Swafoto dan Para Pendengung

Tidak pernah ada pemerintahan yang sempurna. Tidak dalam ratusan ribu sejarah umat manusia. Akan selalu ada pihak yang merasa tidak diperlakukan adil. Demikian pula dengan para petahana di negeri ini; mulai dari Republik, Provinsi, hingga Kotamadya. Saya tidak pernah melihat mereka sebagai para administrator tanpa cela. Ada banyak hal yang dapat dikritik dari kinerja mereka semua. Adalah tugas warga negara untuk mengritik secara proporsional terhadap para penampuk mandat, pun untuk menghargai dan memberi tahniah pada pencapaian sekecil apapun.

Namun saya sering melihat begitu banyak akun di media sosial yang hanya fokus di satu hal: mengritisi secara membabi buta. Bahkan pada hal-hal remeh temeh. Seolah-olah hanya keburukan yang dapat muncul dari target yang telah mereka pilih. Dan yang sangat menyedihkan, akun-akun seperti ini diikuti serta diamini oleh ribuan, bahkan ratusan ribu orang. Seolah-olah mereka terbakar oleh api kebencian yang sama.

Memang ada kalanya suatu rezim berlaku begitu bobrok hingga layak untuk dimusuhi oleh rakyatnya sendiri. Kita sebagai bangsa pernah melewati pengalaman buruk tersebut, dan saya bersyukur bangsa ini berhasil mengakhiri masa-masa kelam penindasan & penjarahan tangan besi tersebut. Namun dengan segala kekurangan para petahana saat ini, mereka masih jauh dari kebobrokan Orde Baru. Saya pribadi tidak melihat ada alasan bagi kebencian yang begitu terfokus, terarah, dan berkelanjutan terhadap mereka.

Oleh sebab itu, saya pribadi menilai bahwa akun-akun yang melulu menebar kritik ini tidak berada dalam niat baik. Saya menilai bahwa mereka hanya bagian dari kampanye politis. Media sosial, mau tidak mau, akan selalu menjadi bagian dari budaya masyarakat modern. Dan para pemain penggoreng isu menyadari hal ini. Sebuah lahan emas, baik bagi para penggiring opini maupun para politisi yang berusaha meraup dukungan.

Coba kita ingat ke tahun-tahun di awal kelahiran media sosial. Warsa-warsa akhir dasawarsa 2000’an. Kita membuat akun media sosial untuk membagikan hal-hal menarik dalam hidup ke orang-orang dekat. Ya mungkin sesekali kita menulis panjang lebar, curhat tentang ini itu, namun setelah itu pengguna awam media sosial akan kembali membagikan foto liburannya bersama keluarga atau foto makanan mewahnya di sebuah restoran terkenal.

Dari tulisan panjang lebar akibat defisiensi kafein ini, saran saya mengerucut pada satu hal: bila teman-teman menemukan akun media sosial yang isi pos-posnya melulu tentang alasan untuk membenci suatu entitas,–entah itu kelompok tertentu atau petahana tertentu–, dan tak pernah sekalipun mengunggah swafoto, coba pertanyakan motivasi pemilik akun tersebut. Apakah dia murni melakukannya sebagai curahan hati, atau pesanan pihak tertentu.

Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s