Generasi

Tadi malam saya berbincang dengan anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 7.

anak: You’re so old. Are you Boomer?
saya: No. I’m Gen-X.
anak: *tertawa*
saya: What?
anak: Aren’t you the one who’s always forgotten?

Di sini saya lantas teringat kalau anak-anak saya adalah bagian dari Gen-Z, generasi yang disebut “digital natives”. Generasi yang terlahir ke dunia digital. Mereka sama sekali tidak mengenal apa itu teknologi analog. Jauh berbeda dari kakek-nenek mereka, para Boomers, yang dilahirkan, berkembang besar, dan menghabiskan sebagian besar kehidupan dewasa mereka di dunia analog. Dunia media cetak, dunia penerbitan besar, dunia di mana informasi disampaikan oleh koran, radio, dan stasiun televisi raksasa.

Generasi Boomer adalah mereka yang terlahir antara pertengahan 1940-an hingga pertengahan 1960-an. Di era digital di mana siapa pun dapat merilis informasi dan berita, Boomer adalah generasi yang paling rentan termakan hoaks. Sejak lahir hingga usia lanjut, mereka mengonsumsi berita dari koran-koran resmi dan stasiun-stasiun televisi yang diawasi pemerintah. Dalam pemahaman mereka, berita yang beredar di publik 99% dapat dipastikan adalah benar. Sementara itu generasi di bawahnya,– Gen-X, Millennial, Gen-Z –, sudah lebih terbiasa meragukan isi berita yang beredar di internet. Ini yang kerap menjadi sumber masalah di grup-grup WhatsApp keluarga, saat anggota yang lebih senior bersikukuh bahwa berita yang mereka sebarkan pasti absah dan benar.

Saya ingat di akhir 1980-an, almarhum ayah berlangganan banyak media. Mulai dari koran Kompas, majalah Tempo, majalah Hai, majalah Gadis, dan tentu saja TVRI, yang dahulu menggunakan sistem iuran. Semuanya adalah media analog, semuanya dari penerbit besar, seluruh kontennya dapat dipertanggungjawabkan. Ini adalah sebuah dunia yang sangat berbeda dengan dunia di tahun 2020. Saya pribadi, semua informasi yang saya dapatkan berasal dari internet. Mulai dari media sosial seperti Twitter dan Facebook, hingga kompilasi tajuk berita yang dikumpulkan oleh Google (berdasarkan ‘search history’) dan disuguhkan di ponsel setiap pagi.

Dulu di tahun 1980-an, untuk hiburan, selain mengandalkan siaran televisi analog (kebetulan dulu kami tinggal pesisir timur provinsi Sumatra Utara, sehingga kami juga mendapatkan siaran terestrial TV3 & RTM Malaysia), almarhum ayah kerap menyewa kaset Betamax di toko-toko penyewaan video (serial kungfu Hong Kong dan tokusatsu Jepang tentunya). Rumah kami juga tidak pernah sepi dari musik, dari kaset-kaset lagu Indonesia dan Barat milik orang tua (dan saya setelah beranjak remaja). Koleksi buku, komik, dan bahan bacaan pun tersedia dalam format fisik.

Saat ini kebutuhan hiburan saya, istri, dan anak-anak sepenuhnya digital. Mulai dari langganan Spotify (paket “family premium”, karena anak-anak juga menuntut akses pribadi), Netflix (dengan empat akun untuk masing-masing orang di rumah), Amazon Prime Video, Nintendo Online, hingga Mola.tv (siaran langsung sepak bola tidak boleh tidak). Belum lagi beberapa langganan digital lain untuk mendukung pekerjaan (mis. LucidChart, WordPress, AWS). Walaupun saya masih penggemar buku fisik, tapi untuk buku-buku yang susah dicari, saya memilih untuk belanja e-book melalui Kindle. Untuk video game, hobi saya sejak berusia 8 tahun, walaupun pada dasarnya adalah media elektronik, evolusinya pun tidak kalah dahsyat. Dulu di tahun 1985 gim tersimpan di cartridge fisik elektronik dalam ukuran kilobyte. Sekarang di tahun 2020 gim-gim saya berukuran gigabyte (1 juta kali lipat!) dan diunduh melalui internet.

Banyak orang berkata bahwa Gen-X adalah generasi yang beruntung. Kami adalah generasi peralihan. Kami merasakan bagaimana rasanya tumbuh besar di dunia analog, dan kami juga merasakan perubahan cepat saat dunia bergeser menjadi digital. Saat ini saya masih menyimpan koleksi kaset dari masa kecil dan awal remaja, serta koleksi file mp3 yang saya unduh di zaman kuliah. Saya rasa transformasi sedahsyat perubahan dunia analog menjadi dunia digital tidak akan terjadi lagi beberapa generasi ke depan. Dan saya rasa itu yang membuat Gen-X spesial, saksi sebuah era yang mendefinisikan sejarah umat manusia.

Apa pengalaman generasional yang paling berkesan untukmu?

NB.
Yang dimaksud anak saya “the one who’s always forgotten” adalah karena dalam artikel-artikel di internet Gen-X kerap dilupakan dalam pembahasan generasional. Biasanya artikel di internet membahas tentang konflik Boomer versus Millennial (mereka yang terlahir antara 1980 hingga akhir 1990-an), atau tentang kondisi psikologis/sosial generasi Gen-Z.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.