Adam, Hawa, dan Alegori Sejarah Manusia

Hampir semua manusia di planet ini mengetahui kisah Adam dan Hawa yang terusir dari surga. Apakah melalui tradisi agama-agama Ibrahim atau dari media-media budaya populer. Banyak yang memercayainya sebagai sebuah peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, persis seperti yang diceritakan di ayat-ayat kitab suci. Beberapa menganggapnya tidak lebih sebagai dongeng, fantasi murni layaknya kisah Cinderella atau Sangkuriang. Namun ada juga, seperti saya pribadi, yang melihatnya sebagai sebuah alegori. Sebuah analogi dari sejarah panjang nenek moyang kita, mulai dari kemunculan mereka di savanah Afrika hingga ke lahirnya kota-kota di Asia Minor dan Mesopotamia.

Buah Khuldi

Saya pribadi berpendapat bahwa bahasa adalah penemuan paling penting dalam sejarah manusia dalam dua ratus ribu tahun keberadaannya di planet ini. Signifikansinya melebihi penemuan api, roda, dan pertanian. Dengan bahasa, spesies manusia membuka potensi akan kekuatan yang melebihi yang dimiliki spesies-spesies lain. Kemampuan mengomunikasikan hal-hal kompleks & memberikan nama pada rasa secara sederhana adalah sebuah kekuatan yang tak terkira. Kekuatan yang baru dapat ditandingi saat mesin cetak ditemukan sekitar enam ratus tahun lalu, lalu kemudian oleh internet hampir lima puluh tahun lalu.

Penemuan bahasa1 membawa manusia pada pemahaman-pemahaman baru akan semesta dan akan dirinya sendiri. Pemahaman ke luar menyiapkan manusia untuk menguasai alam dan lingkungannya. Pemahaman ke dalam membuat manusia mengenal berbagai fenomena sosial dan personal, seperti pengejawantahan konsep seperti emosi ke dalam bentuk yang mudah dikomunikasin.

Menyampaikan rasa & emosi hanya akan terwujud saat manusia memiliki kata-kata (bahasa) untuk mengungkapkan kesadaran akan dirinya (consciousness) dan diri manusia lain. Kita ambil sebaga contoh rasa malu (shame). Perasaan ini hanya mungkin dikomunikasikan saat manusia dapat menyarikan sesuatu yang abstrak,– emosi yang ia rasakan akibat interaksi dengan manusia lain–, menjadi sebuah konsep yang dapat dipahami hanya dengan sebuah kata. Bahasa mewujudkan manusia menyampaikan sesuatu yang kompleks dengan mudah dan cepat.

Konsep-konsep seperti hak milik, hukum, etika, impian, permusuhan, harapan, arogansi, dendam, gairah, nafsu, cinta, semuanya hanya dapat dimengerti saat manusia memiliki bahasa. Dalam hal ini, pengetahuan baru ini bagai buah simalakama; bila dimakan kita akan mengerti, namun tak lagi suci.

Dibuang ke Dunia

Dalam bukunya “Sapiens”, Yuval Noah Harari mengatakan bahwa pertanian adalah “penipuan terbesar dalam sejarah umat manusia”. Ratusan ribu tahun lalu, saat nenek moyang kita baru memulai menjelajahi savana, spesies manusia hidup dari aktivitas berburu dan mengumpulkan. Manusia hidup berpindah-pindah karena manusia hanya membutuhkan tubuhnya dan sedikit alat untuk hidup. Saat membutuhkan makan, mereka berburu, membuat perangkap, mencari buah-buahan di hutan, lalu membuat api dengan dengan alat-alat sederhana. Di waktu luang yang tersisa, mereka bersantai, menatap langit, dan bercumbu. Tidak ada yang mengatur, tidak ada yang mengikat. Hidup nenek moyang kita para pemburu dan pengumpul ini, bisa dibilang, bagai di surga.

This is the essence of the Agricultural Revolution: the ability to keep more people alive under worse conditions. –Yuval Noah Harari

Lalu beberapa puluh ribu tahun lalu, kini dibekali bahasa, manusia mulai mengenal jiwa. Dari pengetahuan akan jiwa, manusia mulai mengenal alam baka2. Dan alam baka melahirkan berbagai kepercayaan supranatural, mulai dari animisme hingga berujung pada lahirnya agama. Agama membuat manusia untuk pertama kalinya berkumpul. Bekerja sama untuk menyembah, menyenangkan, dan memohon dari tuhan-tuhan mereka. Perkumpulan banyak manusia dengan satu tujuan di satu tempat ini melahirkan desa-desa pertama. Bersamaan dengan pemukiman, lahirlah pertanian.

Namun pertanian membawa banyak masalah baru. Hasil pertanian dan desa harus dijaga. Dan manusia, yang sebelumnya cukup bekerja untuk diri dan keluarganya, mulai membagi tugas; menjadi petani, tentara, pendeta, penguasa. Dari sini lahirlah hirarki, hak milik, & hukum. Kerumunan manusia yang hidup di satu tempat juga melahirkan masalah seperti penyakit & pencurian. Dan pada akhirnya muncul persaingan, yang kemudian melahirkan permusuhan & peperangan.

Kondisi manusia pasca-agrikultur sangat jauh berbeda dengan kondisi nenek moyangnya yang terikat oleh apapun. Sebelumnya, manusia tak mengenal kepemilikan, mereka dapat pergi kemana pun mereka suka. Mereka tak mengenal hirarki, tak ada orang lain yang mengatur. Hidup menjadi sangat sulit. Reza Aslan berpendapat bahwa konsep firdaus (paradise) adalah impian masyarakat pasca-agrikultur akan kehidupan indah di zaman nenek moyang mereka. Saat manusia masih bebas. Saat manusia baru saja menemukan bahasa namun belum terpapar hidup yang keras dan penuh ancaman.

Penutup

Bahasa membawa manusia mengenal konsep-konsep kompleks. Konsep seperti akhirat dan jiwa. Yang mengenalkan kita pada Tuhan. Yang mengenalkan kita pada beragam emosi; malu, cemburu, nafsu. Buah terlarang yang dipetik3 oleh nenek moyang Homo sapiens, “Adam & Hawa” dalam kitab-kitab Samawi. Berbekal bahasa, manusia memulai fase baru, saat kita mulai membuka lahan pertanian, mendirikan desa dan benteng-bentengnya, menciptakan peradaban. Dan selama ribuan tahun sesudahnya, manusia dihukum untuk selalu bekerja keras hanya untuk sekedar bertahan hidup. Tertipu oleh janji agrikultur, terbunuh dalam perang terus-menerus melawan sesamanya. Rasa manis dari penemuan bahasa pada akhirnya membuat manusia terpaksa meninggalkan kenyamanan hidup nenek moyangnya yang sebelumnya hidup bebas tanpa kekang.

Lalu terlahirlah konsep-konsep akan surga, firdaus, nirvana. Sebuah tempat di mana manusia terlepas dari jerat dunia. Konsep yang bermula dari kerinduan akan tempat yang berada jauh di masa lalu. Tempat sebelum mereka terusir dari surga.

 

Catatan

  1. Seperti hal-hal lain yang ditemukan manusia, bahasa tentu saja tidak ditemukan tiba-tiba dari ketiadaan. Penemuan bahasa adalah sebuah proses yang berlangsung selama berabad-abad, secara paralel di berbagai tempat. Beberapa bahasa hilang dari peredaran, beberapa bertahan, berevolusi, dan terus berkembang.
  2. God – A Human History oleh Reza Aslan
  3. Saya jadi teringat buku Brave New World (Aldous Huxley). Dunia di novel tersebut dapat disebut utopia, namun juga dapat disebut dystopia. Tergantung mana yang kita pilih: kebebasan atau kebahagiaan. Nenek moyang kita memilih pengetahuan. Dan kita keturunannya dihukum tak lagi bebas atau bahagia.
Advertisements

One thought on “Adam, Hawa, dan Alegori Sejarah Manusia

  1. saya senang membaca tulisan ini karena kita butuh pemikiran seperti ini. apalagi dimasa internet dimana semua orang terserang oleh arus knowledge yang luarbiasa namun skill dan attitude kita semakin berkurang – yang berakibat semakin sedikit orang yang berusaha mencari arti dari semua ini
    saya berharap dari teman-teman kita muncul pemikir seperti ini, saya tidak tahu bisa disebut apa, karena mungkin masyarakat akan memberikan label-label yang aneh tanpa berusaha memahaminya terlebih dahulu, tapi konsep allegory bisa berbeda-beda tiap orang, ada yang percaya internet sendiri itulah allegory ada juga yang percaya dunia adalah allegory sedangkan tulisan ini membuktikan bahwa surga adalah allegory yang menurut saya bisa diterima dengan beberapa pertimbangan.
    lalu setelah kita memutuskan jika surga adalah allegory, maka bagaimana cara pandang kita pada dunia ini ; apakah kita akan bisa mengontrolnya dan menjadi mahluk yang liberate seutuhnya
    bagaimanapun kebebasan dan kebahagiaan adalah suatu hal penting yang merupakan perjuangan kita di dunia ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.