Kenapa Awan Mengapung dan Laut Tidak

Gravitasi adalah percepatan (akselerasi) yang terjadi akibat kurvatur ruang. Kurvatur ruang ini sendiri terjadi akibat pengaruh massa yang ada di ruang tersebut. Semakin besar massa, maka kurvatur semakin tajam, dan akibatnya percepatan semakin tinggi. Konsep gravitasi ini banyak yang belum mengerti. Orang awam rata-rata mengartikan gravitasi secara sederhana sebagai tarikan ke bawah. Padahal konsep “bawah” sendiri muncul karena ada gravitasi. Tanpa gravitasi tidak akan ada “atas” atau “bawah”. Buat sebagian orang konsep ini terlalu susah untuk diikuti sehingga mereka malah dengan gamblang mengatakan kalau “gravitasi itu tidak ada”.

Continue reading

Laporan Debat 1 Pilkada DKI-1

Di debat Pilkada DKI tadi malam, saya melihat petahana seperti tidak terlalu bersemangat. Konsep yang ditawarkan masih tidak jauh dari infrastruktur dan melanjutkan program yang sudah ada. Tidak terlihat ada semangat untuk merangkul swing voter. Di mata saya sikapnya terlalu complacent. Apakah karena rasa percaya diri yang berlebihan? Saya tidak tahu.

Pesaing terkuatnya, Anies-Sandi juga tidak lebih baik. Terlalu banyak menggunakan bahasa kelas akademisi, dengan konsep-konsep tinggi dan bertabur jargon. Tujuannya membuat Jakarta lebih bermoral menurut saya pribadi hanya menarik bagi sebagian kecil segmen pemilih. Pemilih butuh solusi yang tangible. Pemilih butuh kail, lebih baik kalau ikannya langsung. Bukan empang.

Continue reading

Lamunan Dalam Segelas Frozen Green Tea

Bila mengacu pada Clash of Civilizations-nya Samuel P. Huntington, ada 4 negara yang memperebutkan posisi sebagai negara paling dominan di dunia Islam: Turki, Arab Saudi, Iran, dan Pakistan. Saya sebenarnya bingung kenapa Huntington tidak memasukkan Indonesia atau Nigeria di situ. Mungkin karena posisi geografis dan status perkembangan (pada era buku tersebut ditulis) ke-empat negara tadi lebih dominan. Atau memang karena Indonesia maupun Nigeria tidak menunjukkan kecenderungan politis ke arah sana.
Continue reading

Dear Kang Emil

Dear Kang Emil, pertama-tama saya mohon maaf bila komentar saya beberapa hari lalu melahirkan  polemik. Tetapi, sebagai warga yang prihatin, saya merasa perlu untuk menyampaikan kritik tersebut. Dan saya yakin Kang Emil adalah salah satu dari sedikit pemimpin di negeri ini yang tidak alergi terhadap kritik. Artikel blog ini adalah tanggapan terhadap permintaan Kang Emil kepada saya untuk menjelaskan poin-poin yang telah saya tulis. Dan untuk memulainya, izinkan saya menjabarkan beberapa poin yang tempo hari sempat saya sampaikan. Saya berharap, bila setiap poin dituliskan kembali secara panjang lebar, maka kemungkinan salah pengertian dapat dihindari.

Continue reading