Generasi

Tadi malam saya berbincang dengan anak perempuan yang sekarang duduk di kelas 7.

anak: You’re so old. Are you Boomer?
saya: No. I’m Gen-X.
anak: *tertawa*
saya: What?
anak: Aren’t you the one who’s always forgotten?

Di sini saya lantas teringat kalau anak-anak saya adalah bagian dari Gen-Z, generasi yang disebut “digital natives”. Generasi yang terlahir ke dunia digital. Mereka sama sekali tidak mengenal apa itu teknologi analog. Jauh berbeda dari kakek-nenek mereka, para Boomers, yang dilahirkan, berkembang besar, dan menghabiskan sebagian besar kehidupan dewasa mereka di dunia analog. Dunia media cetak, dunia penerbitan besar, dunia di mana informasi disampaikan oleh koran, radio, dan stasiun televisi raksasa.

Continue reading

Privilege

Di Twitter kembali ramai perdebatan soal privilege gara-gara seorang YouTuber terkenal (sebut saja namanya Jerome Polin) mengatakan bahwa seolah-olah privilege itu semu. Dari serangkaian twit-nya, saya menangkap pesan bahwa asalkan effort-nya cukup, semua orang pasti akan mampu meraih kesuksesan, apapun itu.

Continue reading

Berhenti Pasrah

Pikiran ini terlempar ke beberapa tahun lalu. Di suatu siang di awal tahun 2016 saya sedang berada di sebuah mal di Bandung bersama anak bungsu, setelah satu hari sebelumnya mengantarkan anak sulung ke stasiun kereta untuk mengikuti darmawisata SMA di Bali.

Saya masih dapat mengingat jelas peristiwa siang itu, saat melihat siaran langsung di televisi yang tergantung di ruang tunggu sebuah bioskop. Siaran langsung dari selat Bali. Sebuah feri dikabarkan tenggelam. Hati saya menciut.

Continue reading

Dingin & Pragmatis

Kala elit politik terang-terangan memperlihatkan bahwa mereka adalah para pemain yang pragmatis, pendukung fanatik terus saja memuja remah-remah idealisme yang tersisa di para junjungan. Bahkan para pendengung politik yang seharusnya lebih profesional, masih terjebak dalam dikotomi kami vs kalian di media massa dan media sosial. Dengan hiruk pikuk yang disebabkan oleh terobrak-abriknya identitas politik para kandidat, seharusnya kita semua sudah dapat melihat di luar lingkup identitas ideologi, apakah ideologi dunia ataupun ilahiah. Seharusnya kita mulai melihat para kandidat lebih kepada program-program yang mereka tawarkan, bukan sekadar identitas yang berhasil (atau gagal) mereka tampilkan. Sudah saatnya pemilih di Indonesia untuk lebih cermat dan logis.

Continue reading

Jangan Culas Dalam Beragama

Saat Trump saat mengumumkan ia berencana akan memindahkan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Jerusalem, banyak pendukungnya yang beraliran Kristen evangelikal dan Zionis garis keras bersukacita. Reaksi ini tentu berhubungan dengan ramalan apokaliptik bahwasanya akhir zaman (hari kiamat) akan segera datang bila Jerusalem kembali ditasbihkan menjadi singgasana Israel (penerus Kerajaan Daud dan Sulaiman di masa silam).

Continue reading

Ulama Yang Sejuk

Beberapa hari lalu, dalam percakapan mengenai serangan Israel ke Gaza baru-baru ini, saya membaca seseorang menuliskan bahwa tindakan Israel dapat dibenarkan. Mereka (Israel) hanya membela diri dari “serangan roket jihad”, ujarnya. Saya menerangkan ke dia bahwa ia mengartikan jihad secara keliru. Kemudian dia membalas keterangan saya dengan mengutip beberapa ayat dari Al-Anfaal, seolah-olah tujuan umat Muslim adalah memberantas mereka yang berbeda. Saya segera membalas dengan mengatakan bahwa ia mengutip ayat-ayat tersebut di luar konteks. Namun setelah penjelasan panjang lebar, ia kemudian membalas dengan argumen bahwasanya semua Muslim yang bersikap baik saat tinggal di negeri Barat sesungguhnya hanya sedang dalam misi taqiyya. Saya bilang ini menggelikan. Sama menggelikannya dengan percaya teori-teori konspirasi berdasar paranoia. Ia pun bertanya, apakah ada negara mayoritas Muslim di mana non-Muslim diperlakukan sepadan?

Continue reading

Adam, Hawa, dan Alegori Sejarah Manusia

Hampir semua manusia di planet ini mengetahui kisah Adam dan Hawa yang terusir dari surga. Apakah melalui tradisi agama-agama Ibrahim atau dari media-media budaya populer. Banyak yang memercayainya sebagai sebuah peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, persis seperti yang diceritakan di ayat-ayat kitab suci. Beberapa menganggapnya tidak lebih sebagai dongeng, fantasi murni layaknya kisah Cinderella atau Sangkuriang. Namun ada juga, seperti saya pribadi, yang melihatnya sebagai sebuah alegori. Sebuah analogi dari sejarah panjang nenek moyang kita, mulai dari kemunculan mereka di savanah Afrika hingga ke lahirnya kota-kota di Asia Minor dan Mesopotamia.

Continue reading

War: A Poem

War

War is a blood red day.
War smells like rotten egg.
War tastes like disgusting broccoli.
War sounds like Beple screaming.
War feels like we are in jail.
War looks like earth is destroyed.

by Ghaniya

This is a poem written by my daughter at her school. I don’t know what a Beple is either.

Edit (09-12-2017): Beple is a typo. My daughter told me that it’s supposed to be people. Now it makes so much more sense. My bad, kiddo.

Pribumi

Di tahun 1986-1990 saya tinggal di kota Pematangsiantar. Saya bersekolah di sekolah dasar di Perguruan Sultan Agung, sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di sana. Mungkin dapat dibandingkan dengan perguruan St. Aloysius di Bandung. Saat bersekolah di sana, saya sempat mewakili kabupaten Simalungun sebagai anggota merangkap juru bicara tim Cerdas Cermat. Kami tampil di TVRI Stasiun Medan bersama dua tim lainnya. Tim dari SD saya alhamdulillah mendapatkan posisi pertama. Dan ibu saya juga gembira karena sering disorot juru kamera.

Continue reading