Redefinisi

Bahasa adalah alat kekuasaan. Kata-kata, di tangan yang tepat, dapat mengendalikan arus sejarah. David Foster Wallace pernah berkata, “tidak ada yang lebih mempersatukan selain musuh bersama”. Dan dengan bahasa, redefinisi kata, dan propaganda, penguasa menciptakan musuh bersama.

Selama tiga dekade, kita dicekoki dengan sebait frasa. Frasa yang melegitimasi kesewenang-wenangan para oligark di Republik. “Bahaya laten komunis” adalah lem panas perekat bangsa kita akan rasa takut yang sama. Sebuah monster yang bersembunyi di gua-gua, di hutan-hutan, siap menerkam rakyat kapan saja kalau bukan karena perlindungan junta militer.

Namun negeri lain pun memiliki mantra yang serupa. Amerika Serikat contohnya. Pasca keruntuhan blok Timur di awal 90an, mereka tidak memiliki musuh bersama yang sebelumnya diwakili oleh Sovyet, Pakta Warsawa, dan komunisme. Awalnya pemerintah federal memperkenalkan jargon “perang melawan narkoba”. Militerisasi kepolisian di Amerika dimulai di sini. Banyak yang mengritik hal ini adalah langkah awal menuju negara polisi (police state). Akan tetapi, musuh bersama yang mempersatukan seluruh negeri adidaya itu secara efektif lebih dari heroin pun akhirnya datang. 11 September. Sejak saat itu, Amerika kembali memiliki musuh bersama: teroris. Opini masyarakat kembali dengan mudah digiring corong-corong opini. Metode-metode dan lembaga pengawasan didirikan, dengan alasan untuk melawan teror. Triliunan dollar uang dicetak, untuk menghidupi industri pelawan teror. Politisi melanggengkan ambisinya saat berdiri melawan para teroris.

Bila di Indonesia definisi komunisme dibiarkan mengambang, agar populasi tak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud dengan “bahaya laten komunis”, maka Amerika menggunakan pendekatan yang berbeda. Terorisme bukanlah hal baru. Mulai dari gerakan sepearatis Basque dan IRA di Eropa, Macan Tamil di Srilanka, Aum Shinrikyo di Jepang, hingga di Amerika sendiri, seperti Timothy McVeigh dan Unabomber. Selama abad 20 kita mengenal banyak tragedi akibat terorisme. Namun Amerika membutuhkan musuh spesifik, yang membedakan “kami” dari “mereka”. Maka propaganda redefinisi kata “terorisme” pun dimulai.

Saya rasa kita semua telah merasakan pergeseran definisi kata teroris atau terorisme saat ini. Kelompok mana yang kerap dikaitkan dengan istilah tersebut. Sebuah kata sederhana yang etimologinya semata-mata penebar teror, kini hanya dapat disematkan pada orang-orang dengan motivasi tertentu. Motivasi politis yang parameternya ditentukan oleh penguasa. Media massa sendiri, secara hipokrit, kerap tergesa-gesa menempelkan embel-embel tersebut pada kelompok tertentu. Redefinisi kata teroris adalah sebuah narasi yang diciptakan segelintir orang, agar mereka memiliki hak eksklusif dalam mendefinisikan musuh. Pria kulit putih membunuh puluhan orang = gangguan mental. Pria keturunan Timur Tengah melakukan hal yang sama = teroris. Tidak ada yang berhenti sejenak untuk berpikir, apakah mungkin pria Muslim tersebut mengalami depresi penyebab tindakan kejamnya.

Sebuah pedang mungkin dapat melukai beberapa orang, sepucuk senjata api dapat membunuh puluhan manusia. Namun hanya kata-kata yang dapat menyetir jutaan manusia untuk membenci jutaan manusia lainnya, mengirimkan ribuan prajurit untuk membunuh ribuan orang lainnya di belahan Bumi yang berbeda. Kata-katalah yang mampu memecah belah sebuah bangsa yang asalnya rukun. Bahasa adalah pemersatu, sekaligus penghancur. The pen is indeed mightier than the sword.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s