Jangan Culas Dalam Beragama

Saat Trump saat mengumumkan ia berencana akan memindahkan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Jerusalem, banyak pendukungnya yang beraliran Kristen evangelikal dan Zionis garis keras bersukacita. Reaksi ini tentu berhubungan dengan ramalan apokaliptik bahwasanya akhir zaman (hari kiamat) akan segera datang bila Jerusalem kembali ditasbihkan menjadi singgasana Israel (penerus Kerajaan Daud dan Sulaiman di masa silam).

Awalnya saya kurang paham, apa alasan beberapa orang bersukacita pada kemungkinan datangnya akhir zaman. Namun sebuah “diskusi” yang saya alami tadi pagi sedikit menguak pemahaman saya akan fenomena tersebut. Walaupun yang tadi pagi saya baca tulisannya adalah seorang Muslim, namun harapannya agar kiamat disegerakan sama kentalnya dengan para pendukung percepatan armageddon ala Trump.

Yang dapat saya simpulkan dari fenomena ini adalah mereka,– para pendamba akhir zaman–, merupakan orang-orang yang sangat haus akan pembuktian. Pembuktian bahwa mereka telah mengambil pilihan yang tepat. Bahwa agama yang mereka pilih (apapun itu), tidak akan mengecewakan. Bahwa di akhir zaman nanti, mereka ada di barisan yang tepat.

Saya tidak tahu apakah ini disebabkan iman yang kurang teguh atau apa. Ataukah karena masalah duniawi yang berimbas pada psike. Yang jelas mereka begitu putus asa akan sebuah pembuktian. Begitu masif kebutuhannya, bahkan kematian (baca: efek samping kiamat) pun tidak masalah bagi mereka. Notebene: apakah mereka sudah yakin bekalnya cukup saat menghadapi penghakiman terakhir?

Buat saya pribadi, menjalani hidup seperti itu kok rasanya menyedihkan. Sebuah bentuk ekstrim dari tidak mampu menerima perbedaan. Kalau memang percaya, kenapa tidak dijalani saja tho? Apa perlu menjadi orang beriman sambil diiringi keinginan untuk membuktikan orang lain salah. Ini sama seperti menjalani ujian sekolah, tidak hanya berharap untuk lulus namun juga berharap yang lain tidak lulus. Sebuah keculasan. Apakah ketenangan dari menjalankan agama belum cukup sebagai bukti bagi jiwa? Apakah pedoman dari kitab masing-masing belum cukup untuk menjadi bukti bagi menjalani hidup di dunia?

Saya percaya bahwa orang-orang yang teguh akan kepercayaannya tidak mudah terusik. Fondasi imannya kokoh. Di hati & benaknya mereka yakin kalau mereka benar, pengaruh dari luar tak lebih angin sepoi-sepoi. Mereka tak goyah saat orang lain mempercayai hal berbeda. Tak gundah saat orang lain mengomentari. Tak gelisah saat orang lain mengritik.

Wallahualam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.