan dalam sejarah. Mulai dari pencerah dalam kesenian, sains, hingga moralitas. Namun tanpa catatan tertulis, kearifan mereka dengan mudah hilang ditelan waktu. Tulisan adalah wahana yang mencetuskan pertumbuhan eksponensial dalam pengetahuan kolektif manusia. Seorang manusia berpengaruh dapat memengaruhi lingkungan di sekitarnya. Tapi tidak di bagian dunia yang lain bila ia hanya mengandalkan lisannya. Menulis adalah meraih keabadian. Buku-buku filosofis, termasuk di dalamnya kitab suci, adalah salah satu sumber moralitas yang tak lekang oleh waktu, yang dapat dibawa kemana-mana tanpa kehilangan esensinya. Bisa saja perkembangan moralitas tertulis di dalam DNA, di mana hanya manusia dengan moral lebih baik yang menghasilkan keturunan. Tetapi untuk mencapai tahap yang kita miliki sekarang, butuh jutaan tahun bila hanya mengandalkan catatan biologis. Seperti yang dikatakan oleh Yuval Noah Harari, “humans cannot preserve the critical information for running it simply by making copies of their DNA”. Maka tulisan lah yang membawa kemajuan-kemajuan manusia bagi penerusnya, agen-agen perubahan yang tak lekang oleh waktu atau terkungkung oleh tempat. Termasuk di dalam tulisan-tulisan ini adalah informasi bagaimana berinteraksi dengan manusia lain, di antaranya panduan moralitas bagi masyarakat. Sejarah informasi tertulis akan moralitas berawal dari hukum-hukum Hammurabi, sepuluh perintah pada Musa, kitab-kitab suci Samawi, hingga tulisan-tulisan para filsuf di kedua sisi Renaissance.

Mengatakan bahwa kitab suci irelevan dalam perkembangan moralitas manusia sama halnya dengan argumen kelompok anti-evolusi yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin berasal dari kera, karena kera masih ada hingga sekarang. Bagi mereka kera dianggap irelevan dalam evolusi karena keberadaan manusia tak memerlukan kera. Ini sama dengan pemikiran bahwasanya kitab suci irelevan dalam kebutuhan manusia akan moralitas. Mereka menganggap moralitas dapat ada tanpa keberadaan informasi tertulis seperti kitab suci. Tetapi mereka gagal melihat bahwa moralitas yang ada saat ini berevolusi selama ribuan tahun dan kitab suci adalah salah satu faktor penting di dalamnya. Dan tidak seperti DNA yang bergerak dalam metode yang sangat selektif, atau moralitas individual yang terkungkung oleh waktu dan tempat, moralitas yang tertuang dalam tulisan akan terus menjadi agen-agen transformatif yang mudah diakses bagi milyaran manusia di masa depan. Dalam hal ini termasuk di dalamnya kitab-kitab suci.

* kata benda yang menjelaskan sebuah unit transmisi budaya, menurut Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene (1976)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s